Jumat, 10 April 2009

Direndahkan karena Telah Merendahkan

Manusia adalah makhluk individual yang juga sosial. Teori itu sudah dijejalkan ke otak kita sejak kita mulai masuk SD, bahkan ketika masih dalam belaian ibu guru Taman kanak-kanak. Sebagai makhluk sosial, harus saling bantu membantu. Sebagai makhluk individual, tiap orang punya privasi. Makin bertambah usia manusia, makin dia punya pengalaman yang bisa membuktikan kedua teori turun temurun tersebut. Tidak ada yang mampu hidup sendirian, tapi tak ada orang yang mau buka-bukaan menelanjangi identitas dirinya kepada orang lain yang ditemuinya. Artinya, dibalik sikap peduli kepada manusia lain, tiap orang itu egois.

Sejak keluar dari perut Ibu sampai segede ini, banyak sudah makhluk yang kita temui. Mungkin teman, mungkin juga musuh. Selama itu pula, ada banyak bentuk pengadaptasian diri. Menurut teori dalam bidang ilmu biologi, yang tidak bisa beradaptasi, akhirnya akan mati. Kenapa terjadi adaptasi? Karena setiap aspek yang membentuk kehidupan tidak ada yang sama, selalu terbentuk akibat adanya perbedaan-perbedaaan. Bahkan, orang kembar pun tak mungkin sama 100%. Untuk itu, adaptasi adalah bentuk”pemaksaan” untuk melanjutkan hidup.

Obrolan hangat kali ini, yang kebetulan terjadi di kantin geografi saat perut lagi lapar-laparnya, sedikit banyak menyinggung hal yang dibicarakan di atas. Awalnya, tak jelas sih, siapa yang memulai…. Tapi, mungkin karena dilandasi faktor kesamaan nasib yang telah sama-sama kami alami, kami mulai berbicara ngalor-ngidul nggak jelas.



Kami ini anak ndeso. Dan kami sadar kalau kami ini ndeso. Orang-orang udik yang sedang berusaha menimba ilmunya di kota. Di fakultas yang menurut mayoritas orang jarang dipilih sebagai pilihan pertama saat ada tes masuk perguruan tinggi. Tapi bagi kami, orang-orang udik ini, dapat fakultas ini adalah anugerah tersendiri bagi kami. Terlepas mau jadi apa kami nanti, dan berapa gaji yang diterima jika kami bekerja nanti, tapi, kami yakin, haqul yakin, bahwa Allah telah memberikan jalannya bagi kami. Yang pasti, kami nggak boleh memandang pendidikan adalah proses untuk mendapatkan hasil berupa prestise dan gaji tinggi, tapi kami harus memandang pendidikan sebagai pencarian ilmu yang bermanfaat dan menimbanya karena niat Lillahita’ala.

Lalu apa hubungannya dengan adaptasi?

Jelas ada. Bukankah lingkungan baru butuh adaptasi? Pasti jawabannya, ya iyalah… Ada adaptasi berarti ada “pengaruh”. Maksudnya? Ya, adaptasi pasti dipengaruhi oleh lingkungan. Jika tadinya kita adalah orang udik yang tahunya hanya lingkup “kotak sabun”-nya sendiri alias hanya tahu lingkungan kanan-kiri depan-belakang dan paling jauh hanya radius beberapa kilometer saja, sekarang kami dihadapkan pada beragam manusia dengan latar belakang berbeda-beda.

Latar belakang berbeda-beda, berarti selalu ada perselisihan. Memperdebatkan perbedaan, itu pasti. Dan memperdebatkan asal wilayah selalu saja menjadi hal yang pasti terjadi dan bagi sebagian orang kurang seru rasanya hidup bermasyarakat tanpa ada pembicaraan dari mana orang itu berasal, latar belakangnya bagaimana, bapaknya namanya siapa, dan hal-hal nggak penting lainnya.

Wah, jadi SARA dong…!!!

Ya, kalau dosisnya berlebihan, memang bakal jadi SARA. Musuhan, sirik-sirikan, nggak terima, bahkan bisa jadi berantem. Tapi, dengan dosis yang kurang dari “pas”, kemungkinan besar perdebatan itu hanya dianggap angin lalu, hanya untuk mengisi kekosongan kegiatan alias nganggur, karena kurang perhatian dari teman-teman lain, kadang juga bisa menjadi faktor perdebatan model ini.

Aku sendiri sering mengalami ataupun melakukan hal ini. Saat tahu ada teman dari daerah A, misalnya. Dan dianggap daerah A adalah lebih ndeso dari wilayahku, keluarlah ejekan-ejekan yang mencerminkan bagaimana wilayah asalnya. Tapi, ketika ada teman yang datang dari daerah yang menurutnya lebih baik dari daerah asalku, gantian, aku yang dihabisi oleh mereka. Dan rasanya mangkel juga sih, diejek-ejek seperti itu. Tapi, bukankah aku juga sering melakukannya pada orang lain? Jadinya setimpal. Every action in this world bear a consequence.

Pernah mengalaminya? Aku yakin, pasti jawabannya, sudah.

Salah satu temanku waktu itu tiba-tiba nyeletuk,

“Nha, kalau Indonesia sendiri kan rakyatnya sering njelek-njelekin negara lain…. Berarti, banyak juga lah, negara yang menganggap Indonesia lebih rendah dari mereka….”

“Lha…iya ya?”

“Trus?”

“Ya udah, itu konsekuensinya. Lagi pula normal kan? Dalam hidup pasti selalu ada kan hal-hal kayak gitu? Merasa dirinya hebat, dan merendahkan yang lain. Namanya sombong. Tapi, nggak mau, kalau direndahin. Itu namanya egois, nggak konsekuen. Geli juga sih, denger hal kayak gitu. Maunya gimana?”

“Mm, taulah. Yang penting walaupun beda, kita ini sama-sama manusia. Lahir, hidup, dan akhirnya mati. Siklus yang selalu sama untuk semua makhluk yang pernah mencium indahnya dunia ini. Jadi, buat apa kita memperdebatkan ini?”

“Ya, normal kan? Kita manusia, suka membicarakan hal-hal nggak penting.”

“Hu’um, normal, tapi sebenernya nggak pada tempatnya.”

???

“Yaudahlah, udah kenyang nih. Ayo kita tinggalkan kantin…”

Obrolan siang yang pernah terjadi di kantin geografi pun ditutup sampai di sini.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.