Kamis, 16 Desember 2010

SI KEMBAR

**hmm, kok nggak inget kalo pernah nulis ini yaaa??? (_ _)"a

Huh! Aku heran dengan dua orang itu. Bagaimana aku bisa belajar kalau suasananya selalu seperti ini? Ribut, ribut, dan ribut!

Aku bingung bagaimana cara membuat mereka berdamai agar bisa merasakan betapa nyamannya rumahku seperti semboyan “Rumahku Istanaku”. Ada-ada saja hal yang diributkan! Hal sepele bisa jadi hal yang ruwet, dan hal yang ruwet bertambah semakin tidak jelas, bahkan bisa menimbulkan perang yang lebih ngeri di rumah ini.

Uhh, susah rasanya menjadi kakak mereka! Tiap berusaha untuk menegur, tak pernah didengar. Tiap marah, sering dibantah. Terkadang aku merasa tertekan punya adik seperti mereka. Itu membuat aku sering berpikir, bahwa mereka tidak pernah menghormatiku sebagai seorang kakak. Dan mereka sama sekali nggak pernah ngertiin aku!

Saat masalah yang sepele menjadi perang mulut yang berlanjut dengan perang dingin berkepanjangan dari mereka berdua, mau enggak mau, sebagai kakak yang baik, aku harus menjadi penengah mereka. Sungguh childish! Bagaimana aku tidak stres coba? Apalagi ortu jarang sekali ada di rumah karena sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing. Yah, aku memang harus jadi kakak yang baik…

Kali ini, aku tidak tahu, mereka sedang meributkan apa. Yang jelas, aku sedang ingin belajar dan tidak ingin diganggu!

PRAANG!!!

“Hah! Lo tuh nggak hati-hati! Pecah kan!”

“Yee, bukan aku! Enak aja nyalah-nyalahin orang! Emang Lo yang nentuin siapa benar dan siapa salah?”

Arrggh!!! Ini sudah hampir jadi perang besar! Yah, mau nggak mau nih…

Kreek. Aku membuka pintu kamarku. Memandang pemandangan tidak enak di depanku. Apalagi kalau bukan wajah bersungut-sungut dari si kembar Yuke dan Arika, kedua adikku yang paling nyebelin dan merepotkan di dunia ini. Ditambah, ikan mas koki yang klepek-klepek di lantai karena akuariumnya pecah akibat ulah dua makhluk ganas yang kusebutkan tadi.

“KALIAAN!!! Bisa diem nggak sih??” Aku berdiri dan berkacak pinggang. “Ngertiin Kakak dikit kenapa sih? Lagi belajar nih! Besok ulangan!”

“ Sekarang kalian berdua beresin semuanya. Taruh ikan mas koki yang hampir mati itu ke ember yang diisi air, dan cepet ganti akuariumnya! Ngerti??!” Aku sedang tidak main-main. Kesabaran seorang kakak yang baik ada batasnya. Hmm, dan tampaknya kedua adikku lumayan tahu kalau aku sedang -- benar-benar -- marah. Buktinya, mereka diam seribu bahasa. Hanya menunduk, saling lirik satu sama lain, dan tidak berani menatap mataku. Padahal, biasanya mereka akan mengungkapkan beratus-ratus alasan yang kadang nggak masuk akal agar dicap sebagai yang benar dan tidak bersalah. Ya, baguslah. Aku bisa kembali ke kamar dan melanjutkan kegiatan belajarku yang hampir rusak.

“Tuk kan, Rik! Aku kan cuma bilang, pindahin akuariumnya!! Bukan pecahin akuariumnya! Dasar dodol!!” Itu suara Yuke. Tampaknya bakal mulai lagi nih! Dari dalam kamar aku hanya berdehem,”Kalau nggak mau beresin atau ganti akuarium, besok nggak usah piara ikan lagi!” Aku coba mengancam kedua anak berumur tiga belas tahun itu. Aku tahu, mereka sangat menyukai ikan, dan aku yakin mereka akan menangis semalaman kalau tidak boleh memelihara makhluk yang bernama ikan. Itu pernah terjadi sebelumnya. Mereka berdua sampai tidak doyan makan karena ikan cupang mereka mati, sampai akhirnya mereka mendapatkan ikan louhan sebagai pengganti ikan cupang. Memang adik yang aneh!

Esoknya, saat aku kembali dari sekolah…

Astaga!!! Apa-apaan lagi ini? Ruang tamu benar-benar berantakan. Taplak meja sudah ada di lantai, kursi tamu bergeser posisi sampai sejauh dua meter, dan… oh…oh…, apa itu? Meringkuk di sofa sambil menangis sesenggukan.

“Ya ampun, Rik, kenapa lagi sih? Kamu berantem lagi sama Yuke? Sampai seheboh ini?” Aku mendekati Arika yang sedang meringkuk membelakangiku. Aku tarik behunya agar wajahnya bisa berhadapan denganku. Matanya sembab. Benar-benar sembab.

“Kak, Yuke nyebelin! Dia itu orang paling nyebelin! Pokoknya nyebelin! Arika nggak mau kenal Yuke lagi!” Aduh, ni anak apa-apaan pula bicara ngelantur seperti itu?

“Hmm, Rik, Kakak masih nggak ngerti. Kalian itu kembar. Lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama. Punya wajah sama. Pokoknya secara fisik, kalian itu susah dibedain. Tapi, kenapa secara batin, kalian itu nggak pernah akur? Rik, kalian itu saudara…,” Aku coba berbicara selembut mungkin. Emosi adikku sedang tidak stabil. Kalau memarahinya, aku takut bakalan lebih runyam lagi permasalahannya.

“Kak, Yuke mau pergi dulu! Tapi nggak sama ‘dia’!” Yuke keluar dari kamarnya, dari kamar mereka berdua. Dia menekankan kata ‘dia’ sambil melirik tajam ke arah Arika. Aku masih belum bisa menguasai situasi,”Mau kemana, Ke?”

“Mau pergi nonton sama Dimas! Dah ya Kak!” tanpa ba-bi-bu, Yuke langsung keluar rumah, tidak menggubris teriakan dariku. Ya Tuhan, apa yang salah denganku sehingga harus menghadapi kedua adikku yang lama-lama seperti monster ini?

Aku pusing. Aku memutuskan untuk beristirahat sebentar di kamar. Aku butuh bantuan dari mama. Aku benar-benar butuh bantuan untuk mengatasi mereka berdua. Tapi, percuma saja! Teleponku sama sekali tidak diangkat. Pasti sedang sibuk, sampai tidak ingat lagi kalau ketiga putrinya sedang memerlukan pendampingan. Sekarang, hal apa yang bisa dilakukan gadis berumur tujuh belas tahun seperti aku ini? Uhh, bingung!!!

Tok,tok,tok! Ada yang mengetuk pintu kamarku. “Masuk aja,” sahutku.

“Mbak Wikan, ini makan siangnya. Tadi mbak Wikan belum makan kan?” Bi Nah masuk, membawakan makan siang yang lumayan menggugah selera. Tapi sayangnya, aku sedang tidak ingin makan.

“Makasih, Bi. Taruh situ saja,” aku mencoba tersenyum pada wanita setengah baya yang menemaniku sejak aku berumur lima tahun itu. Bi Nah beranjak keluar kamar.

“Ehm, Bi…,” aku memanggil,”Bisa ngobrol bentar nggak?”

Bi Nah kembali ke kamarku. Aku minta dia untuk duduk di kasur, di sebelahku. Aku menarik nafas pelan, kemudian menghembuskannya kembali.

“Bibi tahu nggak, kenapa Arika dan Yuke berantem sampai segitunya?” aku kembali menarik nafas, ”Dan, ehm, Bibi tahu nggak Dimas itu siapa?”

Seperti biasa, Bi Nah membelai rambutku, laiknya belaian seorang ibu kepada anaknya. Bi Nah mulai bercerita, menceritakan apa yang dia tahu kepadaku.

Oh, begitu rupanya! Ternyata hanya masalah semacam itu! Huh, kesal rasanya! Adik-adikku itu memang masih benar-benar seperti bayi! Masak hanya gara-gara masalah cowok, mereka sampai berantem nggak jelas seperti itu!

Hmm, harus ada cara jitu untuk membuat mereka sadar kalau mereka itu adalah saudara kembar yang sulit untuk dipisahkan! Aku harus bisa membuat mereka sadar! Aku harus bisa, karena aku merasa bertanggungjawab terhadap mereka. Mereka adalah adikku, dan mereka sekarang hanya punya aku!

***

Tiga hari sejak peristiwa berantem nggak jelas antara Arika dan Yuke, situasi belum membaik. Bahkan, malah semakin memanas. Kalau biasanya perang dingin yang terjadi benar-benar dingin, sekarang perang dingin mereka terkadang menjadi perang dingin berdarah. Dan sekali lagi, aku harus rela menjadi korban mereka berdua.

Di meja makan yang berbentuk bundar, dua pasang mata bertatapan tajam. Hii, mengerikan! Aku bahkan tidak berani melihat bola mata mereka. Aku mencoba mencairkan suasana,”Mau nggak, tanda tangan surat perdamaian yang Kakak buat kemarin?”

Diam. Mereka berdua hanya diam. Beberapa detik, yang terdengar hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring, dilanjutkan dengan suara gumpalan nasi yang tertelan, menyangkut di kerongkongan. Aku benci hening. Aku benci kedua adikku yang benar-benar membuat aku bingung!

“Oke, gini aja. Kalian udah pernah liat film Legally Blonde kan? Sekarang, kita tulis dalam secarik kertas, suatu pujian, kekaguman, atau hal positif tentang rival kita,dan kita taruh dalam satu wadah. Jadi artinya, kita buka-bukaan lewat secarik kertas. Gimana?” aku menawarkan suatu penawaran yang manis.

“Nggak. Males Kak, Arika mau tidur. Makannya udah selesai. Malem Kak! Malem Nenek Lampir!” Ups, Arika memanggil Yuke dengan sebutan -- menurutku pribadi -- mengerikan. Yah, konflik belum selesai. Aku harus berpikir lagi, cara apa yang dapat membuat mereka tahu, kalau hal yang mereka lakukan kali ini sudah benar-benar menyebalkan!!!

***

Aduuh, kepalaku rasanya pusing sekali. Semalam aku berpikir keras, mengenai Yuke dan Arika. Aku rela deh, melakukan apapun, asal membuat kedua makhluk sinting itu sadar akan kesalahannya masing-masing. Membuat mereka rela mengalah dan menghormati satu sama lain.

Jam 06.30, sudah siang rupanya. Alamat mau telat, nih! Kebanyakan mikir, ya beginilah jadinya. Aku beranjak dari kasurku, mau mandi. Tapi, Aww, perutku sakit sekali. Aduh, benar-benar sakit! Aku kenapa??

BRUKK!!! Tiba-tiba segala di hadapanku berubah menjadi gelap. Tidak terlihat, tidak terdeteksi. Yang aku tahu hanya gelap dan suara samar-samar milik Mbok Nah yang menjerit-jerit ketakutan.

***

Aku bermimpi. Dalam mimpiku aku menemukan ketenangan. Ketenangan yang tidak hening, ketenangan yang tidak pernah kutemukan sebelumnya di rumah. Tidak ada keributan, tidak ada jeritan mengejek, tidak ada keegoisan. Wah, pokoknya benar-benar suasana ternyaman seumur hidupku.

Dalam mimpiku, aku melihat kedua adikku tersenyum manis sekali. Mereka berdampingan di hadapanku. Tidak pernah aku melihat hal itu sebelumnya. Sama sekali belum pernah! Tapi…

Tiba-tiba saja, senyum itu berubah menjadi isak tangis. Kedua anak kembar itu mengeluarkan air matanya masing-masing, mereka ingin memelukku, tapi entah, ada hal lain yang menghalangi mereka untuk memelukku. Aku ikut menangis, aku juga ingin memeluk mereka. Mereka adik-adikku. Aku tahu mereka bukan adik yang baik, mereka bukan adik yang sopan, maupun sayang kakak. Tetap saja, ada ikatan kuat yang membuat kami bersatu, kami sedarah, dan kami teman sekaligus saudara. Aku tak ingin kehilangan adik-adikku.

Kepalaku kembali pusing. Berkunang-kunang. Berputar-putar. Semua kembali gelap. Isak tangis terdengar semakin lirih, kemudian menghilang. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Saat aku kembali melihat cahaya, kudapati diriku terbaring di atas kasur berseprei putih. Aku sadar, aku ada di tempat bernama Rumah Sakit.

Hff, rasanya pusing sekali. Aku coba memejamkan mataku lagi, sampai kusadari, di samping kiri-kananku dua anak perempuan kembar sedang tidur,merebahkan kepalanya di atas kasur. Aku yakin mereka menungguiku sampai kelelahan dan tertidur. Yah, seperti yang ada dalam mimpiku. Mereka sebenarnya adik-adik yang manis. Aku tersenyum, mencoba membelai rambut mereka satu persatu.

“Kakak! Kakak udah sadar?” Yuke terbangun. Arika ikut terbangun,”Kakak nggak apa-apa kan?”

Aku tersenyum. Kucabut kata-kataku yang mengklaim bahwa mereka nggak pernah ngertiin aku. Mereka sayang aku, aku sekarang tahu itu. Aku memandang mereka. Tanpa kusadari, air mataku menetes. Aku masih punya keinginan, aku ingin membuat mereka menjadi saudara kembar yang saling menyayangi tanpa dilandasi rasa keegoisan.

“Kak Wikan, maafin kami…,” Yuke mengikuti jejakku mengeluarkan air matanya,”Kata Mboh Nah, semalaman Kakak mikirin kita berdua, sampai akhirnya Kakak kena thypus.”

“Kita janji, Kak! Kita berdua nggak bakalan berantem lagi. Kita mau jadi adik yang baik,” Arika menggenggam erat tanganku, “Lagian, untuk masalah terakhir, kita berdua emang benar-benar childish!”

“Iya, cuma gara-gara meributkan siapa yang pantes deket sama Dimas, kita sampai berantem,” sekarang gantin Yuke bicara. Mereka berdua saling memandang, mengulaskan senyum, kemudian tertawa, dan memelukku. Erat sekali. Sampai aku tidak bisa bernafas. Aku tersenyum lebar. Sangat lebar.

“Oh, iya…”

“Kenapa,Kak?”

“Papa sama Mama tahu kalau Kakak sakit?”

Arika dan Yuke tersenyum,”Tahu nggak,Kak? Papa dan Mama panik mendengar Kak Wikan yang selalu sehat, tiba-tiba masuk rumah sakit!” Mereka memandangku. “Dan Mama janji nggak bakalan ninggalin kita lama-lama lagi! Besok Mama pulang dari luar kota. Papa juga berusaha cari cuti biar bisa pulang ke rumah.”

Senyumku bertambah lebar. Aku bahagia hari ini. Mungkin itu senyum terlebar dan tertulus yang pernah kuulaskan setelah hidup selama tujuh belas tahu lebih lima bulan. Akhirnya adik-adikku sadar akan kesalahan mereka. Dan orang tuaku akan lebih memperhatikan kami. Yah, aku harap mereka benar-benar melaksanakan janjinya. Terimakasih Tuhan, cara-Mu bekerja memang hebat!

(selesai)

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.