Senin, 17 Oktober 2011

KATAI PUTIH


23 Februari 1990
Wanita berparas ayu itu tersenggal-senggal. Lelah, itu pasti. Tapi rasa lelah itu terbayar lunas setelah dia mendengar tangis bayi tampan itu. Bayi pertamanya. Prada Bumi Perdana. Seperti bumi yang bersedia menjadi tempat tinggal setiap makhluk-Nya. Anak pertama yang diharapkan ikhlas menerima apa saja yang dikaruniakan untuk dirinya.
Di belahan kota lain, pada jam yang sama, seorang lelaki jangkung yang telah  memasuki usia kepala empat tampak mondar mandir gelisah. Sekali-sekali tangannya dikepalkan dan diremas-remas untuk mengurangi efek gelisah di dalam dadanya. Satu jam sudah dia mondar-mandir, tak berani masuk ke dalam. Setelah keringat dingin mulai menguap sedikit demi sedikit, diberanikan dirinya masuk ke ruangan itu, menenangkan wanita yang sangat dia sayangi . Wanita yang telah memberikan dua buah hati untuknya. Dan inilah yang ketiga. Seorang putri cantik yang dititipkan untuk mereka, Cahya Alia Putri. Seorang wanita lembut yang diharapkan mampu menerangi dirinya sendiri dan membagi sinar untuk sekelilingnya.
William Shakespeare bilang,”Apalah arti sebuah nama?” Tapi orang tua Prada dan Alia yakin, nama adalah doa…


Sudut Alia
Bukan sekolah favorit! Alia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa maksimal mengerjakan soal ujian akhir SMP. Nilai pas-pasan membuatnya tak bisa memasuki gerbang sekolah tingkat atas idamannya. Mamanya menyarankan setengah memaksa untuk mendaftarkan diri ke sekolah kejuruan favorit saja, syarat masuknya pakai tes. “Lebih afdhol daripada pake nilai ujian akhir!” kata mamanya. Tapi hati Alia telah memilih. Dia tetap akan bersekolah di SMA Parahyangan Yogyakarta. Dia yakin, akan menemukan sesuatu yang luar biasa di tempat itu.
            Ini hari pertamanya masuk sekolah. Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolah ini ternyata menyenangkan. Bentakan-bentakan seniornya selama seminggu masa perpeloncoan dianggapnya sebagai nyanyian-nyanyian merdu yang akan mengantarkannya pada suatu hari, di mana Alia akan mengucapkan terimakasih tak terkira untuk mereka.
            Alia. 16 tahun. Periang. Pemimpi. Acak-acakan. Tak suka keramaian. Benci keteraturan yang keterlaluan. Dia punya cita-cita di sekolah ini. Mendirikan ekstra kulikuler komik. Dia tergila-gila pada komik. Doraemon, Magic Knight Rayearth, Kungfu Komang, Naruto, bahkan komik lawas Indonesia macam Godam Putra Petir pun dia suka. Dia suka komik, tapi tidak terlalu mengikuti suatu seri komik sampai habis. Bukan, bukan karena dia tak terlalu suka ceritanya. Tapi, dia memang lebih suka mendalami setiap goresan gambarnya ketimbang cerita di dalamnya. Bagaimana goresan-goresan itu dapat bercerita mengenai banyak hal. Alia suka itu.
            Kenapa Alia bilang sekolahnya bukan sekolah favorit? Karena tak ada satu pun pelajaran di sekolah itu yang mempelajari tentang komik. Bagi Alia, sekolah dikatakan favorit untuk setiap siswa jika di sana dia bisa mengembangkan bakatnya tanpa batas. Itu bagi Alia.

Sudut Prada
            “Gimana rasanya? Dijemur di tengah lapangan siang bolong?? Hahaha,” perut remaja berbadan gempal itu berayun kesana-kemari saking kerasnya tertawa. “Makanya, diem aja lah kalau ada kakak kelas marah-marah pas MOS gini! Seberapa benar pun kita, tetap kita yang salah! Ada undang-undangnya tuh! Pasal pertama, senior selalu benar. Pasal kedua, jika dianggap senior punya salah, silakan lihat kembali pasal pertama!”
            Hmmm. Prada menghela nafas panjang. Apa-apaan itu? Senior selalu benar? Jargon kuno! Prada tidak suka ada kasta. Kalau  kamu manusia, aku juga manusia. Kamu punya mulut buat bicara, aku juga boleh menanggapi omonganmu itu pakai mulutku! Pikirannya menari-nari kesana-kemari. Baginya, antara otak, hati, mulut, dan tindakan, semua sebisa mungkin harus selaras. Otak dan hati bicara A, maka mulutnya akan bicara A dan tindakannya juga tindakan A.
            “Aku bukan pengecut, boi! Kalau aku nggak suka, aku bilang nggak suka,” Prada tersenyum pada Arif, teman semasa kecil yang sekarang juga menjadi teman SMA-nya.
            Hari ini, Prada kembali dihukum. Berdiri di tengah lapangan upacara dan hormat pada bendera merah putih. “Nggak apa-apa lah, kalau hormat pada merah putih aku masih mau. Kalau hormat ke kakak kelas, mending langsung hengkang dari sini,”  Prada mencoba menghibur dirinya sendiri.
            “Hei, aku temenin di sini, ya? Hehehe.”
            Prada menengok agak malas. Seorang wanita dengan wajah selalu tersenyum sudah berdiri di sampingnya. Sama-sama hormat bendera. Cantikkah dia? Hmm, standar. Tidak cantik menurut Prada, tapi wajahnya ramah. Sangat ramah. Prada ketularan senyumnya, “Kenapa dihukum?”
            “Tadi pagi telat. Hehe. Nggak tahu, dari dulu hobiku telat terus. Berusaha sekuat apapun ternyata masih telat juga. Mungkin memang takdirnya jadi manusia ‘telatan’, bukan ‘teladan’.” Dia kembali tersenyum. Senyum terus, sih?
            “Kamu kenapa dihukum?” Pertanyaannya membuyarkan lamunan Prada. Prada menghela nafas, “Hmm, gara-gara aku nggak ngumpulin tugas dan gara-gara aku bilang nggak mau durhaka sama orang tua.”
            “Maksudnya ‘nggak mau durhaka sama orang tua’ ?” dia penasaran. Wanita yang punya pikiran ‘aku mau tahu’.
            Prada tidak menjawab. Tersenyum, itu jawabannya. Teringat ayahnya yang sedang terbaring sendirian di rumah sakit. Mana mungkin dia meninggalkan ayahnya yang mengerang-erang terus sepanjang malam hanya demi tugas perpeloncoan yang dianggap menguatkan mental para pesertanya? Baginya, pelatihan mental sebenarnya ada pada kehidupan nyata. Bukan pada perpeloncoan yang dibuat-buat untuk menekan mental pesertanya.
            “ Terkadang, orang tak mau tahu soal orang lain. Jadi, nggak perlu tahu, ya?” Prada ingat tadi, saat mengemukakan alasan yang sebenarnya pada seniornya kenapa dia tidak menyelesaikan tugas, dia malah dianggap mengarang cerita biar bebas dari hukuman. Kalau acara seperti ini nggak wajib, aku juga nggak bakal datang.
            Prada kembali menatap ke depan. Hormat kepada bendera negaranya. Tak menghiraukan teriakan-teriakan seniornya di belakang sana karena dari tadi dia ngobrol. Buat apa aku peduli pada mereka? Mereka juga tidak mempedulikanku…
           
Seribu Doa
            “Kamu itu terlalu peduli. Pacarku aja nggak sepeduli ini sama aku,” Prada melengos. Alia senyum-senyum.
            “Bukan masalah pacar atau bukan pacar. Aku kan pernah bilang, kita ini memang kembar tapi beda rahim. Jadi semacam ada telepati di antara kita. Makanya kita saling peduli. Sekali-kali percaya lah sama ceritaku. Hahaha,” Alia nyerocos sampai membuat wajah di depannya itu merah, tertawa terpingkal-pingkal.
            “Pengkhayal! Tapi bersyukur juga aku punya kembar sial macam kamu,” Prada hampir setiap hari terkesima oleh kelakuan remaja ramah di depannya itu. Ada saja alasan yang mampu membuat dirinya ketularan. Ketularan semangat, ketularan suka senyum-senyum sendiri, ketularan bahagia, ketularan malas juga sering. Semacam ada kekuatan magis pada Alia yang bisa mempengaruhi dirinya. Dan Alia selalu bilang, itu kekuatan orang kembar yang beda rahim. Lahir di tanggal dan tahun yang sama, pada jam yang sama.
            “ Biarlah. Pengkhayal juga manusia. Daripada kamu, tukang sinetron,” gantian Alia yang melengos. Tukang sinetron, sebutan yang disematkan Alia pada manusia kaku tapi luar biasa yang ada di depannya.
            Sejak pertama ketemu saat dihukum di lapangan upacara dulu, Alia seperti punya ketertarikan yang luar biasa pada orang itu. Bukan chemistry seperti seorang wanita yang jatuh cinta pada seorang lelaki. Ini beda. Bukan sekedar itu. Dan Alia akhirnya menemukan jawabannya ketika dia menemukan fotokopian akte kelahiran orang itu di mejanya. Ternyata mereka sama. Mereka kembar tanggal lahir. Prada selalu bilang itu tidak masuk akal. Tapi Alia bilang, untuk setiap pengkhayal, segalanya bisa masuk akal. Prada biasa menyebut Alia “pengkhayal” atau “pendongeng”. Alia sering menyebut Prada “pesinetron”.
            Kenapa “pesinetron”? Karena hidup Prada sudah seperti sinetron-sinetron di Indonesia. Alia berkeyakinan kalau sinetron yang biasa tayang di layar kaca itu ide ceritanya dari kehidupan Prada. Prada itu anak lelaki pertama di keluarganya. Sampai usia 10 tahun hidupnya bahagia seperti anak-anak pada umumnya. Ibunya meninggal ketika melahirkan adik perempuannya. Jadilah mereka dua bersaudara piatu. Dulu ayahnya punya bisnis mebel sukses. Semenjak ibu Prada meninggal dunia, ayahnya seakan tak punya gairah untuk meneruskan bisnisnya itu. Akhirnya usahanya itu bangkrut. Ayahnya kerja serabutan.
            Tak hanya sampai di situ. Sejak Prada kelas 2 SMP, ayahnya divonis terjangkit virus HIV-AIDS. Prada tak tahu dari mana virus itu berasal. Prada tak mau tahu. Yang dia tahu, dia harus merawat ayahnya karena dia anak ayahnya. Mulai saat itu Prada harus banting tulang. Cuci piring di restoran dekat sekolahnya sepulang sekolah. Jaga warnet ketika malam menjelang. Itu semua demi sekolahnya. Beruntung, satu-satunya pamannya yang hidup berkecukupan mau membiayai sekolah adiknya dan membiayai pengobatan ayahnya.
            Sampai akhirnya, ayahnya itu meninggal ketika dia kelas 1 SMA. Prada dan adiknya sudah tak punya orang tua lagi. Pamannya tetap membiayai sekolah adiknya sampai kelak SMA. Pamannya cuma mampu membiayai satu orang, dan Prada mengikhlaskan biaya pendidikan itu untuk adik semata wayangnya. Prada tetap bekerja dan berusaha menjadi pintar agar mendapatkan beasiswa. Dan dia memang mendapatkannya.
            Alia selalu terkesima pada Prada. Apa yang terjadi pada hidupnya mampu membuat Alia bergairah melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk hidupnya. Membuatnya selalu ingat untuk bersemangat. Membuatnya selalu ingat untuk menyayangi kedua orang tuanya. Dia lebih suka nonton sinetron Prada daripada sinetron yang bertebaran di layar kaca.
            “Ayo, jadi berdoa sama-sama, nggak?” ajakan Prada membuyarkan lamunan Alia.
            Setiap tahun. Tiga tahun ini semenjak Alia dan Prada saling mengenal. Mereka selalu punya ritual rutin di hari ulang tahun mereka. Ziarah ke makam orang tua Prada. dan Alia selalu tak tahan melihat Prada menangis di sana. Nongkrong di kedai eskrim paling murah di kota ini sampai senja menjelang. Mendatangi kolam sekolahnya sehabis maghrib.  Memberi makan ikan sambil curhat sampai lelah. Kadang-kadang ditemani Pak Penjaga Sekolah yang ikut cerita kesana-kemari. Dan mereka selalu punya doa-doa dan harapan di malam itu. Mereka menyebutnya itu seribu doa.
            “ Aku dulu ya? Hmm, Ya Allah, terima kasih telah telah memberikan usia ini untuk kami….,” Alia memulai
            “Semoga kami selalu bisa melalui usia kami selanjutnya dengan penuh manfaat dan keikhlasan…”
            “Semoga kita nanti lulus ujian nasional…”
            “Semoga bisa masuk universitas yang paling sesuai untuk kehidupan kami…”
            “Semoga ekskul komiknya semakin jaya dan berprestasi…”
            “Semoga usaha warnetku semakin berkembang. Biar uangnya bisa buat daftar kuliah…”
            “Semoga aku bisa seperti Prada yang seorang pekerja keras dan tak pernah mengeluh…”
            “Semoga aku bisa seperti Alia yang suka nularin senyum ke orang-orang…”
            Doa dan harapan terus terlontar dari mulut mereka. Pak penjaga sekolah yang sudah biasa menemani mereka dengan secangkir kopi itu tersenyum-senyum melihat tingkah mereka setiap tahunnya, “Dasar anak muda jaman sekarang. Suka Aneh!”

Katai Putih
            “Apa kabarmu hoooi manusia pengkhayal??” Prada mengacak-acak rambut saudara kembar beda rahim itu. Alia merengut, merapikan rambutnya dari amukan makhluk satu itu.
            Alia sekarang. Sudah tidak acak-acakan. Dia sudah punya studio grafis sendiri bersama teman-teman satu kuliahnya. Mereka juga membentuk sekolah komik khusus untuk anak-anak jalanan. Alia masih merasakan bebasnya hidup tanpa terpengaruh kehidupan lain teman-temannya. Masih menjadi dirinya sendiri, seorang pengkhayal. Tidak mau jatuh cinta sampai nanti ada lelaki yang berani melamar dia.
            Prada sekarang. Sudah tidak kaku lagi. Setiap wanita yang baru ketemu dia pasti langsung terkagum-kagum. Calon dokter muda yang akan menyelesaikan studinya dengan beasiswa penuh dari pemerintah. Bersama calon istrinya, sesama calon dokter, pacarnya semenjak dari SMA dulu, membentuk gerakan anti AIDS dan sering mengadakan penyuluhan di kampung-kampung atau di sekolah-sekolah. Hidupnya sudah tak seperti cerita sinetron di layar kaca. Tapi Alia masih menganggap masih ada sekuel selanjutnya dari sinetron Prada. Tapi entah kapan.  Prada selalu menyambutnya dengan jitakan setiap Alia mengatakan hal itu.
            Hari ini mereka bertemu lagi di kolam yang sama. Hanya ini sisa ritual yang masih bisa mereka lakukan saking sibuknya hidup mereka masing-masing. Tetap ditemani Pak Penjaga Sekolah yang sudah semakin menua.
            “Kita mungkin sekarang sedang berada di atas. Kalau anggapan orang-orang, kita ini masih muda tapi sudah terlihat suksesnya...,” Prada membuka pembicaraan.
            “Tapi ada kalanya, nanti, mungkin kita ada di bawah lagi. Nggak mungkin setiap hari itu malam atau setiap hari itu siang kan?” Alia menyambung.
            “Kita manusia, dan manusia dikasih akal agar berpikir dan berusaha…”
            “Kita ibarat bintang. Mau mati seperti apa? Apakah mau jadi supernova yang menghabiskan hidupnya dengan ledakan-ledakan? Apakah mau jadi lubang hitam yang menyeret sekelilingnya masuk dalam lubang kesedihannya? Apakah mau menjadi katai putih yang menghabiskan energinya untuk sekelilingnya seperti matahari?” Alia tersenyum. Senyumnya malam ini manis sekali.
“Kalau kamu pengen yang seperti apa?”
“Aku? Katai putih juga boleh. Yang penting bermanfaat buat orang lain…”
            Sudut Alia. Sudut Prada. Mereka masing-masing punya sudutnya sendiri. Kadang tumpul, kadang siku-siku, kadang terlalu lancip. Itu tak masalah buat mereka berdua. Karena mereka selalu berusaha melihat semua secara tiga dimensi. Dari sudutku, dari sudutmu, dan dari sudut mereka. Dan dengan sudut-sudut itu, mereka berdua mampu membangun bangunan kokoh yang semakin menjulang setiap waktu. Bangunan sebagai perwujudan mimpi dan khayalan mereka.
~ selesai ~

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.