Senin, 01 Februari 2010

Sekelumit Kisah


Hidup ini sudah sepantasnya untuk disyukuri. Apapun profesi kita, Apapun diri kita.



Tulisan ini berkisah tentang sesosok pekerja keras yang sering muncul di selasar Fakultas Geografi kala senja. Siapakah dia? Hem, beliau adalah orang yang menyediakan makanan pengganjal rasa lapar dengan harga sangat terjangkau. Mahasiswa Geografi memanggilnya dengan sebutan "Bu Tenong", karena sebuah tenong dari bahan bambu senantiasa menemani beliau saat berjualan.

Menu yang ditawarkan oleh bu Tenong sangat disukai dan sangat merakyat. Nasi oseng, cap cay, lumpia rebung, lopis, martabak, nasi goreng, kacang bawang, dsb, dll. Menu istimewa yang asyik dinikmati kala sore hari. Sembari makan, sembari bercerita, mengelilingi tenong dan segala isinya. Ini bukan angkringan. Ini adalah tenongan, yang selalu laris dan selalu habis.

Bu Tenong selalu datang saat jam-jam berkumpul anak pecinta kampus tiba. Kebanyakan penghuni kampus yang bukan mahasiswa "kupu-kupu" pastilah kenal baik dengan bu Tenong. Sosok yang sederhana, menyenangkan, dan penuh rasa ikhlas.
Bayangpun, naik angkutan umum dari rumahnya di Godean sana, turun di STM Jetis, kemudian berjalan kaki sampai Jalan Kaliurang km 4.5, hampir setiap hari.
"Ibu mboten sayah napa?" (Ibu gak capek?) Kadang itu yang terlontar dari mulut beberapa orang, termasuk dari aku.
"Nek mpun biasa nggih mboten mbak..," (kalau dah biasa ya nggak capek mbak...) jawaban yang singkat dan mengena. Realisasi dari pepatah 'alah bisa karena biasa'.

Bu Tenong memang mudah akrab dengan siapapun; mahasiswa S1, mahasiswa S2, budhe kantin, pak satpam...
Satu hal lain yang kukagumi dari ibu yang satu ini. Tiap adzan maghrib berkumandang, bu Tenong dengan segera meninggalkan dagangannya, menuju mushola. Pernah aku bertanya, "Bu, kok dagangane ditinggal, mangke nek ical pripun?" (Bu, dagangannya kok ditinggal? Nanti kalo ilang gimana?)
"Nggih mbak, aku yo tau kelangan. Ditinggal shalat, ana sek njupuki. Tur yo tak benke wae, aku arep ngibadah sek. Sek dosa nek yo wong sek njupuki mau to mbak..." (iya mbak. Ditinggal shalat ada yang nyuri. Tapi ya dibiarin aja, aku mau ibadah dulu. Yang dosa juga yang nyuri...). Wooow, betapa ikhlasnya, dan betapa sederhananya ibu yang satu ini.

Asyiknya tenongan, mirip seperti angkringan. Ada Interaksi langsung antara pembeli dan penjual, serta antara pembeli dengan pembeli. Terjalin suasana akrab. Beda dengan jajan di kafe-kafe, franchise-franchise, atau kantin-kantin. Dan pastinya, harga yang ditawarkan cocok banget buat kantong mahasiswa rata-rata koyo aku.

*Aku belajar memahami rasa syukur dari ibu yang satu ini ^^)

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.