Kamis, 16 Desember 2010

TANYAKAN PADA VIOLET

BRAKK!!! Violet terhenyak dari kursinya. Arya tiba-tiba duduk di hadapannya. Violet yang sempat terkaget, kemudian kembali asyik lagi dengan pekerjaannya.

“Viol!” Arya terlihat kesal karena kedatangannya ternyata tidak digubris.

Violet hanya menoleh sebentar, menata peralatan gambarnya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia tak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya. Tidak biasanya Arya seperti ini.

“Ke kantin, yuk!” Sambil menggendong tasnya, Violet menarik lengan baju Arya. Arya hanya patuh mengikutinya.

Sudah hampir setengah jam kedua sahabat itu duduk diam di kantin tanpa melakukan apapun. Segelas milkshake coklat masih utuh di hadapan Arya. Arya mulai gelisah, kemudian membuka suara, “Viol, kamu kok nggak nanyain ‘aku kenapa’, sih?!”

“Memang dengan tanya ada apa denganmu? Itu bisa menyelesaikan masalahmu?” Violet memandang Arya.

“Lagi pula kalau aku nanyain itu sekarang, aku yakin jawaban kamu pasti melenceng dari pembicaraan yang sebenarnya. Kamu kan masih emosi. Ya, nggak?”

“Pulang aja, yuk. Udah sore,” Violet beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Arya yang masih menatap milkshake-nya.

***

Langit-langit itu sebenarnya biasa saja. Cuma ada seekor cicak gemuk yang menunggu seekor nyamuk untuk dimangsa. Namun, Arya betah sekali memandangi langit-langit kamarnya itu. Dalam bayangan Arya, di sana terukir sebuah wajah manis yang selalu menemaninya selama ini. Wajah itu selalu menyunggingkan senyum dan pandangan yang begitu teduh. Indah sekali.

Arya menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Sekeras apapun ia mencoba untuk berkonsentrasi pada buku pelajaran di tangannya, ia tetap tidak bisa melupakan wajah manis itu. Karena kesal, ia akhirnya membaca keras-keras materi pelajaran fisika di hadapannya, “Tingkat energi sinar infra merah lebih rendah daripada sinar ultra ungu atau ultraviolet.”

“Hah?! Violet? V-I-O-L-E-T. Iya, violet,” Arya mengeja kata itu perlahan-lahan kemudian mengeluh dan menutup mukanya dengan buku yang baru saja dibacanya.

Violet. Violet itu sahabat Arya selama hampir tiga tahun di SMA. Violet itu penggila warna ungu, warna yang menurutnya punya berbagai macam makna dan filosofi.

Arya heran. Dia memang sudah lama mengenal Violet. Namun akhir-akhir ini saja dia baru merasakan sesuatu yang berbeda dari hatinya. Tiba-tiba, dia teringat omongan kakaknya setahun yang lalu,”Sahabat itu letaknya tidak jauh-jauh dari cinta.” Dulunya dia tidak terlalu menggubris omongan kakaknya itu. Tapi ternyata hal itu terbukti sekarang.

Arya menarik bukunya yang sedari tadi menutupi wajahnya. Ia ambil handphone-nya. Ia pencet tombol-tombol yang ada di situ dan masuk ke menu phone book. Ia cari huruf di situ. Masih ragu-ragu, dia urungkan niatnya untuk menekan tombol yes.

Arya kembali memandangi langit-langit kamarnya. Di sana masih ada seekor cicak gemuk yang tetap setia menunggu mangsanya.

“Ah, cicak lucu, apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Cicak itu hanya diam dan…

PLUK?!! Sesuatu mendarat di hidung Arya. Arya masih diam di atas tempat tidurnya. Tapi lama-lama…

”Hueks! Cicak sialan! Nggak tahu terima kasih! Udah dipuji malah balas menghina pake kotoran!” Arya mencak-mencak. Segera saja dia sambar handuknya, kemudian menuju ke kamar mandi, karena dia memang belum mandi.

***

“Hufh!” Violet mendesah pendek. Diletakkannya sketsa komik di tangannya ke meja di hadapannya. Dia pusing. Deadline pengumpulan komiknya tinggal tiga hari lagi. Sebagai seorang ilustrator majalah sekolah, ia memang kebagian tugas membuat komik.

Lama tidak menemukan ide, Violet berhenti sejenak. Ia gerakkan jari-jari tangannya yang pegal. Ia kemudian menuju tempat tidur, hendak beristirahat. Belum sempat ia merebahkan badannya, handphone-nya berdering.

“Halo, Viol?! Kamu lagi ngapain?”

“Kamu, Ar? Aku lagi stress nih! Deadline pengumpulan materi buat majalah sekolah tinggal dua hari lagi, padahal aku belum melakukan apapun! Kenapa?”

“Oh, stres ya? Tumben. Katanya nggak bisa stres? Aku tahu gimana caranya biar kamu nggak stres,” di seberang sana terdengan suara renyah Arya.

“Pasti kamu ngusulin yang enggak-enggak! Udah ah, males! Sekarang kamu mau ngapain, nelpon aku malem-malem kayak gini?” Violet menutup kepalanya dengan bantal dan tiduran di kasurnya.

“Mau curhat…”

“Uhh,” Violet mendesah pelan. Kepalanya pusing. Tapi, dari pada Arya tambah emosi lagi seperti sore tadi, akhirnya Violet mengalah dan mencoba bertahan mendengarkan ocehan Arya.

***

Lembayung senja sore ini begitu menyejukkan mata. Arya mengayunkan kaki di beranda rumahnya yang menghadap ke barat. Lembayung itu mengingatkanya pada Violet. Pertemuan pertamanya dengan Violet.

Saat itu, hujan baru saja selesai membasahi bumi. Gedung sekolahnya terlihat lengang karena penghuninya sudah pulang ke rumah masing-masing. Namun, di salah satu sudut sekolah, seorang gadis duduk terdiam memandangi langit sore itu.

Arya yang saat itu akan menuju tempat parkir motor, menghentikan langkahnya dan menghampiri gadis itu, sekedar menyapanya, “ Hai, kamu anak kelas X-F kan? Belum pulang?”

“Iya. Aku lagi pengen menikmati indahnya langit sore ini. Udah lama banget aku nggak menikmati pemandangan langit seindah ini. Lihat nggak? Ada warna lembayung, ungu, violet, seperti namaku,” sambil berkata demikian, gadis itu tersenyum pada Arya.

“Jadi namamu Violet?” Arya duduk di kursi yang terletak di samping gadis yang bernama Violet itu dan kembali bertanya, “ Kamu suka warna ungu?”

“Suka banget. Entah itu karena berhubungan dengan namaku atau tidak, aku tak tahu. Yang jelas, selain melambangkan kemewahan, ungu juga menenangkan. Itulah kenapa aku suka warna ini,” Violet tampak bersemangat menjelaskan alasan kesukaannya pada warna ungu.

“Menenangkan?!” Arya tampaknya mulai tertarik dengan arah pembicaraan gadis itu. Padahal, biasanya ia akan cuek saat ada orang yang membirakan hal-hal yang menurutnya tidak penting.

“Iya, menenangkan. Menurut Leonardo Da Vinci, saat kita sedang mencoba berkonsentrasi pada suatu hal, pancaran warna ungu bisa lebih meningkatkan konsentrasi dan bahkan membuat hati kita tenang,” Violet menghembuskan nafasnya perlahan.

“Selain itu, saat aku melihat indahnya lembayung yang berwarna merah keungu-unguan ini, rasanya kepenatan dalam hidupku hilang sedikit-demi sedikit. Rasanya aku mendapatkan seluruh jawaban dari pertanyaan tak terjawab yang ada dalam hatiku,” sambil berkata demikian, Violet menatap langit dengan pandangan matanya yang jernih.

“Tapi kan, ungu itu warna janda? Selain itu, katanya ungu itu warnanya kaum homoseksual!” Arya begitu menggebu-gebu menanyakan dan menyatakan apa yang pernah dibacanya kepada kenalan barunya itu.

“Aku tahu. Sebenarnya itu tinggal bagaimana sudut pandang kita saja. Kalau aku sih lebih suka mengambil sisi positifnya dari pada negatifnya. Ya, nggak?” Violet kembali memandang Arya sambil tersenyum.

Arya menarik nafas pelan. Dari tadi dia mencoba menghubungi Violet lewat handphone-nya, tapi ternyata nomornya tidak aktif. Arya tidak tahu apa yang terjadi pada Violet. Sudah lima hari ini Violet tidak masuk sekolah. Arya khawatir terjadi sesuatu pada Violet. Dan setelah merenung beberapa lama, Arya memutuskan bahwa ia harus menjenguk Violet besok sore.

***

Violet merebahkan tubuhnya ke atas hamparan karpet yang dikelilingi tumpukan dus-dus besar. Ia baru saja tiba di Negeri Sakura ini. Ya, dia berada di Jepang sekarang. Violet telah meninggalkan negeri kelahirannya, kota terindahnya, dan juga teman-teman tersayangnya.

Sebenarnya Violet masih ingin melanjutkan studi di Indonesia. Lagi pula, cuma tinggal setengah tahun lagi dia akan lulus SMA. Tapi, orang tuanya memang bersikeras mengajak anaknya itu pindah. Alasannya, tidak ada yang menemani Violet di Indonesia.

Violet memejamkan mata. Tiba-tiba bayangan Arya berkelebat dalam benaknya. Violet terkesiap. Dia belum sempat berpamitan pada Arya, bahkan Arya tidak tahu soal kepindahannya ini. Violet terpekur. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Arya jika tahu dia sudah tidak ada di sana lagi.

***

Arya duduk termenung sendirian di salah satu sudut sekolah. Pandangan matanya menerawang jauh ke atas, memandang lembayung berwarna merah-keunguan.

Di tempat ini, pertama kalinya ia bertemu dengan Violet. Bertemu dengan seseorang yang selalu membuatnya ceria dan tertawa. Bertemu dengan seseorang yang selalu menenangkannya saat emosinya meningkat. Bertemu dengan seseorang yang tahu caranya memahami hidup ini. Violet sahabatnya yang begitu berharga. Sahabat terbaik yang pernah dikenalnya.

Arya menundukkan kepalanya. Dadanya terasa sesak. Dia kesal dengan Violet yang tiba-tiba pergi meninggalkannya dan teman-temannya. Violet tidak memberi kabar sebelum pergi. Dia kesal pada dirinya sendiri, yang tak sempat mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Violet.

Arya bangkit dari duduknya, kembali menengadah. Di sana, dia bisa melihat Violet tersenyum padanya lewat lembayung senja sore ini.

“Ah Violet, apakah di sana kau masih bisa menikmati indahnya lembayung senja seperti di sini?” Arya berbisik pelan, kemudian melangkahkan kakinya, meninggalkan tanya pada lembayung senja sore ini, yang akan selalu mengingatkannya pada Violet.

(Selesai)

*aku dulu suka tulisan ini, tapi sayang, belum pernah dimuat dimana-mana =))

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.