Sabtu, 24 Desember 2011

AWALNYA NOL





Lahir tidak punya apa-apa. Hanya bisa menangis. Merengek. Takut. Mencari perlindungan. Tak tahu caranya makan sendiri, mandi sendiri. Tak mau kalau sendiri.

Renta. Kembali menjadi bayi. Merengek-rengek seperti bayi. Merajuk minta makan. Marah kalau tak dituruti. Mati kembali tak membawa apa-apa.

Dari nol kembali ke nol.

Dua tahun ini, sesuatu yang sudah beranjak melebihi angka satu, tiba-tiba kembali menjadi nol. Tak ada salahnya kembali menjadi nol. Semua berawal dari nol, dan suka tidak suka, mau tidak mau, nantinya akan menjadi nol. Tapi setidaknya, aku ingin dia menjadi nol yang bernilai. Bukan nol yang kosong.

Kesempatan datang sekali. Ada yang dua kali. Ada yang berkali-kali. Menangkap kesempatan pertama, seperti memenangkan undian berhadiah bermilyar-milyar. Tak semua orang beruntung. Aku ingin menjadi orang yang beruntung itu. Dan untuk itu aku harus melalui nol biar nanti bisa jadi satu, dua, tiga, atau berjuta-juta.

Kalau nol kosong? Nol kosong tidak seperti itu. Dia bukan data ordinal. Dia tak punya nilai. Mengisi yang kosong lebih sulit daripada membuat baik sesuatu yang sudah punya nilai.

Kembali menjadi nol, bukan berarti kembali menjadi mati. Mati itu nanti. Hidup itu sekarang.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.