Senin, 13 Desember 2010

MELINTASI KECAMATAN GARUNG



Menurut narasi dari profil kecamatan yang dikeluarkan oleh Bappeda Wonosobo, Garung terletak pada jalur utama menuju daerah wisata Dieng Plateau. Garung sendiri merupakan singkatan dari telaGA wuRUNG. Konon katanya, Garung akan dijadikan telaga oleh bangsa jin pada zaman dahulu kala. Akan tetapi, pekerjaan tersebut tidak selesai karena ayam keburu berkokok, sehingga jin-jin ketakutan dan wurung (tidak jadi) membangun telaga. Sampai sekarang, jika dilihat di kawasan yang terletak lebih tinggi, Garung terlihat seperti cekungan mangkok. Itu adalah “konon ceritanya”. Boleh percaya boleh tidak.
Hehe, ya itu hanya selingan saja. Sebenarnya bukan sejarah kecamatan Garung yang ingin dibicarakan di sini. Tapi masih berkaitan dengan catatan perjalanan kecil dari Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Wonosobo....


Sandy Temanku

Hari ketiga KKL. Kami menyambangi sekolah-sekolah yang berada di beberapa kecamatan sample. Kami mengambil sample di 3 kecamatan (perubahan yang mendadak saat diskusi malam berlangsung). Ketiga kecamatan itu adalah Kecamatan Wonosobo, Kecamatan Garung, dan Kecamatan Leksono. Berdasarkan hierarkinya, kecamatan Garung masuk dalam hierarki 3 (lebih rendah daripada dua kecamat
an lainnya). Artinya, dalam sisi aksesibilitas dan sejenisnya, kecamatan Garung bisa dibilang lebih rendah dibandingkan kecamatan lain di Wonosobo.
Karena tema besar kelompokku adalah fasilitas sosial, dan kami mencoba mencari topik fasilitas pelayanan pendidikan untuk dievaluasi, mainlah kami ke sekolah-sekolah (SD, SMP, dan SMA). Melakukan wawancara dengan pejabat-pejabat di lingkungan sekolah, dan ‘terpaksa’ meninggalkan Izud serta Kebo di Dinas Pendidikan karena harus mencari dan mendapatkan data pendukung topik kami.
Garung merupakan tujuan kedua setelah kami menuju kecamatan Won
osobo terlebih dahulu. Titik pemberhentian awal kami di kecamatan Garung adalah kawasan sekitar PLTA Garung (tempat di mana insiden hari pertama KKL terjadi) tapi tak perlu diceritakan =p).
Di sebuah SD di belakang kantor kecamatan, kami memutuskan untuk turun. Mempersiapkan beberapa bungkus permen untuk merayu adik-adik kecil agar mau ditanya-tanyain dan mau diajak foto bareng. Mencoba menjadi orang biasa saja sehingga tak tampak asing di mata mereka (supaya nggak dicurigai sebagai pengedar
narkoba untuk anak-anak lewat bungkusan permen >,<).
Waktu itu, Surya dan si Kriwil yang gencar melakukan interview, bagi-bagi permen, dan foto bareng anak-anak. Menyebarkan virus metal ke anak-anak kecil itu dengan kata-kata,”Deeek, kalo foto sambil teriak metal ya!!!” *ckck, bisa-bisa anak-anak SD Wonos
obo besok punya salam metal... =p
Aku dan Zahra kebagian wisata kuliner... (Itulah asyiknya bergerilya di sekolah-sekolah, berburu makanan murah ala anak sekolah (cireng, cimol, bakso, gulali, es goreng, dll).
Dan di tempat itulah cerita mengharukan terjadi..(hiks, hiks, agak lebay)
Saat Saddam alias si Kriwil dan Surya menjalankan aksinya, mereka bertemu dengan seorang siswa yang (*maaf) cacat. Dia Cuma punya satu kaki, kaki kanan. Kaki kirinya diganti dengan kayu, dan dia berjalan menggunakan tongkat. Entah apa yang terjadi padanya dulu. “Aku nggak tega dan nggak berani tanya,” kata si Kriwil.
Pada umumnya, anak SD akan saling mengejek jika terdapat kekurangan pada temannya (*setidaknya, itulah yang terjadi pada masa aku SD dulu). Namun tidak untuk Sandy. Teman-temannya terlihat menjaganya. Saat bagi-bagi permen, Sandy belum dapat, mereka serta merta bilang,”Mas,mas, buat Sandy belum...” Saat difoto, mereka mengajak Sandy untuk foto. Saat pulang pun, aku melihat mereka berjalan beriringan dengan Sandy berjalan di tengah-tengah. Hmm, trenyuh rasanya saat mendengar ceritanya dari Surya dan melihat dari mata kepala sendiri. Lagi-lagi malu sama anak SD... Mereka begitu menghargai teman...

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.