Kamis, 04 September 2008

NAMANYA VIA

Yeah, bulan puasa akhirnya datang. Ada rasa bahagia sendiri dalam sebuah dalamnya hati. Aku ingin lebih baik, aku ingin lebih berkualitas, aku ingin lebih beriman. Kenapa ya, bulan ini beda banget sama bulan-bulan lainnya? Hmm, entahlah...

Malam-malam bulan Ramadhan. Di masjid-masjid, mushola, surau,atau apapun namanya, pasti selalu terisi penuh. Seolah semua manusia bertobat di bulan penuh rahmat ini.

Tarawih hari kedua, sama seperti hari kemarin. Masjid masih tetap penuh. Belum ada kemalasan yang menghinggapi. Saat aku terduduk dalam satu barisan, shaf shalat, senyum manis seorang anak kecil membuatku bahagia. Anak yang sangad manis...

Aku tidak tahu siapa namanya. Aku tidak tahu di mana ia tinggal. Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba begitu tertarik padanya. Umurnya kira-kira empat tahun. Setahun lagi masuk TK. Itu kira-kira. Aku belum kenal dia, tapi, dia selalu memanggil aku,"Mbak Puput...Mak Puput..." Masih dengan senyum yang manis, dia mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman. Aku balas senyumnya, dan ganti kuulurkan tanganku.

"Namanya siapa?" aku bertanya. Malu-malu, dia menjawab lirih, tidak kedengaran.
"Hayoo,siapa??" kugoda dia. Kudekatkan mukaku ke hadapannya. Dia lepaskan tangannya dari tanganku, dan senyumnya semakin bertambah manis. Anak yang ceria. Pasti orang tuanya bahagia punya dia.
"Via..."

Itulah namanya. Via. Seorang gadis kecil yang selalu tersenyum, malu-malu, ceria, dan berani. Senyumnya bisa membuat aku ikut tersenyum. Dia selalu memandang orang lain dengan penuh rasa penasaran, dan pandangan matanya benar-benar polos, seperti tanpa dosa.Pokoknya nie anak bikin aku ketawa terus deh!!!

Tapi aku masih penasaran. Kok aku sebelumnya belum pernah liat dia ya??? Padahal dia tetanggaku. Tapi aku tidak tahu, mana ya rumahnya???

Suatu waktu, aku iseng-iseng tanya pada ibuku tersayang, saat tarawih ketiga di bulan ramadhan ini. Via ada di barisan depanku, menghadap ke belakang, memandangi seorang anak lainnya, yang sedang bercanda dengan sang ibunda. "Bu, Via anaknya siapa sih? Kok nggak pernah liat dia bareng ibu pa bapaknya gitu? Berangkat ta'jilan sendiri, pulang ta'jilan dan tarawih sendiri. Padahal kan masih kecil? Padahal anak-anak lainnya selalu dianter, ditunggu orang tuanya??"
Ibuku cuma memandang Via," Ibu juga nggak tahu orang tuanya siapa. Orang tuanya kurang ajar."
"lho kok?" aku penasaran.
" Kamu tahu pak Marno kan? Dulu, pas masih jadi Cleaning Service di rumah sakit, seorang mahasiswi nitipin bayi merah ke Pak Marno. Awal-awalnya anaknya masih dibiayain, tapi lama-lama uang kirimannya semakin merosot. Ketemu sama anaknya pun enggak. Itu kan namanya kurang ajar..."

Via masih memandangi sepasang ibu-anak yang sedang bercanda di belakangnya. Matanya bulat jernih. Mukanya terlihat ceria, tapi dari matanya, terlihat sekali, dia begitu merindukan kehadiran orang tua yang sesungguhnya. Dia belum bisa memutuskan semuanya sendiri. Kata ibuku, dia itu pintar. Dia mungkin tercipta dari sebuah kesalahan yang bukan kesalahannya. Tapi dia tetap butuh kasih sayang yang utuh. Dan aku masih tidak rela, kenapa harus anak ini yang mengalaminya??? (_roel2008)

Kamis, 24 Juli 2008

SUATU KETIKA

Ketika aku tahu bahwa diriku hanyalah satu di antara bertrilyun-trilyun jiwa di dunia
Ketika aku tahu bahwa dunia tidaklah kecil, tapi isi di dalamnyalah yang kecil
Ketika aku tahu masih ada yang lebih kecil dari aku,
Namun, lebih banyak pula yang lebih besar dari aku
Ketika aku tahu bahwa di atas langit masih ada langit,
Dan di bawah bumi ternyata masih terdapat tanah
Ketika aku tahu, manusia sebenarnya berhasrat hidup untuk dirinya sendiri
Ketika aku tahu bahwa aku hanya hidup dalam beberapa episode di dunia ini,
(hanya) menjadi tokoh dalam satu babak kehidupan…

Aku menyadari,
Aku harus melakukan yang terbaik untuk diriku sendiri
Tapi, ketika aku mendapatkan hal terbaik, aku kembali menyadari,
Bahwa aku hidup dalam rasa sakit orang lain..

Ketika aku telah menjadi bintang di atas sana,
Ternyata aku telah jauh meninggalkan bumiku.
Ketika itu, aku memekik dan terjatuh.
Aku ingin kembali ke bumi,
Aku ingin menjadi tanah,
Aku tak ingin kehilangan bumiku.

Tanah telah menumbuhkan berbagai macam cerita kehidupan,
Kehidupan dari sebuah bibit yang ingin tumbuh.
Tanah telah memberi kebahagiaan untuk segala sesuatu yang berada di atasnya.
Tanah tidak hidup dalam kegelapan,
Walaupun dia tampak hitam dan sering tersakiti.

Meski aku bukanlah bintang dalam suatu galaksi terindah di dunia,
Aku bahagia masih bisa menjadi tanah di bumiku ini,
Ditemani akar yang menyokong beragam pepohonan,
Ditemani cacing yang mencari kebahagiaan dalam lembabnya tanahku,
Ditemani daun yang berguguran menghangatkan bumi.

Hanya satu hal yang tak kuinginkan,
Aku tak ingin menjadi tanah yang gersang…

[Resensi] Kisah Petualangan Tintin: Bintang Jatuh





Judul Buku : Kisah Petualangan Tintin
Bintang Jatuh
Pengarang : Herge
Penerbit : PT Indira
Cetakan/ tahun terbit : cetakan ke tujuh / 1993
Jenis buku : fiksi bergambar (komik)


Saat Tintin mengetahui ada kejanggalan pada susunan rasi bintang beruang besar dan merasakan suhu udara yang semakin tinggi, dia memutuskan untuk pergi ke observatorium dan menanyakan kebenaran dari peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi belakangan ini. Seorang profesor bernama Decimus Phostle memperkirakan semua hal itu terjadi karena akan ada hujan meteor yang bakal membuat bumi hancur (baca: kiamat)! Tintin panik! Apalagi tiba-tiba dia bertemu dengan seorang peramal yang ternyata adalah orang gila.


Namun ternyata, perkiraan itu meleset. Yang menabrak bumi hanyalah pecahan meteor yang menimbulkan efek gempa bumi biasa. Cerita berlanjut ketika sang Profesor mengatakan bahwa pecahan meteor itu mengandung sebuah logam baru yang bernama logam Poshlite. Saking berharganya logam itu, profesor mengajak Tintin beserta Snowy (anjing milik Tintin) untuk melakukan misi pencarian pecahan meteor itu yang diperkirakan jatuh di Lautan Antartika. Ekspedisi dilakukan menggunakan kapal Aurora, yang dikapteni sahabat baik Tintin bernama Kapten Haddock, seorang ketua HIPELAMIK (Himpunan Pemabuk Anti Minuman Keras) yang ternyata adalah seorang pemabuk berat.

Baca juga: [Resensi] The Kite Runner

Tidak gampang jalan yang dilalui oleh Tintin dan kawan-kawannya untuk menemukan logam berharga tersebut. Berbagai aksi sabotase dan beratnya medan yang dilalui menambah seru kisah petualangan Tintin kali ini.

Bintang Jatuh, Kisah Petualangan Tintin merupakan komik lama yang mempunyai alur serita unik dan gaya bercerita yang menarik. Komik ciptaan Herge ini diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Indira pertama kali pada tahun 1983. Dan kabarnya, baru-baru ini, komik ini diterbitkan kembali oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan mengubah beberapa nama tokohnya. Benar-benar komik yang menarik untuk dinikmati!

SAHABAT

Selama hidup berlangsung,
Ada hal baru yang harus dihadapi.
Itu artinya, ada hal lama yang harus berlalu dan terlupakan.
Tapi sahabat selalu baru dan sulit terlupakan.
Sahabat tak harus selalu sejalan,
Tapi itulah keindahannya.
Beda bukan berarti hancur.
Pertentangan karena perbedaan, tak mungkin tak pernah ada dalam sebuah kata “persahabatan”
Semua akan terasa manis, jika itu terlalui dengan apa yang disebut “keyakinan dan kepercayaan”
Tak ada yang salah dalam persahabatan
Tak ada yang buruk dalam persahabatan.
Hanya saja, ada ego yang selalu siap masuk dalam celah yang tak terisi,
Dan membuat semua tampak tak sesuai.
Tapi sahabat tahu mana yang baik, dan akan menuntun yang lain ke arah lebih baik.
Seorang sahabat didapat bukan karena keberuntungan
Tapi keberuntungan didapat karena adanya persahabatan.
Sahabat memang bukan segalanya
Tapi mendapatkannya adalah sebuah hal yang pantas ‘tuk disyukuri, karena dia adalah:
Semangat saat kita menyerah
Anugrah yang memberi senyum
Hunian untuk jiwa yang sepi
Alasan untuk tetap berjuang
Belahan jiwa dari beberapa kekurangan diri yang belum terisi
Alarm yang selalu memperingatkan
Tuntunan saat kehilangan arah
Segala di dunia tak ada yang abadi,
Tapi persahabatan memiliki ikatan kuat,
Sehingga dia selalu mencoba untuk tak mati.

Bantul, 25 Mei 2008

Untuk Tikus Kecil yang Mati Hari Ini

Tikus kecil yang terperangkap
Dia masih kecil,
Di balik kerangkeng besi,
Tampak rapuh
Tikus yang terperangkap,
Tampak rapuh!
Hanya terlihat rapuh.
Tapi dia miliki asa
Tikus yang terperangkap
Tapi dia miliki asa
Pandangan mata kecilnya menyiratkan
Dia kecil tapi kuat
Tikus yang terperangkap
Dia kecil tapi kuat
Dia coba mencabik jeruji besi,
Besi yang melarangnya
Bersentuhan dengan alam liar kehidupannya
Tikus yang terperangkap
Menjalankan misi
Untuk terus tetap hidup
Walau harus bertaruh nyawa
Berani memanggil malaikat
Menemani hari terakhirnya
Tikus yang terperangkap
Terlihatlah sudah,
Hari ini hari kematiannya
Tapi tidak terlihat,
Bahwa dia telah menyerah
Sama sekali tak terlihat
Asa. Semangat.
Gertakan kecil jiwa.
Geretak gigi-gigi runcing.
Cericit luka yang tersayat
Dia masih tikus kecil,
Tak ingin mati.
Aku pikir dia tak akan mati.
Tapi aku salah.
Dia mati. Mati di hari ini.

Selamat tinggal tikus kecil…

Jumat, 11 Juli 2008

HITAM PUTIH PELANGI

Dunia itu berwarna. Dunia itu hitam-putih.
Aku suka pelangi. Sangat suka pelangi. Kenapa? Karena jika aku melihat pelangi, aku selalu bisa tersenyum. Tersenyum lebih lebar dari biasanya. Siapa sih, yang nggak suka melihat sebuah lengkungan warna-warni yang tergores di antara awan-awan kelabu -- yang belum sempat berubah warna menjadi putih -- seusai hujan turun?

Aku masih ingat, ketika aku masih berseragam putih-merah, aku suka sekali melakukan suatu hal kecil, merendam cermin dalam sebuah gayung berisi air dan menaruhnya di bawah terik matahari. Dapat ditebak, suatu hukum alam yang dinamakan pembiasan akan terjadi, dan sebagai konsekuensi dari pembiasan tersebut, akan terpantul suatu warna mejikuhibiniu di tembok putih di hadapanku. Dan aku akan menatapnya, lama dan terpaku.

Kehidupan itu seperti pelangi. Berwarna-warni. Suatu babak dalam hidup kita masing-masing, punya spesifikasi warna tersendiri. Berbeda warna, namun jika digabungkan akan menjadi suatu kesatuan warna yang indah, sama seperti pelangi. Sering, kita tidak dapat melihat warna-warni itu. Yang terlihat hanya warna hitam dan putih. Hitam putih kehidupan. Namun, bukankah putih adalah gabungan warna-warni itu? Seperti cakram warna yang akan tampak putih jika diputar dengan cepat. Maka, nikmatilah putihnya kehidupan, karena putih sebenarnya berwarna-warni. Dan nikmatilah hitam, karena putih tidak akan ada jika hitam tak pernah tercipta.

Pelangi. Aku suka pelangi. Aku suka hidup. Aku suka warna kehidupan.
Nikmatilah hidup.. Nikmatilah keseimbangan hitam dan putih yang tergores sempurna di antara pelangi dunia. Nikmatilah pelangi yang diberikan Tuhan untuk kita. [^,^]
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.