Selasa, 04 Januari 2011

HALO DI SIANG BOLONG




Selasa, 4 Januari 2010. Cuaca sangat cerah. Sinar matahari memanaskan kembali bumi yang telah dingin akibat diguyur hujan semalaman. Sekitar jam 11 waktu setempat. Aku dan NyidNyid kembali ke kampus geografi setelah mengembalikan buku sisa bazar ke Gamapress. Aku mengendarai si item sampai depan ruang I ketika pak Kuriman (seniman Jogja sekaligus karyawan di geografi) mengarahkan HPnya ke atas (baca:langit). Tak hanya beliau, beberapa orang di kompleks fakultas Biologi, Geografi, dan MIPA tampak menengadahkan muka. Bahkan ada beberapa yang menenteng kamera SLRnya, juga mengarahkan bidikannya ke atas sana.
Setelah menghentikan si item, dan belum sempat bertanya pada NyidNyid ada apa sebenarnya di atas sana, NyidNyid yang masih berada di boncengan sudah mengungkapkan apa yang sedang terjadi..

“Mbaak, mbaaak, ada pelangi bagus di atas....,”
Aku menengadah. Subhanallah, cantiknya. Sebuah fenomena alam berupa halo mengelelilingi sang surya. Mentari di atas sana bagai telur bulat menyengat yang dikelilingi warna-warni apik teramat jelas dari si mejikuhibiniu.
Titik SMS: Mataharinya bagus.... *sebenernya yang bagus halonya.
Aku SMS beberapa orang, termasuk ibuku: Bu, mataharine apik lhooo... (dan dibalas ibu ketika aku sudah sampai di kantor Pro-U Media dan si halo sudah menghilang: Apik kepiye nduk? Wong panas ngenthang2 ngene... *hadeeeh)
Frinal, yang kebetulan saat itu lewat dengan motornya berhenti di dekatku, “Ul, orang-orang pada lebay ya? Ntar pasti heboh ni beritanya. Padahal kan itu fenomena biasa. HALO.” *dan Al melanjutkan kata2 halo dengan nada dangdut yang konyol (_ _)a
Aku cuma menimpali, “yah, kan jarang-jarang Al di Jogja halonya warna-warni. Biasanya juga putih, dan lebih sering di bulan ketimbang di matahari. Bagus nhaa...” #akulagitakjub
***
HALO. Dalam bahasa dan tulisan Latin λως, juga disebut sebagai nimbus atau gloriole. Merupakan fenomena optik yang menampilkan bentuk cincin di sekitar sumber cahaya. Di alam biasanya kita lihat saat bulan purnama atau saat matahari terang di siang hari.
Fenomena tersebut terjadi akibat refleksi dan refraksi cahaya matahari/bulan oleh kristal-kristal es yang terdapat di awan cirrus, awan yang terletak di tingkatan atmosfer yang disebut troposfer, sekitar 5-10 km dari permukaan bumi. Lumrah kalo hari ini ada halo, karena pada malam harinya hujan deras mengguyur, dan awan cirrus masih menggantung di atas sana. Kristalnya dibiaskan oleh cahaya matahari yang sedang bersinar terang sehingga terbentuk ukiran cincin mejikuhibiniu, persis seperti fenomena terjadinya pelangi biasa. Di Yogyakarta memang jarang terjadi halo matahari semacam ini, makanya agak heboh. #seringnya bulan kalang (halo bulan) saat purnama sih...
Hmm, tapi ternyata melihat halo matahari itu harus hati-hati lhooo... Ada hal-hal yang perlu diperhatikan:
- Lindungi kedua mata dari pancaran cahaya matahari
- Jangan sesekali terlalu lama memandang halo, kalau perlu memakai kacamata hitam atau tiga dimensi, hindari kilauan pada kaca atau cermin
- Khusus bagi mereka yang hendak mengambil foto dengan menggunakan kamera single lens reflex (SLR), sebaiknya tidak langsung membidik melalui kotak bidik ke arah halo, karena cahaya matahari akan masuk ke dalam lensa fokus dan bisa merusak retina mata.
Hari ini, Allah telah berbaik hati menunjukkan pelangi kepadaku. ^^.
#TAKJUB#
Thx to: Kupas Tuntas: Fenomena “Halo” Matahari http://wahanapress.net

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.