Kamis, 16 Desember 2010

LENYAP TANPA HILANG

(membuka hardisk lawas, menemukan lusinan tulisan jaman SMA. Ahaha.... =))

Termenung di atas kursi bambu ukiran. Semburat langit senja, mentari meluncur perlahan di ufuk barat, merah. Dilayangkan pandangan sayunya mengelilingi beranda tak bertuan itu. Hanya dirinya. Hanya dirinya yang ada di situ. Namun dia bukan tuan atas beranda itu, bukan tuan atas rumah yang sekarang ditempatinya sendirian, pun bukan tuan atas apa yang tergores rapi di atas kitab hidupnya.
Sejenak, kebimbangan menyergap menguasai dadanya. Merayap cepat, seperti semut yang tiba-tiba merayap di atas batang pohon rambutan di hadapannya. Pikirannya kembali menerawang, entah untuk yang keberapa kalinya.
“Aku tahu kamu suka aku, iya kan?”

“Ah, kepedean!”
“Tapi iya kan?”
“Kalau aku suka kamu, sudah sejak dulu aku nembak kamu…” peluh menetes saat ia mengatakan itu. Hatinya bimbang, selalu seperti itu. Wanita di hadapannya selalu membuatnya susah tidur, tak bisa ia tinggalkan wajahnya sekejap saja saat ia bersama wanita itu. Ia tahu ia jatuh cinta. Jatuh cinta pada wanita yang sebenarnya sangat didambakannya. Tapi, hatinya selalu menolak, hatinya selalu menahan. Entah kenapa seperti itu. Namun, dia yakin, suatu saat nanti wanita itu akan menjadi miliknya. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Ia yakin, sangat yakin.
+++
Wajahnya tidak secantik teman-teman kuliahnya. Senyumnya tak semanis senyum Luna Maya. Tapi dia punya pesona sendiri. Pesona yang mampu menariknya perlahan-lahan. Awalnya hanya tetangga biasa. Teman sepermainan yang selalu diganggu tanpa henti. Tak bisa ia tak mengganggu wajah polos itu sampai ia menangis. Ia suka jika gadis kecil itu menangis. Sampai kemudian, gadis kecil itu akan berkata,”Lelaki jahat tak pantas untukku!” Kemudian dia pulang, kembali ke ibunya yang sedang sibuk memasak atau mengerjakan jahitan di rumah.
Saat itu pula dirinya yang juga masih berwujud lelaki kecil akan berteriak-teriak,”Siapa juga yang mau sama orang jelek kayak kamu!!!” Setelah itu, pertengkaran hebat selalu terjadi. Paling cepat tiga hari, paling lama, bisa sampai sebulan.
Ah, tapi itu dulu. Gadis kecil itu kini tumbuh menjadi remaja yang periang, selalu ramah terhadap siapa saja. Sampai sekarang, ia tetap dekat dengannya. Menjadi sahabat baik yang masih sering bertengkar. Mendengarkan segala cerita bahagia maupun keluh kesah.
Sampai akhirnya, datanglah sesosok wanita lain yang lebih. Lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya, dan lebih segalanya. Dan itu mengubah semuanya. Kedekatan kedua sahabat itu menjadi benar-benar renggang. Suatu hari, wanita sahabatnya itu mendatanginya dengan air mata yang menetes-netes…
“Katakan, kamu sebenarnya cinta aku kan?”
“Kalau aku cinta kamu, mana mungkin aku punya wanita lain?” kembali berbohong. Ia masih mencintai wanita itu. Tapi, tetap tak diakuinya. Tetap, ia sombong dengan keyakinannya. Keyakinan yang mengatakan, hanya wanita di hadapannyalah yang menjadi miliknya. Ia berjanji tak akan menikahi wanita lain. Tapi tidak sekarang. Nanti, ketika ia sudah bosan dengan kekasihnya yang sekarang ini. Suatu saat, ia akan mengatakannya. Tapi sekali lagi, tidak sekarang.
+++
Tatapan mata wanita itu terasa nanar, terasa pedih. Otomatis, tanpa aba-aba, menimbulkan tumbukan hebat tepat di ulu hati.
“Aku bulan depan menikah…,”hanya itu yang keluar dari mulut wanita itu. Singkat, pelan, tapi pasti. Arman, nama lelaki itu, hanya terdiam, tubuhnya kaku, tak berdaya. Dia limbung. Dia ambruk. Tak kuasa rasanya menahan segala yang telah ia simpan. Disimpan dengan rapi, dengan segala kesombongan yang menyelimuti. Wanita yang didambakannya kini lenyap. Lenyap, tanpa harus hilang dari hadapannya, tapi lenyap karena dibawa oleh orang lain yang pasti akan jadi suaminya. Sakit!
Bantul, 04 Agustus 2009

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.