Senin, 07 Februari 2011

SEDIKIT CERITA DARI PERJALANAN JOGJA—SURAKARTA—JOGJA

Kamis, 03 Februari 2011 (Libur Imlek)

Memanfaatkan liburan untuk benar-benar liburan! Itu mottoku untuk liburan semester ini. Jarang-jarang aku mendapatkan libur kuliah selama ini (2 minggu). Jadi, nikmatilah sebelum kamu stress lagi!! Hoho...

Kamis pagi, aku iseng-iseng ikut dua guru muda dari SMA Playen, mbak Mita dan mbak Santi, pergi nggak jelas ke Surakarta a.k.a Solo. Benar-benar nggak jelas. Nggak tahu mau berangkat jam berapa, di sana mau ngapain, sampai jam berapa, dan nggak ada yang tahu betul daerah sana. Aku tahunya paling juga lewat aja, nggak pernah ngubek-ngubek kota ini sebelumnya pake angkutan umum. Hmm, tapi itulah serunya ;) nggak tahu apa-apa membuat kami pengen mencari tahu...


Stasiun Tugu
Kami memutuskan berangkat naik kereta api. Pergi ke Solo sih enggak perlu tiket promo kereta api sih. Kami memutuskan naik Prameks (Prambanan Ekspress) yang merupakan kereta kelas ekonomi. Tarifnya terjangkau daripada naik bus, yaitu Rp 9.000,00 per kepala. Kenapa nggak naik motor? Nggak nyampe 2 jam juga nyampe? Lebih leluasa pula kalau naik motor kan? Soalnya nggak ada sense of tourist-nya kalau kita naik motor ngubek-ngubek suatu kawasan kota.

Kereta Prameks shift kedua dari Stasiun Tugu berangkat pukul 08.35 WIB. Kami sampai stasiun sekitar pukul 07.40 WIB dan ngantri di loket (yang antri udah banyaak, padahal loket baru dibuka pukul 08.00 WIB). Ada hal menarik yang terjadi di loket pagi itu. Pukul 08.00 tepat, loket belum dibuka. Seorang ibu-ibu yang ngantri di depan meminta agar loket segera dibuka on-time! Ternyata permintaan ibu itu tidak terlalu digubris oleh petugas. Sampai pukul 08.10 loket belum dibuka, padahal kereta Prameks jurusan Jogja-Solo sudah sampai di stasiun. Alhasil, emosilah si Ibu, marah-marah ngata-ngatain petugas penjaga loketnya. Bapak-bapak yang berada di belakangku yang membawa putranya bernama Sandy ikut memanas-manasi, “Dibom aja pake tabung gas 3 kilo itu, Bu!! Kalo nggak suntik formalin!!”. Aku agak kaget juga, soalnya daritadi di antrian aku sama mbak bercanda aja sama bapak—anak itu, dan tiba-tiba beliau berkata keras seperti itu. (#intermezo: Jadi inget apa yang pernah terjadi di antrian Bank Indonesia saat transaksi penukaran uang pas musim lebaran dulu...=P)

Mendapat gencatan kata-kata emosional seperti itu, petugas loket buru-buru membuka loket sambil meminta maaf atas keterlambatan yang terjadi. Pelayanan pembelian tiket dilakukan dengan cepat, sampai akhirnya aku dan mbak-mbak yang udah dapet tiket lari-lari biar dapet tempat duduk... (maklum, naik kereta ekonomi biasanya rebutan tempat duduk, beda dengan kereta eksekutif).

Pukul 08.35 tepat, kereta diberangkatkan...

Pelajaran pagi itu: keterlambatan baik disengaja ataupun tidak, sadar nggak sadar pasti merugikan orang lain, apapun bentuknya... (saya sukaa telaat :[)

Solo atau Surakarta atau Salakarta
Solo atau Surakarta atau Salakarta? Entahlah, aku juga bingung mana yang bener. Kota ini lebih familiar dengan nama Solo, tapi konon katanya, nama asalnya adalah Surakarta. Kraton di sana namanya adalah Kraton Surakarta, bukan Kraton Solo. Nama-nama sekolah juga jarang yang pake kata-kata Solo, adanya Surakarta. Ex: SMA 1 Surakarta, SMA 2 Surakarta, dll. Kalau orang nggak tahu, mungkin mengira kalau Kota Surakarta itu beda sama Kota Solo... tapi sebenernya sama ajaa... =)

Kami sampai di Solo sekitar pukul 09.50 WIB setelah melewati rute Stasiun Lempuyangan—Stasiun Maguwo—Stasiun Brambanan—Stasiun Klaten—Stasiun Ceper—Stasiun Purwosari—at last Stasiun Solo Balapan. Keluar dari stasiun, sama seperti di Jogja, mulai dari sopir taksi sampai tukang becak menawarkan (lebih tepatnya agak memaksa) para penumpang yang baru turun untuk mempergunakan jasa yang ‘ditawarkan’. Kami bertiga langsung menolak karena kami sebenernya pengen naik andong, padahal di Jogja juga banyak andong. Tapi seperti kubilang tadi, sense of tourist-nya lebih dapet kalo ada di kotanya orang. Sayangnya, Cuma ada dua andong yang kami temui, itupun udah penuh semua. Akhirnya, kami tanya-tanya ke pedagang di sekitar stasiun, rute bus mana yang paling tepat kalau kami mau ke kawasan Kraton Surakarta. Langsung dijawab, “Naik bus Atmo aja mbak di depan stasiun...”

Bisa ditebak, kami akhirnya benar-benar naik bus kota saja, bus kota dengan merk Atmo, tarifnya sama kayak di Jogja: Rp 2.500,00 jauh/dekat. Di atas bus mbak Santi tanya ke bapak keneknya, “Pak, kalo ke Kraton bener pake bus ini kan?” Eh tapi ternyata...,”Wah ini nggak lewat mbak. Kalo ke kawasan Kraton, nanti pake bus Damri A kalo nggak pake bus Damri B yang warnanya biru... Tadi enaknya mbaknya turun di stasiun Purwosari aja, itu tinggal lurus terus...”

Yayaya, pelajaran baru buat kami: Besok kalo mau ke kawasan kraton ma pasar di Solo enaknya turun stasiun Purwosari ajaa...

Kenek bus Atmo menurunkan kami di depan kampus UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret). “Nanti mbaknya nyebrang, nunggu di halte sana, nanti naik bus Damri A ato Damri B...” Hmm, kenek yang jujur dan baik. Semoga dilancarkan rejekinya, pak... =)

Hampir 15 menit kami menunggu, akhirnya yang dinanti-nanti datang juga... Bus Damri, entah Damri A atau Damri B (nggak liat). Ternyata bus Damri agak-agak mirip sama trans Jogja, ada AC-nya dan tarifnya pun setara, Rp 3.000 per kepala. Bedanya, tidak ada shelter, tempat duduknya nggak hadap-hadapan, dan tidak ada jalur khususnya macam bus trans (itu mah bedanya banyaak...*lol)

Sampai di depan Pasar Gede... Wooow, maceeeeet sangaaat.. (dan kami baru inget kalo hari ini adalah hari libur nasional...)

Lanjut lagi, kami akhirnya sampai di kawasan Pasar Grosir Solo atau biasa disingkat PGS. Tujuan pertama kami adalah Kraton Solo, lanjut Pasar Klewer, lanjut PGS (keputusan yang diambil selama di kereta). Kami berjalan kaki ke arah selatan. Dan, wwwooow lagi! Kami baru inget kalo ini musim sekatenan. Nggak di Jogja, nggak di Solo, isinya sama-sama sekatenan. Semrawut nggak karu-karuan...

Di Dalam Kawasan Kraton Kasunanan Surakarta dan Sekitarnya
Setelah muter-muter mencari jalan keluar menghindari semrawutnya suasana sekaten di alun-alun utara Solo, kami akhirnya nyungsep-nyungsep lewat pagar demi mendapatkan tiket masuk. Di balik pagar besi itu, dapatlah kami tiket Rp 2.500,00 per kepala untuk masuk kawasan Pagelaran Kraton dan juga Kawasan Siti Hinggil Kraton Kasunanan Surakarta.

“Nanti kalau mau ke museum, beli tiket lagi mbak di dalem, Rp 8.000,00 per orang...,” ucap mbaknya yang jual tiket. Kami Cuma bilang “ya” dan “terimakasih”. Melanjutkan perjalanan menuju Kraton. Nggak ada guide, nggak ada yang memperjelas perjalanan kami. Kami sempet bingung di dalem. Ini Pagelaran Kratonnya mana sih? Ini Sitihinggilnya mana pula? Ada tulisan open tapi kok pagernya ketutup. Saking bingungnya kami tanya ke bapak Hansip yang ada di sekitar lapak-lapak sekaten...

“Udah beli tiket mbak?”

“Sampun...”

Akhirnya bapak hansip itu mengantarkan kami membukakan pagar menuju Siti Hinggil. Kami masih bertanya-tanya, “Kalo itu Siti Hinggil, Pagelarannya mana?”

“Lha itu...,” Bapak hansip menunjuk ke arah utara. Itu kaaan, lapak sekaten di dalam ruangan? Jadi..., Pagelarannya dipake buat pasar???? Ziiiiiiiiiiiiink...krik..krik... Kami heran. Karena setahu kami, Pagelaran itu buat kegiatan seni macam gamelan, tari-tarian, dan semacamnya...

Ah entahlah, lanjut lagi aja! Menuju Siti Hinggil. Foto-foto dikit buat kenangan. Sampai dimarahin abdi dalem soalnya naik-naik ke bangunan Siti Hinggil... (maafkan kami  =P)




Seperti dibilang sebelumnya, kalau mau masuk museum harus bayar lagi. Ah, nggak papalah mumpung di sini... Tapi ternyata, sekali lagi, nggak ada guide. Dan itu membuat kami tak terlalu paham apa yang sebenernya ada di dalam museum kecuali peninggalan kuno dan beberapa diorama yang menjelaskan kehidupan di Kraton Kasunanan Surakarta. Sebatas itu. Dan kami Cuma foto-foto aja... =P Nggak papalah daripada nggak ngapa-ngapain... hohoho






Saking asyiknya kami berada di area Kraton, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11.40 WIB. Kami lanjut jalan ke Pasar Klewer yang hanya terletak di sebelah barat kawasan Kraton. Awalnya, kami pengen nyobain es dawet telasih yang pernah dikunjungi Pak Bondan di tengah Pasar Klewer. Kata pak Bondan rasanya ‘mak nyusss’ (dari mbak Santi aku baru tahu kalau pak Bondan bilang mak nyuss, rasa makanan itu bener-benar enak, beda dengan kalau pak Bondan bilang top markotop atau mantaap). Sayang sekali, baru masuk pasar kami tak berminat melanjutkan ubek-ubek di Pasar Klewer.

Kami akhirnya memutuskan untuk segera ke PGS. Naik becak dari Klewer tarifnya Rp 5.000,00 bertiga. Jalan kesana-kemari, sampai akhirnya nggak jadi beli apa-apa dan memutuskan,”Udah ah, besok cari batik di Bantul ato Pasar Beringharjo aja...” *gubraaakkk

Pukul 12.25. Kami sudaah harus balik Jogja. Kereta Prameks berangkat dari Stasiun Balapan.

Pukul 12.35. Kami mau nyari andong sebenernya buat balik. Tapi, lagi-lagi, nggak ada andong. Yasudah, kami akhirnya nyari becak. Awalnya meminta diantar sampai Stasiun Purwosari,takutnya ketinggalan kereta. Tapi abang becak keberatan, jalan ke Purwosari lebih naik daripada ke Balapan, katanya.

Yasudah, at least, kami menuju ke Balapan. Menyemangati abang becak yang pastinya tersiksa karena mengayuh becaknya yang ditumpangin tiga orang cewek berbadan gede-gede ini.... =)

Stasiun Balapan
Seberapa keras usaha abang becak, ternyata oh ternyata, kami tetep ketinggalan kereta...

Huaa, alamat nyengoh di stasiun. Prameks yang menuju Jogja baru ada lagi pukul 15.15 WIB. Tapi untungnya bakal ada kereta Madiun Jaya yang juga berhenti di jogja, di jadwalnya datang 30 menit lebih awal daripada prameks (pukul 14.45 WIB). Padahal, waktu itu baru jam 12.45. Terpaksa, kami menunggu, menunggu, dan terus menunggu kereta selanjutnya datang...






Ruang tunggu kereta. Tadinya sepi, Cuma kami bertiga. Selanjutnya, muncul tiga anak muda lainnya. Muncul rombongan backpacker. Muncul dua orang turis yang duduk di depan kami. Muncul seorang ibu-ibu yang akhirnya menjadi teman ngobrol panjang kali lebar =) Dan muncul rombongan ibu2 PKK dusun Pelemsewu (termasuk ibuku) yang jalan-jalan ke BTC buat cari seragam PKK...

Manusia Indonesia, kalau bertemu satu sama lain, tak bisa kalau tak mengobrol, walaupun tak kenal sekalipun. Semoga itu menjadi kesan baik untuk dua bule yang kami temui di stasiun, Mr Jeff dan kawan wanitanya. Mereka berdua berasal dari Kanada. Mencuri perhatian anak-anak kecil yang akhirnya minta diajarin ngomong pake bahasa inggris biar bisa ngobrol sama dua turis itu. Dua bule itu tak terlalu kesulitan bersosialisasi karena rata2 orang yang ada di stasiun ternyata bisa memahami apa yang mereka katakan dan mengatakan apa yang mereka pahami.

Pelajaran lagi di stasiun: beramahtamahlah dengan siapa saja. Keakraban justru terbangun dengan indah dalam keadaan yang sederhana dan tidak bermewah-mewah...

Oke. Balik lagi ke stasiun Solo Balapan. Pukul 14.45 WIB, kereta Prameks datang dari Jogja, berhenti sejenak di Balapan, lalu akhirnya ke Jebres, dan kembali lagi ke Balapan sekitar pukul 15.15 WIB. Karena kami bertiga beli tiket kereta api Madiun Jaya, maka kami tetap setia menunggu kereta satu itu (walopun sebenernya tiketnya juga bisa dipake buat naik kereta Prameks, tapi sayang Prameks sudah penuh). Hampir dua puluh menit kami menunggu Madiun Jaya. Dua bule di depan kami sudah gelisah (mereka pasti tak suka keterlambatan), begitu pula dengan penumpang lainnya. Sampai akhirnya, Prameks sudah tiba lagi di Stasiun Solo Balapan. Tak ada pemberitahuan apa-apa, apa yang sebenarnya terjadi dengan Kereta Api Madiun Jaya? Tak ada yang tahu. Dan tanpa ba...bi..bu.. Karena sudah yakin Madiun Jaya tak akan datang, para penumpang berebut masuk ke Prameks, berdesakan.

Satu pelajaran lagi: Lagi-lagi tentang keterlambatan, dan sekarang ditambah tak ada konfirmasi dan informasi dari pihak stasiun. Bagaimana perasaan anda? Maka, jangan buat orang lain menjadi kesal dengan berbuat hal yang sama kepada mereka...

Yep, I just wanna share my trip... =)

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.