Minggu, 04 September 2011

JERUJI BESI

Sabtu, 3 September 2011

gambar diambil dari karikatoer.blogspot.com


Pagi ini, aku berharap bisa meneruskan beberapa pekerjaan yang tertunda, setelah kemarin seharian masuk angin dan seharian malah tertidur pulas layaknya putri tidur. *huek
Tapi, sekitar jam 10.00, dua bapak tetanggaku ke rumah, mengajak bapakku untuk jenguk tetanggaku yang lain. Alhasil aku mengantar Bapak, karena bapakku sudah mulai mengkhawatirkan kalau naik motor sendiri. Kali ini, bukan menjenguk orang sakit, tapi lebih tepatnya menjenguk "pesakitan". Yap, kami menjenguk tetangga kami yang dipenjara karena sebuah kasus di dunia rumah tangga. Apapun kasusnya, itu nggak begitu penting. Yang kutahu beliau itu tetanggaku, teman ronda bapakku, dan orang yang bisa bersosialisasi dengan tetangga. Kalau urusan rumah tangganya, kami nggak ngurusin.


Sebelumnya, aku belum pernah masuk kompleks penjara. Ini kali pertama aku mengunjungi penjara. Sebuah hal baru buatku.

Ini hari ke-4 syawal kalo menurut versi pemerintah. Pada H+2 dan H+3 lebaran, pihak penjara biasanya mempunyai kebijakan untuk membebaskan pengunjung bertatap muka langsung dengan keluarganya yang dipenjara dalam sebuah aula. Namun, karena sudah lebih dari H+3, maka peraturan lama kembali berlaku. Pengunjung tak boleh membawa HP (harus dititipkan ke petugas), pengunjung wajib menunjukkan KTP dan mencatatkan diri ke petugas sipir, pengunjung wajib melaporkan apa yang dibawanya untuk orang yang dikunjunginya, bila mau menitipkan sejumlah uang itu juga harus dititipkan ke petugas sipir dulu, dan maksimal waktu kunjungan adalah 15 menit.

Hari ini, kunjungan ternyata masih mengalir tanpa henti. Siapa mencari siapa, terus disiarkan oleh petugas sipir dari ruangan berukuran sekitar 2 m x 2 m. Dan seperti di TV, kunjungan dilakukan di sebuah ruangan yang disekat dengan jeruji besi. Sekat bagian bawah adalah papan semacam triplek setinggi 1 meter, bagian tengah tingginya sekitar 1 meter dibatasi dengan jeruji besi yang ditutup semacam strimin, dan bagian atas berupa jeruji besi renggang-renggang yang tidak ditutup strimin.

Masuk ke ruangan tersebut, tiba-tiba aku pengen mewek. Pemandangan pertama yang kulihat adalah seorang kakek yang dipenjara sedang dijenguk oleh kerabatnya. Di sana, di depan si kakek, di depan strimin, seorang bayi mungil dibaringkan oleh ibunya. Tujuannya, biar si kakek bisa melihat si bayi yang baru berumur beberapa bulan itu. Tampak gurat wajah beliau ingin sekali memeluk dan menggendong si mungil. Tapi mana bisa? Kawat berstrimin itu menghalangi mereka yang hanya bisa bertemu muka. Si Ibu kemudian naik ke atas kursi, mengangkat tinggi-tinggi si Mungil dan mendekatkannya ke jeruji besi tanpa strimin. Begitu pun si kakek. Beliau juga naik ke atas kursi, mendekatkan wajahnya pada si mungil. Dikecupnya lama-lama pipi si mungil yang hanya bisa menggeliat senang, tanpa tahu kenapa si kakek menangis terharu. Belum puas pertemuan itu, petugas mengumumkan bahwa waktu kunjungan untuk si kakek sudah habis. Berat rasanya berpisah.
Haha, sekilas aku tampak seperti sedang nonton sinetron. Tapi itu bukan sinetron kok. Sinetron kan lebay, kalo ini nggak lebay, karena memang begitu adanya.

Sedih ya? nggak bisa ketemu, nggak bisa memeluk orang tersayang karena masuk penjara? *pengecualian untuk Artalyta Suryani dan makhluk semacamnya.

Selanjutnya, masuk segerombolan orang yang berpenampilan preman. Anak punk lebih tepatnya, tindikan di sana-sini, tato dimana-mana. Mereka mungkin menjenguk teman segeng yang dipenjara. Orang yang dikunjungi tampak senang. Keharuan juga terlihat pada kunjungan itu. Sahabat. Mereka mungkin preman, tapi mereka sahabat yang saling mendukung.

Sedih ya? Nggak bisa main kemana-mana bareng sahabat karena dipenjara?
*pengecualian lagi buat Gayus Tambunan dan yang senasib sama Gayus

Giliran kami (aku dan tiga bapak-bapak lainnya) dipanggil. Orang yang kami kunjungi mengambil oleh2 yang sudah dititipkan pada petugas sipir, lalu masuk ke ruangan bersekat. Kami cuma bisa bersalaman lewat sela-sela jeruji besi bagian atas. Bapak-bapak itu mengobrol macem-macem. Aku hanya sekali-sekali mendengarkan karena aku terlalu sibuk memperhatikan sekitar. Memperhatikan beberapa yang ngobrol bisik-bisik, ngobrol ngotot, bahkan ngobrol kaku. Ada yang sumringah, ada yang sedih, ada yang tampak biasa saja saat mendapatkan kunjungan. Ada gurat wajah tampak pasrah sampai marah.Hmm, pikiran orang nggak ada yang sama kan ya?

Orang dipenjara tidak selalu orang yang jahat. Memang banyak yang jahat, banyak yang bersalah, tapi banyak juga yang difitnah. Bagaimana cara penegak hukum di tempatku ini membuat "keadilan"? aku tak tahu. Bicara keadilan, tak ada yang bisa menjelaskan secara jelas. Adil yang seadil-adilnya mungkin baru bisa kita rasakan di akherat, di Yaumul Mizan kita baru tahu timbangan amal dan keburukan kita. Sekarang, di dunia, kita baru bisa "berusaha" menjadi orang baik biar timbangan yang baik lebih berat daripada yang buruk. Ibarat orang dagang, orang yang beli lebih suka dikasih timbangan "anget" tapi harga tetap murah. Jadi orang dagang jangan suka mengurangi timbangan. Mari jadi pedagang yang baik ^_^.
Hmmm, semoga bisa menjadi sedikit bahan renungan. 

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.