Senin, 13 Desember 2010

REVISI MENGANDALKAN INTUISI


27 Juli 2010, Saatnya kita revisi Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI)
Hari pertama yang agak-agak gagal, tak menyurutkan semangat para pejuang (calon) geograf muda jurusan SIG-PW untuk melanjutkan tugas: Revisi Peta RBI Kabupaten Wonosobo. Malam sebelum perjalanan revisi, persiapan-persiapan telah dilakukan. Amunisi telah disediakan dengan (lumayan) rapi. Print-Out peta RBI lembar masing-masing, print-out citra klasifikasi multispektral ASTER dan LANDSAT, tabel omisi-komisi, spidol OHP, baterai GPS, fotocopian peta superbesar yang disambung-sambung dan ditekuk-tekuk, dan yang terakhir...(dengan berbekal negosiasi super cepat ala Surya), PDA milik pak Taufik akhirnya jatuh ke tangan kami, kelompok 8!*hahahahaha =D
Kertek. Itulah kecamatan tujuan kami, sebagian wilayah kecamatan tersebut masuk dalam daerah revisi kelompok kami. Ditemani oleh seorang dosen yang akrab disapa pak Bob dan seorang sopir angkutan kota yang aku lupa namanya siapa (^^)v, dimulailah perjalanan kami pagi itu.

Di sebuah pertigaan yang disebut pertigaan Petir (oleh kami), karena letaknya dekat dengan dusun bernama dusun Petir (konon katanya, banyak petir sering menyambar tempat itu), kami memutuskan untuk membagi tim menjadi tiga bagian. Tim satu, dibekali dengan peta fotocopian RBI superbesar dan sebuah GPS merk Garmin (entah seri berapa). Tim dua, melakukan revisi berbekal PDA (canggih!). Tim tiga, dibekali peta print-out RBI warna-warni skala 1:25.000 serta tabel gazeter + tabel omisi komisi.
Tiga tim tersebut kemudian melanjutkan perjalanan menuju titik masing-masing. Aku, Izzudin, dan Gede, selaku tim satu, menuju arah timur. Saddam, Surya, Farah, selaku tim dua menuju arah barat. Sigit, Favian, Zahra selaku tim tiga menuju arah selatan.
Kami mulai berjalan-jalan. Menelusuri jalan, menemukan tambak yang tak ada di peta. Plotting GPS serta pencantuman jenis dan nama revisi tak lupa dilakukan. Mencari di mana ada kuburan (yang ternyata tidak ada, dan telah berganti menjadi sebuah masjid sejak sekitar 10 tahun lalu), mengeplot adanya bangunan masjid baru, menanyakan nama dusun pada warga sekitar, begini, begitu... Lancar. Dirasa cukup, maka kami kembali ke jalan semula. Ngos-ngosan, berhenti sejenak di depan Kantor Kelurahan. Dari arah berlawanan, tiba-tiba muncullah! Muncullah pak Taufik, memeriksa pekerjaan kami. Satu menit, dua menit, tiga menit, tidak ada masalah!
Kemudian, bertanyalah si Bapak kepada kami, “Anda termasuk kelompok yang dibagi tiga tadi ya?”
“Iya,pak”
“Lha tadi saya menemukan salah satu tim cuma bawa peta, nggak punya GPS dan protaktor, trus gimana cara ngeplot dan mengepaskan koordinatnya???”
JengJeng!!! Kami nyengir. Iya ya??? Mereka kan nggak dibawain GPS???
“Tadi karena kasihan, saya pinjemin GPS saya..” *What! Baik sekali pak...terimakasih...
“Oh, ya pak...” menjawab pendek.
Inspeksi mendadak (sidak) selesai, kelompok 8 berkumpul kembali. Naik angkot, menceritakan apa yang terjadi.
Tim 3: “aku mau ra nggowo GPS,ra nggowo protaktor, trus dimesakne pak Taufik. Dijilihi siji. Tur aaku ra iso ngeset koordinat neng UTM. Isin aku pas ana Bapake, trus aku ndelik telpon Izud takon carane ngeset, tapi wonge ra teko-teko..” (aku tadi nggak bawa GPS ma protaktor, trus dikasihani si Bapak, dipinjemin 1. Tapi aku nggak bisa ngeset koordinat ke sistem UTM. Aku malu, sembunyi, trus telpon Izud tanya gimana caranya, tapi orangnya malah nggak dateng-dateng..)
Mendengar cerita dari tim3, kami pun berkomentar:
“Wah, sek nitiki nggo ilmu kira-kira wae kuwi..” (wah, yang ngeplot pake ilmu kira-kira aja tu..)
“Mau kita ki bingung ditakoni pak Taufik. Trus nge-les macem-macem..” (tadi kita bingung ditanyain pak Taufik, terus ngeles jawaban sekenanya )=(
“Siap-siap lho cah, mengko bengi kelompok kita dibantai! Wes dinei GPS 2, PDA 1, tapi revisi nganggo intuisi...” (Siap-siap gan, ntar malem kita dibantai! Dah dikasih GPS 2, PDA 1, tapi revisi masih pake intuisi..)
Komentar terakhir membuat kami terdiam sejenak, kemudian cekakak-cekikik, menyadari kebodohan yang telah kami lakukan.....
Hmm, tapi jadi seorang surveyor pemetaan memang harus pandai-pandai memaksimalkan pekerjaannya, meskipun alat yang dipakai sebenarnya terbatas kan???
(untungnya, diskusi malam tidak ada acara pembantaian.. hanya disindir sedikiiit aja masalah itu...heff!!)

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.