Minggu, 12 Desember 2010

Banyak Belajar


Emosi, ego, ketidakpastian. Semua itu berhubungan. Terukur dalam setiap sendi-sendi ketidakpastian. Manusia mana yang tidak punya ego? Manusia mana yang punya tingkat kesabaran super duper waww??? Manusia bukan malaikat. Malaikat juga bukan manusia. Manusia setengah malaikat? Mungkin ada, tapi ketika ego itu membatasi imajinasi, semua itu akan menjadi tiada.

Hidup itu punya batas. Semua nafas hanya terbatas. Waktu yang kita punyai terbatas. Keberuntungan muncul dalam porsi yang tak tentu. Kesabaran juga punya batas. Setia pada kata, tak pasti bisa setia pada tindakmu, dan pada tundukmu.
Tahumu, tidak selalu menjadi tahuku.
Aku pernah bicara, aku ingin menghentikannya. Selalu seperti itu. Tapi tak pernah nyata. Karena itu hanya sebatas kata-kata. Janjiku bukan ikrar, maka aku bisa menghentikannya dan membatalkannya. Itu pembelaanku. Sepihak!
Pembelaan yang salah!!! Sudut hatiku yang lain selalu menampiknya... Aku selalu terkungkung dalam raguku. Mimpi yang telah dijanjikan, selalu menjadi bayang-bayang. Dasar bodoh!! Ada Band bilang aku manusia bodoh!!!
Sabarku tak ada batasnya. Atau, aku memang sudah menjadi buta??? Dulu iya, aku memang buta. Punya kompas, tapi tak bisa menentukan arah. Bintang seperti menyebar tak beraturan. Aku tak bisa membedakan mana gubug penceng, dan mana sabuk orion. Semua tertuju pada beruang besar, sampai-sampai bintang selain itu tak kuanggap.
Somboongnya aku, yang pernah bilang kesabaranku tak terbatas. Dungu. Dungu. Dungu. Dungu. Dungu! Alay, Alay,Alay,Alay!
Jadilah manusia wajar, nak...
Mungkin aku harus berterimakasih pada manusia setengah malaikat itu. Yang telah menyadarkan, betapa dungunya aku.
Sekarang, aku musti memandang segala hal sewajarnya. Dunia itu tiga dimensi. Jangan hanya lihat dari satu sisi saja, karena dunia tak hanya memiliki satu sisi itu. Yang wajar, katanya.
Aku akan mengembalikan imajinasiku. Tak perlu menjadi yang terbaik. Aku sadar, kepantasan itu relatif. Apa salahnya kalau aku bilang semua di dunia itu relatif??? Semuanya memang relatif!!!!
Biarkan dia latah dengan dunia barunya. Dengan mimpi indahnya, yang telah menghalangi mimpi indahku selesai sebelum aku bangun. Hmm, semoga saja kali ini aku salah lagi. Semoga saja dia nggak latah. Tapi, bukankah bukti telah berkata lain??
Aku telah terseleksi oleh alam.
Keindahan itu relatif, belaku. Pembelaan yang teguh, selalu datang dari nurani di dalam sana. Biarkan rumput tetangga lebih hijau. Biarkan! Biarkan! Biarkan! Toh, dia tak selamanya hijau. Coba saja lihat, rumput itu pasti menguning, dan mati. Arrgh, aku terlalu skeptis!!!
Selalu ingat ini: lihatlah semuanya dalam batas kewajaran nak... jangan terbakar. Biarkan pancing itu menari-nari. Biarkan ikan lain yang lebih cantik mendekati umpan itu. Kamu itu ikan badut! Sembunyi saja lah..... lebih aman....
Apa yang sebenarnya kucari?? Rasa aman atau tantangan???
Bukan kedua-duanya.
Aku mencari keikhlasan.
Dia akan mengalahkan semuanya.
Ego, skeptis, individualis, kesombongan. Tak akan betah dengan sebuah “rasa ikhlas”.
__Bantul, 9 Agustus 2010__

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.