Rabu, 22 Desember 2010

MENCOBA PERUNTUNGAN


Like soldiers, march on... (march on -- good charlote)

Berawal dari sebuah poster yang terpampang di wall facebook kpj’ers 08...

“Kepada teman-teman Kartografi dan Penginderaan Jauh UGM yang tertarik menjadi anggota PT Geovisi Mitratama, salah satu konsultan geospasial, untuk mendaftarkan diri dengan syarat: diutamakan telah menempuh semester IV, ..blah..blah...blah..”


Tertarik?? Hmm, ya lumayan tertarik sih. Apalagi katanya nggak fulltime. Cuma jadi anggota aja, dan kerjaan paling banyak saat ada proyek aja. Tambah tertarik lagi dengan kesuksesan kakak angkatan yang bisa jalan-jalan ke Singapura berkat gabung di PT itu. Lumayan bisa jadi batu loncatan dan cari-cari pengalaman hidup juga. Bukan untuk mengejar karir, tapi untuk menambah kisah hidup yang ingin kuceritakan ke anak-anakku kelak...

Malam tanggal 20 Desember 2010, hari dimana batas akhir pengumpulan CV, aku masih belum mengirimkan CV-ku lewat email. Masih menimbang-nimbang dan berpikir. Iya, enggak, iya, enggak, iya, enggak, iya....

Ok, hampir pukul 12 malam, aku mencari-cari file CV terakhir yang kubuat, CV ketika dulu aku ndaftar jadi volunteer Jogja Java Carnival. Bismillah, antara yakin dan nggak yakin aku pencet menu “kirim” di gmailku.

Esoknya, aku seharusnya sudah harus wawancara di kantor Geovisi. Tapi, sayang banget kalo harus ninggalin praktikum SIG 2. Akhirnya, aku dan teman-teman menyelesaikan praktikum kami. Melalui apa yang dinamakan network analyst, DEM (Digital Elevation Model), Kriging... Jam 12, istirahat ibadah dan makan siang. Kami baru meninggalkan kampus jam 1 siang, mbolos praktikum, itupun mampir-mampir dulu ke kontrakan cah-cah. Akhirnya, berenam: aku, Annur, Yudhis, Lesan, Saddam, dan Surya cap cuss menuju jalan Godean, menuju kompleks Sidoarum. Sampai di tempat, kantor Geovisi sudah sepi.

“Jangan-jangan udah telat qih??? Udah ditutup???”

“Ah, tanya dulu....”

Setelah tanya-tanya di Ikonos Cell yang ada di samping kantor bertembok putih dengan plang “Konsultan GIS/IT” itu, kami diminta menunggu. Tak lebih dari limabelas menit, si empunya tempat beserta jajarannya datang, mempersilahkan kami mengisi daftar dan masuk ke ruangan satu per satu.

Giliran pertama, Surya masuk. Dua puluh menit, ni anak kok nggak keluar-keluar ya?? Diapain dia di dalam sana??? Di luar, kami berlima delosoran. Saddam tidur di kursi. Aku, Annur, Lesan, dan Yudhis ngobrol-ngobrol ngalor ngidul, diliatin orang-orang yang lalu lalang di jalanan depan sana [tampang kami mungkin terlihat melass].

“Surya ngapain to di dalem sana??”

Yudhis mulai berbaring di lantai teras.

“Lamaa..”

Saddam makin nyenyak tidurnya.

Tiga puluh menit, kepala Surya menyembul di pintu.

“Dhiss, masukk!!”

Yudhis masuk, tapi Surya kok nggak keluar???

“Mungkin biar nggak ngasih tahu kita...”

“Oooo...”

Kami yang masih tersisa di luar kembali menunggu. Satu anak, rata-rata setengah jam ada di dalem sana. Saat Surya keluar dengan tampang nggak enaknya, dia cuma bilang,”Woh, dihajar aku neng njero, ra iso njawab...” (dihajar aku di dalem, nggak bisa njawab).

Beuu, ahhh, aal iz well lah! Anggap saja ini sebagai responsi... u,u

***

Setelah Yudhis keluar dan Lesan masih di dalam, tibalah giliranku. Hasrat ingin buang air kecil mulai keluar, kebiasaan kalo aku grogi. Di dalam, mirip seperti orang yang baru disidang, aku duduk di kursi, berhadapan dengan lima orang dari Geovisi. Pertanyaan awal, masih pertanyaan standar. Pertanyaan tentang kesibukan, gaji yang diterima di luar, uang saku yang diterima per bulan, visi misi, alasan ndaftar, tentang keluarga, dan sebagainya. Aku masih tenang.

Pertanyaan selanjutnya, waaaaaaaa, serasa responsi tapi lebih deg-degan.

“Anda dari prodi apa? KPJ ya?? Bisa menjelaskan tentang Landsat?? Resolusi berapa? Cocok untuk skala berapa?? Kalo IKONOS ato Quickbird? Keunggulannya apa? Cocok buat studi apa?”

“Menurut anda apa itu SIG (sistem informasi geografis)? Kalo kartografi? Beda SIG dengan Kartografi Digital?? Mengapa anda bisa bilang bla...bla...bla...padahal blah...blah..blah..??? Kalo begitu berarti bla...bla..bla...?? Yakin dengan jawaban anda...??”

Puiih, pertanyaan dasar yang membuat saya bingung saudara-saudara.... ^^a Blank, bingung, dan Cuma senyam senyum nggak jelas... Senyum bisa meringankan segalanyaaa. Hahahaha =P

“Anda asisten SIG ya?? Bisa minta tolong peragakan di depan, anda berpura-pura mengisi pelatihan tentang SIG??”

Gubrakk!! Spechless aku di depan sana... Ah embuuh, pokoknya aku asal cuap cuap nggak jelas... Benar-benar.... =P

Tak lama kemudian, Lesan keluar dari ruangan sebelah setelah menyelesaikan tes teknisnya. Saat itu pula aku diminta berhenti bicara, melanjutkan ke tahap selanjutnya: tes teknis!!

Di ruangan sebelah, mas Unggul, anggota geovisi sekaligus kakak angkatanku lah yang menguji.

“Kae, gek digarap, soale neng Folder E..”

Aku menghampiri sebentuk laptop yang menyala-nyala di sudut ruangan. Membuka soal, membacanya baik-baik, dan mengerjakannya dalam hati.. *Lhaaah =)

Soal tentang SIG yang selalu berkorelasi dengan ArcGis dapat kukerjakan. Soal selanjutnya ada Penentuan luas hutan mangrove lewat citra Landsat. Dan berikutnya lagi, soal tentang pengolahan citra digital yang benar-benar tak dapat kupahami. Aku nggak tahu mana citra yang sudah terkoreksi geometrik dan radiometrik, dan mana yang belum terkoreksi....

Dan aku keluar dengan tawa lebar dan mata meremku... *ketawa khass ala marul...

***

“Kita itu masih belum ada apa-apanya ya??”

“Ilmu kita masih benar-benar terbatas...”

“Kita perlu mendalami lagi dunia kita...”

“Jadi ingat kata-kata pak Projo di kuliah kemaren... Kalian itu ngapain aja selama ini? Waktu kalian dipergunakan buat apaa???”

“Haha, kita sebenernya bisa kok kayak beliau-beliau...”

“Harus belajar lebih keras lagi...”

Kami tersadar di pikiran kami masing-masing. Bahwa kami sebenarnya selama ini masih gitu-gitu aja. Stagnan. Kurang berkembang. Daya juang menurun. Melupakan dengan mudahnya ilmu yang telah diajarkan, seakan kuliah itu cuma sekedar duduk mendengarkan dan nantinya bisa dapat nilai bagus di ujian. Padahal, bukan itu esensi ilmu yang sebenarnya. Ilmu baru bisa bermanfaat saat ia bisa ditularkan dan diterapkan untuk kemaslahatan manusia atau lingkungannya...

Dalam hati dan otak keenam anak manusia ini, aku yakin, masih banyak lagi hal yang mereka rasakan dan pikirkan...

“Udah lah, cari makan yook..”

Kami berlalu mencari warung makan... (ujung-ujungnya kita makan mie ayam pangsit di deket kontrakan anak-anak, di Sendowo...) =P

teman akan selamanya teman. terimakasih telah berjuang bersama, teman.... ^^

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.