Senin, 13 Desember 2010

ROAD TO KARANGANYAR: "Jalannya Bagus Kok, Mas..."


NB. Menemukan jalan aspal serasa menemukan harta karun

Masih di hari kedua KKL, saat kami diwajibkan melakukan revisi peta RBI Kabupaten Wonosobo. Daerah yang kami revisi sebagian besar memang daerah datar, area sawah dan pemukiman di bagian utara. Namun, di bagian selatan, kontur tampak rapat pada peta. Itu artinya, daerah selatan wilayah revisi kami merupakan kawasan yang tidak datar (bisa bergunung, berbukit, dsb).

Hampir jam 11.00 WIB. Saat itu kami masih berada di Kecamatan Kertek, di bagian tengah agak selatan daerah revisi. Kami menemukan beberapa titik yang harus direvisi. Beberapa sekolah, pasar, dan kantor Kelurahan tidak berada pada posisi yang tepat pada peta. Ada kuburan yang tergambar pada peta, tapi sebenarnya tidak pernah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu (berdasarkan interview dengan seorang simbah-simbah warga asli). *hmm, bikin peta yang benar-benar tepat memang susah. Apalagi jaman duluuu banget, belum ada teknologi macam GPS, komputerisasi SIG, PDA, citra satelit penginderaan jauh, dll, dsb...

Peta merupakan penunjuk jalan, penunjuk lokasi bagi orang-orang yang tak tau arah dan tak tau tempat. Tapi, jika nggak pinter baca peta, peta itu seakan malah menyesatkan. Kadang, kesalahan yang ada pada peta justru bisa membuat penggunanya tersesat. Apalagi jika yang dipakai adalah peta yang dibuat pada jaman baheula (ex: Peta RBI yang kita revisi adalah peta yang survey lapangannya dilakukan pada tahun 1998).
Sebenarnya, waktu itu kami hendak memutar langsung menuju Kecamatan Leksono, di tempat yang relatif datar dan masih masuk daerah revisi kelompok kami. Namun, rasanya kok percuma ya kalo udah sampai sini tapi nggak sekalian revisi daerah yang berkontur rapat?? Sayangnya, saat itu, ketika dilihat pada peta, tidak ada jalan yang bisa ditembus di daerah pegunungan tersebut. Lagi pula, tidak ada titik sample yang kami ambil di daerah tersebut pada malam sebelumnya.
Saat masih agak bingung memutuskan, si Kriwil akhirnya tanya pada warga sekitar, siapa tahu ada jalan tembus. Dan benar, memang ada (tapi di peta nggak ada).
“Aku tadi tanya ibu-ibu. Katanya bisa kok kalo kita ke utara lewat pegunungan itu. Nanti tembus ke pabrik kayu lapis...”
Kata si Ibu-ibu yang ditemui si Kriwil (telah diterjemahkan dari bahasa jawa yang agak ngapak): “Bisa banget mas! Jalannya bagus kok, mas... Paling setengah jam nyampe...”
Akhirnya, kami lebih percaya pada warga sekitar ketimbang percaya pada peta yang kami bawa. Perjalanan dilanjutkan menuju selatan. Sampai ke daerah pertambangan pasir dekat sungai, jalan yang ada tinggal jalan sempit, mepet dengan kali kecil mirip Selokan Mataram. Saat itulah, keraguan mulai muncul...
“Eh, ini bener jalannya lewat sini???”
“Iya, tadi ibu-ibunya bilang gitu..”
“Kok sempit kayak gini ya??? Berbatu-batu. Kayak jarang dilewatin...”
“Ho’oh.... bisa dilewatin angkot nggak ya???”
Pertanyaan-pertanyaan yang intinya meragukan jalan yang kami lalui bermunculan tiada henti. Si Kriwil yang merasa bertanggungjawab karena bertanya pada ibu-ibu tadi mencoba meyakinkan bahwa apa yang ia dengar dari si ibu tadi adalah benar: Jalannya bagus, mas!!! Kami pun mencoba berpositive thinking. Ah, siapa tahu beberapa meter lagi jalannya bagus, aspalan, halus...
Beberapa puluh menit telah dijalani, berkilometer jalan berbatu telah kami lalui (*lebeek). Kanan-kiri tinggallah hutan yang menemani. Nun jauh di sana, nampak beberapa tebing yang longsor. Hmm, di beberapa wilayah di Wonosobo memang sering longsor. Melalui jalan berbatu, naik, dan berkelok, dalam waktu yang relatif lama, serasa naik jet coaster yang berjalan pelan, perut berasa mual.
Kami kembali mencermati peta, memperhatikan, dan menemukan... Ada satu blok pemukiman di daerah pegunungan itu. Itu artinya...
“Berarti pasti ada jalan yang bisa menuju ke sana. Dan jalannya pasti ini, jalan yang kita lalui. Jalan yang nggak tercantum di peta RBI!!”
Kami kembali yakin. Apalagi beberapa meter kemudian, kami menemui anak-anak SD yang sedang berjalan kaki.
“itu kayaknya anak SD yang di bawah tadi...”
“Ah masak to??? Sejauh ini jalan kaki????”
“Keren yo, bocah-bocah itu...” Rasa heran, takjub, campur malu. Anak-anak sekecil itu sekolah jalan kaki, jauh banget, jalannya seperti ini pula!! Sedangkan orang-orang macam kami sering sekali malas. Super super pemalas. *heheee =P
Akhirnya, perkiraan kami benar. Sekitar 1 km setelah kami ketemu anak-anak SD, bertemulah kami dengan permukiman desa. Sebuah desa bernama Karanganyar. Wooow, pelosok nih... Tidak ada sinyal, tidak bisa dihubungi dosen, tidak bisa dilacak lewat PDA, tidak bisa menghubungi teman di kelompok lain.
Kami pun menuju rumah salah satu warga. Numpang tanya sekaligus numpang ke kamar mandi. Ada yang menuju warung kecil, beli camilan untuk menemani istirahat dalam waktu yang tak ditentukan. Waktu menunjukkan sekitar pukul 12 siang. Di teras salah satu rumah warga yang sedang sepi, kami berkumpul kembali. Mendiskusikan apa yang sebaiknya kami lakukan setelah ini.
“Tadi kita tanya bapak-bapak yang lagi nongkrong di sana. Kata mereka, kita memang bisa melanjutkan perjalanan, tapi jalannya tetep kayak tadi. Dan kita nanti sebaiknya ambil kiri, kalau ke kanan jalannya lebih nanjak. Tembusnya di pabrik kayu...” Izud dan si Kebo memulai diskusi.
“Tapi ibu-ibu di warung tadi bilang, mending kita balik aja. Soalnya jalannya lebih jauh daripada jalan awal tadi. Dan lebih nggak enak...” Fav menuturkan hasil obrolannya dengan si ibu pemilik warung.
“Kalo mas-mas yang kutemui lain lagi. Dia bilang bisa kok kalau kita tetep lanjut. Aku lebih percaya ma mas-masnya tadi daripada si ibu-ibu...” Kriwil melaporkan hasil interview singkatnya dengan seorang mas-mas yang cukup terpelajar.
“Nah, sekarang gimana?? Marul, Sigit, Zahra, Farah??”
“Aku milih lanjut aja deh..”
“Aku juga..”
“Lanjut...”
“Lanjut dah!!!”
“Ho’oh lanjut aja!! Kalo kita balik, ada satu pertimbangan! Ntar tracking di GPS kita jadi jelek bwanget!!! Ketauan banget kalo kita ‘tersesat’...”
...^$%#@@7^!! (semua diem)
“Kita kan nggak tersesat. Kita cuma berani ambil resiko!!!” *membela diri
Yah, apapun yang terjadi, keputusan telah diambil. Setelah makan siang dengan bekal nasi bungkus seadanya dan persediaan air mineral yang benar-benar menipis... Setelah nunggu adzan dhuhur di masjid setempat sampai jam 13.00 tapi tidak ada adzan yang berkumandang (*”Nunggu Pak Kyai pulang mas,” kata seorang warga).
Pada akhirnya, kami berangkat menuju arah selatan, melanjutkan perjalanan. Benar, jalanan kembali tidak bersahabat. Bahkan, lebih parah dari sebelumnya. Lebih “nggronjal-nggronjal”, lebih panjang, dan lebih bikin mual plus pusing. Kami kembali ditemani pepohonan, dan terkadang ada ladang sayuran menyembul di sela-sela rimbunnya pepohonan.
Ambil jalan ke kiri. Nanjak. Jalanan lebih nanjak. Sampai akhirnya mesin Daihatsu kuning itu rewel. Ngambek. Tidak kuat ngangkat kami bersembilan ditambah pak sopir. Kepanikan terjadi di dalam ruang berukuran sempit, melorot, bingung cari pintu keluar. Kebo masih sempat merekam sampai membuat HP si Fav membentur jalan berbatu.
“Batu! Batu! Batu! Ganjel Roda cah!!!” Izud panik. Para lelaki segera mencari batu. Kemudian, dengan dibantu instruksi pak sopir, mereka pakai tenaga mereka untuk mendorong si Kuning Daihatsu sekuat-kuatnya. Tiga orang wanita yang ada dalam rombongan itu hanya memberi semangat. “Semangat yak! Semangat! Yak siiip!!” [-,-]???
Saat kami akhirnya menemukan jalan beraspal halus, girangnya bukan main. Seperti habis memenangkan pertandingan dan mendapat emas kemenangan. Jalan beraspal adalah barang langka bagi kami kala itu.
Bersusah payah, tapi seru, asyiik, top tenan!! Itu komentar kami saat ditanya perasaan kami. Beruntung sekali angkot carteran yang kami tumpangi dikendarai oleh sopir handal yang mau bersusah payah bersama kami. Walaupun pak sopir juga tak tahu seluk beluk jalan yang berada di wilayah yang kami lalui... Alhamdulillah deh, sampai mau ber-off road ria demi mengantar kami ke mana-mana. Revisi GILAAK!!!

*maaf pertama untuk pak sopir:”maaf paak, kita merepotkan....”
**maaf kedua untuk pak Bob: “Maaf pak, menahan Bapak sampai nggak sempat makan siang...” ^^v

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.