Rabu, 05 Oktober 2011

SAYA dan TUKANG BENSIN

Kebetulan kuliahku semester ini lebih sering dapet jatah pagi-pagi buta. Hm, sebenarnya nggak pagi-pagi buta banget sih. Pengen lebay aja =p

Dan bisa dipastikan kalau aku masuk kuliah jam 7, maka aku akan telat. Jika tidak telat, maka konklusinya aku lagi kesambet malaikat. Begitupun dengan dua hari yang lalu. Sudah tahu aku sering telat, nggak nyadar pula kalau pagi itu bensinku udah limit hampir sekarat. Motorku nggak bakal bisa nyampe POM bensin terdekat. Bensin eceran murni di deket rumah yang hitungan harganya tergolong murah dibanding bensin eceran di tempat lain pun juga tutup. Howaa, oke deh, terpaksa nyeberang ring road selatan.

 Oke deh. Biasa aja. Seperti gaya pembeli bensin lainnya, aku buka jok si Item nan aduhai, membuka tutup tangkinya yang sudah menyerupai tutup botol karatan, kemudian memanggil mas-mas penjual bensin yang lagi ngobrol sama penjual warung sebelahnya.


Aku : Mas bensin 1 aja...
MB  : oke mbak. Kuliah ya mbak?
Aku  : he'eh mas...
MB  : kuliah di mana mbak?
Aku  : hemm. Deket Sardjito iku lho mas...
MB  : Walah. nggaya..
Aku  : Kok iso?
MB  : Ambil apa?
Aku  : Geografi mas..
MB  : Wah, enak ya, bisa kuliah (*sambil menuangkan bensin ke dalam tangki, pandangannya menunduk dalam, seakan mau bilang : Aku yo pengen banget kuliah, mbak! Tapi nggak bisa, jadi aku jualan bensin aja.)
Aku  : hmm, alhamdulillah yah mas aku bisa kuliah...


Aku menyodorkan selembar lima ribuan pada mas itu, "Moga banyak rejeki ya, mas..."


Aku diingatkan lagi. Aku itu lebih beruntung. Kalau aku malas dan nggak bisa memanfaatkan keberuntunganku itu, berarti sama halnya aku menindas orang-orang kurang beruntung seperti mas-mas penjual bensin itu....

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.