Rabu, 14 September 2011

CAHAYA

"karena hidup diciptakan 2 kali. Dalam dunia imajinasi, dan dalam dunia nyata" [donny dirgantoro, 2]

Kemarin lusa iseng-iseng aku jalan ke Shoping, semacam warung bukunya kota Yogyakarta. Buku macam mana lumayan lengkap, gedhe, murah-murah pula (bisa ditawar). Tadinya mau beli buku "Metodologi Penelitian Geografi". Maklumlah, udah angkatan tua, semester tujuh. Semester akhir kalo orang bilang [itu orang yang bilang, bukan aku] :p. Aku coba ubek-ubek los lantai bawah, eh, nggak ada tuh bukunya. Susah ya ternyata?? Niat baik tak selamanya mendapatkan hasil sesuai. haha. Saat itu juga, mataku tertumbuk sama kumpulan novel-novel yang menarik hati. Novelnya Tere Liye, novelnya Dee, novelnya Donny Dhirgantoro.

Aku timbang-timbang macam pedagang sayuran. Angkat bukunya, bolak-balikin tapi nggak bisa dibuka [secara, masih disegel plastik]. Setelah timbangan dirasa pas sama kantong, setelah tawar menawar nyampe dapat harga murah [beneran deh, sumpah!], akhirnya aku beli novelnya mas Donny yang judulnya '2' sama Madre-nya mba Dee.

Nyampe rumah, setelah segel dibuka, lahap juga aku nyelesein tuh novel. Sampai pada satu bagian dengan kutipan kayak gini: "karena hidup diciptakan 2 kali. Dalam dunia imajinasi, dan dalam dunia nyata"
DEGG!!! tiba-tiba aku keinget "sesuatu". Sesuatu banget, tapi bukan sesuatunya Syahrini... -________-
Dan sesuatu itu adalah 27 Mei 2006. Hahaha. Selalu deh, inget yang itu. Selalu deh, ngomongin itu. Hmm, tapi itu emang bikin keinget terus sih....

27 Mei 2006. Bantul. Bantul, 27 Mei 2006. Gempa. Yap, gempa paling tak terlupakan tuh buatku. Detik-detik hampir satu menit itu bergerak lambat kurasakan. Aku masih inget, ada di depan layar monitor, lagi mau ngeprint LPJ kegiatan, tinggal klik ajaaa. Tapi semacam tak sadar, ada yang menggoncang-goncang tubuhku, eh, tepatnya rumahku. Setelah itu, gemuruh hebat memekakkan telinga. Dan dengan begonya, aku mengira itu pesawat jatuh! Pesawat yang jatuh sayapnya nimpa rumahku!! Haa, entahlah, dulu aku sering berimajinasi: gimana ya kalo tiba-tiba di pekarangan rumahku ada pesawat jatuh??? [efek kebanyakan baca berita tentang pesawat jatuh]

Aku tak tahu berapa detik rasa bego itu hinggap di otakku. Yang aku inget, aku beberapa saat mematung, terdiam, sampai aku denger teriakan GEMPA! GEMPA! GEMPA! ALLAHU AKBAR! KUKUH BAKUH!!! Aku baru sadar, oh, gempa ya???? -ziiiiiiiiiiink
Saat itu pula kakiku refleks melangkah keluar kamar. Semua jendela dan pintu rumah masih dikunci. Semuanya terasa alami. Serasa ada yang menarikku pergi dari kamar itu. Dan semuanya tiba-tiba gelap banget, bergemuruh, aku inget banget itu. Suara kaca pecah, gemeretak kayu, suara bruuuk berkali-kali. Dan itu semuanya di sekelilingku. Aku kehilangan kendali atas otak dan kesadaranku. Dan entah berapa detik itu terjadi....



Waktu kembali terasa melambat dan aku merasa kembali tersadar. Saat itu pula serasa ada yang mengajakku pergi, "ayoo mlayuu (lari)". Aku nggak tahu itu siapa, tapi sekonyong-konyong aku ikuti instruksinya. Tapi semua masih gelap. Sampai tiba-tiba aku lihat cahaya itu. Yap! Sebuah cahaya putih seperti cahaya matahari. Refleks [lagi] aku menengok ke sana, cuma nengok, berhenti lari. Dan tiba-tiba [entah, yang ini aku juga nggak tahu datangnya dari mana] aku serasa didorong kuat-kuat dari belakang. Aku ingat, sangat ingat, aku jatuh tengkurap dan badanku meluncur kayak perosotan, seperti melewati lorong-lorong, menuju cahaya putih itu. Rasanya kaya di dalam gua trus liat ada pintu keluar gua, dan aku mau keluar dari gua dengan cara "perosotan". Benar-benar perosotan dengan posisi tengkurap. Perosotan sampai badanku membentur "sesuatu". Harusnya kalo kebentur itu sakit. Tapi aku nggak ngerasa sakit sama sekali.

Sensasinya seperti aku sedang bermimpi. Aku yakin di sekelilingku tadi gelap. Aku meringkuk, tapi aku belum tahu meringkuk di mana. Lantai di bawahku rasanya dingin. Aku bisa melihat pepohonan di kebun belakang rumahku berdiri tegak. Aku juga bisa melihat awan berarak di bawah birunya langit di atas sama. TAPI BAGAIMANA BISA??? Bukannya tadi aku di dalam rumah ya??? Di dalam rumah bukannya nggak bisa liat kebon belakang rumah? Nggak bisa liat masjid kecuali cuma menaranya aja? Nggak bisa liat langit karena terhalang atap???? Di tengah serbuan pertanyaan itu, aku mendorong sebuah kayu-kayu di depanku. Baru sadar kalo di atas tempat aku meringkuk ada lemari putih yang sudah miring, posisinya mungkin kurang dari 30 derajat dari lantai, siap menghantamku kalau saja tak ada bongkahan tembok yang menahannya. Sepertinya aku ada di dapur. Ya, aku di dapur.

Semuanya memang terasa seperti mimpi. Saat aku berdiri di atas bongkahan tembok. Pertama yang aku ingat, "aku tadi udah shubuh belum? Kemarin aku isya' nggak ya??"
Takuuuut banget rasanya. Saat aku sadar itu rasanya seperti di awang-awang. Seperti ada di dunia lain. Sempat terbersit pikiran, "Aku udah mati kah? Kok rasanya nggak ada sakit-sakitnya??"
Sejurus kemudian, waktu itu aku ingat keluargaku. Di mana mereka? Saat itu pula aku mendengar kakakku berteriak-teriak menyebut namaku. Aku ingin berteriak balik, tapi tercekat di tenggorokan rasanya. Kalo aku bisa teriak dan mereka denger, berarti aku belum mati. Akhirnya aku bisa teriak, "Aku neng kene! Ora popoo!!" (Aku di sini! Nggak papa!!). Lalu aku berdiri tegak, bisa melihat semua keluargaku sudah berkumpul jadi satu. Utuh. Aku masih hidup dan ini semua bukan mimpi, ini nyata. Rumahku hancur lebur tapi keluargaku tak ada yang hilang satu pun!! Legaa sekali rasanya.

Setelah kejadian itu, aku baru merasa, Allah itu sudah ngasih kesempatan kedua, antara mimpi dan kenyataan. Dan aku nggak bakal lupa sensasinya. Aku nggak bakal lupa cahaya putih itu. Aku juga heran, bagaimana bisa aku mengingat semua kejadian satu menit yang lambat itu dengan sangat-sangat detail???

never never forget it!!!

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.