Senin, 20 Desember 2010

PERJALANAN KE TIMUR


Sabtu, 18 Desember 2010


Setelah semalaman nglembur lagi, mencoba ngerjain apa yang bisa dikerjain. Aku terbangun dengan sisa-sisa semangat ngantuk yang luar biasa. Setelah subuh yang dingin, setelah mandi pagi super cepat, setelah diomelin ibu karena grubyak-grubyuk nggak karuan, berangkatlah aku ke kampus. Jemput Annur di kostnya, dan nitipin tugas kuliah SIG 2 di kost Neny. Nyampe kampus, ketemu tokoh-tokoh utama kisah kali ini: Mas Detta, Mas Didot, Yudhis, Saddam, Lesan, Surya, Adi a.k.a Kece, Irvan a.k.a Ponti a.k.a Penyu, Rezo, Godzali, Annur, Yulia, dan aku sendiri, beserta ketiga asisten lapangan: mas Aris, mas Tito, dan mbak Fitri.


Praktikum lapangan SPG (Survey Pemetaan Geomorfologi) dimulai. Pembagian alat-alat lapangan dilakukan dengan cepat: yalon, abney level, palu geologi, meteran, bor tanah, pH-meter, GPS, checklist lapangan, dan lain sebagainya. Perbekalan untuk makan siang dan cairan pengurang rasa dehidrasi telah siap dibawa dan dilahap. Bus kota kuning Kobutri telah siap mengantar kami menuju Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman (sekitar 30 menit dari kampus). Perjalanan di bus, telah nampak orang-orang yang sudah kecapekan sebelum beraksi: Tidur!!!


Titik Satu

Ada lima titik pemberhentian utama yang kami survey kali ini. Mulai dari dataran aluvial, lereng kaki, lereng bawah, lereng tengah, serta lereng atas pegunungan Baturagung terkikis lemah. Kebetulan aku bersama tokoh-tokoh yang kusebutkan tadi mendapatkan titik B. Aku tak tahu bagaimana kondisi titik B sebelumnya. Asisten cuma pernah bilang: "Siapin tenaganya!!"

Dalam keadaan lapar nan tak tertahankan, kami memaksa asisten untuk berhenti (padahal baru jalan berapa meteer =p). Nasi bungkus dikeluarkan, di bawah pohon beralas tanah lembab, kami menikmati hidangan pagi dengan lahap. Nasi lauk telor campur oseng, rasanya nikmaat aja (lapaaaaar). Setelah hidangan pagi usai, dibagilah kami menjadi beberapa kelompok kecil. Ke sana, kemari, ngisi ceklist, jalan sak kepenake dhewe.... GPS masih membuat Yudhis emosi, seraya memaki-maki. Ok, tampaknya hari ini akan jadi hari yang penuh emosi.... ~.~

Titik Dua

Beberapa ratus meter dari dataran aluvial yang notabene dekat dengan sungai, jalanan mulai nanjak. Kami masih semangat, masih bertenaga. Mas Detta yang nggaya dengan kacamata itemnya, Didot yang mulai klempas-klempus dengan rokoknya, Yudhis yang masih emosi karena GPS, Surya yang semangat dengan dip & strike, Saddam yang masih diejekin karena bekal makanan yang dibawain ma *nananana*, Yulia yang masih tenang-tenang aja, Annur yang benar-benar keliatan semangat, Kece yang agak kurimen, Godzali yang nggak keliatan semangat, Rezo yang biasa-biasa aja, Lesan dan Ponti yang dari tadi embuh ngomongin apa, dan aku yang diam, senyum, dan amat bergantung mood hari ini.

Setelah penjelasan yang nggak singkat dari asisten, kami mulai menyebar lagi. Aku, Yudhis, dan Kece mulai mblusuk-mblusuk ke ladang milik orang. Melompati kali kecil, agak naik, menemukan terasering, nyatet dan ngamatin erosi di sekitar situ. Aku harus menyesuaikan langkah-langkah lebar para lelaki itu. Baru saja kita bertiga sampai di atas, di bawah terdengar teriakan-teriakan...

"HOOOII, iki sek ngukur lereeng piyeeee? Sapa bawa abneey leveeeeel??? ABNEY LEVEEEL??"

Dibalas teriakan dari sebelah barat sana,"MARUUUUL YANG BAWAAAA...."

Hadeeeuh, aku baru inget kalo si abney ada di tasku!! Di bawah Surya mulai teriak-teriak lagi, "Maruuuuul!! Mudhuuun!! Turuun!!" Aku lemparkan ceklistku di deket tegalan, bilang sama Kece, jagain baik-baik benda itu, kemudian bergegas turun lagi, agak berhati-hati melewati lereng kecil, menyerahkan si abney ke Surya dan Godzali. Setelah itu balik lagi ke atas, menemukan ceklistku yang ditinggal di tegalan dan tidak menemukan kedua temanku di atas. Dan beberapa saat kemudian, mereka berdua muncul dari arah berlawanan, ngajak aku turun lagi. Beuuuh, tahu gitu aku nunggu di bawah ajaaaaaa.... =(

Titik tiga
Kami mendaratkan kaki kami di sebuah kantor kelurahan di Desa Sambirejo pas saat adzan dhuhur berkumandang. Mas Didot langsung merebahkan tubuhnya di teras kantor kelurahan dan tertidur. Annur, Rezo, Godzali masih semangat untuk melanjutkan perjalanan. Sambil menunggu giliran shalat, aku, Kece, Lesan, Surya, dan Ponti mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Melihat tanah sekitar. Menyeberangi jalan aspalan, menuju SD yang sudah tidak berpenghuni, bangunan SD yang sudah koyak dan rusak menandakan seakan ada penghuni lain yang ada di sana. Kami menuju belakang bangunan SD, ternyata ada ladang yang telah diolah dengan sistem terasering. Di bawahnya dan di selatan sana, tebing-tebing curam berbatuan andesit tampak sedang ditambang. Longsoran-longsoran batuan terlihat jelas dari tempat aku berpijak. Apa penambang itu nggak takut ya mempertaruhkan nyawa mereka?? Ah, ironi mencari sesuap nasi yang akan selalu ada di setiap lini kehidupan...
Kembali ke mushola di kantor kelurahan, kami menyegarkan diri dan menyegarkan hati sejenak... Masih agak bersantai-santai, ketika Ponti yang sudah duluan ke atas menelepon Yulia dan meminta kami untuk cepat-cepat naik.
“Kita ki, mlaku setengah jam, istirahate sak jam...” Mas Detta bergurau. Haha, gak papa lah, dilarang memaksakan diri kan??? =P

Menuju titik empat
Kedua rombongan bertemu di sebuah buk di pinggir jalan. Yudhis dan kawan-kawan tampak sedang mengobrol dengan seorang simbah-simbah yang membawa setundun pisang. Tampaknya beliau akan ke Gunungkidul kalau nggak ke Klaten. Mereka lalu berpamitan, meninggalkan simbah-simbah itu sendirian, yang dijawab, “Nggih, monggo, monggo.. ngatos-ngatos lho nak...”
Jalanan kali ini benar-benar menanjak, dan menanjak. Surya bahagia, sampai bilang, “Wah, seneng aku nek ngene ki! Dolan-dolan. Nek nggak melu praktikum biasa plus responsine piye to??” *ngareep =P
Godzali nggak bahagia. Yulia keliatan nggak bahagia. Aku biasa-biasa aja...
Beberapa ratus meter dari buk yang kami temui tadi, bertemulah kami dengan bangunan masjid setengah jadi. Anak-anak yang tadi belum sempat shalat, berhenti di titik itu. Anak-anak yang lain melanjutkan perjalanan. Hampir 300 meter kami berjalan, asisten menyuruh kami mengeluarkan peta-peta untuk melihat apakah kami sudah mulai memasuki area pemberhentian selanjutnya atau belum. Tapi pertanyaannya, siapa yang bawa peta???
Satu per satu ditanyai dan dicek... Ternyata, peta itu tak ada di rombongan ini...
“Masih dibawa Annur mungkin...” Yulia meng-sms Annur.
“Hah, bukan. Temen-temen yang masih di bawah sana nggak bawa katanya...,” Yulia melaporkan. Kami kembali mengecek... Ternyata tetap tidak ada.
“Ngomong-ngomong, yudhiss mana e???” aku tanya.
“Embuuh, ketoke ga mungkin nek dibawa Yudhis... Ni Yudhis disms gak bales-bales...” Yulia kembali melaporkan.
Ya, sudahlah...
Kami akhirnya duduk-duduk di tepi jalan, berjajar menghadap ke arah barat: Aku, Yulia, Mas Detta, Mas Tito, Godzali, Mas Aris. Berada di paling barat, Surya tiduran di pinggir jalan seakan-akan tiduran di atas kasur. Di seberang jalan, Kece dan mas Didot tidur (lagi) di pos ronda. Kami terdiam di pikiran masing-masing, melihat dataran Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta dari atas. Memandang obyek dari atas. Mungkin masing-masing dari kami punya pikiran untuk mendeliniasi kenampakan-kenampakan itu, sesuatu yang sering kami lakukan di laboratorium, melihat bumi dari atas. Kalau di laboratorium kami melihat bumi secara 3D lewat stereoskop, sekarang kami melihat sesuatu di bawah sana dengan alat ciptaan-Nya: dua mata yang normal dan bisa melihat sekeliling kami dengan indah. Truk-truk pengangkut batu andesit yang lalu lalang dan meninggalkan debu tebal tak mengganggu perenungan kami.
“Ahh, suwi... Cah-cah di sms, rul..” mas Detta yang ada di belakangku mulai mengantuk, “Eh, kae Yudhis udu e???”
Di timur sana, batang hidung Yudhis mulai keliatan. “Ke sana ah,” mas Detta berlalu meninggalkan kami. Saat itu pula, rombongan dari bawah sudah sampai ke tempat kami melakukan perenungan sesaat, perenungan yang nyengoh. Saat mereka datang, mereka tetep bersikukuh kalo tak ada peta yang mereka bawa.
“Hmm, jawaban satu-satunya adalah Yudhis...!”
Kami segera menuju tempat Yudhis berdiri, sekitar 50 meter dari tempat kami duduk. Dan sampai di sana...
“Sluurrrp...” Yudhis asik minum susu dengan peta di genggamannya... Muka-muka kami langsung cemberut melihat pemandangan itu...
“WoooU!! Di-sms nggak bales! Kita udah nyari peta kemana-mana! Kamu nemu warung nggak ngajak-ajak!! Enak-enakan minum susu padahal persediaan air minum kita dah habiss!! @*@&&^!$%@$%!!!!” Haha, semua orang berwajah cemberut. Dan seperti biasa, Yudhis Cuma tenang-tenang aja dan bilang,” Titik empatnya masih sekitar 700 sampe 800 meter lagi.. Topografi makin nanjak...” ZZzzzzzzzz....

Naik Bentar Lagi
Naik, naik ke puncak gunung, tinggi, tinggi sekaliiiii.....*hha, lebay
Sekarang tanpa istirahat lagi, kami naik terus sampai titik empat. Kemudian titik lima. Melatih fisik kami?? Ya, bolehlah. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat kan??? *anak-anak masih pada misuh-misuh dan memaki-maki...
Di titik terakhir kami benar-benar tepar. Tiduran lagi di tepi jalan. Klekaran. Sampai-sampai dimarahin kakek-kakek warga sekitar. *esp Saddam. Dia Cuma cuek dan embuh, berdiri sejenak, lalu kembali tidur lagi di tepi jalan. Aku dan Yulia jalan-jalan, melihat-lihat sumur warga yang benar-benar dalam (katanya di sini sering kekeringan kalau musim kemarau, dan harus beli air kalo udah kekeringan banget). Setelah melihat-lihat sumur, kami berlalu semakin ke timur, mengukur dip & strike. Melihat tebing andesit Maha Indah Goresan Sang Maha Kuasa....

Ada Truk
Pukul 14.30, kami mulai turun. Saking capeknya kami, sempat ada pikiran buat nyegat truk pengangkut batu alam yang hendak turun ke kota. Bruummmmm,,, truk harapan kami datang. Yudhis, Kece, dan Saddam bersiap-siap mengayunkan tangan. Tapi, tapi, tapi....
“Hueh, iku isine batu kabeeh!!”
Nggak jadi. Ternyata truk-truk yang turun ke kota, pada umumnya sudah full bebatuan yang akan disetor. Pupuslah harapan kami untuk mendapatkan tumpangan. Akhir akhirnya, kami tetep jalan aja. Namun, jalanan turun lebih menyenangkan daripada jalan naik. Lebih cepat sampai tujuan, dan lebih enteng di badan!!! Hm, yang namanya penurunan itu memang lebih mudah daripada menaikkan... Seperti: penurunan iman, lebih mudah terjadi daripada peningkatan iman.
Wahai Maha Pembolak-Balik Hati, terimakasih telah memberikan kami hari ini... u,u

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.