Selasa, 28 Juli 2009

AWAL DARI SEBUAH PERJALANAN

Selasa, 30 Juni 2009
*Halaman parkir - jalan di antara gedung fak. Geografi, Biologi, dan MIPA,
pagi nan dingin tapi cerah


“PRIIIT!!!”
Peluit panjang berbunyi. Tukang parkir? Atau satpam yang biasanya marah-marah trus nyuruh mindahin motor buat parkir di belakang??? Oh, bukan. Ternyata Babe Widi yang siap mengantarkan mahasiswanya menjadi insan yang disiplin. Phiuh, pas banget aku datengnya, tepat saat peluit mulai dibunyikan. Semua berbaris rapi, tanpa ba bi bu.

Lima menit, sepuluh menit, dan lima belas menit ditambah bermenit-menit kemudian…
Terkumpul dua pasukan besar. Pasukan siap tempur berani mati (lebay amat). Yang nggak telat boleh pilih tempat duluan di bus. Yang telat, diceramahin dulu ya…

Setelah petuah-petuah dikeluarkan,diresapi sampai ke hati oleh para mahasiswa yang sedari tadi gelisah (bukan karena petuah-petuahnya, tapi karena kakinya pegel-pegel dari tadi berdiri nggak duduk-duduk), dan setelah berdoa dipimpin oleh Pak Ustadz, akhirnya kita cap cuss juga… Mengharap perjalanan ini akan menyenangkan sebagai penambah ilmu yang mampu mendekatkan diri pesertanya kepada Illahi Rabbi. Perjalanan KKL I 2009…

*di bus D
Bus berjalan melintasi ring-road. Ring-road utara, ring road barat, ring-road selatan, menuju jalan Parangtritis. Masih serius. Semua mahasiswa memegang notesnya masing-masing, memegang alat tulisnya masing-masing. Entah nyatet beneran, entah pura-pura nyatet (yang penting tangan lagi pegang notes ama pulpen) ^_____^


Melintasi kabupaten Bantul. Pyramid, sekolah, rumah makan, ISI, rumah, toko kerajinan, warung, sawah, Gabusan, sawah, sawah yang masih ijo, rumah lagi, sawah lagi dipanen… Tapi, tapi, tapi, kok ada yang kurang? Malnya mana? Carrefour mana? Alfamart mana?
Wah, Bantul ndeso ya? Mungkin sebagian orang punya pikiran seperti itu. Tapi, itulah sistem ekonomi yang memihak kepada rakyat. Tak mengijinkan berdirinya mal atau franchise yang dianggap mampu mematikan usaha-usaha mikro rakyat. Tetap mempertahankan keberadaannya sebagai dataran fluvio-vulkan yang begitu subur .

Kembali ke dalam bus. Dosen masih sibuk menerangkan, dan mahasiswa juga sibuk, sibuk mencerna apa yang dikatakan dosen dan mencatatnya. Bus masih tetap melaju menyusuri pinggiran Sungai Opak, menuju Gunung Kidul, tinggi-tinggi sekali, belok kiri, belok kanan, nanjak. Kepala pusing-pusing, perut mual-mual, notes kelempar-lempar. Mas Eko (pendamping bus D) mulai bagi-bagi minyak kayu putih, koyo, pil anti mabuk, dan pastinya kresek item buat yang hobi muntah-muntah….Sabar ya…

*polje – telaga Namberan – basin Wonosari
“Tuhan itu Maha Adil, di tempat segersang ini Dia ciptakan makhluk-makhluk cantik…,” itu kutipan dari apa yang dikatakan Pak Luthfi di dalam bus. Yap! Perbukitan karst macam Gunung Kidul, yang katanya para wanitanya cantik-cantik, yang menyimpan potensi sungai bawah tanah luar biasa, yang berbatuan gamping, berlempung, banyak diaklas, dan rawan kekeringan…. Bayangkan, dari beratus-ratus telaga yang terisi air pada musim hujan, tinggal 40-an telaga yang masih bisa ditemui dengan air di dalamnya pada saat kemarau tiba. Lainnya? Kering.
Bersyukurlah karena tinggal di tempat dengan air melimpah. Mandi di kamar mandi sendiri, tidak mandi bersama sapi dan air deterjen bekas cucian baju. So, jangan boros air ya… =P



Menuju daerah Wonosari, masih di Gunungkidul. Tampaklah keindahan lain. Kita seperti berada di dalam mangkuk, dengan pinggiran mangkuknya adalah Pegunungan Sewu dan Perbukitan Baturagung. Serasi. Teratur. Itulah yang menyebabkan Wonosari berbeda dengan daerah lain di Gunung Kidul, tidak kekurangan air. Kenapa? Mangkuk biasanya mampu menyimpan lebih banyak air, berbeda dengan piring yang jika dikucurkan air di atasnya maka air itu akan luber. Begitulah Wonosari, seperti mangkuk dengan pegunungan karst dan perbukitan patahan di sekelilingnya.
Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

*Cawas, Klaten
Setelah para mahasiswa antusias mendengarkan siaran radio JK-Wid, alias radionya Pak Joko dan Pak Widiyanto, semua penumpang Alfa, Bravo, Charlie, dan Delta turun dari bus kemudian menyeberang jalan…Melewati bangunan yang runtuh akibat gempa tiga tahun lalu…Duduk di kebun pisang…Hamparan Perbukitan Baturagung kembali tampak. Tampak lebih jelas dan tampak lebih patah-patah daripada di Jogja (Inul kali.., patah-patah…).

Peta diturunkan, alat-alat lain juga diturunkan dari bus. Langkah pertama, pengeplotan dengan GPS (ketika menyebutkan benda satu ini, muncul kenangan buruk KKL mandiri ;)). Selanjutnya, diplot di peta RBI. Tapi, kok nggak pener? Ya, diulangi lagi, dan nggak pener lagi… $%^&#)!!!&*$#$!
Dilanjutkan dengan kuliah dosen di lapangan terbuka. Semua berusaha mendengarkan. Pak Langgeng bicara. Pak Widi bicara. Pak Luthfi bicara. Pak Datuk bicara. Namun kuliah lapangan sesaat terhenti saat beberapa wanita di belakangku menjerit..
“HuwaAaA!! ULER!!!”
…orang di sekelilingnya berdiri karena kaget (termasuk aku)…
…beberapa menit kemudian, suasana terkendali…
…karena…
…ternyata yang dimaksud adalah ‘uler’ dalam bahasa Jawa, bukan dalam bahasa Indonesia…

*Museum Sangiran
Satu hal yang disayangkan dari KKL 1 kali ini, kita nggak jadi mengunjungi Bengawan Solo Purba di Wonogiri karena ternyata kita sudah kesorean dan nggak memungkinkan untuk ke sana. Desah kecewa para mahasiswa pun bermunculan. Terus mendesah, sampai ada yang nyeletuk: “Besok touring ke sana aja, kan deket…” Ide yang bagus. Yah, setidaknya bagi yang suka touring…

Museum Sangiran, terletak di Kubah Sangiran yang tak tampak kubahnya lagi karena telah terdeformasi. Sebuah patung kepala manusia purba menampakkan dirinya, entah Homo sapiens, entah Pithecantropus, entah makhluk jadi-jadian, aku tak tahu. Yang aku tahu, saat museum Sangiran kembali menyambutku untuk kedua kalinya, aku teringat masa dua tahun lalu – saat aku pernah ke tempat itu bersama masa remaja yang telah berlalu – rame-rame, seru-seruan, hampir sama dengan KKL 1 kali ini. Hanya, sekarang aku ke sana dengan orang-orang yang berbeda (Aku benci saat-saat déjà vu). U,U

*Kembali ke bus D
Setelah para mahasiswa bosan dengan fosil Stegodon dan kawan-kawannya…Setelah beberapa orang yang punya hobi gokil terhadap diorama manusia purba yang berevolusi dari waktu ke waktu sudah cukup melakukan kegokilannya…Kembalilah semua ke dalam bus, kembali ke peradabannya masing-masing…

Bus D. Bus yang diawaki oleh Pak Luthfi dan Pak Langgeng beserta pasukan D1 dan D2. Apa istimewanya? Yang pernah ikut di dalamnya pasti merasa istimewa, karena sebenarnya tiap hal di dunia ini nggak ada yang nggak istimewa.

Hari semakin sore. Saat senja menampakkan semburat jingga-oranyenya, para penghuni bus D mulai bosan. Capek. Ngantuk. Beberapa orang tidur. Beberapa orang jahil, memotret wajah orang-orang yang sedang tidur, ngorok, bahkan ngiler. Dan beberapa orang rajin masih sibuk mengisi ceklistnya walaupun lampu bus dimatikan karena mengganggu pandangan pak sopir.

Saat itu pula, Pak Langgeng menawarkan,”Karaokee??? Hepi Pepi???”
Tawaran yang langsung disambut dengan hangat oleh semua lini. Mulai dari lini depan, lini tengah, sampai lini belakang. Mulai dari sisi kanan, sampai sisi kiri. Musik disetel, semua berdendang…
Melintasi Sungai Cemara. Suasana dalam bus D seperti konser live dari sebuah kelompok paduan suara profesional. (?)
Peterpan…Ariel…Semua Tentang Kita, Menghapus Jejak,…, semua koleksinya dilahap habis…
Dan konser pun mampu terdengar oleh bus lain lewat HT (Handy talkie).
Bus lain tak mau kalah, lagunya Mbah Surip ikut didendangkan..
“Tak gendong, ke mana-mana…Tak gendong, kemana-mana…” (yang disambut dengan teriakan huuuuuu)
Ada yang qasidahan…
Entahlah. Yang pasti semua ingin melepas lelah dengan kebersamaan…
Dan bus D tetap melanjutkan aktifitasnya…
Nyanyi lagu milik Koes Plus yang nggak pernah lepas dari senandung “La La La La” di setiap lagunya…
Nyanyi Campursari…
Sampai dangdut…
Dua jam perjalanan dari Sangiran menuju Purwodadi terasa begitu cepat. Dan, malam pun tersenyum menyambut kami…

* Purwodadi di Hotel.
Malam semakin larut. Dingin semakin menyergap. Para juru kunci (sebutan bagi orang yang bertanggungjawab terhadap keselamatan kunci kamar) antri di lobby hotel semacam antri BLT. Kemudian, akhirnya…, semuanya dapat kunci, semuanya dapat kamar yang nyaman dan full fasilitas. Saatnya beristirahatkah???
Eiiiitsssss….tunggu dulu!
Ceklist masih bolong-bolong belum terisi dan masih ada waktu sekitar 40 menit untuk menyelesaikan kemudian mengumpulkannya. Semua sibuk kesana-kemari, mencari data yang valid dari setiap orang yang ditemui. Ketok kamar si A, ketok kamar si B. Masuk kamar si A, masuk kamar si B. Lorong-lorong hotel gemruduk dengan langkah kaki manusia. Mengerjakan ceklist seadanya dan semampunya. Mengerjakan sambil terkadang mendongak ke arah TV, kotak hiburan yang [sering] menggembirakan, sambil ngrasani apapun yang bisa dirasani..(makanya nggak selesai-selesai… =P).
..dan, hari pertama KKL 1 selesai sampai di sini…

Rabu, 1 Juli 2009
*masih di Purwodadi. Hotel

Setelah bangun tidur dan melaksanakan hajat masing-masing…
Pagi hari diawali dengan sarapan pada pukul 06.00 WIB dengan lauk tempe dan sambel kecap yang sangat kaya protein. Check-out dilakukan dengan cepat namun tak tergesa-gesa. Hari yang santai, pikirku. Tapi, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam suatu hari. Karena, manusia hanya mampu merencanakan, dan Tuhanlah yang sesungguhnya menjadi penentu atas segala rencana manusia.

*Jono Sang Kota Garam
Jono menyambut kami dengan gapura ‘Kota Garam’-nya. Memasuki gapura dan berjalan terus selama beberapa puluh menit, dapat kita jumpai tatakan dari bambu yang tampak diatur rapi oleh petani garam di Jono. Usaha untuk sekedar menyambung hidup, meski dengan hasil tak seberapa. Usaha tambahan untuk melengkapi pekerjaan sebagai petani sawah. Kehidupan yang nrimo, apa adanya, mengolah apa yang disediakan alam sebaik-baiknya.



Daerah Jono terletak jauh dari laut, tapi bisa bikin garam. Air sumurnya asin, tapi bukan disebabkan oleh intrusi air laut. Dulunya daerah Jono merupakan daerah laut. Dan air asin yang ada sekarang merupakan air laut purba yang terjebak oleh materi lempung yang merupakan materi tanah paling dominan di tempat tersebut. The present is the key to the past, masa kini adalah kunci menuju masa lalu. Asinnya air tanah di Jono pada masa sekarang bisa digunakan untuk memperkirakan daerah apa sebenarnya Jono pada masa lalu?
Begitu pula dengan manusia. Bagaimana sifat seseorang, atau bagaimana keadaan seseorang yang terlihat pada masa sekarang, bisa diketahui untuk mengetahui peristiwa apakah yang pernah dilalui atau dialaminya. Segala yang terjadi di alam ini, sesungguhnya merupakan gambaran dari apa yang dilalui manusia dalam hidupnya.

*Bledug-bledug di Bledug Kuwu
Panas begitu menyengat. Suara bledug-bledug terdengar di saat gas metan berhasil menjebol permukaan lumpur yang tipis. Bau tak karu-karuan mulai dari bau bangkai, bau kentut, bau…(pokoknya bau-bauan tak enak), menyeruak masuk ke hidung. Gas metan yang bau!
Hemb…,menikmati salah satu keunikan alam di Kabupaten Grobogan. Namun sayang, terlihat sepi, agak tak terurus. Mulai dari plang masuk penanda keberadaan Bledug Kuwu yang terlihat usang, jalan yang bisa bikin kendaraan oleng kesana-kemari, sampai panasnya yang bikin hati tambah panas (cocok buat tempat putus bagi yang ingin putus sama pacarnya =P).
Tapi terlepas dari semua itu, tempat ini benar-benar unik. Lumpur yang meledak-ledak seakan ingin memberitahukan, “Luapkan apa yang ingin kamu ungkapkan.., jangan pendam kemarahan terlalu lama dalam hati…”:
Dan, satu pesan lagi yang ingin disampaikan Bledug Kuwu: Berhati-hati dan waspadalah di manapun kamu berada. Jangan sampai KEJEBLOS! ^.~




*Perjalanan lagi, di bus lagi
Setelah berpanas-panas dan nggak boleh pakai payung, perjalanan dilanjutkan kembali. Kembali melewati jalanan dengan aspalnya yang mekar-mekar bak bunga mawar sedang merekah. Lempung yang mendominasi materi tanah di daerah Jawa Tengah Bagian Utara-lah yang menyebabkan aspal mudah rusak. Mengapa? Karena lempung punya kembang kerut besar. Amat basah saat musim hujan, dan kering retak-retak saat musim kemarau tiba. Akibatnya, bangunan yang di atasnya sangat dipengaruhi aktifitas lempung yang mengembang dan mengkerut. Akibatnya lagi, anggaran yang diperlukan untuk perawatan fasilitas jalan raya di wilayah ini cenderung lebih besar dibandingkan wilayah lain yang memiliki tanah bukan lempung.

Kembali ke dalam bus. Perut rasanya terkocok-kocok akibat jalanan yang tak rata. Selain itu, ngantuk. Hampir sebagian besar mahasiswa sudah tepar, tidur. Begitupun aku, sudah siap menuju alam mimpi. Namun, sebelum aku berhasil menyempurnakan rangkaian-rangkaian bunga tidurku…
“DUAAKKK!!!” suara benturan yang agak keras berhasil membuatku terhenyak.
Dan manusia-manusia yang punya posisi di belakang tiba-tiba ribut,
”Sempretan!!!”
“Sempretan apaan?”
“Motor tu!!”
“Srempetan kali… Siapa?”
“Ya nggak tau. Orang lah…”
“Motor ama motor?”
“Sama bus kita…”
Manusia-manusia yang tadinya telah tertidur pulas, akhirnya terbangun semua. Semua ikut ribut. Apalagi saat motor polisi meminta bus D untuk berhenti dan mengikutinya sampai ke kantor polisi.
Dan perjalanan kami pun terhenti di Kantor Polisi Grobogan.
Pak sopir keluar. Dosen-dosen keluar. Agen travel keluar.
Lima belas menit, tampaknya masalahnya serius nih…
Setengah jam, mahasiswa mulai ngrasani Pak Polisi. Menceritakan pengalaman buruk masing-masing yang pernah dialami bersama polisi…
Tiga perempat jam, nyetel musik. Semua tampak bosan. Beberapa orang meng-update status facebook dengan isi status mirip satu sama lain :”Busku srempetan”.
Satu jam, belum kelar-kelar juga urusannya. Beberapa anak dari bus lain menyambangi bus D kemudian ikut turun ke kantor polisi.
Satu jam lebih, korban kecelakaan datang bersama motornya, tampaknya tidak luka parah. Mahasiswa yang ada di dalam bus ngrasani si korban. Kebiasaan buruk masyarakat kita, ngrasani apapun yang bisa dirasani…
Beberapa saat kemudian, semua yang ada di dalam kantor polisi berjalan keluar, kembali ke bus. Phiuh, selesai juga masalahnya.

Perjalanan kembali dilanjutkan dengan kelelahan masing-masing. Berharap, tidak ada lagi rencana yang terhalangi… u,u

* Dari Banjir Kanal Timur sampai Pantai Marina, Semarang
Beberapa jam setelah insiden di kantor polisi Grobogan, tibalah kami di Semarang. Ibu kota Jawa Tengah yang terletak di ujung utara, dekat dengan pantai utara, kota dengan perkembangan linier. yang pesat
Banjir Kanal Timur merupakan sub aerial deposisional area, yang terbentuk akibat endapan material dari daratan. Di sana, terlihat pemandangan sebuah kanal dengan perkembangan kota yang pesat di belakangnya. Pabrik-pabrik, tambak, rusunawa, rumah, pabrik, rumah, pabrik. Di sebelah timur dan utara, tampak tetumbuhan mangrove siap menjadi wind-break dan penahan abrasi. Tumbuh teratur, cocok menjadi tempat perkembangan plasma nutfah tertentu.

Dari Banjir Kanal, perjalanan berlanjut menuju Pantai Marina. Perjalanan ke Pantai Marina, merupakan salah satu perjalan baru buatku. Perjalanan baru untuk seorang anak manusia yang ingin mengenal dunia luar lebih jauh lagi.
Sepanjang jalan menuju pantai Marina, akan terlihat betapa sibuknya pelabuhan Tanjung Mas. Kargo-kargo, kapal, rumah-rumah tingkat, pantai… Satu hal baru lagi yang aku peroleh di sini. Mengapa kebanyakan rumah di sekitar pesisir utara Semarang memiliki lantai bertingkat? Mengapa banyak rusunawa? Pernah dengar lagu Semarang kaline banjir? Itulah salah satu faktor penyebabnya. Daerah Semarang sering mengalami banjir, baik banjir akibat hujan maupun rob. Makanya, untuk mengatasi kebiasaan buruk itu, rumah di sana banyak yang dibangun bertingkat.



Pantai Marina, pantai yang terbentuk dari teluk yang direklamasi oleh manusia. Pantai buatan, mirip dengan Pantai Ancol di Jakarta. Di sepanjang jalan, dekat dengan pantai, dapat dengan mudah dijumpai bangunan-bangunan megah, elite. Resort, perumahan, pertokoan, rumah makan. Kawasan yang tampak seperti waterfront city, kota tepi pantai. Tak bisa dipungkiri bahwa kawasan pantai Marina telah banyak dilirik investor, perkembangannya cenderung pesat. Namun, apakah warga lokal Semarang ikut menikmati segala keindahan tersebut?

* Menuju Penginapan
Setelah berpuas-puas menghirup udara pantai utara seusai matahari terbenam, berlanjutlah perjalanan kali ini. Beda dengan hari pertama, di hari kedua para penghuni bus D tak lagi semangat untuk karaokean, tak lagi teriak-teriak terlalu sering. Hanya mengisi ceklist, ngobrol dengan teman sebelah, tidur, atau memandangi pemandangan lampu kota Semarang, teringat Jogja di malam hari.

Perjalanan mulai menarik saat kami sampai di Bukit Gombel. Kembali mengingatkanku pada Jogja, tepatnya Bukit Bintang-Gunung Kidul (bahkan lebih mengesankan lagi). Bukit Gombel adalah Bukit Bintangnya Semarang. Di bawah sana, kelap-kelip lampu kota tampak seperti bintang yang terhampar di langit luas. Namun ini bukan di langit, akan tetapi di daratan yang luas dan tampak jauh. Terlihat indah dan eksotis. Romantis.

* Gaya 2
Penginapan kali ini berada di Bandungan, tepatnya di kaki Gunungapi Ungaran. Jalan menuju ke sana terjal dan berkelok-kelok, melewati beberapa tempat hiburan malam semacam tempat karaoke dan lain-lain. Setelah perjalanan panjang, sampailah ke sebuah wisma, Wisma Gaya yang emang gaya banget (^,^)v

Masuk wisma, bukannya langsung mandi, makan, ataupun ngisi ceklist yang deadline pengumpulannya tinggal beberapa puluh menit lagi. Tapi, nyetel tipi….
Namun, walaupun begitu, ceklist tetap bisa terisi, disambi makan bakso kuah panas, mandi, ngemil, dan nonton TV…

Kamis, 1 Juli 2009
* Olahraga Pagi
Pukul 05.30 WIB. Setelah berhasil melawan dingin yang menusuk-nusuk tulang, setelah berhasil melawan kemalasan di atas kasur dan selimut yang hangat… berkumpullah kami untuk melaksanakan senam pagi. Nggak boleh jadi orang malas, nggak boleh jadi pengeluh…[*,^]

* Gunung yang Berbaris
Pagi yang cerah untuk jalan-jalan. Dan itulah yang kami lakukan. Jalan-jalan. Melewati jalan yang menanjak..menanjak…dan menanjak… Memandangi sekeliling, kebun mawar terhampar, kuda-kuda berpacu dengan tuannya, wisma, resort dan penginapan tampak berjajar dilihat dari atas….
Sampai di perkebunan sayur milik warga, kami berhenti, berkumpul kembali, mengatur nafas sejenak. Di belakang kami, tampak Gunungapi Ungaran yang menjulang. Sementara, di hadapan kami, terbentang lukisan alam buatan Tuhan Yang Maha Indah. Jajaran gunungapi tampak mengesankan, teratur rapi. Merbabu, Telomoyo, Andong, Suropati… Dan di bawah sana, Rawa Pening tampak seperti telaga maha luas…



* Bukit Cinta
‘Selamat Datang di Bukit Cinta’, itulah tulisan yang menyambut kami saat memasuki kawasan Rawa Pening. Banyak cerita legenda yang terdapat di Rawa Pening, salah satunya adalah legenda tentang Bukit Cinta. Legenda apa itu? Aku sendiri juga kurang tahu. Yang pasti, tempat tersebut diyakini sebagai tempat bagi para pasangan yang sedang memadu kasih.

Di luar legenda tersebut, Rawa Pening merupakan daerah unik. Terletak dalam Intervolcano Basin (Cekungan antar gunungapi), di antara ring-wall gunungapi. Hal itulah yang menyebabkan Rawa Pening menjadi daerah mata air yang subur dengan hasil pertanian melimpah.

Eceng gondok tampak memenuhi permukaan air Rawa Pening. Bunga berwarna ungu dengan titik warna kuning dan biru yang indah, semakin menambah keelokan Rawa Pening. Di sebuah warung makan kawasan Rawa Pening, seorang nenek menyambut kami dengan ramah. Keramahan khas pedesaan yang apa adanya. Menceritakan apa yang ingin kami ketahui sembari menunggui beberapa ikat bonggol eceng gondok yang sedang dijemur dan siap dijual sebagai bahan kerajinan. Di sini, aku kembali belajar mengenai sebuah kesederhanaan.

* Perpisahan
Setiap pertemuan, selalu diakhiri dengan perpisahan. Itu pasti. Bagi apapun, siapapun, dan di mana pun!

Perpisahan KKL1 diadakan di Taman Kyai Langgeng, Magelang. Menghadap Sungai Progo yang mengalir dengan batuan padas berukuran tak tanggung-tanggung. Di sini, gokil-gokilan kembali dilaksanakan. Penuh keceriaan, penuh semangat, penuh tawa, penuh canda, penuh DISKUALIFIKASI!!! Dan mungkin yang paling diingat di acara terakhir ini adalah betapa tak adilnya proses diskualifikasi… ^^,

Ini memang acara perpisahan. Walaupun begitu, kami, mahasiswa geografi 2008, akan lebih sering bertemu lagi setelah ini (namun KKL 1 tak akan terulang untuk kedua kalinya…amin). Mungkin kami akan melalui rangkaian kuliah lapangan lagi… Bahkan lebih. Lebih lama, lebih berat, dan lebih lainnya. Dan ini adalah sebagai pijakan awal kami untuk menatap jauh ke depan. Untuk tahu apa yang akan kami hadapi sebenarnya setelah memutuskan bergabung dengan civitas akademika Geografi UGM. Mungkin perjalanan kami nantinya akan lancar, mungkin juga tersendat. Mungkin kami akan sukses dengan cepat, mungkin juga tidak. Mungkin akan sesuai harapan, mungkin akan jauh dari harapan. Entahlah. Tapi, segalanya mungkin. Dan aku yakin, segala yang diusahakan dengan awal yang baik dan sungguh-sungguh mengharap keridhaan-Nya, pasti akan berakhir baik. Pasti! SEMANGAT!! \[^^]/

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”” (QS Ali-Imran 190-191)

foto: ratih, icep, syukron, gasa, laras

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.