Rabu, 29 Desember 2010

SEMALAM DI NGLANGGERAN


*aku agak lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi... @@

Setelah minggu-minggu teramat padat, bertemulah kami dengan hari yang teramat luang. Rencana demi rencana telah disusun oleh awak kpj'ers 08. Monik, Erna, Muji, Uya, Titik, dan beberapa teman lain berencana mbolang ke Solo di hari Jumat, nonton SBC (Solo Batik Carnival). Hmm, pengen ikut sih, tapi tidurr di rumah sajjalaah.. =P

Hari Sabtunya, seusai anak-anak pulang dari SBC dan setelah selesai persiapan acara farewall party dengan mahasiswa University Malaya, Malaysia yang lagi Summer Study di geografi, giliran aku yang ikut mbrontosaurus bersama beberapa orang ke Nglanggeran. Gunungapi Purba Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul. Sebenarnya, ini bukan kali pertama aku ke sana. Sebelumnya, aku pernah ke sana bersama awak-awak dari alcatras'04 (sebutan untuk anak-anak IPA 4 SMA N 7 Yogyakarta) dan awak-awak dari Geomedia. Hmm, tapi ini beda. Soalnya ini camping. Dan camping pasti pake nginep. Sampe malem, sampe nanti pagi lagi. Dan konon katanya, keindahan Nglanggeran yang paling menakjubkan adalah di malam hari....




Segala perbekalan sudah disiapkan di kontrakan Memaju Jaya yang ada di Sendowo. Tenda, air mineral, camilan, senter, jagung, ayam dan cumi berbumbu..
eiits?! jagung? ayam dan cumi berbumbu??? Hoho, yaya, kita kan mau camping ceria... Jadi harus benar-benarr ceria. Harus ada acara bakar membakar di atas sana =DD

Menjelang maghrib, kami berangkat, menuju ke Timur, Kabupaten Gunungkidul. Melewati Bukit Bintang yang tampak indah di malam hari, yang penuh dengan berlusin-lusin pasangan yang lagi malam mingguan *bussseeeeeet.
Kami berhenti sejenak di sebuah masjid di Gejlik Pitu untuk menunaikan ibadah maghrib. Dimanapun kita berada, jangan lupakan sholat!! =)

Sekitar pukul 8 malam, kami sampai di TKP. Gunungapi Purba Nglanggeran. Lokasi ini memiliki nilai ilmiah yang tinggi, dan sering menjadi lokasi kajian keilmuan di bidang geologi maupun geografi. Nama Nglanggeran berasal dari kata Planggaran, yang berarti bahwa setiap perilaku jahat akan terungkap. Jika kita mengunjungi Nglanggeran di siang hari, akan tampak gundukan-gundukan batuan breksi yang berasal dari vulkanik tua yang berukuran superbesar.

Seusai menitipkan motor di rumah warga sekitar dan menunaikan ibadah isya', kami berkumpul sejenak. Berharap perjalanan kami menyenangkan, aman, dan bermanfaat. =)

Hampir dua jam kami mendaki. Lama tak berolahraga membuatku sedikit ngos-ngosan, Untung, malam itu tidak ditambah dengan hawa dingin, sehingga perjalanan menjadi lebih lancar. Kami sengaja mengambil jalur yang relatif mudah, lewat jalur sebelah barat, melewati pos demi pos. Saat sampai di pos 1, keindahan yang menakjubkan telah terlihat, kelap-kelip lampu kota Yogyakarta.



Kami terus mendaki dan mendaki. Merambat-rambat. Yudhis di paling depan, disusul aku. Dan berada di belakang sendiri adalah Kece dan Saddam. Minimnya senter tak menyurutkan langkah kami untuk mblusuk-mblusuk di kegelapan. Hampir dua jam, kami akhirnya sampai ke lokasi camp..

SUBHANALLAH, cantiknya.....


melihat lampu kota dari atass. shutter speed kecepatan tinggi menangkap gambar dua kepala =P

Allah telah menyuguhkan pemandangan yang begitu luar biasa untuk kami malam itu. Hamparan bintang kota, kelap-kelip lampu kota yang sangat indah. 3 Kota: Kota Yogyakarta, Kota Surakarta, dan Klaten, terlihat menyatu dari atas sini. Jalan Solo terlihat lurus membelah kota-kota itu. Rasa lelah selama mendaki malam hari terbayarkan sudah..

Sinyal penuh, saatnya kami mengabarkan keadaan ke orang-orang tersayang.

Hmm, camping yang benar-benar ceria. Tenda didirikan, kamera disiapkan, kayu bakar dicari, api unggun dinyalakan. Peluh bersatu dengan asap dari api unggun, mata memerah dan iritasi ringan akibat kepulan asap sembari membakar jagung dan ayam. Makan malam bersama beberapa anggota keluarga kpj'ers 08, makan malam yang nyummy... ~(^^)~ Malam yang ceria, sambil nyanyi-nyanyi sampe tenggorokan kami kering. *Themesong: Give Me Some Sunshine -- OST 3 Idiots. Dan di bawah sana, terdengar musik dangdut dan musik mantenan berkumandang...



jagung bakaaar nyam-nyaamm

Esoknya, saat subuh-subuh. Dingiiin. Para lelaki masih ngebo, cuma Yudhis yang udah bangun. Karena pengen melihat matahari terbit, sehabis subuh beberapa orang yang sudah terbangun menyegerakan diri menuju puncak Nglanggeran, Gunung Gedhe dan Gunung Kelir...

Tapi, tapi, tapi...
agak kecewa kami pagi itu, karena suasana berkabut dan kami tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana matahari terbit sedikit demi sedikit... Akhirnyaa, foto-foto sajalah kami... huehuehueee ^^




Yaah, itu sedikit cerita saat kami mbrontosaurus, mengagumi ciptaan-Nya yang Maha Hebat. Kapan-kapan lagi yaa.... =)



LISTENING YOUR HEART & LISTENING YOUR HEAD



Pagi ini, aku berencana buka bazar buku mulai dari jam 9 tepat. Tapi, rencana tinggal rencana, soalnya bangun-bangun badan udah bener-bener minta disayang. Ragaku lagi manja-manjanya sekarang. Mungkin salah jiwaku juga sih, yang terlalu memaksakan si raga melakukan apa mau si hati. Padahal, raga juga butuh pendapat otak. Yasudahlah, rencana berangkat kuliah dan ngerjain laporan buat responsi esok pagi juga ikut bubar entah kemana...


Aku masih ngulet, saat Ibu mengantarkan tajin yang masih anget untuk sedikit mengurangi rasa sakit di kerongkongan. Tak lama kemudian, datang SMS dari seorang teman : "Indahnya kesehatan bagi orang yang sakit bagaikan mahkota di atas kepala orang yang sehat, tapi terkadang orang yang sehat tidak menghargai pemberian ALLAH yang begitu berharga.."
Hftt, astaghfirullah... tepat sekali!! Mungkin aku memang belum bisa menghargai pemberianNya. Belum bisa menjaga diri di dunia.


Nafsu makan yang berkurang drastis akibat banyaknya sariawan di kerongkongan membuatku lemas beberapa hari ini. Otak juga ikut-ikutan sakit, karena masih banyak amanah yang belum terselesaikan. Terlalu banyak yang belum terselesaikan... T,T

Ah sudahlah, masih bersyukur nhaa aku masih boleh di rumah, nggak mondok di rumah sakit...
Masih bersyukur cuma nyampe gejala tipess dan belum nyampe positif tipes...
Masih bersyukur ini cuma sementara, bukan permanen...
Ingat kan? Allah itu pandai menegur hamba-Nya dengan cara paling halus sekalipun.
Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara? Salah satunya adalah sehat sebelum sakit... =)) *baru mengena sekarang kan tu kata-katanya??? \[^,~]7


wish..wish..wish... : besok bisa ikut responsi



Senin, 20 Desember 2010

PERJALANAN KE TIMUR


Sabtu, 18 Desember 2010


Setelah semalaman nglembur lagi, mencoba ngerjain apa yang bisa dikerjain. Aku terbangun dengan sisa-sisa semangat ngantuk yang luar biasa. Setelah subuh yang dingin, setelah mandi pagi super cepat, setelah diomelin ibu karena grubyak-grubyuk nggak karuan, berangkatlah aku ke kampus. Jemput Annur di kostnya, dan nitipin tugas kuliah SIG 2 di kost Neny. Nyampe kampus, ketemu tokoh-tokoh utama kisah kali ini: Mas Detta, Mas Didot, Yudhis, Saddam, Lesan, Surya, Adi a.k.a Kece, Irvan a.k.a Ponti a.k.a Penyu, Rezo, Godzali, Annur, Yulia, dan aku sendiri, beserta ketiga asisten lapangan: mas Aris, mas Tito, dan mbak Fitri.


Praktikum lapangan SPG (Survey Pemetaan Geomorfologi) dimulai. Pembagian alat-alat lapangan dilakukan dengan cepat: yalon, abney level, palu geologi, meteran, bor tanah, pH-meter, GPS, checklist lapangan, dan lain sebagainya. Perbekalan untuk makan siang dan cairan pengurang rasa dehidrasi telah siap dibawa dan dilahap. Bus kota kuning Kobutri telah siap mengantar kami menuju Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman (sekitar 30 menit dari kampus). Perjalanan di bus, telah nampak orang-orang yang sudah kecapekan sebelum beraksi: Tidur!!!


Titik Satu

Ada lima titik pemberhentian utama yang kami survey kali ini. Mulai dari dataran aluvial, lereng kaki, lereng bawah, lereng tengah, serta lereng atas pegunungan Baturagung terkikis lemah. Kebetulan aku bersama tokoh-tokoh yang kusebutkan tadi mendapatkan titik B. Aku tak tahu bagaimana kondisi titik B sebelumnya. Asisten cuma pernah bilang: "Siapin tenaganya!!"

Dalam keadaan lapar nan tak tertahankan, kami memaksa asisten untuk berhenti (padahal baru jalan berapa meteer =p). Nasi bungkus dikeluarkan, di bawah pohon beralas tanah lembab, kami menikmati hidangan pagi dengan lahap. Nasi lauk telor campur oseng, rasanya nikmaat aja (lapaaaaar). Setelah hidangan pagi usai, dibagilah kami menjadi beberapa kelompok kecil. Ke sana, kemari, ngisi ceklist, jalan sak kepenake dhewe.... GPS masih membuat Yudhis emosi, seraya memaki-maki. Ok, tampaknya hari ini akan jadi hari yang penuh emosi.... ~.~

Titik Dua

Beberapa ratus meter dari dataran aluvial yang notabene dekat dengan sungai, jalanan mulai nanjak. Kami masih semangat, masih bertenaga. Mas Detta yang nggaya dengan kacamata itemnya, Didot yang mulai klempas-klempus dengan rokoknya, Yudhis yang masih emosi karena GPS, Surya yang semangat dengan dip & strike, Saddam yang masih diejekin karena bekal makanan yang dibawain ma *nananana*, Yulia yang masih tenang-tenang aja, Annur yang benar-benar keliatan semangat, Kece yang agak kurimen, Godzali yang nggak keliatan semangat, Rezo yang biasa-biasa aja, Lesan dan Ponti yang dari tadi embuh ngomongin apa, dan aku yang diam, senyum, dan amat bergantung mood hari ini.

Setelah penjelasan yang nggak singkat dari asisten, kami mulai menyebar lagi. Aku, Yudhis, dan Kece mulai mblusuk-mblusuk ke ladang milik orang. Melompati kali kecil, agak naik, menemukan terasering, nyatet dan ngamatin erosi di sekitar situ. Aku harus menyesuaikan langkah-langkah lebar para lelaki itu. Baru saja kita bertiga sampai di atas, di bawah terdengar teriakan-teriakan...

"HOOOII, iki sek ngukur lereeng piyeeee? Sapa bawa abneey leveeeeel??? ABNEY LEVEEEL??"

Dibalas teriakan dari sebelah barat sana,"MARUUUUL YANG BAWAAAA...."

Hadeeeuh, aku baru inget kalo si abney ada di tasku!! Di bawah Surya mulai teriak-teriak lagi, "Maruuuuul!! Mudhuuun!! Turuun!!" Aku lemparkan ceklistku di deket tegalan, bilang sama Kece, jagain baik-baik benda itu, kemudian bergegas turun lagi, agak berhati-hati melewati lereng kecil, menyerahkan si abney ke Surya dan Godzali. Setelah itu balik lagi ke atas, menemukan ceklistku yang ditinggal di tegalan dan tidak menemukan kedua temanku di atas. Dan beberapa saat kemudian, mereka berdua muncul dari arah berlawanan, ngajak aku turun lagi. Beuuuh, tahu gitu aku nunggu di bawah ajaaaaaa.... =(

Titik tiga
Kami mendaratkan kaki kami di sebuah kantor kelurahan di Desa Sambirejo pas saat adzan dhuhur berkumandang. Mas Didot langsung merebahkan tubuhnya di teras kantor kelurahan dan tertidur. Annur, Rezo, Godzali masih semangat untuk melanjutkan perjalanan. Sambil menunggu giliran shalat, aku, Kece, Lesan, Surya, dan Ponti mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Melihat tanah sekitar. Menyeberangi jalan aspalan, menuju SD yang sudah tidak berpenghuni, bangunan SD yang sudah koyak dan rusak menandakan seakan ada penghuni lain yang ada di sana. Kami menuju belakang bangunan SD, ternyata ada ladang yang telah diolah dengan sistem terasering. Di bawahnya dan di selatan sana, tebing-tebing curam berbatuan andesit tampak sedang ditambang. Longsoran-longsoran batuan terlihat jelas dari tempat aku berpijak. Apa penambang itu nggak takut ya mempertaruhkan nyawa mereka?? Ah, ironi mencari sesuap nasi yang akan selalu ada di setiap lini kehidupan...
Kembali ke mushola di kantor kelurahan, kami menyegarkan diri dan menyegarkan hati sejenak... Masih agak bersantai-santai, ketika Ponti yang sudah duluan ke atas menelepon Yulia dan meminta kami untuk cepat-cepat naik.
“Kita ki, mlaku setengah jam, istirahate sak jam...” Mas Detta bergurau. Haha, gak papa lah, dilarang memaksakan diri kan??? =P

Menuju titik empat
Kedua rombongan bertemu di sebuah buk di pinggir jalan. Yudhis dan kawan-kawan tampak sedang mengobrol dengan seorang simbah-simbah yang membawa setundun pisang. Tampaknya beliau akan ke Gunungkidul kalau nggak ke Klaten. Mereka lalu berpamitan, meninggalkan simbah-simbah itu sendirian, yang dijawab, “Nggih, monggo, monggo.. ngatos-ngatos lho nak...”
Jalanan kali ini benar-benar menanjak, dan menanjak. Surya bahagia, sampai bilang, “Wah, seneng aku nek ngene ki! Dolan-dolan. Nek nggak melu praktikum biasa plus responsine piye to??” *ngareep =P
Godzali nggak bahagia. Yulia keliatan nggak bahagia. Aku biasa-biasa aja...
Beberapa ratus meter dari buk yang kami temui tadi, bertemulah kami dengan bangunan masjid setengah jadi. Anak-anak yang tadi belum sempat shalat, berhenti di titik itu. Anak-anak yang lain melanjutkan perjalanan. Hampir 300 meter kami berjalan, asisten menyuruh kami mengeluarkan peta-peta untuk melihat apakah kami sudah mulai memasuki area pemberhentian selanjutnya atau belum. Tapi pertanyaannya, siapa yang bawa peta???
Satu per satu ditanyai dan dicek... Ternyata, peta itu tak ada di rombongan ini...
“Masih dibawa Annur mungkin...” Yulia meng-sms Annur.
“Hah, bukan. Temen-temen yang masih di bawah sana nggak bawa katanya...,” Yulia melaporkan. Kami kembali mengecek... Ternyata tetap tidak ada.
“Ngomong-ngomong, yudhiss mana e???” aku tanya.
“Embuuh, ketoke ga mungkin nek dibawa Yudhis... Ni Yudhis disms gak bales-bales...” Yulia kembali melaporkan.
Ya, sudahlah...
Kami akhirnya duduk-duduk di tepi jalan, berjajar menghadap ke arah barat: Aku, Yulia, Mas Detta, Mas Tito, Godzali, Mas Aris. Berada di paling barat, Surya tiduran di pinggir jalan seakan-akan tiduran di atas kasur. Di seberang jalan, Kece dan mas Didot tidur (lagi) di pos ronda. Kami terdiam di pikiran masing-masing, melihat dataran Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta dari atas. Memandang obyek dari atas. Mungkin masing-masing dari kami punya pikiran untuk mendeliniasi kenampakan-kenampakan itu, sesuatu yang sering kami lakukan di laboratorium, melihat bumi dari atas. Kalau di laboratorium kami melihat bumi secara 3D lewat stereoskop, sekarang kami melihat sesuatu di bawah sana dengan alat ciptaan-Nya: dua mata yang normal dan bisa melihat sekeliling kami dengan indah. Truk-truk pengangkut batu andesit yang lalu lalang dan meninggalkan debu tebal tak mengganggu perenungan kami.
“Ahh, suwi... Cah-cah di sms, rul..” mas Detta yang ada di belakangku mulai mengantuk, “Eh, kae Yudhis udu e???”
Di timur sana, batang hidung Yudhis mulai keliatan. “Ke sana ah,” mas Detta berlalu meninggalkan kami. Saat itu pula, rombongan dari bawah sudah sampai ke tempat kami melakukan perenungan sesaat, perenungan yang nyengoh. Saat mereka datang, mereka tetep bersikukuh kalo tak ada peta yang mereka bawa.
“Hmm, jawaban satu-satunya adalah Yudhis...!”
Kami segera menuju tempat Yudhis berdiri, sekitar 50 meter dari tempat kami duduk. Dan sampai di sana...
“Sluurrrp...” Yudhis asik minum susu dengan peta di genggamannya... Muka-muka kami langsung cemberut melihat pemandangan itu...
“WoooU!! Di-sms nggak bales! Kita udah nyari peta kemana-mana! Kamu nemu warung nggak ngajak-ajak!! Enak-enakan minum susu padahal persediaan air minum kita dah habiss!! @*@&&^!$%@$%!!!!” Haha, semua orang berwajah cemberut. Dan seperti biasa, Yudhis Cuma tenang-tenang aja dan bilang,” Titik empatnya masih sekitar 700 sampe 800 meter lagi.. Topografi makin nanjak...” ZZzzzzzzzz....

Naik Bentar Lagi
Naik, naik ke puncak gunung, tinggi, tinggi sekaliiiii.....*hha, lebay
Sekarang tanpa istirahat lagi, kami naik terus sampai titik empat. Kemudian titik lima. Melatih fisik kami?? Ya, bolehlah. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat kan??? *anak-anak masih pada misuh-misuh dan memaki-maki...
Di titik terakhir kami benar-benar tepar. Tiduran lagi di tepi jalan. Klekaran. Sampai-sampai dimarahin kakek-kakek warga sekitar. *esp Saddam. Dia Cuma cuek dan embuh, berdiri sejenak, lalu kembali tidur lagi di tepi jalan. Aku dan Yulia jalan-jalan, melihat-lihat sumur warga yang benar-benar dalam (katanya di sini sering kekeringan kalau musim kemarau, dan harus beli air kalo udah kekeringan banget). Setelah melihat-lihat sumur, kami berlalu semakin ke timur, mengukur dip & strike. Melihat tebing andesit Maha Indah Goresan Sang Maha Kuasa....

Ada Truk
Pukul 14.30, kami mulai turun. Saking capeknya kami, sempat ada pikiran buat nyegat truk pengangkut batu alam yang hendak turun ke kota. Bruummmmm,,, truk harapan kami datang. Yudhis, Kece, dan Saddam bersiap-siap mengayunkan tangan. Tapi, tapi, tapi....
“Hueh, iku isine batu kabeeh!!”
Nggak jadi. Ternyata truk-truk yang turun ke kota, pada umumnya sudah full bebatuan yang akan disetor. Pupuslah harapan kami untuk mendapatkan tumpangan. Akhir akhirnya, kami tetep jalan aja. Namun, jalanan turun lebih menyenangkan daripada jalan naik. Lebih cepat sampai tujuan, dan lebih enteng di badan!!! Hm, yang namanya penurunan itu memang lebih mudah daripada menaikkan... Seperti: penurunan iman, lebih mudah terjadi daripada peningkatan iman.
Wahai Maha Pembolak-Balik Hati, terimakasih telah memberikan kami hari ini... u,u

Kamis, 16 Desember 2010

SI KEMBAR

**hmm, kok nggak inget kalo pernah nulis ini yaaa??? (_ _)"a

Huh! Aku heran dengan dua orang itu. Bagaimana aku bisa belajar kalau suasananya selalu seperti ini? Ribut, ribut, dan ribut!

Aku bingung bagaimana cara membuat mereka berdamai agar bisa merasakan betapa nyamannya rumahku seperti semboyan “Rumahku Istanaku”. Ada-ada saja hal yang diributkan! Hal sepele bisa jadi hal yang ruwet, dan hal yang ruwet bertambah semakin tidak jelas, bahkan bisa menimbulkan perang yang lebih ngeri di rumah ini.

Uhh, susah rasanya menjadi kakak mereka! Tiap berusaha untuk menegur, tak pernah didengar. Tiap marah, sering dibantah. Terkadang aku merasa tertekan punya adik seperti mereka. Itu membuat aku sering berpikir, bahwa mereka tidak pernah menghormatiku sebagai seorang kakak. Dan mereka sama sekali nggak pernah ngertiin aku!

Saat masalah yang sepele menjadi perang mulut yang berlanjut dengan perang dingin berkepanjangan dari mereka berdua, mau enggak mau, sebagai kakak yang baik, aku harus menjadi penengah mereka. Sungguh childish! Bagaimana aku tidak stres coba? Apalagi ortu jarang sekali ada di rumah karena sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing. Yah, aku memang harus jadi kakak yang baik…

Kali ini, aku tidak tahu, mereka sedang meributkan apa. Yang jelas, aku sedang ingin belajar dan tidak ingin diganggu!

PRAANG!!!

“Hah! Lo tuh nggak hati-hati! Pecah kan!”

“Yee, bukan aku! Enak aja nyalah-nyalahin orang! Emang Lo yang nentuin siapa benar dan siapa salah?”

Arrggh!!! Ini sudah hampir jadi perang besar! Yah, mau nggak mau nih…

Kreek. Aku membuka pintu kamarku. Memandang pemandangan tidak enak di depanku. Apalagi kalau bukan wajah bersungut-sungut dari si kembar Yuke dan Arika, kedua adikku yang paling nyebelin dan merepotkan di dunia ini. Ditambah, ikan mas koki yang klepek-klepek di lantai karena akuariumnya pecah akibat ulah dua makhluk ganas yang kusebutkan tadi.

“KALIAAN!!! Bisa diem nggak sih??” Aku berdiri dan berkacak pinggang. “Ngertiin Kakak dikit kenapa sih? Lagi belajar nih! Besok ulangan!”

“ Sekarang kalian berdua beresin semuanya. Taruh ikan mas koki yang hampir mati itu ke ember yang diisi air, dan cepet ganti akuariumnya! Ngerti??!” Aku sedang tidak main-main. Kesabaran seorang kakak yang baik ada batasnya. Hmm, dan tampaknya kedua adikku lumayan tahu kalau aku sedang -- benar-benar -- marah. Buktinya, mereka diam seribu bahasa. Hanya menunduk, saling lirik satu sama lain, dan tidak berani menatap mataku. Padahal, biasanya mereka akan mengungkapkan beratus-ratus alasan yang kadang nggak masuk akal agar dicap sebagai yang benar dan tidak bersalah. Ya, baguslah. Aku bisa kembali ke kamar dan melanjutkan kegiatan belajarku yang hampir rusak.

“Tuk kan, Rik! Aku kan cuma bilang, pindahin akuariumnya!! Bukan pecahin akuariumnya! Dasar dodol!!” Itu suara Yuke. Tampaknya bakal mulai lagi nih! Dari dalam kamar aku hanya berdehem,”Kalau nggak mau beresin atau ganti akuarium, besok nggak usah piara ikan lagi!” Aku coba mengancam kedua anak berumur tiga belas tahun itu. Aku tahu, mereka sangat menyukai ikan, dan aku yakin mereka akan menangis semalaman kalau tidak boleh memelihara makhluk yang bernama ikan. Itu pernah terjadi sebelumnya. Mereka berdua sampai tidak doyan makan karena ikan cupang mereka mati, sampai akhirnya mereka mendapatkan ikan louhan sebagai pengganti ikan cupang. Memang adik yang aneh!

Esoknya, saat aku kembali dari sekolah…

Astaga!!! Apa-apaan lagi ini? Ruang tamu benar-benar berantakan. Taplak meja sudah ada di lantai, kursi tamu bergeser posisi sampai sejauh dua meter, dan… oh…oh…, apa itu? Meringkuk di sofa sambil menangis sesenggukan.

“Ya ampun, Rik, kenapa lagi sih? Kamu berantem lagi sama Yuke? Sampai seheboh ini?” Aku mendekati Arika yang sedang meringkuk membelakangiku. Aku tarik behunya agar wajahnya bisa berhadapan denganku. Matanya sembab. Benar-benar sembab.

“Kak, Yuke nyebelin! Dia itu orang paling nyebelin! Pokoknya nyebelin! Arika nggak mau kenal Yuke lagi!” Aduh, ni anak apa-apaan pula bicara ngelantur seperti itu?

“Hmm, Rik, Kakak masih nggak ngerti. Kalian itu kembar. Lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama. Punya wajah sama. Pokoknya secara fisik, kalian itu susah dibedain. Tapi, kenapa secara batin, kalian itu nggak pernah akur? Rik, kalian itu saudara…,” Aku coba berbicara selembut mungkin. Emosi adikku sedang tidak stabil. Kalau memarahinya, aku takut bakalan lebih runyam lagi permasalahannya.

“Kak, Yuke mau pergi dulu! Tapi nggak sama ‘dia’!” Yuke keluar dari kamarnya, dari kamar mereka berdua. Dia menekankan kata ‘dia’ sambil melirik tajam ke arah Arika. Aku masih belum bisa menguasai situasi,”Mau kemana, Ke?”

“Mau pergi nonton sama Dimas! Dah ya Kak!” tanpa ba-bi-bu, Yuke langsung keluar rumah, tidak menggubris teriakan dariku. Ya Tuhan, apa yang salah denganku sehingga harus menghadapi kedua adikku yang lama-lama seperti monster ini?

Aku pusing. Aku memutuskan untuk beristirahat sebentar di kamar. Aku butuh bantuan dari mama. Aku benar-benar butuh bantuan untuk mengatasi mereka berdua. Tapi, percuma saja! Teleponku sama sekali tidak diangkat. Pasti sedang sibuk, sampai tidak ingat lagi kalau ketiga putrinya sedang memerlukan pendampingan. Sekarang, hal apa yang bisa dilakukan gadis berumur tujuh belas tahun seperti aku ini? Uhh, bingung!!!

Tok,tok,tok! Ada yang mengetuk pintu kamarku. “Masuk aja,” sahutku.

“Mbak Wikan, ini makan siangnya. Tadi mbak Wikan belum makan kan?” Bi Nah masuk, membawakan makan siang yang lumayan menggugah selera. Tapi sayangnya, aku sedang tidak ingin makan.

“Makasih, Bi. Taruh situ saja,” aku mencoba tersenyum pada wanita setengah baya yang menemaniku sejak aku berumur lima tahun itu. Bi Nah beranjak keluar kamar.

“Ehm, Bi…,” aku memanggil,”Bisa ngobrol bentar nggak?”

Bi Nah kembali ke kamarku. Aku minta dia untuk duduk di kasur, di sebelahku. Aku menarik nafas pelan, kemudian menghembuskannya kembali.

“Bibi tahu nggak, kenapa Arika dan Yuke berantem sampai segitunya?” aku kembali menarik nafas, ”Dan, ehm, Bibi tahu nggak Dimas itu siapa?”

Seperti biasa, Bi Nah membelai rambutku, laiknya belaian seorang ibu kepada anaknya. Bi Nah mulai bercerita, menceritakan apa yang dia tahu kepadaku.

Oh, begitu rupanya! Ternyata hanya masalah semacam itu! Huh, kesal rasanya! Adik-adikku itu memang masih benar-benar seperti bayi! Masak hanya gara-gara masalah cowok, mereka sampai berantem nggak jelas seperti itu!

Hmm, harus ada cara jitu untuk membuat mereka sadar kalau mereka itu adalah saudara kembar yang sulit untuk dipisahkan! Aku harus bisa membuat mereka sadar! Aku harus bisa, karena aku merasa bertanggungjawab terhadap mereka. Mereka adalah adikku, dan mereka sekarang hanya punya aku!

***

Tiga hari sejak peristiwa berantem nggak jelas antara Arika dan Yuke, situasi belum membaik. Bahkan, malah semakin memanas. Kalau biasanya perang dingin yang terjadi benar-benar dingin, sekarang perang dingin mereka terkadang menjadi perang dingin berdarah. Dan sekali lagi, aku harus rela menjadi korban mereka berdua.

Di meja makan yang berbentuk bundar, dua pasang mata bertatapan tajam. Hii, mengerikan! Aku bahkan tidak berani melihat bola mata mereka. Aku mencoba mencairkan suasana,”Mau nggak, tanda tangan surat perdamaian yang Kakak buat kemarin?”

Diam. Mereka berdua hanya diam. Beberapa detik, yang terdengar hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring, dilanjutkan dengan suara gumpalan nasi yang tertelan, menyangkut di kerongkongan. Aku benci hening. Aku benci kedua adikku yang benar-benar membuat aku bingung!

“Oke, gini aja. Kalian udah pernah liat film Legally Blonde kan? Sekarang, kita tulis dalam secarik kertas, suatu pujian, kekaguman, atau hal positif tentang rival kita,dan kita taruh dalam satu wadah. Jadi artinya, kita buka-bukaan lewat secarik kertas. Gimana?” aku menawarkan suatu penawaran yang manis.

“Nggak. Males Kak, Arika mau tidur. Makannya udah selesai. Malem Kak! Malem Nenek Lampir!” Ups, Arika memanggil Yuke dengan sebutan -- menurutku pribadi -- mengerikan. Yah, konflik belum selesai. Aku harus berpikir lagi, cara apa yang dapat membuat mereka tahu, kalau hal yang mereka lakukan kali ini sudah benar-benar menyebalkan!!!

***

Aduuh, kepalaku rasanya pusing sekali. Semalam aku berpikir keras, mengenai Yuke dan Arika. Aku rela deh, melakukan apapun, asal membuat kedua makhluk sinting itu sadar akan kesalahannya masing-masing. Membuat mereka rela mengalah dan menghormati satu sama lain.

Jam 06.30, sudah siang rupanya. Alamat mau telat, nih! Kebanyakan mikir, ya beginilah jadinya. Aku beranjak dari kasurku, mau mandi. Tapi, Aww, perutku sakit sekali. Aduh, benar-benar sakit! Aku kenapa??

BRUKK!!! Tiba-tiba segala di hadapanku berubah menjadi gelap. Tidak terlihat, tidak terdeteksi. Yang aku tahu hanya gelap dan suara samar-samar milik Mbok Nah yang menjerit-jerit ketakutan.

***

Aku bermimpi. Dalam mimpiku aku menemukan ketenangan. Ketenangan yang tidak hening, ketenangan yang tidak pernah kutemukan sebelumnya di rumah. Tidak ada keributan, tidak ada jeritan mengejek, tidak ada keegoisan. Wah, pokoknya benar-benar suasana ternyaman seumur hidupku.

Dalam mimpiku, aku melihat kedua adikku tersenyum manis sekali. Mereka berdampingan di hadapanku. Tidak pernah aku melihat hal itu sebelumnya. Sama sekali belum pernah! Tapi…

Tiba-tiba saja, senyum itu berubah menjadi isak tangis. Kedua anak kembar itu mengeluarkan air matanya masing-masing, mereka ingin memelukku, tapi entah, ada hal lain yang menghalangi mereka untuk memelukku. Aku ikut menangis, aku juga ingin memeluk mereka. Mereka adik-adikku. Aku tahu mereka bukan adik yang baik, mereka bukan adik yang sopan, maupun sayang kakak. Tetap saja, ada ikatan kuat yang membuat kami bersatu, kami sedarah, dan kami teman sekaligus saudara. Aku tak ingin kehilangan adik-adikku.

Kepalaku kembali pusing. Berkunang-kunang. Berputar-putar. Semua kembali gelap. Isak tangis terdengar semakin lirih, kemudian menghilang. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Saat aku kembali melihat cahaya, kudapati diriku terbaring di atas kasur berseprei putih. Aku sadar, aku ada di tempat bernama Rumah Sakit.

Hff, rasanya pusing sekali. Aku coba memejamkan mataku lagi, sampai kusadari, di samping kiri-kananku dua anak perempuan kembar sedang tidur,merebahkan kepalanya di atas kasur. Aku yakin mereka menungguiku sampai kelelahan dan tertidur. Yah, seperti yang ada dalam mimpiku. Mereka sebenarnya adik-adik yang manis. Aku tersenyum, mencoba membelai rambut mereka satu persatu.

“Kakak! Kakak udah sadar?” Yuke terbangun. Arika ikut terbangun,”Kakak nggak apa-apa kan?”

Aku tersenyum. Kucabut kata-kataku yang mengklaim bahwa mereka nggak pernah ngertiin aku. Mereka sayang aku, aku sekarang tahu itu. Aku memandang mereka. Tanpa kusadari, air mataku menetes. Aku masih punya keinginan, aku ingin membuat mereka menjadi saudara kembar yang saling menyayangi tanpa dilandasi rasa keegoisan.

“Kak Wikan, maafin kami…,” Yuke mengikuti jejakku mengeluarkan air matanya,”Kata Mboh Nah, semalaman Kakak mikirin kita berdua, sampai akhirnya Kakak kena thypus.”

“Kita janji, Kak! Kita berdua nggak bakalan berantem lagi. Kita mau jadi adik yang baik,” Arika menggenggam erat tanganku, “Lagian, untuk masalah terakhir, kita berdua emang benar-benar childish!”

“Iya, cuma gara-gara meributkan siapa yang pantes deket sama Dimas, kita sampai berantem,” sekarang gantin Yuke bicara. Mereka berdua saling memandang, mengulaskan senyum, kemudian tertawa, dan memelukku. Erat sekali. Sampai aku tidak bisa bernafas. Aku tersenyum lebar. Sangat lebar.

“Oh, iya…”

“Kenapa,Kak?”

“Papa sama Mama tahu kalau Kakak sakit?”

Arika dan Yuke tersenyum,”Tahu nggak,Kak? Papa dan Mama panik mendengar Kak Wikan yang selalu sehat, tiba-tiba masuk rumah sakit!” Mereka memandangku. “Dan Mama janji nggak bakalan ninggalin kita lama-lama lagi! Besok Mama pulang dari luar kota. Papa juga berusaha cari cuti biar bisa pulang ke rumah.”

Senyumku bertambah lebar. Aku bahagia hari ini. Mungkin itu senyum terlebar dan tertulus yang pernah kuulaskan setelah hidup selama tujuh belas tahu lebih lima bulan. Akhirnya adik-adikku sadar akan kesalahan mereka. Dan orang tuaku akan lebih memperhatikan kami. Yah, aku harap mereka benar-benar melaksanakan janjinya. Terimakasih Tuhan, cara-Mu bekerja memang hebat!

(selesai)

BLUE DIARY

**hmm, yang ini dulu pernah dimuat di majalah kawanKu edisi Harry Potter =))

Buku kecil berwarna biru itu teronggok di antara kamus dan buku pelajaran lain. Sebuah buku tanpa nama, berbentuk kotak, lumayan tebal. Tapi milik siapa? Kenapa ada di tasku? Tampak dari covernya, sepertinya itu buku harian. Tapi bukankah aku tak memiliki buku seperti itu? Aku heran…. Buka enggak ya?
Sudah dua jam aku berada di depan meja belajarku. Menimang-nimang apa yang harus kulakukan? Buka, enggak, buka, enggak, buka, enggak, buka,…… Ah, aku bingung! Dari pada memikirkan buku itu, lebih baik aku tidur. Besok kan aku harus berangkat pagi, ada jam ke-0. Bisa gawat kalau aku telat. Bukan hanya dimarahi Ayah, tapi juga bakalan dihukum keliling lapangan sepuluh kali sama Pak Arham, guru olahragaku.
Aku coba pejamkan mata untuk tidur. Tapi susah. Aku coba bayangkan domba yang sedang lompat pagar dan kuhitung seperti yang ada di film Mr. Bean. Tapi baru sampai lima hitungan, ada kucing yang mengganggu domba-domba itu dan membuat mereka pergi. Aku buka mataku. Ternyata ada Cipo, kucingku yang lucu. Dia duduk di samping bantalku dan mengeong, meminta untuk dielus. Ahh, Cipo….kenapa sih kamu usir domba-domba yang kubayangkan?
Aku elus-elus si Cipo. Sesekali pandangan mataku tertuju ke meja belajar, ke arah buku biru yang “nyasar” di tasku. Buku siapa sih? Aku kembali penasaran. Cipo yang tadinya sudah hampir tidur di pangkuanku, mengeong, kemudian tiba-tiba melompat ke atas meja belajar yang berada tepat di samping tempat tidurku. Dia mengendus buku biru itu, lalu kembali mengeong.
“Cipo? Kok tahu aku lagi mikirin itu sih?” aku berbicara pada Cipo dan membuka selimutku. Aku ambil buku biru itu, dan membukanya. Aku buka halaman pertama. Kosong. Aku buka lagi buku itu sampai kutemukan tulisan yang hanya beberapa paragraf saja. Sepertinya aku tahu siapa pemilik buku itu…

Kelas, 28 April 2007
Aku bosen di kelas ini. Aku benci sekolah di sini. Aku nggak punya temen yang bisa membuatku bangkit dan berdiri. Aku cuma sendirian. Enggak ada yang bisa kuajak ngobrol sebagai sahabat. Hanya sendiri… Atau itu cuma perasaanku saja??

Kamar apek, 2 Mei 3007
Upacara yang membosankan. Seperti biasa, aku diminta jadi pemimpin upacara. Emang enggak ada orang lain lagi? Selalu aku. Seharusnya aku bangga sih.. Yaa kelihatannya sih memang bangga. Tapi aku benar-benar bosan dengan hidupku sekarang. Kelihatannya hidup cukup, berlebih malah! Kelihatannya juga banyak temen. Tapi teman macam apa mereka? Cuma silau harta. Aku sering gonta-ganti pacar. Tapi itu cuma hiburan sementara. Orang dekat dengan aku cuma karena aku keren, ganteng. Kenapa pula aku bisa keren? Karena ayah dan ibuku kaya! Sayangnya mereka kaya tapi tak berperasaan! Mereka membiarkanku sendiri menghadapi hidupku. Tak peduli aku di sini karena sering ditinggal ke luar negeri. Tidak ada yang melarangku untuk pulang malam, tidak ada yang membuatku berhenti kecanduan rokok dan alkohol, tidak ada yang peduli aku kebanyakan tawuran dan digelandang ke kantor polisi. Kata orang-orang sih, segala yang kulakukan itu keren. Tapi bagiku, itu cuma ajang pelarian... Haaaah,, persetan dengan itu semua. Aku BENCI semuanya…

Tepp…, aku tutup buku itu. Dosa enggak ya, aku baca buku ini? Tapi siapa suruh ada di tasku? Lagi pula kalau tidak dibuka aku bakalan bingung mengembalikan ke pemiliknya. Siapa suruh tidak diberi nama…?
Ditya… Nama itu sering membuatku sebal. Dia satu-satunya orang yang bisa membuatku marah. Dia orang di sekolahku yang sangat terkenal, bukan cuma karena kaya, ganteng dan gaul. Tapi dia juga pintar bermain basket dan menjadi kapten di klub basket sekolah, pernah menjadi anggota paskib di tingkat propinsi. Dia juga cerdas. Terbukti dia sering mewakili sekolah mewakili olimpiade mata pelajaran tertentu dan sering menjadi juara. Sayangnya, dia merupakan orang bermasalah karena sering terlibat tawuran dengan sekolah lain. Sebagai ketua geng, harus jadi ketua penyerang, katanya…
Aku tidak menyangka dia begitu kesepian. Aku kira dia sudah puas dengan segala yang dimilikinya. Aku kira dia bahagia dengan kehidupannya. Awalnya aku benar-benar sebal dengan Ditya karena dia sering mempermalukanku di hadapan umum. Tapi sekarang aku kasihan kepadanya, setelah membaca semuanya di buku biru itu. Untung aku masih punya orang tua yang sering memarahiku dan memperhatikanku, walaupun cuma tinggal ayah… Tapi terima kasih ayah…
***
Huh! Gara-gara buku biru itu, aku jadi telat. Otomatis langsung diminta lari keliling lapangan sepuluh kali sama Pak Arham. Nasib, nasib…, malangnya nasibku hari ini…
“Hei, Mata Sipit…, telat ya..? Sama, dong! Larinya yang cepet dong! Mentang-mentang namanya Siput, larinya terus kayak siput…Hehe..” Ditya yang juga telat tiba-tiba sudah ada di sampingku dan memulai hobinya, hobi ngejekin aku. Aku cuma diam, tidak membalas ejekannya. Gara-gara buku biru itu, aku harus lebih sabar menghadapi Ditya.
“Kok diam? Biasanya kamu langsung ngamuk begitu diejek pakai nama ‘Siput’…,” Ditya kembali berceloteh. Aku tetap diam. Mempercepat lariku dan meninggalkan Ditya yang agak bingung dengan perubahan sikapku.
Jam istirahat, kelasku sepi. Mungkin banyak yang ke kantin untuk makan atau sekedar ngobrol. Aku tadinya juga ingin ke kantin. Tapi karena ingat aku masih belum menyelesaikan PR matematika, makanya aku balik ke kelas. Saat membuka tasku, aku tersadar kalau aku musti mengembalikan buku biru milik Ditya. Tapi…, dia marah enggak ya, kalau tahu aku telah lancang membaca buku itu? Hmm, daripada dia marah, lebih baik langsung aku taruh di tasnya saja.
***
Sedari tadi aku berada di laboratorium komputer dan terlalu asyik dengan friendsterku sehingga tidak sadar kalau hari sudah semakin sore. Aku bergegas menuruni tangga, dan mengambil kunci motor di tasku, sampai tidak memperhatikan jalan. Brukk…
“Aww…jalan pelan-pelan dong!!” Seseorang yang kutabrak tiba-tiba protes.
“Eh, ma…, Ditya?? Mukamu kok kayak gitu sih?? Kamu… kamu… bikin onar lagi, ya?” aku kaget dengan ‘penampakan’ aneh di depanku. Ya ampun, Ditya… Bonyok lagi, bonyok lagi…
“Ya…, biasalah…! Ada yang coba-coba nantangin sekolah kita. Ya udah aku layanin aja. Tapi tenang aja…, pihak kita selalu menang kok…!! Jadi…”
BRUKK!!!
Aduh, Ditya….jangan pakai adegan pingsan dong!!!
***
Sudah satu jam Ditya terkapar di ruang PMR. Untung Ditya pingsan tepat di depan pintu ruang PMR. Untung juga hari ini aku yang bertugas membawa kunci ruang PMR. Jadi aku bisa dengan mudah membawa Ditya ke sini tanpa diketahui guru manapun. Kalau ketahuan bisa gawat. Bisa-bisa Ditya dapat masalah lagi. Aku kasihan padanya… Ahh, kenapa juga aku harus membaca buku biru itu? Seandainya aku tidak membacanya aku pasti sudah meminta tolong pada salah satu guruku, dan sudah pasti Ditya nanti akan diskors selama seminggu atau bisa jadi dikeluarkan dari sekolah.
“Ditya jelek….bangun!! Sudah sore nih… Nanti aku dimarahi ayah!! Ditya…,” aku sudah pasrah dengan situasi saat ini. Kudekatkan minyak kayu putih yang ada di tanganku ke hidung Ditya. Sedikit ada respon. Ditya mulai menggeliat, dan terbangun.
“ Haa..h?? Kenapa?? Jam berapa?? Ini di mana?” seperti orang mabuk, Ditya bertanya kepadaku. “Jam lima….,”aku menjawab sambil mengompreskan es ke pelipis Ditya yang lumayan parah. Sedikit demi sedikit Ditya mulai bisa bangkit dari tempat tidur.
“Oh,Putria…,” Ditya menghela nafasnya.”Aku pikir mama. Tapi mana mungkin…,” pelan Ditya berbicara. Tapi aku masih bisa mendengarnya.
“Dit, kamu tahu apa arti kebahagiaan?” refleks aku bertanya pada Ditya sambil memapahnya keluar ruangan. Kami kemudian duduk di beranda ruang PMR yang menghadap ke arah barat, menghadap ke langit yang berwarna kemerah-merahan.
“Kebahagiaan? Kebahagiaan itu sebenarnya enggak ada. Yang aku tahu kebahagiaan itu semu… Ya kan, Put?” Ditya kembali bertanya kepadaku dengan pandangan mata nanar, lelah menghadapi segala bentuk kehidupannya sendiri.
“Kebahagiaan. Tujuan akhir bagi semua orang yang hidup di dunia ini. Semuanya menginginkan kebahagiaan, dan mencari cara apapun untuk menemukannya. Bagaimana bisa kita mendapatkan kebahagiaan kalau kita membiarkan pikiran kita berkelana, melantur, dan liar? Yang ada malah pikiran kita yang berbalik menguasai kita dan membawa kita pada kesulitan-kesulitan kita yang sebenarnya sepele, namun menjadi besar hanya karena pikiran kita. Di antara seni kebahagiaan adalah menilai hidup sesuai keadaan dan porsi yang semestinya. Syukurilah apa yang kita punya. Aku yakin, kalau bisa melakukan itu kita pasti akan bahagia, entah apa pun yang menimpa kita…,” Ditya dan aku terdiam, sibuk dengan pikiran kita masing-masing.
“Dit, tahu enggak? Aku bersyukur punya ayah yang galak. Aku bersyukur ibuku sudah tersenyum di alam sana. Aku bersyukur menjadi seorang cewek biasa dan tidak istimewa. Itulah kenapa aku selalu bahagia. Karena kebahagiaan itu tidak semu. Kebahagiaan itu nyata…,” aku menghela nafasku,” Jangan jadi pengecut, Dit…! Hidup kamu masih panjang. Yang bisa membuat dirimu bahagia cuma kamu sendiri, bukan orang lain. Jadi, jangan pernah terpengaruh dengan orang lain, karena kita punya garis kehidupan sendiri-sendiri…”
“Maaf ya, Dit… omonganku jadi tidak karu-karuan…,” pelupuk mataku mulai basah, “Aku hanya ingin kamu tahu banyak orang yang lebih tidak beruntung dari pada kamu…,” aku dan Ditya tetap terdiam.
“Seharusnya memang begitu. Aku ingin bahagia. Aku telah berusaha menemukan kebahagiaanku sendiri. Tapi… aku tak pernah bisa. Sekeras apapun usahaku, aku tak pernak menemukannya… Tak pernah bisa…” Ditya memandangku dengan tatapan elangnya.
“Tolong aku. Bantu aku. Bantu aku menemukan kebahagiaanku, Put…” Ditya tersenyum. Dari sinar matanya, aku melihat keinginan itu begitu besar. Keinginan itu begitu menggebu-gebu. Keinginannya untuk berubah…
Tangisanku meledak. Bukan karena sedih, bukan. Aku bahagia. Aku lega bisa mengatakan ini semua. Aku memang ingin Ditya berubah. Aku ingin Ditya menjadi orang yang berbahagia. Ini gara-gara buku biru itu… Tak ada seorangpun yang tahu, aku sudah membaca buku itu…
Yogyakarta, 12 Mei 2007

TANYAKAN PADA VIOLET

BRAKK!!! Violet terhenyak dari kursinya. Arya tiba-tiba duduk di hadapannya. Violet yang sempat terkaget, kemudian kembali asyik lagi dengan pekerjaannya.

“Viol!” Arya terlihat kesal karena kedatangannya ternyata tidak digubris.

Violet hanya menoleh sebentar, menata peralatan gambarnya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia tak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya. Tidak biasanya Arya seperti ini.

“Ke kantin, yuk!” Sambil menggendong tasnya, Violet menarik lengan baju Arya. Arya hanya patuh mengikutinya.

Sudah hampir setengah jam kedua sahabat itu duduk diam di kantin tanpa melakukan apapun. Segelas milkshake coklat masih utuh di hadapan Arya. Arya mulai gelisah, kemudian membuka suara, “Viol, kamu kok nggak nanyain ‘aku kenapa’, sih?!”

“Memang dengan tanya ada apa denganmu? Itu bisa menyelesaikan masalahmu?” Violet memandang Arya.

“Lagi pula kalau aku nanyain itu sekarang, aku yakin jawaban kamu pasti melenceng dari pembicaraan yang sebenarnya. Kamu kan masih emosi. Ya, nggak?”

“Pulang aja, yuk. Udah sore,” Violet beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Arya yang masih menatap milkshake-nya.

***

Langit-langit itu sebenarnya biasa saja. Cuma ada seekor cicak gemuk yang menunggu seekor nyamuk untuk dimangsa. Namun, Arya betah sekali memandangi langit-langit kamarnya itu. Dalam bayangan Arya, di sana terukir sebuah wajah manis yang selalu menemaninya selama ini. Wajah itu selalu menyunggingkan senyum dan pandangan yang begitu teduh. Indah sekali.

Arya menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Sekeras apapun ia mencoba untuk berkonsentrasi pada buku pelajaran di tangannya, ia tetap tidak bisa melupakan wajah manis itu. Karena kesal, ia akhirnya membaca keras-keras materi pelajaran fisika di hadapannya, “Tingkat energi sinar infra merah lebih rendah daripada sinar ultra ungu atau ultraviolet.”

“Hah?! Violet? V-I-O-L-E-T. Iya, violet,” Arya mengeja kata itu perlahan-lahan kemudian mengeluh dan menutup mukanya dengan buku yang baru saja dibacanya.

Violet. Violet itu sahabat Arya selama hampir tiga tahun di SMA. Violet itu penggila warna ungu, warna yang menurutnya punya berbagai macam makna dan filosofi.

Arya heran. Dia memang sudah lama mengenal Violet. Namun akhir-akhir ini saja dia baru merasakan sesuatu yang berbeda dari hatinya. Tiba-tiba, dia teringat omongan kakaknya setahun yang lalu,”Sahabat itu letaknya tidak jauh-jauh dari cinta.” Dulunya dia tidak terlalu menggubris omongan kakaknya itu. Tapi ternyata hal itu terbukti sekarang.

Arya menarik bukunya yang sedari tadi menutupi wajahnya. Ia ambil handphone-nya. Ia pencet tombol-tombol yang ada di situ dan masuk ke menu phone book. Ia cari huruf di situ. Masih ragu-ragu, dia urungkan niatnya untuk menekan tombol yes.

Arya kembali memandangi langit-langit kamarnya. Di sana masih ada seekor cicak gemuk yang tetap setia menunggu mangsanya.

“Ah, cicak lucu, apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Cicak itu hanya diam dan…

PLUK?!! Sesuatu mendarat di hidung Arya. Arya masih diam di atas tempat tidurnya. Tapi lama-lama…

”Hueks! Cicak sialan! Nggak tahu terima kasih! Udah dipuji malah balas menghina pake kotoran!” Arya mencak-mencak. Segera saja dia sambar handuknya, kemudian menuju ke kamar mandi, karena dia memang belum mandi.

***

“Hufh!” Violet mendesah pendek. Diletakkannya sketsa komik di tangannya ke meja di hadapannya. Dia pusing. Deadline pengumpulan komiknya tinggal tiga hari lagi. Sebagai seorang ilustrator majalah sekolah, ia memang kebagian tugas membuat komik.

Lama tidak menemukan ide, Violet berhenti sejenak. Ia gerakkan jari-jari tangannya yang pegal. Ia kemudian menuju tempat tidur, hendak beristirahat. Belum sempat ia merebahkan badannya, handphone-nya berdering.

“Halo, Viol?! Kamu lagi ngapain?”

“Kamu, Ar? Aku lagi stress nih! Deadline pengumpulan materi buat majalah sekolah tinggal dua hari lagi, padahal aku belum melakukan apapun! Kenapa?”

“Oh, stres ya? Tumben. Katanya nggak bisa stres? Aku tahu gimana caranya biar kamu nggak stres,” di seberang sana terdengan suara renyah Arya.

“Pasti kamu ngusulin yang enggak-enggak! Udah ah, males! Sekarang kamu mau ngapain, nelpon aku malem-malem kayak gini?” Violet menutup kepalanya dengan bantal dan tiduran di kasurnya.

“Mau curhat…”

“Uhh,” Violet mendesah pelan. Kepalanya pusing. Tapi, dari pada Arya tambah emosi lagi seperti sore tadi, akhirnya Violet mengalah dan mencoba bertahan mendengarkan ocehan Arya.

***

Lembayung senja sore ini begitu menyejukkan mata. Arya mengayunkan kaki di beranda rumahnya yang menghadap ke barat. Lembayung itu mengingatkanya pada Violet. Pertemuan pertamanya dengan Violet.

Saat itu, hujan baru saja selesai membasahi bumi. Gedung sekolahnya terlihat lengang karena penghuninya sudah pulang ke rumah masing-masing. Namun, di salah satu sudut sekolah, seorang gadis duduk terdiam memandangi langit sore itu.

Arya yang saat itu akan menuju tempat parkir motor, menghentikan langkahnya dan menghampiri gadis itu, sekedar menyapanya, “ Hai, kamu anak kelas X-F kan? Belum pulang?”

“Iya. Aku lagi pengen menikmati indahnya langit sore ini. Udah lama banget aku nggak menikmati pemandangan langit seindah ini. Lihat nggak? Ada warna lembayung, ungu, violet, seperti namaku,” sambil berkata demikian, gadis itu tersenyum pada Arya.

“Jadi namamu Violet?” Arya duduk di kursi yang terletak di samping gadis yang bernama Violet itu dan kembali bertanya, “ Kamu suka warna ungu?”

“Suka banget. Entah itu karena berhubungan dengan namaku atau tidak, aku tak tahu. Yang jelas, selain melambangkan kemewahan, ungu juga menenangkan. Itulah kenapa aku suka warna ini,” Violet tampak bersemangat menjelaskan alasan kesukaannya pada warna ungu.

“Menenangkan?!” Arya tampaknya mulai tertarik dengan arah pembicaraan gadis itu. Padahal, biasanya ia akan cuek saat ada orang yang membirakan hal-hal yang menurutnya tidak penting.

“Iya, menenangkan. Menurut Leonardo Da Vinci, saat kita sedang mencoba berkonsentrasi pada suatu hal, pancaran warna ungu bisa lebih meningkatkan konsentrasi dan bahkan membuat hati kita tenang,” Violet menghembuskan nafasnya perlahan.

“Selain itu, saat aku melihat indahnya lembayung yang berwarna merah keungu-unguan ini, rasanya kepenatan dalam hidupku hilang sedikit-demi sedikit. Rasanya aku mendapatkan seluruh jawaban dari pertanyaan tak terjawab yang ada dalam hatiku,” sambil berkata demikian, Violet menatap langit dengan pandangan matanya yang jernih.

“Tapi kan, ungu itu warna janda? Selain itu, katanya ungu itu warnanya kaum homoseksual!” Arya begitu menggebu-gebu menanyakan dan menyatakan apa yang pernah dibacanya kepada kenalan barunya itu.

“Aku tahu. Sebenarnya itu tinggal bagaimana sudut pandang kita saja. Kalau aku sih lebih suka mengambil sisi positifnya dari pada negatifnya. Ya, nggak?” Violet kembali memandang Arya sambil tersenyum.

Arya menarik nafas pelan. Dari tadi dia mencoba menghubungi Violet lewat handphone-nya, tapi ternyata nomornya tidak aktif. Arya tidak tahu apa yang terjadi pada Violet. Sudah lima hari ini Violet tidak masuk sekolah. Arya khawatir terjadi sesuatu pada Violet. Dan setelah merenung beberapa lama, Arya memutuskan bahwa ia harus menjenguk Violet besok sore.

***

Violet merebahkan tubuhnya ke atas hamparan karpet yang dikelilingi tumpukan dus-dus besar. Ia baru saja tiba di Negeri Sakura ini. Ya, dia berada di Jepang sekarang. Violet telah meninggalkan negeri kelahirannya, kota terindahnya, dan juga teman-teman tersayangnya.

Sebenarnya Violet masih ingin melanjutkan studi di Indonesia. Lagi pula, cuma tinggal setengah tahun lagi dia akan lulus SMA. Tapi, orang tuanya memang bersikeras mengajak anaknya itu pindah. Alasannya, tidak ada yang menemani Violet di Indonesia.

Violet memejamkan mata. Tiba-tiba bayangan Arya berkelebat dalam benaknya. Violet terkesiap. Dia belum sempat berpamitan pada Arya, bahkan Arya tidak tahu soal kepindahannya ini. Violet terpekur. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Arya jika tahu dia sudah tidak ada di sana lagi.

***

Arya duduk termenung sendirian di salah satu sudut sekolah. Pandangan matanya menerawang jauh ke atas, memandang lembayung berwarna merah-keunguan.

Di tempat ini, pertama kalinya ia bertemu dengan Violet. Bertemu dengan seseorang yang selalu membuatnya ceria dan tertawa. Bertemu dengan seseorang yang selalu menenangkannya saat emosinya meningkat. Bertemu dengan seseorang yang tahu caranya memahami hidup ini. Violet sahabatnya yang begitu berharga. Sahabat terbaik yang pernah dikenalnya.

Arya menundukkan kepalanya. Dadanya terasa sesak. Dia kesal dengan Violet yang tiba-tiba pergi meninggalkannya dan teman-temannya. Violet tidak memberi kabar sebelum pergi. Dia kesal pada dirinya sendiri, yang tak sempat mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Violet.

Arya bangkit dari duduknya, kembali menengadah. Di sana, dia bisa melihat Violet tersenyum padanya lewat lembayung senja sore ini.

“Ah Violet, apakah di sana kau masih bisa menikmati indahnya lembayung senja seperti di sini?” Arya berbisik pelan, kemudian melangkahkan kakinya, meninggalkan tanya pada lembayung senja sore ini, yang akan selalu mengingatkannya pada Violet.

(Selesai)

*aku dulu suka tulisan ini, tapi sayang, belum pernah dimuat dimana-mana =))

AKU INGIN MASA DEPAN…

(hmm, kalo nggak salah ini tulisan yang dulu kuposting buat koranseveners.com ^^)

Tetes air hujan yang tersisa masih membasahi bumi yang kehausan. Sebatang pohon puring kura setinggi satu setengah meter menerima limpahan air dengan senang hati. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga dibaginya untuk rumpun lili liar yang bernaung di bawahnya.

Seorang gadis kecil duduk terdiam di teras rumahnya. Ditunggui seekor kucing kampung kecil yang kemarin baru saja dipungutnya dari got depan rumah. Dia termenung menghadap jalan kampung yang selalu sepi saat musim hujan datang. Pikirannya melayang ke masa yang akan datang. Dia bermimpi menjadi seorang dokter yang mampu mengobati setiap penyakit pasiennya. Banyak pasien yang datang kepadanya dan meminta bantuan pada dirinya. Dia akan mempunyai banyak uang. Dengan uang itu ia akan membeli rumah mewah seharga 1 milliar rupiah, ia akan punya 3 mobil pribadi, alat-alat elektronik yang canggih, dan sebagainya…

Ibunya memanggil gadis itu dan menyuruhnya untuk menyapu halaman rumah. Si gadis mengeluh, mengambil sapu, kemudian menyapu halaman dengan malas.

“Andai aku jadi dokter, aku tak akan susah-susah menyapu seperti ini lagi. Aku akan membayar tukang kebun untuk merawat tamanku yang indah…!” si Gadis berbicara pada kucingnya. Kucingnya hanya mengeong, tak mengerti apa yang diucapkan majikannya.

Selesai menyapu, ibunya menyuruh si gadis membantunya memasak di dapur. Si Gadis hanya merengut, membayangkan seandainya ia nanti jadi orang kaya, ia tak perlu repot-repot lagi di dapur. Ia akan mempunyai tiga orang pembantu yang siap untuk diperintah. Ia hanya tinggal duduk santai di depan televisi. Si gadis terus berangan-angan. Saat mau tidur, saat makan, saat di kamar mandi, bahkan saat di sekolah, pikiran gadis kecil itu berkelana sendiri tak tentu arah.

Sekarang, gadis itu telah dewasa. Dia sekarang tinggal di rumah mewah dengan taman yang indah seperti yang pernah diimpikannya. Rumah seorang dokter yang mempunyai 3 buah mobil. Tapi…., bukan dia yang menjadi dokternya. Bukan pula suaminya. Tapi itu rumah milik majikannya yang baik hati. Gadis itu hanya menjadi seorang pembantu rumah tangga di sana. Ia terlalu asyik berangan-angan. Ia hanya bisa mengucapkan kata “Andai…” tanpa bisa membuatnya nyata. Ia telah salah memilih jalannya. Dan sekarang dia masih sering merenung dan berucap “Andai dulu aku tak seperti itu…”. Dia hanya bisa menyesali nasibnya

Seperti juga kita. Kita sering membayangkan sesuatu yang terkadang sulit untuk kita raih tanpa usaha yang cukup untuk bisa meraihnya. Kita sering berbicara panjang lebar tentang banyak hal mengenai masa depan. Tapi omongan itu tak lebih hanya bualan belaka. Untuk apa memikirkan masa depan yang muluk-muluk tanpa ada realisasi dari kita untuk mendapatkan hasil yang maksimal? Lebih baik kita pikirkan kehidupan kita sekarang dan menjalaninya sesuai dengan kemampuan kita, karena segalanya akan mungkin jika kita menjalani hidup kita dengan sederhana dan usaha keras di hari ini. Sebenarnya kita memang harus punya cita-cita untuk masa depan kita. Tapi kalau hanya perkataan tanpa disertai usaha, itu namanya sama aja boong!. Bagai mencari jarum di tumpukan jerami.Sia-sia. Tak ada hasilnya. Jadi intinya…., jalanilah masa sekarang untuk masa depan yang lebih baik, tanpa angan-angan yang tak bisa direalisasikan! OK! (_roel)

Rabu, 15 Desember 2010

PENETAPAN ATAU PERANG??!!

Senin, 13 Desember 2010

data:image/jpg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBhQSERUUERQWFRQUGB4aFxcYGBcaHRscHhcYHBkfGh4XHCYeGBwjHBQYIC8gJCcpLCwsGB4xNTAqNSYsLCkBCQoKDgwOGQ8PGiklHCQpKS8uKiwqLCksMDUsLCkqKi0sLCwpLCwsKS0tLCwpKSksLCksLCksLCksLCkpKSksKf/AABEIAKsAtAMBIgACEQEDEQH/xAAcAAACAwEBAQEAAAAAAAAAAAAABQQGBwMBAgj/xABFEAACAQIEAwUFBAcFBwUAAAABAhEAAwQSITEFBkETIlFhcQcyQoGRFCNSoTNicrHB0fAVQ1OSsnOCs8PS4eIkNGN0g//EABoBAQACAwEAAAAAAAAAAAAAAAABBQMEBgL/xAAuEQACAgEDAgUDAgcAAAAAAAAAAQIDEQQSMSFBBRMiUWEyscFxgRRCcoKR0fD/2gAMAwEAAhEDEQA/ANuooooAooooAooooAooooAorzNUfEY5V0JMnoBJ+goCTUZMajOUUyw33/I9Yrl2T3D3u4ngD3m9T8PyrpcwisAIIjVSNCPSgJU0VC7d7fvjMo+JRr5Su/0rvZxaOJUg0B2ooooAooooAooooAooooAooooAooooAooooAoorwmgPa8JrnZvhhIIPpUDmXEMmEvNb97I0eRMCflNAVbjnONy9iPsfD47QzmvETlHxFekgVbODcGXD2woLM3x3G1Z26sSfGsr9ltxUxzdpPeVkVjCjMG1AXrI61rHEOIi0NxMSB/E+VTgH1juIC0AWDGdBAmk2H5o7zZ1JCzsIKeCtO5I1EUst8WvYp2OYphrXv5e72hI0VZGaCetSL3Ly2srWQLVxtCwZpz75STO4+KmAWy1cDKCNiJ1H76RczcAe4vaYVzaxKjuMNmjXK42KmKicO5juK2S8DI0IMAkjfKevzqx28SHXMDofT11+lMAq/JfPP2n7nEKLeIUkFRs0b5Z2q4CsI4riieJPdsEj77MvgRIBgjbc6VuymoB7RXNrwESYkwJjU10oAooooAooooAooooAooooAr5uXQASSABua+pqs8X4tOLsYdQDneTI0CopNwnpGqqB1PpQDCxirly8I7qKCWB3JPu/sxvFNW/dULhAlAx3ud8n12/Kp1AVHjeKuYNs9pJQtLBT8LHUlfIn3hsKcYDiNrFWyuneUgiZDDYlT1Fd+L4DtUI6jUfy/rwqlWrLWSWQNCTmIEIkCRBOuZiIzbyY2qUgIeYOUmt4lbtsw9pgzQdlzdy4skDLl7rR1HnXDnTnGMqjE2wxUNcUZmkmQo7mwCwd92NX+8hxNgOk9va2Ogz6QyGfhcbjoYNYVz7y2MPdF2yIsYiWQbhGBh7ZnWVYGPIipBpfLPtAVLNmyuEuESCzkoAWOpYDNmIJ61c7nGLsS+GOXQjXSZEHUeNZr7PrnbWbZ7NQRAkEqInoFU6/OtZxV5TaOUzABG86MI03mRQFQ5m4jadQShV42OkMNQQdMsie9EaUs4vzY1rBEjMO2+7Zlyllc7MoGhVk7unVfOq57SnMXAPhBhS4Y7wsgHTuk6GIr69nXD7/YC4xZ1e4FwtpjmGdQZuwdggfQbS3pUt4A+5H5Khl7QQVh7qiSF620E6ZiZZvpV841zElhTrLCZg7GJ+u31qNiLgwllbKGWZoLncliZZo6nU+AqvW8E124udTM91WBgEN3WQzrmUiZ6CowB/y+zYnLeurBWTB11bRY6Dub+ZqyGuOCwfZoqgyAPqfGpFeQKsPxB0dlvRAY5WHQE6T/OmgaagcRt99TE5pQg7QQYn/epZyjxvtlKNo6FlIPwlDBHjPUeRFAWOiiigCiiigCiivl2gT4UBze8O8ZEqNRO3hPhWTpxMnmK2huZAtoLE7lwXy7dXYfSr/auLmZg3vgrc/VLDMk/LSsh5lxhwvG7V8gEBbbGZAjL2b/5SPyoDbuHXQLNszoqAH5AA/mK+l4qpIENB0DEQJqurxqS6gZrNxley42YNDkHwnUrNceBcbtXi4LsCtwl7fvd7McusSBljyqUgXQCkPG+WxdllUE7ZST136wQRMj86kYjmS0k6sW6KqsSSegBApViuP3m73ds29s7d8g+ajUfOpwBBa42+GdszgMxjKAZhdBmJB/cBpvVV54xpxGfDsECF1vArmJBa2JAmMoJ12jwmp/F8V2bntwbjETbaIIA3BC7DNqCNehpDxDGm6+cqqkgCFBy6CAQTqTG9aeqvUY4i+pc+GaJ2z3zj6RRhuEKmWGaV210+m1Ok4veAgPp+yn/TUEmjNVWtRZnk6JaLT4+hHnGGuYlMj3D/AA02JnXTyirry7zKLdq0ttQowuGCLnMNmLHOyaEa5RqYHnVMY1M4bxLsswKhg8A9CAJ1XUbTtWzRq5KWJvoV2s8MrlDNMfV8F3t458ZcAkXFcFGQqVaBBgzlhQ3e1AM1cuB8E7ISxlumswPU9fPw0rPOX8QMxewRatLqxZSZIXMWIkwACBv0q64fmG6kdsmZG2dBBPnHgatk9y6HLyi4PbLks9Q/7VSfig9YMfUetRv7dsuki4ADoTrI8fIGq1juLot1Las1zuMFUDKMkDXeCcxQ5vLTepweS3cQ1ybfpF/jrWYez/jLtjsaC+cC+HDCADmc2yfLu5P8tWrHcyhA9x/0WHt91mIAe57p+R1A9Kzr2PWS17EXNArG0sbiTdZz6wFA+VRgG6LcBMdfDrX1SK3eAvC7OrkLl/8AjOin/NrNPRUAKKKKAK5YjUGOsj8jXVqV4nGOl3XW3lBMbglokeMdaAzy3zQuE4rds3wxt4tbGX9UwFnXzpJ7X+W7yhHVWudmHl11i2WDDMNxDddqY+2DghdFxdjU2dZUTNuQV2/C8ipXIPOoxGGRL14faEZresEtaIMNB0bKYOumlAVr2dcxXbgxGGYrdY21NlX91hZGUppqsg6EUywHHcLdMlsjjTs8T3LimQMovaZwDoJZTtM0s46lrC41TibbYPEK+e3iMP3rTiTDNbOoOwMaVN4hyvh+JX7WMwxQozgY1QSDMiWAOgU5dQPEVKBYsLftnOQt+cwbMhZwAOiOqMRPgGrjjObbCG6VXM7FcxIYsvhq8FfpVmwxsokdkGYAkoDHZqp2AO0eUmkPtB4Ogtdou6DNMalCwUqT1EsCCa8WykotxNnSxrnYo2Zwyr30v4247qmbKYPeUBZ21YiWPlUbEcuYpDBw96ehCFp9CoIqJbxjqhUMwV4LKDoSNvOptjmbEouVL9wL4Btvmdapt1cnmecnWqrUV+mrbtXCeTrjeUr9qy118i5BmKF+/GYCSI8x9aThZMAakwPrpTbAXme1jGclm7DdiSf0tvxpWD3/AEcfvFLFD0uPc9U2WrzFY03H/HBPx/L9+yBnssZ2KguJ6gxoG8t68tcu4loi0wJ2D5LZPorEMak8R4xes4rEi1cdAbr6K2k5pMyN+8NqWjid0XO1F1+0/FJnXQx4UkqYvuY6/wCLlDPpJ3A+NNhmZWzFCSHGgg7HT5flVqw3MeHdiUm3cdMo7POrddcoVvqBFUEeZnzJ1PqeprUeVeCpaw5aDqFZgCQXcqpElegDgACtzSWSlmK4K3xaiuKVjXrftwKr2JQOI7RYWCGbslmdWmEzk+o9RSccTw63hbs5b9640CzZBAYmR99cAEqCJhZ21ZtDVy45wvD4iy9pkCzmRllWKsFJDLl2ymJIjeqHwXhCcJsF8TdS1jb6lbeZiwt2yBLZFHvnp86scnOiX2j80PcxTWLb/dW1S2yrorPbOYlBGi5jA8Yq4+yzgTWsNmvBraKzPcLe83dGWBoQoT8yfGlXIeAsPezYW010WznvYrEKIHklvbMx2LajzqT7S+dzbtpYw12GvZ2vhSCQD3Ah8DvIoBzy1zGMfj71y1IshLFtFIiCWLH8lrTU61mvst4F9lw4uXpVpNy5PQkQi+oTXyJq+cMxbO13MIVSAo6xlB1+oqGBhRRRUAGpLzBhluKVD5XCnVT3lBmCvmGAP1p0aT8awigi5lmVyHWDr7pn17vlmJ6VKBnuF5vTt2w/EVFi+kAXBmNu6WEFnX3QjiDO0mqzzDyAdMTw1yA2b7otlZdYYWnEIwk7TtVn4pwTDcTQrbd/tFme40G9ag6rGnaWsx2PSIpFyzi7+GQ4S+5FksTZxNqXFlxp3wA3czaFWGmtQwNsNw8cWwRsYu0bfELCZbbOHTMBtqR3vOKzTh3GcRw3FOFIDoSl1YJR4GqsDrB06VceYOZ+I4E/f2MO2sJfS0ACQARkdIO0Gl/HfaJYxmGXtsOgxauAL0R1He0GoImQZqAPsT7SkbDoQlxXdc2XtGgZS07KO4WCiC3WvOI8wX3wVq3iSDfvBWYDTJbHeVTJmWkN6CqxwDhalTiroz21YhARAvXC0rof7tMo8pFSsRea47O7S7mWPif60rU1Wo2x2rkuvCtF5titl9KOLP8AKi2w6EfIzUnCKMlx4BZQmXMAR3rgU6HQ6fSvbnftA5ZudrklVALA2c3w7kEfnVXs3LPwdJK/bNprpnGSXwr9DjP/AK//ADrdLo7w83HUT7wphwg/c4zSPuDodx99b3qODlW2QqzcZySQCYW6irE7RJrMoZUPj/ZpuzErcd8fY6cxL/6vEeJvP4eP/jUAr+Xypvx1g2IxuYLKm66sAJBV16jcEOagYq0qPlREkKhJZcxJZEZtW/aNRZX1cs9MnvS6luMYbeuPwR4/qKs+P5nvLg7b2wCiFLeLSSGgAKrqQwhSsAnSCN6r2KQLkKjKHtq4HgTvXTAYzs2kgMjgq6fiU7g/w86yUWeTPb2MesoWsp3LlcDnG+0tEw4ZUe7cMp3m2YCQbndBcAbakedUPB4bE8WxhXMHvXNWJYBQBEwNYgbVJ43wtcO2YOOyuAvbuMD3lIjs2jZ1P5U+wntGs4TC27eBwqJdcDtHJmfQ+8dqt92Tj2mnhjfmsDB2F4dwu2xuXCGvOmZjIG0ka6+YqLyzyWuHYYniDqbmYkWzqltoktebVSY1yiZOlduCcxY3FqXWxYw2G3fENb+H4shuZgzaeFROYXvcTuWbNgMmEtmLb3NGudCwRRLsegAETQgfpzUL9/7NgS1wBQz4xpORS03CgAgMdlJmJ2rR+A2wtvKCMwgsJmJHd3/VA/kKo3COD2MCbeHVj2rGWtIVzs2v3l065EA1ABq88Dw6gO6iO1bN6gaAknUkxPzFTkDOiiioAMKS8Xtsr5y5CMkFYLLI8VAJ1BOo8KdVB40T2RIAYAjMDIlesRrNAZhxvl5sQ32jB3uzuBZS9afOrr4XY76Fds5GsaioHLt3EqGw+MSHZps4t07VT+JLl1SIWdcwIjrFT+Z+V7lu8cThGuYe9t2ijMrzB73ZggTsTGp1MVA4HxnEJntYq0tp3JNu+FLWyY1W92DiFJ+KNOtTgCu5zZfs4kYXH4Sy1rNrbZGP+/ZJJKgjw0NKOF4L7bimVCEsMMzaT2VlT3t1hSSQBFNuP8axdpLtvE4a2ENuLd0IbmpYQLd6SJM+7MiovBitrB3Gtj/3F9lnX9HaUHJJ11d5IPgKxWWbItsz6ep22Rgu7JPE8arsFtrks2hltIPhUaR5zuT1moQGtfWavA1UNk3KWWd5VVGuCjHsd8P+ivf/AI/8UV92bxSyHX3lxAZfUWDXxYYC3dB0J7OB4xckx8qLCl7TKsFhcDZZUEjsisjMROv76zV9l8GjYvq3LpuX2LD2du9axN7Dz2l5CtyyBqr9ojF1A1KkCT0FV52m3hyDIJuQfH763/I0y4NZuW1xNwKVdbWa20qSG7W3qIJHlBrvewZxJQILaX0DM1lYlpuA6dA0AnKK3HHfFPh+37lYp+VZKKeY+/8AacOLR9qx/pf/ANVul3Ex96f2LX/Ct/zqdxG4HxOMyGe0F7J0zSyaCY102qDxK4DeIGsBF+a20B/0msFv0P8AX8m7pM+dH+n8I8x39z/sE/1GaiRUvEXB91/sUHzkn+NRTWrb1kzf0yxWv3+4x4ZbS+jYW/AS4c1ttuyvdCPI6TSjh+SzjDbxtlbgVgj2xlWbgDQRpIDCDpXafAx/WvziuvNgVhh8WwOd7LoxB1L2SFRv1mIIBqx0dm5bX2KDxfSqDVseGMuBcz4jHXRZsYazbspO/ai1ZUe8WyOozeZqTxbGYu9iFHDl7NLY72Jjsu0YjKWz3cxIiVGp8a+eC8axFx2WzhbNuwmUs4L2rYhVOdyrDtDOoAn0rpxPmTFXbyHBr3ElftV1WVWY6kr2zbAaAROxirAoB5y/y/8AZi1y82Z7sC5iLxyFyfdS2vvm2D0IBbfar/wVHl2ZiwaMukAAAg5QNlJ26wBWe8s8vsC2Jvm5fut3i7So8IXtNgYjQa1pvD2JtrmAUkTlGy+VASaKKKAK+XA619URQGc82cBe+WbD/abNxO7NssD5AhHGdfAmCBoJGlUfEf2hYxSvjUOJULkMkISP1C2UZgNdtK23ifD0YMzQNNTEgj9YdfXcVmnFOVXW4l3DYhzlJKowOJTXfukG4AR0yn1oCucz2b7W1+z3AbQm4bbDI6uo0JBJRo6FY+dLeWPvcMbH97mN+xJk3Ay5biZtAHJUMAfA1beJcFVoF69dstcOXJZuHKzRJ0u2pXf3cwiqbxvlAYU5bfbPfZu6mUArrObuOSCI006zXmUFJOLMtNsq5qUeUd8hBIgzMHQiD1kHavSnlUi/xnEWwn2/DIyvEG/K3mHrbAZj+0Ke8J4TZxQGTCYm0DIVheHe/YW6CT5kxHnVZLQy/lZ0tfjVbXri0ystXnqAfX+tqtnHOQ3soXRi0CWtuAGA6lWXuvHXSqoVMDzEj0/hWpOqVbxItdPqq71mDGfCB9zjNN8P/wA23pr0qBbJDDJIhhGXQ6sNQfxedMeCWmZMSiLLvYhB+Ii7bJA841rjh+EXmdB2V3V13tuB7w3OXT1rK90owx/3U1XKEZWqWOuPsOeL4FMVdvi0B9psO0iB98qwc4B07XWDG9VaANh5j+vGZmm3FMYUxd25aaGW8xVh8pjyJ0qTzFhluomLsjS8ctxB8F7TSOgaZHzr3bFWNtLqjHppPTqMZfS10ft8CCiKuPD/AGduVzXS5IElLQXTyL3JU/IUp4vbw2FntMLiGEaO91QhPQE2wI+gpHR2SWWRZ4tp4PHViaxYLuEUFnbQKNyTpoPnvsPGvjm+5BsWbTZhhSbTMpEdtdnNH4oAiQY38K6XuJ4q5YY4Owtu02h+zS59LjtL69Yrny/yauICXEu3VKHvKiZjaI6xnzeJkxW9RR5XPJRa7XvVelLEUPeEXrtmwoxJ7QWRFm1aD3LkAbMyHs7YI3JlvCKhcNXid17vYg2EuEEwpdlXwU6udNKeYThThM9pjiD0e+jFJ2LFLdpjcb5mp3LXLrW9L2MZlzE9l2i2bcsf8JJdtTsY9BW0VhYeVuHNbKrea/cd++zXZOYgaFiTCqOltdjvV1UVEweDC6zmZolvEAaAeQqZFAFFFFAFFFFAeEUg49y+ty22j+OVCRr5ZWWPkRVgooDEuI8gWbYLRduPOYW0Z2IPXNmMqY/WNQLeF4jcYWsMjWLOaVBuOHK/hbLdZt+kAedbvcwyt7yg/IV9raA2AHoIoChcG5Ecw+ICq+5Nu2it6AyxXzMyTNXbCYJUByiCdzux8JJ1NSRRQFY4thGDtCgs4YC4WOVVKnMWWdY8qyrimEsIqNYvvd7xDB1jQbMNNpJ312rTPaFiSmHvEGCUVJ8AzwSPlWROI6R/20/hNaGskl6cdTofBqJPNilhZ49z2xcKkEEgjYjQ/Uaiu/8Aal7/ABbn+d/51Gr2arFZJLGTpJ1wm8tLP6Af6+Zk/nrVh5MxM3WstBF4SoO3aoQ6HTaYYfOq7TLlokYywR/ioPq4rLp5uNiZq62pTol8I1/guFJYXQuQNLN380k9ABoINT8dwpLoMiCREjfaOuh+de8FEWVA2BaPTO1TavThDMOP8k4iyrnCKkmZYLlbyM2tZ+RqotbxlwdljrV+4oGrWS5Y+Gbs7kEHrmBPkK3wiuN7BI3vIp9VU/vFAY1wjkZEZLltryhdkz3EuJO4ChbbMJ/C1arw7g4VEzs7xBAfMcp0OxJJPqTFMbeEVRCqo9AB+4V2FAeRXtFFAFFFFAFFFFAFFFFAFFFFAFFFFAV7m7hBxFlkES6lRP4gZX6kRWK3kgkEEHqDupkyD4Gf4V+hsTaDKVOx38vOqBzfyYbzdpbhb/gTC3fQ/C8ADXStTU0+Yty5LfwzWqiTjPhmbkV81JvYVrNwLfRlg95WBUx1ExE+Y3pj/YK3nH2O6lwNqLTHJdHl3gQ0bVXeRKXCOmlq64NZfR9+wmqzci8KLXu3IlLO3ndPuqPMTPyrrg/Z9iJBv5bFv8RYMx/ZUaE1ovAuCLaVAq5baaop3J6u3mfyrb0+nalmSKjxHxKDg66nlvkb4KzlRV8BHz612r5QQK+qsTmQooooAooooAooooAooooAooooAooooAooooAooooArlesBhDAEHcV1ooRgW3+DIwI1joD3wPRXBArjh+XEQyhynxW3YB+vZyPlTkUGox3PWXwRLGAVTOpbxYyfz2+VSQte0VJAUUUUAUUUUAUUUUAUUUUAUUUUB//2Q==

Pukul 11.45 WIB. Masih ngerasain malas yang amat sangat. Suara sirine meraung-raung di jalanan sana. Entah di Ring Road, entah di jalan Parangtritis, yang pasti bikin aku geli sendiri, soalnya keinget kebakaran yang lumayan heboh pas malam 1 Muharram 1432 H kemaren. @@a
Kembali dengan rasa malas tadi. Jam 12-an aku udah janji sama mbak Nita, mau ke kampus ngasihin hasil praktikum PTT. Dengan semangat sisa-sisa, aku keluarkan si itemm maniss nan setia, mengeslahnya perlahan biar dia nggak ngambek lagi, kemudian capcuss menuju Ringroad, kemudian jalan Parangtritis...
Menuju utara, bersisihan dengan bus jalur Jogja--Samas. Awalnya cuma satu dua. Nyampe di pom bensin Jogokaryan, aku udah nyalip enam, sepuluh, limabelas bus jurusan jogja--samas. Ada apa yaa??? banyak polisi pula... Saat itu pikiran pertama yang melintas adalah: Transmigrasi. Tapi transmigrasi apa? buat apa? kemana? hahaha, nggak tahu ya kenapa waktu itu bisa aja kepikiran ada transmigrasi bedol desa dari Bantul menuju entah kemana... (pikiran yang baru meracau).
Setelah menyalip puluhan bus antar kota dalam propinsi itu, aku baru sadar apa yang terjadi di siang itu setelah melihat tempelan tulisan: PENDUKUNG PENETAPAN. Trus, di bus paling depan yang bisa kusalip ada tulisan lebih provokatif lagi: PENETAPAN ATAU PERANG!!! Wow, benar-benar siap perang ternyata kalo benar-benar nggak ada penetapan. Di depannya lagi, sejumlah warga berteriak lantang meneriakkan yel-yel yang pro Penetapan (bukan Pemilihan).
Polemik yang benar-benar menggugah. Kata orang, masyarakat jogja itu ramah-ramah. Kata orang, masyarakat jogja itu lemah lembut. Tapi terbukti sekarang, ketika mereka merasa diusik, tanggapan yang diberikan pun tak main-main!! Aku bisa liat sendiri, masyarakat sudah siap melepaskan diri dari negara Indonesia jika aspirasi mereka tidak dipenuhi oleh pemerintah.
Woww!!! Ngeri juga ya ='(
Saat itu pula, aku sadar mengapa orang menciptakan peribahasa "mulutmu harimaumu". Gara-gara ucapan yang keluar dari mulut seorang pemimpin, bisa menimbulkan efek yang luar biasa hebohnya. Mungkin, peristiwa ini bisa menjadi pengingat, betapa lidah memang memiliki ketajaman yang lebih terasah daripada pedang.
Satu hal lagi yang aku petik dari sini. Beranilah menjaga harga dirimu!!! Sebagai warga jogja, aku memang nggak ingin menjadi warga non-Indonesia. Bayangkan seandainya itu terjadi! Main ke Solo, Klaten, Temanggung, Magelang, dan sekitarnya, harus pake paspor. Trus, kalo itu sampe itu terjadi, temen-temen kuliahku isinya banyak orang luar negerinya daripada dalam negerinya!! Ahh, nggak mauuuuu...... =S
Aku ditemani si Item, terus melaju, nggremet kayak semut, mencoba menyalip bus-bus dan truk-truk yang berisi manusia-manusia yang sedang mempertahankan apa yang mereka cintai dan percayai. Dari arah berlawanan, berjubel pula kendaraan-kendaran dari kabupaten Sleman dan sekitarnya. Mempunyai maksud yang sama, mengikuti Sidang Rakyat di depan Gedung DPRD Propinsi DIY yang ada di Jalan Malioboro sana.
Dalam hati aku berdoa, semoga negeriku tetap aman dan damai selalu. Jangan sampai peristiwa "kaburnya" Timor Leste dari genggaman ibu pertiwi terulang lagi. Aku cinta Jogja yang istimewa, aku juga suka tinggal di Indonesia yang berbhineka tunggal ika.... ^^)
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.