Senin, 13 Desember 2010

Dalam Kungkungan Bangunan Bernama BLK, Satu Keluarga Besar yang Menghuni Satu Rumah


Yogyakarta—Wonosobo. Perjalanan berpuluh-puluh kilometer yang melelahkan. Insiden-insiden kecil yang sempat mewarnai benar-benar menguras tenaga (*apalagi yang jadi panitia, salut deh!!). Selama sekitar lebih dari lima jam berada di dalam bus, sampailah rombongan KKL2 di penginapan, BLK-LN (Balai Latihan Kerja Luar Negeri), yang terletak di Kecamatan Kertek, hanya beberapa kilometer dari kota Wonosobo.
Memasuki kompleks BLK, hawa sejuk menyambut kami. Gerimis ringan mengiringi kami membongkar muatan. Tas, koper, peralatan lapangan, dispenser, galon, dan segala perlengkapan yang menunjang kehidupan selama lima hari kemudian dikeluarkan, dijunjung, dijinjing menuju tempat yang semestinya. Bangunan dua lantai di bagian pojok, menghadap selatan, menjadi saksi atas kekeluargaan hebat ala SIG-PW 2008 selama lima hari itu.

Di sanalah beberapa bagian atas kisah unik, sedih, lucu, indah, menyenangkan, dan gila terjadi. Lantai atas yang berisi para perempuan-perempuan dan dosen-dosen pembimbing, tak pernah sepi dari celotehan-celotehan. Lantai bawah yang berisikan kaum adam dan menjadi basisnya makanan, menambah makmur suasana. Tinggal di sana, seperti tinggal bersama keluarga besar ceria. Walaupun, benar kata mBak Yulia,”Banyak orang, berarti banyak mulut, banyak omongan yang keluar. Banyak hati, banyak yang harus dituruti. Banyak otak, beragam pikiran, banyak yang minta dimengerti.” Rumah berisikan hampir 100 jiwa, semuanya tidak benar-benar satu, tapi semuanya mencoba untuk bersatu. Itu sudah lebih dari cukup.
Pagi hari, ketika membuka mata, membuka jendela, hawa sejuk sudah terasa. Dari jendela lantai dua, di kamar paling pojok dan loteng sebelah timur, pemandangan gunungapi kembar Sindoro—Sumbing menunjukkan kekuasaan Allah yang luar biasa indahnya. Saat pagi itu pula saat nge-teh yang nikmat, saat minum susu yang lezat, saatnya mengisi perut sebelum berbuat yang lebih jauh lagi à ngubek-ubek kotanya orang. Lepas dari jam 8, kompleks bangunan itu sudah sepi dari hiruk pikuk manusia-manusia yang mengaku sebagai mahasiswa. Hanya tinggal pak Penjaga kompleks (*yang ternyata adalah orang Karangmojo, Gunungkidul) dan jajarannya.
Sore hari menjelang petang, bangunan itu kembali ramai. Para mahasiswa pulang ke peraduannya. Ada yang delosoran di depan TV, di tempat diskusi, dan di tempat-tempat lain, menunggu sang juru kunci kamar datang, membukakan pintu. Sehabis itu, waktunya mandi, makan bakso, nonton TV, nggosip di kamar masing-masing berbagi pengalaman yang terjadi di siang hari, ibadah, dan lain sebagainya. Waktu setelah maghrib adalah waktu yang dinanti-nanti. Makan prasmanan telah siap tersaji, menjadi sasaran empuk para penimbun makanan yang suka menyimpan makanan di dalam kamar, kemudian memakannya kembali hampir tengah malam nanti. Mie ongklok, tempe kemul, ikan bakar..., benar-benar menu istimewa.
Malam hari, waktu yang berisi jampi-jampi malas. Walaupun begitu, setelah isya’, bagian tengah lantai dua telah terisi penuh oleh para mahasiswa. Dosen pembimbing berjajar di depan, memberikan instruksi, memberikan evaluasi, meminta kami mengungkapkan apa yang telah didapat pada waktu siang hari. Interaktif, diiringi angopan-angopan lebar, tapi tetap terjaga. Setiap malam, gelas-gelas terisi kopi, jahe wangi, dan minuman hangat lainnya, menemani lembur, menemani persiapan untuk esok hari, menemani diskusi-diskusi panjang yang pasti terjadi. Aktifitas itu agak sedikit berkurang seusai pukul 12.00 malam. Namun, ada juga kelompok yang bertahan, sampai pukul 1 pagi bahkan 2 pagi. Mungkin itu adalah waktu yang menyebalkan, tapi akhirnya malah menjadi waktu yang dirindukan, Karena, pada malam itulah, pikiran-pikiran disatukan, wawasan dibuka lebar, dan rasa saling memiliki bermunculan.
Lima hari, waktu yang singkat untuk sebuah pertemuan. Di dalam rumah yang istimewa itu, kami telah banyak belajar. Belajar beberapa bagian tertentu dalam satu bab periode kehidupan. Tawa yang lebar, kepagoban yang disengaja, air mata yang menetes, main-main, serius, keakraban, suatu seri pembelajaran yang unik. Betapa beruntungnya aku menemukan keluarga seperti kalian, keluarga SIG-PW 2008 Fakultas Geografi UGM. Terimakasih ya Allah, skenario-Mu memang indah.
“bersenang-senanglah, karena hari ini akan kita rindukan, di hari nanti....” (Sheila On 7)
^______________________________^

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.