Kamis, 16 Desember 2010

ALCAPAFOR STORY

(buka hardisk lawas, menemukan lusinan tulisan masa SMA, dan tak ingin membuangnya sia-sia__inspirated by alcatras'04)

Menjelang pukul dua belas siang di sebuah SMA Negeri favorit…
Kelas terpencil yang terletak di sebelah utara mushola dan terpisah oleh lorong kecil dengan kelas lain itu terlihat ramai dengan penghuninya yang sedikit atraktif.
Seperti sekarang ini. Raka, seorang anak laki-laki dengan potongan rambut emonya yang tak pernah betah jika hanya duduk terdiam, mendekati Adit yang sedang terlelap di sela-sela jam kosong. Diayun-ayunkannya tangannya di depan muka Adit. Sepuluh detik, tak ada respon. Lima menit, tetap tak ada respon. Lima belas menit, Raka menghentikan aktivitasnya. Diambilnya jahe, bekas bahan praktikum biologi yang disimpan di saku celananya. Ia kemudian mendekatkannya ke hidung Adit. Sama sekali tak ada respon!
“Dasar Adit kebo!” Raka kesal. Dia beranjak pergi. Namun, sebelum pergi ia sempat melepas tali sepatu Adit dan mengikatkannya pada kaki kursi.

Di meja ujung utara yang dekat dengan pintu, segerombolan anak sedang bermain ‘bingo’, permainan yang sedang ngetrend di kelas IPA 4 sejak sepuluh hari yang lalu. Permainan ini disukai karena hanya bermodalkan kertas, pensil, dan keberuntungan. Pemainnya tinggal membuat kotak sebanyak 25,49, atau bahkan 100, sesuai kesepakatan. Setelah itu mereka bisa menebak-nebak angka sesuka hati mereka. Dan yang pasti,permainan ini bisa dimainkan kapanpun dan dimanapun serta melibatkan banyak orang.
Raka yang sudah semakin bosan, akhirnya bergabung dengan gerombolan pemain bingo. Tak lama kemudian, terjadi perundingan kecil di antara mereka. Saling berbisik, saling pandang, saling melempar senyum, dan saling cekikikan.
Tidak lebih dari lima menit, gerombolan itu bubar. Ada yang kembali ke tempat duduk masing-masing, ada juga yang keluar ruangan. Tiba-tiba…
“GRUDUK!! GRUDUKK…!”
“GEMPA! GEMPA!! GEMPA…!!!” Raka berteriak-teriak. Teriakannya itu cukup untuk membuat anak-anak cewek yang sedang nggosipin gurunya di kelas itu berlari ketakutan ke luar kelas. Bahkan Asta sampai nabrak pintu karena berlari sambil menangis.
Beberapa orang yang ada di mushola terkaget-kaget, tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Yang lebih kasihan lagi, Adit yang terbangun dari tidurnya karena teriakan Raka, sempat terjerembab dan tertimpa kursi. Dia tidak bisa berlari keluar karena tali sepatunya terikat di kursi. Adit hanya bisa berteriak minta tolong tanpa ada seorangpun yang mau menolongnya.
Melihat situasi seperti itu, Raka dan kawan-kawannya malah tertawa-tawa senang karena berhasil menipu teman-teman lainnya dengan tipuan gempa yang mereka buat.
“Raka! Firman! Apa-apaan sih kalian?!” Tiba-tiba terdengar suara lantang seseorang. Ya, seseorang. Seseorang yang mereka kenal dan begitu mereka takuti. Sosok guru fisika itu begitu menakutkan bagi mereka. Raka dan teman-temannya yang tadinya tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba saja seperti kehilangan pita suaranya.
“E..e..e.., itu Pak. Adit jatoh. Jadi…, jadi akhirnya kita teriak-teriak. Takut kalo Adit gegar otak trus amnesia. Gitu pak…,” Raka gelagapan, tidak tahu apa alasan yang harus dikemukakannya kali ini.
“Kalian itu benar-benar keterlaluan! Kemarin mecahin kaca kelas sebelah gara-gara main bola. Kemarinnya lagi bikin guru kepleset gara-gara genangan air di depan kelas sisa nggebyurin temennya yang lagi ulang tahun. Hari Sabtu lalu, malah main tebak-tebakan angka nggak jelas pas pelajaran saya! Selain itu kalian sudah terkenal sebagai pencontek ulung oleh guru-guru kalian! Kalian nggak malu sama diri kalian sendiri? Kelas kalian ini dari dulu memang bermasalah!” Tampaknya kesabaran Pak Afif, nama guru fisika itu, sudah habis.
Hening. Tak ada yang berani mengangkat suara. Sejenak, semua orang di kelas IPA 4 itu hanya menunduk. Mereka tampaknya sadar, mereka memang keterlaluan…
***
Pulang sekolah….
Anak-anak kelas IPA 4 yang biasa disebut Aliansi Cah-Cah IPA 4 atau sering disingkat dengan sebutan Alcapafor itu masih berada di dalam kelas. Ada rapat kelas dadakan. Rapat itu biasa mereka lakukan jika ada sesuatu yang memang penting untuk dibahas.
“Teman-temanku yang baik, kalian pasti tahu kenapa kita adakan rapat dadakan seperti sekarang ini…,” Firman, si ketua kelas, membuka rapat siang itu.
“Tadi, sempat ada tragedi yang tidak mengenakkan. Kelas kita akhirnya menjadi kelas yang dicap jelek oleh guru-guru. Padahal kita tidak menginginkan hal itu. Betul???” Firman bertanya pada teman-temannya dengan semangat dan dijawab dengan semangat pula oleh teman-temannya.
“Betul! Sekarang gimana cara kita untuk mengembalikan harga diri kita! Bahwa kita tidak pantas untuk diremehkan!!!” Lia yang dijuluki Nona Beo karena cerewetnya, mengungkapkan isi hatinya dalam forum dadakan kali itu.
Semuanya diam, berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Heran juga sih… Padahal biasanya anggota Alcapafor tak pernah berpikir sekeras dan seserius itu. Semua masalah yang mereka hadapi, mereka anggap sebagai angin lalu dan lelucon tak biasa yang kebetulan sedang singgah dalam hidup mereka. Memang, anak-anak kelas ini sangat easy-going dalam menghadapi situasi apapun. Bahkan saat mereka mau dibakar hidup-hidup pun, bisa saja mereka malah tersenyum bahagia dan akan rela untuk dibakar karena berpikir diri mereka pasti akan masuk surga, dan dosa-dosanya ditanggung oleh si pembakar…
Tapi…, untuk kali ini semua menjadi berbeda. Untuk urusan harga diri, mereka tak mau main-main. Mereka sangat menjunjung tinggi harga diri dalam diri mereka.
“ Teman-teman, gimana kalau kita buat kesepakatan dan Undang-Undang Alcapafor yang dibuat di atas kertas bermaterai? Trus yang pasti, kita harus konsekuen sama peraturan yang kita buat…,” Adit dengan jidat yang membiru karena keganasan Raka tadi siang mengemukakan usul.
“Setuju! Karena kita terkenal sebagai pencontek ulung, gimana kalau kita melarang diri kita masing-masing untuk mencontek…?”
“Trus nggak boleh main bola di depan kelas! Mending main bolanya diganti nyapu kelas yang udah kayak tempat sampah. Kan sama-sama keringetan…”
“Nggak boleh rame lagi! Yang rame suruh nyatetin semua catatan semua penghuni kelas…”
“Nggak boleh tidur dan main bingo pas pelajaran berlangsung…”
“Nggak boleh ada acara gebyur-gebyuran buat yang ulang tahun! Diganti acara doa bersama dan makan bersama aja…”
Begitulah…, usul demi usul akhirnya disampaikan. Dan tak lebih dari dua jam, sebuah peraturan kelas milik IPA 4 bisa terselesaikan. Babak baru dalam kehidupan sekolah mereka pun dimulai…
***
Dua minggu sejak peraturan milik Alcapafor dibuat dan disepakati, anak-anak penghuni kelas IPA 4 menjadi lebih rajin, lebih anteng, dan lebih lainnya. Raka yang jahil dan Firman yang biasa membuat pesawat dari kertas dan menerbangkannya ke segala penjuru kelas sehingga mengotori kelas itu, menjadi lebih suka bermain gitar dari kelas ke kelas saat istirahat dan menghasilkan uang dari profesi barunya itu.
Anak-anak cewek yang suka nggosipin gurunya, sekarang menjadi lebih suka nggosipin peserta olimpiade sains internasional yang punya otak encer dan menebak-nebak bagaimana cara mereka punya otak super encer dan berusaha untuk menirunya.
Adit yang hobi tidur di kelas, sekarang selalu sedia dua botol kopi pahit untuk membuatnya selalu terjaga. Dan Lia yang super cerewet, selalu sedia plester besar untuk membungkam mulutnya saat hasrat ingin membeo muncul.
Permainan bingo yang selalu dimainkan setiap saat dan setiap waktu tanpa memandang situasi, sekarangpun hanya dimainkan pada waktu-waktu tertentu saja, seperti saat ada jam kosong maupun jam-jam lain yang tak mengganggu proses belajar mengajar.
Yang jelas, anggota Alcapafor sekarang lebih sadar diri. Sadar kalau mereka harus menjadi pelajar teladan yang harus belajar demi masa depan mereka sendiri. Sadar kalau mereka ternyata punya banyak hal buruk yang harus ditinggalkan.
Kalau saat ulangan biasanya mereka kompakan tengok sana, tengok sini, SMS-an, bahkan pernah ngasih obat tidur buat guru lewat rayuan maut mereka agar mereka leluasa mencontek, sekarang mereka lebih memilih mengerjakan semuanya sendiri. Walaupun hasil yang akan didapatkan jauh dari memuaskan, mereka tetap bahagia dengan usaha sendiri. Mereka punya tekad untuk membuktikan bahwa mereka bisa!
***
Suatu pagi yang cerah…
“Duh!! Apaan sih? Ini kakiku! Jangan diinjek!”
“ Wei! Tuh tangannya siapa sich? Minggir bisa enggak?!”
“ Misi…,misiii…,nggak kelihatan. Itu rambut ijuknya siapa pula? Ngalang-alangin pandangan aja!”
“Hufh…,” Lia menarik nafas lega setelah berhasil keluar dari gerombolan anak-anak berseragam abu-abu putih itu.
“Hei, Lu udah liat pengumumannya?! Gimana?” dua makhluk yang berdiri di dekat tiang itu cengar-cengir.
“Sialan kalian! Nggak tau rasanya jadi ikan pepes di dalam sana! Eh, kalian malah enak-enakan di sini! Dasar cowok pemalas!” Lia sewot. Dia nggak rela diperlakukan semena-mena oleh dua orang teman sekelasnya itu.
“Badan Lu kan kecil. Cewek pula!” Firman yang tukang ngeles itu nggak mau kalah membalas kecerewetan Lia.
“Huh! Pokoknya aku minta ganti rugi! Aku nggak rela bajuku jadi kusut, rambutku berantakan, kakiku diinjek-injek, kacamataku ko…”
“Woi! Kalian tuh kok malah berantem nggak penting kayak gini sih? Gimana hasilnya?!” Raka menghentikan perdebatan itu. Untuk sementara, suasana hening. Lia kemudian kembali membuka suaranya,"”Nggak ada..."”
“Nggak ada gimana??” Raka dan Firman berpandangan. Mereka heran dengan pernyataan yang dikeluarkan Lia.
“Iya, nggak ada! Kelas kita nggak ada yang ikut remidi ulangan umum semua mata pelajaran! Kita berhasil!” Lia mempertegas pernyataannya. Kali ini dengan suaranya yang melengking sehingga membuat anak-anak yang berkerumun di depan papan pengumuman untuk sesaat menghentikan aktivitasnya, serta menoleh ke arah suara itu berasal dengan pandangan iri karena tahu orang yang mengeluarkan suara tadi ternyata tidak remidi mata pelajaran apapun.
“Ssst, jangan keras-keras dong, Lia yang cantik… Malu-maluin aja sih Lu!” Firman mendekatkan telunjuknya ke bibir. Dia kemudian menarik tangan Lia dan Raka menuju ke kelas. Dia ingin menyampaikan berita gembira ini pada teman-teman sekelasnya. Ternyata kali ini mereka berhasil…
***
Setengah tahun kemudian…
“Anak-anak…, Bapak hanya ingin mengucapkan selamat untuk kalian semua. Setelah yang kalian lakukan selama ini, ternyata kalian memang telah membuktikan bahwa kalianlah yang terbaik…” Pak Afif menghela nafasnya. Guru fisika sekaligus wali kelas XII IPA 4 itu tampak bangga. Begitupun dengan penghuni Alcapafor. Usaha mereka tidak sia-sia…
“Selain itu, sekaligus Bapak juga menyampaikan selamat sekali lagi untuk Firman, Raka, dan Adit yang berhasil meraih nilai Ujian Nasional tertinggi se-Propinsi dan berhak memperoleh beasiswa untuk melanjutkan study di sebuah Univeritas Negeri di propinsi kita…”
Anak-anak bersorak riuh rendah. Mereka tidak menyangka bahwa usaha mereka selama dua semester ini bisa berhasil sejauh itu. Usaha yang datang dari rasa sakit hati mereka ternyata bisa memotivasi diri mereka dan membuat mereka bisa menjadi yang terbaik.
Anggota Alcapafor mengakhiri kehidupan SMA ini dengan rasa bangga dan bahagia. Mereka berjanji, cerita mereka ini tak akan pernah mereka buang, karena lewat sebuah tekad dan sebuah cerita ini,mereka ternyata telah berhasil menjadi yang terbaik dari sebelumnya dan dari semuanya…
(selesai)

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.