Kamis, 16 Desember 2010

BLUE DIARY

**hmm, yang ini dulu pernah dimuat di majalah kawanKu edisi Harry Potter =))

Buku kecil berwarna biru itu teronggok di antara kamus dan buku pelajaran lain. Sebuah buku tanpa nama, berbentuk kotak, lumayan tebal. Tapi milik siapa? Kenapa ada di tasku? Tampak dari covernya, sepertinya itu buku harian. Tapi bukankah aku tak memiliki buku seperti itu? Aku heran…. Buka enggak ya?
Sudah dua jam aku berada di depan meja belajarku. Menimang-nimang apa yang harus kulakukan? Buka, enggak, buka, enggak, buka, enggak, buka,…… Ah, aku bingung! Dari pada memikirkan buku itu, lebih baik aku tidur. Besok kan aku harus berangkat pagi, ada jam ke-0. Bisa gawat kalau aku telat. Bukan hanya dimarahi Ayah, tapi juga bakalan dihukum keliling lapangan sepuluh kali sama Pak Arham, guru olahragaku.
Aku coba pejamkan mata untuk tidur. Tapi susah. Aku coba bayangkan domba yang sedang lompat pagar dan kuhitung seperti yang ada di film Mr. Bean. Tapi baru sampai lima hitungan, ada kucing yang mengganggu domba-domba itu dan membuat mereka pergi. Aku buka mataku. Ternyata ada Cipo, kucingku yang lucu. Dia duduk di samping bantalku dan mengeong, meminta untuk dielus. Ahh, Cipo….kenapa sih kamu usir domba-domba yang kubayangkan?
Aku elus-elus si Cipo. Sesekali pandangan mataku tertuju ke meja belajar, ke arah buku biru yang “nyasar” di tasku. Buku siapa sih? Aku kembali penasaran. Cipo yang tadinya sudah hampir tidur di pangkuanku, mengeong, kemudian tiba-tiba melompat ke atas meja belajar yang berada tepat di samping tempat tidurku. Dia mengendus buku biru itu, lalu kembali mengeong.
“Cipo? Kok tahu aku lagi mikirin itu sih?” aku berbicara pada Cipo dan membuka selimutku. Aku ambil buku biru itu, dan membukanya. Aku buka halaman pertama. Kosong. Aku buka lagi buku itu sampai kutemukan tulisan yang hanya beberapa paragraf saja. Sepertinya aku tahu siapa pemilik buku itu…

Kelas, 28 April 2007
Aku bosen di kelas ini. Aku benci sekolah di sini. Aku nggak punya temen yang bisa membuatku bangkit dan berdiri. Aku cuma sendirian. Enggak ada yang bisa kuajak ngobrol sebagai sahabat. Hanya sendiri… Atau itu cuma perasaanku saja??

Kamar apek, 2 Mei 3007
Upacara yang membosankan. Seperti biasa, aku diminta jadi pemimpin upacara. Emang enggak ada orang lain lagi? Selalu aku. Seharusnya aku bangga sih.. Yaa kelihatannya sih memang bangga. Tapi aku benar-benar bosan dengan hidupku sekarang. Kelihatannya hidup cukup, berlebih malah! Kelihatannya juga banyak temen. Tapi teman macam apa mereka? Cuma silau harta. Aku sering gonta-ganti pacar. Tapi itu cuma hiburan sementara. Orang dekat dengan aku cuma karena aku keren, ganteng. Kenapa pula aku bisa keren? Karena ayah dan ibuku kaya! Sayangnya mereka kaya tapi tak berperasaan! Mereka membiarkanku sendiri menghadapi hidupku. Tak peduli aku di sini karena sering ditinggal ke luar negeri. Tidak ada yang melarangku untuk pulang malam, tidak ada yang membuatku berhenti kecanduan rokok dan alkohol, tidak ada yang peduli aku kebanyakan tawuran dan digelandang ke kantor polisi. Kata orang-orang sih, segala yang kulakukan itu keren. Tapi bagiku, itu cuma ajang pelarian... Haaaah,, persetan dengan itu semua. Aku BENCI semuanya…

Tepp…, aku tutup buku itu. Dosa enggak ya, aku baca buku ini? Tapi siapa suruh ada di tasku? Lagi pula kalau tidak dibuka aku bakalan bingung mengembalikan ke pemiliknya. Siapa suruh tidak diberi nama…?
Ditya… Nama itu sering membuatku sebal. Dia satu-satunya orang yang bisa membuatku marah. Dia orang di sekolahku yang sangat terkenal, bukan cuma karena kaya, ganteng dan gaul. Tapi dia juga pintar bermain basket dan menjadi kapten di klub basket sekolah, pernah menjadi anggota paskib di tingkat propinsi. Dia juga cerdas. Terbukti dia sering mewakili sekolah mewakili olimpiade mata pelajaran tertentu dan sering menjadi juara. Sayangnya, dia merupakan orang bermasalah karena sering terlibat tawuran dengan sekolah lain. Sebagai ketua geng, harus jadi ketua penyerang, katanya…
Aku tidak menyangka dia begitu kesepian. Aku kira dia sudah puas dengan segala yang dimilikinya. Aku kira dia bahagia dengan kehidupannya. Awalnya aku benar-benar sebal dengan Ditya karena dia sering mempermalukanku di hadapan umum. Tapi sekarang aku kasihan kepadanya, setelah membaca semuanya di buku biru itu. Untung aku masih punya orang tua yang sering memarahiku dan memperhatikanku, walaupun cuma tinggal ayah… Tapi terima kasih ayah…
***
Huh! Gara-gara buku biru itu, aku jadi telat. Otomatis langsung diminta lari keliling lapangan sepuluh kali sama Pak Arham. Nasib, nasib…, malangnya nasibku hari ini…
“Hei, Mata Sipit…, telat ya..? Sama, dong! Larinya yang cepet dong! Mentang-mentang namanya Siput, larinya terus kayak siput…Hehe..” Ditya yang juga telat tiba-tiba sudah ada di sampingku dan memulai hobinya, hobi ngejekin aku. Aku cuma diam, tidak membalas ejekannya. Gara-gara buku biru itu, aku harus lebih sabar menghadapi Ditya.
“Kok diam? Biasanya kamu langsung ngamuk begitu diejek pakai nama ‘Siput’…,” Ditya kembali berceloteh. Aku tetap diam. Mempercepat lariku dan meninggalkan Ditya yang agak bingung dengan perubahan sikapku.
Jam istirahat, kelasku sepi. Mungkin banyak yang ke kantin untuk makan atau sekedar ngobrol. Aku tadinya juga ingin ke kantin. Tapi karena ingat aku masih belum menyelesaikan PR matematika, makanya aku balik ke kelas. Saat membuka tasku, aku tersadar kalau aku musti mengembalikan buku biru milik Ditya. Tapi…, dia marah enggak ya, kalau tahu aku telah lancang membaca buku itu? Hmm, daripada dia marah, lebih baik langsung aku taruh di tasnya saja.
***
Sedari tadi aku berada di laboratorium komputer dan terlalu asyik dengan friendsterku sehingga tidak sadar kalau hari sudah semakin sore. Aku bergegas menuruni tangga, dan mengambil kunci motor di tasku, sampai tidak memperhatikan jalan. Brukk…
“Aww…jalan pelan-pelan dong!!” Seseorang yang kutabrak tiba-tiba protes.
“Eh, ma…, Ditya?? Mukamu kok kayak gitu sih?? Kamu… kamu… bikin onar lagi, ya?” aku kaget dengan ‘penampakan’ aneh di depanku. Ya ampun, Ditya… Bonyok lagi, bonyok lagi…
“Ya…, biasalah…! Ada yang coba-coba nantangin sekolah kita. Ya udah aku layanin aja. Tapi tenang aja…, pihak kita selalu menang kok…!! Jadi…”
BRUKK!!!
Aduh, Ditya….jangan pakai adegan pingsan dong!!!
***
Sudah satu jam Ditya terkapar di ruang PMR. Untung Ditya pingsan tepat di depan pintu ruang PMR. Untung juga hari ini aku yang bertugas membawa kunci ruang PMR. Jadi aku bisa dengan mudah membawa Ditya ke sini tanpa diketahui guru manapun. Kalau ketahuan bisa gawat. Bisa-bisa Ditya dapat masalah lagi. Aku kasihan padanya… Ahh, kenapa juga aku harus membaca buku biru itu? Seandainya aku tidak membacanya aku pasti sudah meminta tolong pada salah satu guruku, dan sudah pasti Ditya nanti akan diskors selama seminggu atau bisa jadi dikeluarkan dari sekolah.
“Ditya jelek….bangun!! Sudah sore nih… Nanti aku dimarahi ayah!! Ditya…,” aku sudah pasrah dengan situasi saat ini. Kudekatkan minyak kayu putih yang ada di tanganku ke hidung Ditya. Sedikit ada respon. Ditya mulai menggeliat, dan terbangun.
“ Haa..h?? Kenapa?? Jam berapa?? Ini di mana?” seperti orang mabuk, Ditya bertanya kepadaku. “Jam lima….,”aku menjawab sambil mengompreskan es ke pelipis Ditya yang lumayan parah. Sedikit demi sedikit Ditya mulai bisa bangkit dari tempat tidur.
“Oh,Putria…,” Ditya menghela nafasnya.”Aku pikir mama. Tapi mana mungkin…,” pelan Ditya berbicara. Tapi aku masih bisa mendengarnya.
“Dit, kamu tahu apa arti kebahagiaan?” refleks aku bertanya pada Ditya sambil memapahnya keluar ruangan. Kami kemudian duduk di beranda ruang PMR yang menghadap ke arah barat, menghadap ke langit yang berwarna kemerah-merahan.
“Kebahagiaan? Kebahagiaan itu sebenarnya enggak ada. Yang aku tahu kebahagiaan itu semu… Ya kan, Put?” Ditya kembali bertanya kepadaku dengan pandangan mata nanar, lelah menghadapi segala bentuk kehidupannya sendiri.
“Kebahagiaan. Tujuan akhir bagi semua orang yang hidup di dunia ini. Semuanya menginginkan kebahagiaan, dan mencari cara apapun untuk menemukannya. Bagaimana bisa kita mendapatkan kebahagiaan kalau kita membiarkan pikiran kita berkelana, melantur, dan liar? Yang ada malah pikiran kita yang berbalik menguasai kita dan membawa kita pada kesulitan-kesulitan kita yang sebenarnya sepele, namun menjadi besar hanya karena pikiran kita. Di antara seni kebahagiaan adalah menilai hidup sesuai keadaan dan porsi yang semestinya. Syukurilah apa yang kita punya. Aku yakin, kalau bisa melakukan itu kita pasti akan bahagia, entah apa pun yang menimpa kita…,” Ditya dan aku terdiam, sibuk dengan pikiran kita masing-masing.
“Dit, tahu enggak? Aku bersyukur punya ayah yang galak. Aku bersyukur ibuku sudah tersenyum di alam sana. Aku bersyukur menjadi seorang cewek biasa dan tidak istimewa. Itulah kenapa aku selalu bahagia. Karena kebahagiaan itu tidak semu. Kebahagiaan itu nyata…,” aku menghela nafasku,” Jangan jadi pengecut, Dit…! Hidup kamu masih panjang. Yang bisa membuat dirimu bahagia cuma kamu sendiri, bukan orang lain. Jadi, jangan pernah terpengaruh dengan orang lain, karena kita punya garis kehidupan sendiri-sendiri…”
“Maaf ya, Dit… omonganku jadi tidak karu-karuan…,” pelupuk mataku mulai basah, “Aku hanya ingin kamu tahu banyak orang yang lebih tidak beruntung dari pada kamu…,” aku dan Ditya tetap terdiam.
“Seharusnya memang begitu. Aku ingin bahagia. Aku telah berusaha menemukan kebahagiaanku sendiri. Tapi… aku tak pernah bisa. Sekeras apapun usahaku, aku tak pernak menemukannya… Tak pernah bisa…” Ditya memandangku dengan tatapan elangnya.
“Tolong aku. Bantu aku. Bantu aku menemukan kebahagiaanku, Put…” Ditya tersenyum. Dari sinar matanya, aku melihat keinginan itu begitu besar. Keinginan itu begitu menggebu-gebu. Keinginannya untuk berubah…
Tangisanku meledak. Bukan karena sedih, bukan. Aku bahagia. Aku lega bisa mengatakan ini semua. Aku memang ingin Ditya berubah. Aku ingin Ditya menjadi orang yang berbahagia. Ini gara-gara buku biru itu… Tak ada seorangpun yang tahu, aku sudah membaca buku itu…
Yogyakarta, 12 Mei 2007

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.