Senin, 01 Februari 2010

Syndrom Kepala Dua

Ini syndrome, karena membuat panik. Ini syndrome, karena kebanyakan orang mengalaminya. Dan namanya adalah syndrome kepala dua. Maksudnya? Ya, suatu "rasa aneh" saat kau memasuki kepala dua. Umur dua puluh tahun.
Dulu aku anggap sih....
apaan tuh? kayak gitu aja diributin. Kayak gitu aja dipikirin. Koyo ngono wae diomongne. Luweeh... =p hehe.
Iyo sih, nggak penting. Dan hanya hal kecil dalam sandiwara kehidupan.
Waktu itu berlalu sangat cepat. Seorang teman SMA pernah bilang, ah satu semester itu cepet, paling 18 minggu selesai. Saat kamu bilang "besok" itu terasa sangat lama, tahu-tahu si "besok" itu udah ada di hadapan mata, telinga, dan hidungmu.
Einstein bilang, waktu itu relatif. Tak bisa terukur. Sang Waktu itu luar biasa adanya.

Kembali ke syndrome kepala dua. Syndrome ini bukan syndrome hororisme yang menakut-nakuti. Tapi cukup untuk membuatku berpikir,
Ternyata aku udah melalui masa-masa "itu" ya...
Ternyata aku masih belum bisa menghadapi dunia ini dengan baik ya...
Ternyata aku terlalu membuang-buang waktu ya selama ini...
Ternyata waktu yang bermanfaat selama ini terasa lebih sedikit dibandingkan waktu yang oke punya (bisa dimanfaatin maksude _red)
Ternyata mimpi-mimpiku selama ini hanya sekedar "mimpi" yang tetap tersimpan rapat dalam bungkusnya ya....Nggak dibuka. Disentuh pun tidak...
...dan ternyata-ternyata lainnya dari A sampai Z perjalanan hidupku.
Ternyata, aku masih NOL BESAR (0)!
Padahal aku tak tahu berapa lama lagi periode kehidupanku. Bisa saja periode kilat. Tapi mungkin juga periode superrr panjang.

Pikiran syndrome kepala dua, muncul saat mampir ke kos Titik. Empat orang yang ada di situ yang kebetulan tanggal lahirnya mepet-mepet sontak berteriak "Whuaaaaa!!!" ketika diingatkan berapa usia kita bulan depan.
"Tua..."
"Uhm..."
"Pengen balik kayak itu...." *menunjuk ke foto bayi (bayinya Yudhis) yang jadi wallpaper desktop lepi Ann. Tampak polos, cantik, tanpa dosa. Kita dulu pernah seperti itu. Dan sekarang berusaha lagi seperti itu. Mengurangi dosa biar jadi seminimal mungkin takarannya. Biar besok bisa jadi simbah-simbah yang bahagia dunia akherat. Kembali seperti anak-anak yang tanpa dosa.

*Waktu itu sungguh luar biasa.
Cukup untuk jadi bahan perenungan hari ini.




"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS Al-'Ashr[masa])

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.