Kamis, 15 Maret 2012

MEMBANGUN DARI DASAR, MENGAJAR UNTUK MENERANGI


Terkadang kita nggak sadar pernah nulis apa, ternyata tulisan ini masih bisa memotivasi saya sendiri =)). Semoga bermanfaat..
------------------------------------------------------------------------------------------------
Pendidikan dan pengajaran di sekolah sudah bisa berjalan apabila ada interaksi untuk penyaluran ilmu. Harus ada pengajar dan harus ada yang diajar. Jika keduanya ideal, maka ideal pula sistem pendidikan yang berjalan. Ideal bukan berarti berlimpah fasilitas. Ideal di sini adalah apabila si pengajar mampu menyampaikan apa yang dia punya untuk orang yang diajar. Begitu pula sebaliknya, orang yang diajar mampu menyerap sebagian besar yang diajarkan. ‘Sesuatu’ yang diajarkan tersebut tidak harus sesuatu yang diwajibkan oleh kebanyakan kurikulum, melainkan sesuatu yang mampu membuat orang yang diajar tergerak untuk tidak berada dalam kotak sabunnya sendiri.
Menjadi salah satu bagian yang mampu menjadi mesin penggerak bukanlah hal yang mudah. Sebuah sepeda motor yang hanya mempunyai mesin namun tangki bahan bakarnya tidak terisi bensin tidak akan bisa menyalakan mesin. Pun jika tidak mempunyai roda, tidak mempunyai rem, tidak mempunyai rantai. Tidak akan sempurna gerak sepeda motor tersebut. Ibarat sepeda motor, menjadi seorang pengajar tak akan sempurna jika dia tak mempunyai ilmu sebagai bahan bakarnya, kesenangan dan semangat mengajar untuk menjaga roda pendidikan tetap berputar, maupun komitmen yang tinggi agar rantai tidak pernah putus.
Salah apabila kita menganggap pendidikan bergengsi hanya bisa didapat lewat bangku sekolah formal. Pendidikan paling berpengaruh adalah pendidikan yang berpusat pada lingkungan sekitar. Anak-anak akan mampu mengingat dan menyimpan memori mereka lebih kuat dari kebiasaan-kebiasaan maupun peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Anak-anak korban bencana akan belajar lebih baik tentang alam dan lingkungan sekitar yang penuh ancaman bencana daripada anak-anak lainnya yang tidak mengalami hal serupa. Anak-anak jalanan akan memiliki pola pikir yang berbeda jika dibandingkan dengan anak-anak lain yang selalu mendapatkan berbagai fasilitas dengan mudah. Itu yang perlu ditekankan. Itu yang perlu diperhatikan. Bahwa anak-anak di lingkungan berbeda mempelajari hal yang berbeda pula. Penyampaian bahan ajar yang berbeda dari sekolah formal sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini.
Anak-anak yang tidak bisa mendapatkan pendidikan lewat sekolah formal memerlukan alternatif lainnya agar hak mereka dapat terpenuhi. Bukankah mendapatkan pendidikan adalah hak untuk semua penduduk Indonesia.? Jika hak itu tidak bisa didapatkan di sekolah formal, hak itu bisa didapatkan di tempat lain. Jika hak itu tidak dapat dipenuhi karena tidak mampu membayar, maka seharusnya hak itu bisa didapatkan tanpa harus membayar mahal. Agar hak untuk semua anak-anak kurang beruntung tersebut dapat dipenuhi, salah satu jawabannya adalah: harus ada orang yang berani mengajar mereka dan berani mengabdi untuk mereka.
Menyitir pernyataan Anies Baswedan, sebuah spirit yang selama ini dipakai oleh gerakan Indonesia Mengajar, Let’s Not Curse the Darkness, Light a Candle. Jangan hanya menyalahkan kegelapan, nyalakan sebuah lilin. Jangan memaki suatu keadaan yang menyebabkan suatu ‘ketidakbisaan’. Tidak bisa sekolah, tidak bisa punya buku, tidak bisa seperti mereka yang selalu menerima rapot di setiap semesternya. Nyalakan lilin. Nyalakan lilin dengan menjadi seorang pengajar untuk anak-anak kurang beruntung itu.
Mengabdi tidak membutuhkan banyak uang. Mengabdi memerlukan sedikit waktu, komitmen, semangat, dan keinginan berbagi tanpa pamrih. Sudah banyak contoh pengabdian di negeri ini. Sekuel Laskar Pelangi mampu menggugah kesadaran penonton maupun pembacanya bahwa masih ada sosok seperti ibu guru Muslimah. Kandank Jurank, sekolah alam yang didirikan oleh artis Dik Doank mampu menggambarkan betapa pendidikan bukan melulu soal sesuatu yang serius dan selalu formal. Gerakan Indonesia Mengajar yang diprakarsai Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, sudah menjadi contoh nyata betapa pengajar-pengajar masih sangat dibutuhkan untuk menuntun dan menerangi jalan anak didiknya. Itu semua belum cukup. Kita yang berada di lingkungan kita sekarang, juga sebaiknya mampu menerangi sekeliling kita. Mengabdi untuk mereka. Mengabdi walaupun hanya dengan batas kemampuan seperti ini.
Menjadi seorang pejabat adalah salah satu hal hebat. Menjadi seorang ilmuwan adalah suatu hal yang brillian. Memilih menjadi seorang guru atau pengajar, itu adalah sebuah pengabdian. Mengapa? Karena guru ibarat tukang bangunan yang memasang pondasi, memasang kerangka-kerangka penyangga yang kuat, menyusun batu bata sampai berdiri menjadi tembok yang kokoh, sampai memasang atap yang siap melindungi bangunan di bawahnya. Karena menjadi seorang guru atau pengajar, harus bisa menjadi lampu di dalam rumah tersebut. Menerangi. Bukan malah membuat rumah itu gelap tanpa lampu.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.