Rabu, 21 Februari 2018

Bagaimana Anak-Anak Generasi Z Mempelajari Alquran?

Generasi yang terlahir dalam periode waktu antara tahun 1995 sampai 2010 merupakan keturunan dari Generasi X dan Generasi Y. Jika Generasi X dan Y merupakan para imigran di dunia digital (digital immigrants), yang dituntut untuk melek teknologi ketika mereka semakin beranjak dewasa, maka generasi Z merupakan generasi yang begitu lahir sudah disuguhi aneka macam teknologi. 

Generasi Z sudah sangat mahir menguasai berbagai macam teknologi digital bahkan ketika usia mereka masih balita. Ketika masih dalam perut ibu pun, mereka sudah didekatkan dengan aneka macam peralatan digital. Budaya mengasuh anak-anak generasi Z tidak bisa dipungkiri, sangat jauh berbeda dengan pola asuh orangtuanya yang terlahir sebagai generasi X dan generasi Y. Kini, anak rewel lebih sering dihibur dengan smartphone daripada diajak main dengan teman-temannya. Karena teman-temannya pun sama, lebih senang dengan teknologi yang dimiliki masing-masing. Apalagi, bagi anak-anak yang tinggal di kota-kota besar dengan orangtua yang memiliki tingkat kesibukan tinggi dan tingkat sosialisasi dengan lingkungan sekitar yang sangat kurang. Sehingga, generasi Z ditengarai sebagai generasi yang memiliki tingkat individualisme lebih tinggi dibanding generasi-generasi sebelumnya. 

Generasi Z atau generasi post-milenial memiliki tingkat kecerdasan mempelajari banyak hal baru yang diakui berbeda jauh dengan generasi-generasi sebelumnya. Generasi Z mampu dengan mudah menguasai banyak hal dalam waktu singkat. Kemampuan multitasking generasi Z tentu tidak diragukan lagi. Namun akibatnya generasi Z menjadi sulit fokus dalam satu hal karena apa yang mereka pikirkan cenderung bercabang.

Lalu bagaimana dengan Generasi Z muslim yang notabene memerlukan pendidikan islami sejak dini?

Karakteristik generasi post-milenial ini menjadi tantangan sendiri bagi pesantren. Berbeda dengan para santri zaman old yang betah mondok selama belasan bahkan puluhan tahun, generasi post-milenial cenderung memilih pendidikan di sekolah dan daerah yang berbeda-beda, karena mereka lebih terbuka kepada hal baru. Mereka ingin mendapat jaringan lebih luas dan pengalaman lebih banyak.

Namun sayang, berlama-lama mondok dan istiqomah yang diyakini mampu menembus kematangan dan keberkahan ilmu tidak lagi diminati oleh generasi Z ini. Dengan metode “melahap semua ilmu agama” yang diterapkan, pesantren akan kesulitan melahirkan para santri generasi post-milenial yang mampu menjadi pakar suatu bidang ilmu dengan rentang waktu mondok yang singkat (Fera Rahmatun Nazilah, islami.co)
Semakin banyak kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi dalam mempelajari ilmu agama, salah satunya mempelajari Alquran. Terdapat pergeseran metode generasi Z dalam mempelajari Alquran. Dahulu metode klasikal menggunakan mushaf fisik  di pesantren-pesantren atau di kelas-kelas tertentu tentu lebih efektif dibandingkan sekarang. Kini, cara belajar anak-anak generasi Z tentu tak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya yang belum terpengaruh oleh pesatnya perkembangan teknologi. Dahulu, belajar di kelas dalam jangka waktu lama bisa dilakukan oleh anak-anak karena belum ada smartphone di tangan. Belum ada platform sosial media yang lebih menggoda sehingga anak-anak lebih mudah fokus belajar di kelas dan mampu fokus terhadap apa yang diajarkan oleh guru di depan kelas.

Ali bin Abi Thalib, r.a pernah berucap, "Wahai kaum muslim, didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu." Ungkapan ini masih sangat relevan diterapkan sampai sekarang. Anak-anak di masa kini lebih suka mempelajari sesuatu sedikit-sedikit namun bermacam-macam dibanding fokus dalam satu hal saja. Anak-anak di masa kini lebih tertarik kepada aspek visual yang dikemas secara apik dan menarik daripada duduk lama-lama sembari mendengarkan guru berbicara di depan kelas.

Memang, semakin lama, cara mempelajari Alquran semakin mudah dengan adanya teknologi. Anak-anak kecil sudah bisa memulai menghafal Alquran dengan mudah lewat berbagai medium yang tersedia. Hafidz doll, flash card, mushaf for kids, playpad, Alquran digital, hanyalah sedikit dari banyak alat yang kini dapat dengan mudah ditemui di pasaran. Rumah-rumah tahfidz pun semakin menjamur sampai ke pelosok negeri. Beraneka rupa grup belajar secara daring juga semakin banyak dan semakin mudah ditemukan. Sehingga sebenarnya tidak ada alasan bagi anak-anak muslim untuk tidak bisa mempelajari Alquran. Hanya saja, kemudahan yang tersedia juga berbanding lurus dengan tantangan yang ada. Semakin banyak kemudahan yang ditawarkan, semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi. Media sosial yang semakin bebas, situs porno, game online, aplikasi smartphone yang semakin sulit dipilah, dipilih, dan dibendung keberadaannya. Ditambah, perang pemikiran kini juga semakin terbuka. Maka menjadi orangtua untuk para generasi Z, generasi alpha, dan generasi-generasi sesudahnya jelas akan menjadi semakin menantang. 

#WriterFighterJogja
#OneWeekOnePost

Jumat, 09 Februari 2018

Jangan Bersedih



Sama seperti kemarin sore, langit di sebelah utara kembali gelap. Berkali-kali kilat membelah langit yang tertutup mega-mega mendung. Senja bersembunyi. Tak ada merah, tak ada jingga, tak ada ungu. Langit kelabu. 

Lembaran kertas berhamburan di atas meja kayu panjang. Aku terburu-buru membereskannya. Memasukkannya tergesa ke dalam tas. Disusul laptop yang akhirnya kumatikan. Tas menutup rapat. Langit sebelah utara makin gelap. Dapat kulihat dari jendela-jendela kaca yang dipasang memanjang, menyajikan pemandangan rumput menghijau di bawah, sekaligus menghamparkan apa yang dikabarkan oleh langit di atas sana.

Aku masih tergesa. Berjalan menyusuri lorong-lorong lebar sebuah gedung lima lantai. Di depan lift, tombol turun kupencet tak sabar. Lama. Aku terburu-buru. Ah lewat tangga saja. Otakku memberikan usulan demikian. Kakiku sigap menanggapi. Dia melangkah menjauh dari lift. Menuju tangga.

Masih saja tergesa. Agak berlari kecil, aku menuruni lantai demi lantai dari lantai lima. Fiuh, ngos-ngosan juga napas ini. Efek tak pernah berlatih kardio selama beberapa bulan terakhir. Gara-gara tujuh kata yang hampir membikin putus asa: skripsi.

Aku teringat pembicaraan setahun lalu. Saat aku sedang benar-benar tak ingin mengerjakan apa-apa. Lala, teman sekelasku SMA bertemu denganku di saat yang tepat. “Kerjakanlah itu tugas akhirmu,” dia melempar bantal ke arahku.

Lala mengunjungiku tepat setahun lalu. Mengantarkan barang pesanan mama. Satu set taplak meja makan yang diproduksinya. Lala pengusaha muda yang memulai usahanya sejak lulus SMA. Dia terlalu ulet dan sabar menjadi pengusaha. Selain laris, Lala dicintai pelanggan. Dia sangat menjaga kepercayaan, juga teramat ramah pada siapa saja. Pantas, dia juga masih awet menjadi teman baikku sampai sekarang.

“Lama-lama lelah juga ternyata,La. Mana setahun lagi aku terancam drop out kalau tak bisa menyelesaikan urusan satu ini. Argh!” aku melemparkan bantal yang dilemparkan Lala. Entah kulempar ke mana. Aku menarik gulingku, menutupi muka rapat-rapat dan bergumam pelan, “Boleh enggak sih direlakan aja?”

Seketika ekspresi Lala terkejut, tidak terima. “Maksudnya? Nggak mau menyelesaikan tugas akhir?!” Lala melotot ke arahku.

Enggak dosa kan ya? Kalau aku mundur?” badanku meringsek turun, membuang guling yang menutupi mukaku. Sekarang aku duduk di samping dipan. Mendekat pada Lala yang sedang membuka-buka selebaran yang didapatkannya kala berhenti di perempatan lampu merah sana.

“Itu pilihanmu sih,” Lala tampaknya tak ambil pusing soal perkataanku, “Tapi ya, kamu berani memulai masak iya, enggak berani menyelesaikan?”

Aku mendesis pelan.

“Ya ini masalah tanggung jawab aja sih. Tanggung jawab ke banyak hal. Tanggung jawab ke orang tuamu yang kepengin banget anaknya jadi sarjana. Tanggung jawab  ke beasiswamu. Tanggung jawab ke dirimu sendiri. Yang terpenting sih ini...,” Lala menyodorkan selebaran yang sedari tadi dibolak-baliknya. Ia menunjuk-nunjuk satu kalimat mutiara yang menghiasi bagian belakang selebaran.

Setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya. Jangan bersedih, Allah bersamamu.

***

Jangan bersedih, Allah bersamamu.

Aku memelankan langkah. Napasku semakin ngos-ngosan tak karuan. Kurang dua lantai lagi. Padahal aku terburu-buru. Waktu mungkin juga sedang memburu-buru. Waktu tidak menyediakan jeda bagi seorang pemalas, seperti aku.

Langit di luar kini gelap. Mendung di sisi utara sudah berpindah kemari, cepat sekali. Mungkin kilat juga ikut hadir di sini. Angin yang semula sepoi-sepoi berubah menjadi semakin kencang. Beberapa pohon merunduk-runduk didorong angin keras-keras. Banyak tangkai patah, daun-daun beterbangan. Air mulai menetes-netes dikeluarkan awan yang kelebihan muatan. Awalnya gerimis, lalu mendadak deras sekali.

Tapak kakiku sudah sampai di lantai dasar. Tepat di depan pintu keluar, hujan tertumpah ruah. Aku menghentikan langkahku, mendesah kecewa. Tapi hujan tak boleh dicaci maki. Mencaci maki hujan, sama saja artinya dengan mencaci maki Tuhan. Mencaci maki rezeki yang dengan baik hati dikeluarkan oleh Allah, Tuhan Semesta Alam.

Aku kemudian memilih duduk di kursi panjang yang terletak di dekat pintu keluar. Beberapa orang yang urung keluar juga memilih duduk di situ. Suara-suara hujan mengalahkan suara-suara obrolan orang. Mungkin ini saatnya mengobrol bersama hujan. Meresonansikan kenangan.
***
         

Setahun yang lalu, aku merasa hidupku berubah.

Orang bilang aku terlalu patah hati. Seorang lelaki yang telah menjanjikan banyak hal kepadaku nyatanya tidak berjodoh denganku. Orang-orang merasa kasihan kepadaku, lalu menghiburku.

Kalau aku bilang aku tidak sedih, maka aku berbohong. Aku sedih. Iya. Siapa yang tak sedih saat hal yang sama terjadi pada diri mereka. Jadi tampaknya aku memang patah hati. Dulu. Tapi kini aku berbahagia.

Rumi pernah menuliskan pada salah satu sajaknya. Luka adalah tempat di mana cahaya memasukimu. Dia benar.

Beberapa waktu lamanya, sejak setahun yang lalu, aku mengurung diri. Aku malas ketemu siapa pun, aku malas memercayai siapapun,  aku malas melakukan apapun, termasuk menyelesaikan tanggung jawab terakhirku di kampus. Skripsi.

Hanya Lala yang rutin mengunjungiku setiap pekan. Kadang bertemu mamaku, membicarakan bisnis yang sedang mereka bangun bersama. Sering, setelah urusan mereka selesai, Lala mengunjungiku di kamar. Kami mengobrol, tentang apapun. Tapi, Lala tak pernah sedikitpun menyinggung tentang apa yang membuatku sedih. Lala tak pernah berkomentar tentang masalah pribadiku. Aku menyukainya.

Lala kadang membagikan bacaan-bacaan menarik buatku. Bacaan yang dulunya kupandang sebelah mata. Tentang agama, tentang sejarah para nabi,  tentang cara menjadi wanita yang baik, tentang kehidupan dan kematian, sampai kehidupan sesudah mati. Kemudian, cahaya itu masuk, sedikit demi sedikit.
***


sumber gambar dari sini

Hujan lama-lama reda. Aku bersegera menuju parkiran motor. Setahun lalu, lewat seorang Lala, aku mulai jatuh cinta pada sesuatu. Sesuatu yang mampu menenangkan, kapan saja, di mana saja.

Lala memberikan sebuah buku lama yang kulupakan. Kitab akhir zaman, Alquran. Bersama buku yang diberikannya itu, Lala menyelipkan sebuah kertas dengan tulisan singkat di atasnya. 


Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpakan pedihnya pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia, maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya (Imam Syafi’i).

Hatiku bergetar mengingat itu. Aku menyalakan mesin motor. Sejak saat itu, aku mencoba jatuh cinta pada surat cinta yang dikirimkan oleh-Nya. Dia mengizinkannya. Dia mengumpulkanku bersama orang-orang yang merasakan hal serupa. Seperti sore ini, Dia mengumpulkanku di sebuah kelas tahsin Alquran bersama orang-orang baik.

Berita baiknya lagi. Pekan depan aku ujian sidang skripsi.

Jangan bersedih, Allah bersamamu.
[selesai]

Tulisan ini diikutsertakan pada kompetisi blog menulis cerita pendek yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena
kunjungi linknya di sini
#WiFiJogja
#OneWeekOnePost

Sabtu, 03 Februari 2018

Dia Yang Memilih Pembacanya


"Pernahkah kalian merasa, bahwa sebenarnya Alquran  memilih pembacanya?"

Ya, pernahkah kalian merasakannya?
Seorang kawan menyampaikan kalimat itu suatu waktu. Aku belum merasakannya ketika itu. Aku masih menganggapnya sebagai buku biasa. Semua bisa membacanya. Terjemahannya sudah ada, lengkap dengan bahasa aslinya ketika dia diturunkan berabad-abad tahun lalu, Bahasa Arab. Anak-anak di luar tanah Arab yang sejak kecil mulai mengeja huruf-huruf hijaiyah, melafalkan huruf demi huruf, membacanya dalam Bahasa Arab, mempelajari tajwid dengan baik dengan benar, kemudian menjadi lancar membacanya, lalu mengetahi artinya. Kukira itu sudah sangat cukup.

Ternyata, tidak sesederhana itu. 
Semua orang mungkin pandai membacanya. Membaca aksara-aksara hijaiyahnya, membaca artinya, melafalkan huruf-hurufnya dengan baik dan benar, bahkan banyak yang pandai menghafalnya. Tapi, tak semua merasa betah ketika membacanya berlama-lama, tak semua paham apa yang dibaca, tak semua mampu membawa ayat-ayatnya ke dalam dirinya sendiri secara menyeluruh. Menyeluruh, tak sekadar ucapan dan pemikiran semata. Menyeluruh, sampai pada tindak-tanduknya yang sederhana terpengaruh sekali oleh apa yang dituliskan Sang Penulis buku ini.

Ini bukan buku biasa. Dia punya efek candu. Dia jatuh cinta pada pembaca yang jatuh cinta kepadanya. Dia mampu membedakan mana orang berhati bersih, mana yang bukan. Apa yang tertulis dalam dirinya, hanya mampu dipahami secara tepat oleh orang-orang berhati bersih. Orang-orang yang bisa merasakan efeknya, hanya mereka yang benar-benar memercayai-Nya, memercayai apa yang dituliskan-Nya dalam surat cinta yang diturunkan terakhir ke bumi. Surat cinta, sekaligus buku manual "Bagaimana Cara Selamat Dari Dunia Menuju Rumah Terakhirnya".

Belum lama aku memahami apa maksud kalimat yang dilontarkan kawan tadi. Alquran memilih pembacanya. Dia tidak bisa 'dibaca sampai ke hati' oleh orang berhati kurang baik, oleh orang yang terlalu banyak melakukan hal-hal tak baik.

Percayakah? Ketika aku melakukan banyak kemaksiatan, rasanya sulit sekali membacanya. Menyentuhnya saja sulit. Jangan tanya soal menghafal. Hafalan baru tak masuk-masuk, hafalan lama lenyap begitu saja. Dia memilih pembacanya. Hanya orang-orang berhati baik yang mampu memahami ayat-ayatnya sampai ke hati, lalu menyalurkannya dalam tindakan. 

Alquran memilih pembacanya. Hanya orang-orang berhati bersih, hanya orang-orang yang percaya kepada Allah yang mampu memahaminya secara utuh dan benar. Sedikit saja rasa percaya itu terbersit dalam hati seseorang, Alquran akan memberi petunjuk lebih banyak dari apa yang ia yakini. Semakin bertambah rasa percaya dalam hati seseorang, semakin banyak petunjuk yang diberikan oleh Alquran yang dapat ia temukan.

Alquran memilih pembacanya. Orang yang akhirnya jatuh cinta kepadanya, akan dibalas cintanya olehnya. Ia akan menemani di saat sulit, ia akan menemani bahkan sampai ke liang lahat, ia akan menemani perjalanan selanjutnya di negeri akhirat.

Alquran memilih pembacanya. Yang bersungguh-sungguh kepadanya, ia juga akan bersungguh-sungguh pada orang tersebut.

Alquran memilih pembacanya. Hanya orang berhati baik yang mampu memahaminya.

Sumber gambar dari sini

Jumat, 02 Februari 2018

Masihkah Radio di Hati?



Apa yang beda dari cara menikmati musik masa kini dengan masa lalu? Generasi milenial pasti sangat tahu perbedaannya. Mereka yang lahir di antara tahun 1977 - 1994 mengalami masa transisi dari teknologi jadul sampai teknologi canggih masa kini. Mereka pernah merasakan bagaimana serunya menggunakan telepon genggam berantena sebesar ulekan yang bisa digunakan untuk melempar anjing nakal. Generasi milenial juga merasakan transformasi telepon genggam menjadi berukuran lebih mini dengan gambar hitam putih dan bunyi yang masih poliponik, sampai sekarang berakhir menjadi telepon genggam multifungsi yang tak hanya digunakan sebagai media telepon atau bertukar pesan saja. Lebih dari itu, telepon genggam yang kini disebut sebagai telepon pintar atau smartphone kini menjadi barang yang sulit dipisahkan dari keseharian. Salah satunya menjadi alat untuk menikmati musik dengan cara yang lebih modern.

Awal abad ke-20, menikmati musik memerlukan 'alat berat' semacam piringan hitam yang harus diputar dengan alat berupa gramafon. Setelah tahun 1970, piringan hitam berubah menjadi kaset pita, sementara gramafon berevolusi menjadi tape recorder. Bentuk yang lebih modern dari tape recorder kala itu ada walkman. Generasi 80an dan 90an adalah generasi yang merasakan betapa kerennya seorang remaja yang memiliki walkman yang bisa dibawa ke mana-mana. Koleksi kaset pita pada masa itu pun menjadi kegiatan yang teramat menyenangkan. Setelah tahun 1990, teknologi berkembang semakin cepat. Kaset pita kemudian digantikan oleh piringan compact disk, kemudian dengan cepat berubah menjadi media digital MP3. Hingga kini, semua musik dapat diputar melalui smartphone.

Tapi, di luar benda-benda pemutar musik tadi, ada satu cara menikmati musik yang masih sama dari dulu hingga sekarang yaitu, lewat radio! Walaupun secara fisik radio juga mengalami transisi tak jauh beda dengan piringan hitam dengan gramafonnya, tapi cara mendengarkan musik melalui dari radio tak mengalami banyak perubahan. Radio masih menyenangkan untuk digunakan sebagai media mendengarkan musik sembari berinteraksi dengan manusia lain. Ya, radio tak hanya digunakan untuk mendengarkan musik sendirian. Ada komunikasi antar manusia di dalamnya.

Ada keseruan ketika menanti penyiar favorit siaran dan mendengarkan suaranya misalnya. Atau menanti acara-acara radio tertentu untuk berkirim salam pada orang yang disukai. Atau menantikan acara curhat di stasiun radio tertentu dan berharap cerita curhatnya dibacakan oleh si penyiar. Atau tak sabar menanti kelanjutan drama radio yang ceritanya sulit ditebak setiap episodenya. 

Sampai sekarang pun, radio masih seperti itu, meskipun cara mendengarkannya sangat berbeda dengan masa lalu. Radio kini tak hanya diperdengarkan melalui radio tape saja. Pendengar radio masa kini memiliki fleksibilitas untuk mendengarkan radio. Nielsen Radio Audience Measurement (Nielsen RAM) memperlihatkan data yang cukup mencengangkan. Jika banyak orang mengira radio akan kehabisan pendengar seiring semakin banyak platform pemutar musik masa kini, data yang ditunjukkan oleh Nielsen RAM mengatakan sebaliknya. Dari tahun 2014 sampai 2016, waktu mendengarkan radio semakin bertumbuh. Generasi milenial menjadi pendengar utama radio sampai saat ini.

Jadi, masihkah radio ada di hati pendengarnya sampai saat ini? Tentu saja.

sumber gambar dari sini


#Artikel
#OneWeekOnePost
#WriterFighterJogja

Kamis, 01 Februari 2018

Mengakhiri Januari





Buat saya, Januari sering membawa berita-berita muram. Termasuk, Januari tahun ini. Pekan terakhir bulan Januari saya tahun ini berakhir dengan cerita-cerita yang bikin patah hati dari beberapa teman. Cerita-cerita yang muncul berurutan setiap hari. Cerita yang cukup membuat saya mengerutkan kening, terkejut, keheranan, takjub, tak habis pikir, rasa yang tak bisa digambarkan dengan apapun juga.

Kebanyakan berita muram itu adalah berita menyoal cinta-cintaan. Ada yang akhirnya tidak dipilih setelah dia sudah siap terhadap jenjang yang lebih serius. Ada yang sedang bercerai. Ada yang diselingkuhi pasangan sahnya. Ada cerita tentang permainan ilmu hitam demi mendapatkan seseorang. Hem, detail cerita-cerita tadi tidak akan saya ceritakan di sini. Bisa jadi nanti justru menjelma menjadi cerita fiksi. 

Saya tidak tahu apa maksud kemunculan cerita-cerita itu kepada saya di saat yang berurutan. Cerita-cerita yang meluncur langsung dari pelaku utama kepada saya. Bisa jadi, sebagai pengingat atas ketidakpastian di masa depan. Bukankah yang pasti itu hanya ada sejengkal di depan mata? Lebih dari sejengkal, itu adalah teritorial milik ketidakpastian. Bisa jadi juga, cerita-cerita tadi didatangkan kepada saya untuk dituliskan ke dalam bentuk lain, entah apa faedahnya nanti. Seperti yang saya sebutkan tadi. Bisa jadi cerita-cerita yang saya dengarkan adalah inspirasi terciptanya cerita fiksi yang teramat dramatis nantinya.

Saya tidak akan menuliskan detail cerita-cerita tadi. Namun, saya akan menuliskan beberapa poin penting yang muncul sebagai pengingat untuk saya pribadi (syukur-syukur untuk para pembaca juga).

Poin pertama. Orang yang dizalimi doanya mudah terkabul. Meski doa yang terlantun adalah doa buruk. Meski yang terlantun sebenarnya hanya kata-kata yang tiba-tiba terbersit di kepala orang yang dizalimi, tanpa meniatkannya menjadi doa. Hati-hati terhadap orang yang dizalimi dan belum memaafkan sampai ke hati. Memaafkan lewat mulut memang mudah, memaafkan sampai ke hati adalah urusan yang teramat panjang prosesnya. Ia butuh ilmu ikhlas. Dan ilmu ikhlas bukan ilmu yang mudah dicari, juga bukan ilmu yang mudah untuk dipraktekkan oleh hati.

Poin kedua. Mana yang lebih menyedihkan? Dizalimi atau menzalimi? Jawabannya adalah menzalimi. Orang yang dizalimi hanya sakit sesaat saja. Orang yang dizalimi doanya sudah dijamin diijabah oleh Sang Pengabul Doa. Tak ada penghalang antara ia dengan Tuhannya. Orang yang menzalimi orang lain, akan berakhir menyedihkan. Balasan sesuai dengan amal perbuatan. Yang zalim, akan berakhir menyedihkan. Termasuk, zalim pada diri sendiri.

Poin ketiga. Jangan keterlaluan mencintai sesuatu, jangan keterlaluan menyayangi sesuatu. Jangan menomor satukan yang seharusnya bukan nomor satu. Siapa yang seharusnya menjadi nomor satu? Allah.

Poin keempat. Ketika sudah merasa tak ada jalan keluar lagi. Setelah usaha lahir batin benar-benar telah dilakukan. Buntu di mana-mana. Apa yang dilakukan? Pasrah. Lepaskan. Yang tersisa untukmu, itulah sebenarnya bagianmu.

Januari tahun ini masih membawa berita muram. Namun bersama kesulitan ada kemudahan. Kemuraman kali ini hendak menyuguhkan kebahagian yang membersamai. Bersama Februari mungkin. Atau Maret. Atau April. Atau Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Masih ada waktu panjang. Semoga ya.

[Seri Maluku] 3. Bukan Catatan Perjalanan




Lawamena Haulala sebenarnya adalah nama yang disematkan untuk tim pengerjaan peta ekosistem pesisir di daerah timur Indonesia. Inspirasi namanya entah dari mana. Sepertinya, dari semboyan TNI wilayah Maluku.

Saat pembagian awal tim survey, seharusnya aku ditempatkan di Maluku bagian utara, daerah Halmahera dan sekitarnya. Seharusnya begitu. Beberapa kali formasi tim diganti-ganti. Atas pertimbangan terakhir, aku akhirnya terlempar ke Maluku bagian tengah. Alasan mengapa aku akhirnya dilempar ke Maluku bagian tengah adalah, aku mendaftar PNS yang jadwal ujiannya tak hanya sekali dengan jadwal ujian yang masih belum jelas. Akses Maluku bagian tengah katanya lebih mudah. Maka, aku ditempatkan di situ bersama personel lain yang memiliki masalah serupa. Meski pada akhirnya, kawan-kawan satu timku termasuk aku, tidak ada yang jadi mengikuti ujian.

Seharusnya juga, aku masuk ke dalam tim mangrove. Sebab, sejak awal pengerjaan proyek, aku adalah anak mangrove. Namun suatu hari, aku ditanyai, "Kamu bisa berenang atau enggak?"
Aku jawab, "Bisa dikit. Dikit banget. Renang ngawur."
"Pernah snorkelling kan?" aku ditanya lagi.
"Ya pernah. Gimana emang?"
Jawaban itu membuatku berakhir di kumpulan tim terumbu karang.
Jadi, apakah selanjutnya aku akan menceritakan perjalananku selama bekerja -- yang lebih tepatnya disebut liburan-- di Maluku bagian tengah?

Sebenarnya, tidak tepat jika aku menyebutnya sebagai catatan perjalanan. Tulisan-tulisanku selanjutnya tidak akan bercerita tentang aku pergi ke mana saja, itinerarynya seperti apa, review tempat wisatanya bakal seperti apa, atau foto-foto indah di sana seperti apa. Sudah banyak orang lain yang lebih ahli membahas tuntas tentang itu semua.

Sebenarnya pula, sebelum berangkat ke Maluku, aku pernah berkeinginan untuk tidak menuliskan apapun tentang perjalananku di sana. Tujuan utamaku waktu itu adalah: aku ingin merenung. Aku ingin bersembunyi dari sosial media dan hal-hal lain yang waktu itu menjadi sesuatu yang kadang terasa memuakkan bagiku. Aku ingin bisa memaafkan diriku sendiri. Aku ingin meyakinkan hati atas keputusan yang kuambil pada tahun itu. Untuk itu, sepertinya aku butuh pergi jauh dari rumah untuk sementara waktu. Lawamena Haulala memberikan fasilitas itu pada waktu yang teramat tepat.

Jadwal yang dibikin Tuhan memang selalu tepat. Lauhul Mahfuz pun telah tertulis demikian.

Satu rangkaian kalimat yang masih dan akan terus aku yakini sampai sekarang adalah: tidak ada yang kebetulan di dunia ini! Bahkan soal siapa orang-orang yang kutemui, tempat-tempat yang kusinggahi, kapan aku kentut, kapan aku tertawa, hal seremeh itu telah dituliskan rapi-rapi sebelumnya. Termasuk, mengapa pada akhirnya aku berubah pikiran atas banyak hal. Salah satunya untuk mengunggah tulisan-tulisan tentang perjalanan kemarin di blog ini, itu sudah ditulis rapi-rapi juga oleh Sang Sutradara Alam Semesta.

Maafkan jika pada akhirnya rangkaian tulisan tentang Seri Maluku terkesan menjadi tulisan curhatan semata. Aku juga belum tahu apa manfaat tulisan-tulisanku nanti untuk orang lain. Aku hanya ingin menulis saja.

Apakah akhirnya aku berhasil memaafkan diriku sendiri di sana?
Ah sudah, baca saja. Baca pakai cinta.

Baca juga: [Seri Maluku] Lawamena Haulala



Jumat, 26 Januari 2018

[Seri Maluku] 2. Kepingan Rahasia?



“Rul, jadi daftar PNS?” beberapa orang japri, bertanya demikian. Aku masih di depan komputer kala itu, memilah-milah citra satelit, berpuluh-puluh scene jumlahnya.

Bogor sehabis subuh. Hujan. Badan masih pegal-pegal akibat kelamaan duduk di bus tiga puluh jam lamanya, perjalanan dari Jogja-Bogor. Rekor. Lawamena Haulala kehabisan tiket kereta juga tiket pesawat. Pemberitahuan konsinyasi di Bogor baru datang beberapa hari sebelum hari-H. Sementara, hari H konsinyasi dilaksanakan tepat setelah libur panjang Idul Adha. Artinya, ya kamu enggak bakal dapat tiket kalau memaksakan diri pergi ke barat. Tiket kereta dan juga tiket pesawat sudah pasti habis dilahap para pemudik H-3 bulan sebelumnya. Bahkan tiket bus pun tak menjanjikan bisa ada di tangan kala itu.

Pada akhirnya, pihak manajemen memutuskan untuk mencarter bus untuk kami. Rekor. Tiga puluh jam di atas bus, 10 jam lebihnya terjebak macet di tol.

Aku masih belum menjawab pertanyaan beberapa teman, sampai ada japri dari Ibuk. Intinya, meminta agar aku tidak menyia-nyiakan mendaftar PNS (lagi). Kemudian semua japrian kujawab sama: Iya.

Sepulang dari Bogor, aku menepati janjiku. Membuka situs SSCN, lalu sesegera mungkin mendaftarkan diri di satu instansi. Instansi di tempat aku bekerja dulu, sebelum resign lalu kembali ke Jogja lagi.

Aku tidak tahu apa motivasiku sebenarnya. Melegakan orang tua? Mungkin iya. Akhirnya aku memang mendaftar. Daftar saja. Tidak jadi ikut tes (lagi). Sebab, beberapa hari sebelum tanggal tes, keajaiban terjadi.

“Udah, nggak usah ikut tes juga enggak apa-apa. Daripada enggak niat kan?” di dapur pagi-pagi sehabis subuh, kata-kata itu meluncur dari mulut Ibuk. Aku terkesima dan tercengang. Are you sure, Mom? Padahal, saat itu niat sudah terkumpul sedikit demi sedikit. 

“Kamu itu memang anak Ibuk yang paling aneh. Di saat kakak-kakakmu berusaha mencari dan memilih bekerja tetap, kamu memilih bekerja tidak tetap. Ya sudah, toh rezeki sudah diatur. Semoga aja rezekimu lancar. Jangan tergantung pada orang lain,“ Ibuk melanjutkan perkataannya. 

Beberapa waktu sebelumnya Ibuk memang sempat bertanya kepadaku tentang keinginan masa depanku. Aku bilang, aku ingin menulis dan menjadi tenaga lepas geografi. Itu sudah sangat cukup buatku meski dari segi penghasilan memang tidak tetap. Kadang dapat banyak, kadang dapat sedikit. Tapi kalau dipikir-pikir dan dirasa-rasa, ketika sedang butuh-butuhnya, uang pasti selalu ada. Cukup. Rezeki sudah diatur, kan? Pasti pas takarannya.

“Nggak pengen jadi dosen?” tanya beliau waktu itu. Jadi dosen? Bisa-bisa aku dikerjai mahasiswaku tiap hari. Lama kelamaan aku juga tahu kapasitas diri, bahwa aku lebih cocok menulis fiksi atau artikel ringan daripada menulis ilmiah. Otakku tidak kuat. Berat. Jangan aku. Biar kamu saja (e malah Dilan style).

Ibuk melanjutkan kalimatnya, “Tapi tesis jangan lupa diselesaikan ya. Tahun depan sudah harus selesai. Sayang kalau enggak selesai. Lagian kamu ngapain aja selama ini kok belum selesai-selesai juga?”. Protes dari Ibuk ini membuatku tertegun.

Aku sendiri selalu menyalahkan diriku sendiri soal tesis yang tidak juga selesai-selesai. Tiap mengerjakan sesuatu yang disebut tesis, rasanya selalu nyesek di dada, panas di pelupuk mata, kadang sampai sembab pada akhirnya. Ah, lebay ya? Iya. Aku pun menganggap demikian. Hingga akhirnya waktu untuk mengerjakan tesis aku pakai untuk olahraga sampai capek, kerja part time di toko benang rajut tanpa sepengetahuan siapapun kecuali satu dua orang saja, merajut benda-benda yang dianggap tidak penting oleh orang lain, atau menulis sesuatu yang lain di luar tesis. Ujung dari semua itu, aku menerima tawaran pekerjaan di sebuah konsultan, bertemu kawan-kawan Lawamena Haulala, sibuk di sana, lalu sementara waktu benar-benar lupa dengan tesis.

“Karena masalah X?” beliau menebak-nebak. Tebakan jitu. Aku tidak bisa lagi menjawab ‘bukan’. Intuisi Ibuk memang selalu benar.

“Iya, Buk,” kataku. Lalu nasihat-nasihat meluncur keluar dari mulut ibuku. Aku mendengarkan semua sampai habis. Pura-pura mendengarkan lebih tepatnya. Pikiranku sedang berkelana di tempat lain waktu itu.

“Buk, aku mau lapangan ke Maluku dulu ya. Sebulan. Tesis kukerjain habis pekerjaan Maluku selesai. Janji. Insyaa Allah,” aku menarik napas sekuat-kuatnya demi mengatakan itu. Aku tidak tahu keajaiban apa lagi yang membuat Ibuk dengan mudahnya menjawab ‘iya’. Sama tidak tahunya aku dengan skenario Allah macam apa lagi yang hendak kuperankan. Aku hanya ingin menyembuhkan diri dan menetralkan hati. Cleansing.
Usai itu, sebaris kalimat doa kemudian terbersit di hati sebelum aku berangkat ke Maluku: Ya Allah, semoga sepulang dari Maluku jiwa lebay dan mental menye-menyeku lenyap. Aamiin!

Senin, 08 Januari 2018

[Seri Maluku] 1. Lawamena Haulala




Ke mana kau ingin pergi? Aku tak ingin kemana-mana, kataku waktu itu.

Pernah tidak, kamu yang biasanya suka kalau diajak pergi ke tempat yang jauh dan asing, tiba-tiba kehilangan hasrat untuk itu? Kamu berubah haluan. Kau hanya ingin menghabiskan seluruh waktumu di rumah saja. Tak ingin pergi jauh-jauh lagi dari rumah. Lagipula rumah juga bisa menjadi sangat menyenangkan. Kamu bisa puas membercandai kucing-kucing, menanam bebijian dan bermain tanah di kebun, memilin benang dan merajutnya menjadi benda-benda indah, menghabiskan pagi di dapur bersama ibumu, bebas meminjam buku-buku bagus di perpustakaan daerah, pergi ke lantai 4 perpustakaan kampus sembari memandang langit yang kadang cerah - kadang mendung - kadang hujan, menghabiskan sore di sebuah mesjid kampung sambil duduk mendengarkan ceramah yang dulunya tak pernah kau lirik sama sekali, kadang menghabiskan waktu di tempat bernama rumah sakit, atau kadang kau menghabiskan waktumu untuk menulis saja.

Percayalah. Mulai dua tahun lalu itu semua menjadi sangat menyenangkan buatku, anak Ibuk yang dulunya cukup jarang dijumpai batang hidungnya di sebuah tempat bernama rumah. Aku mulai berpindah dari semestaku yang lampau menuju semesta baru yang tercipta perlahan-lahan. Mungkin aku sedang bermetamorfosis.

Ah berlebihan.

Setidaknya aku tahu kalau itu namanya perubahan. Perubahan yang menyentuh sesuatu yang terasa penuh di rongga dada. Kamu tahu rasanya berada dalam putaran perubahan yang terjadi di dalam dirimu sendiri sementara apa yang ada di luar dirimu masih terus berjalan seperti dulu? Kadang rasanya sunyi dan sepi. Kadang rasanya tenang. Kadang terasa menakutkan. Kadang berasa kosong. Kadang ada rasa sedih berlebihan. Kalau kau tanya padaku, aku akan bilang rasanya campur aduk tak karuan. Yang pasti, kau akan merasa lebih familier dengan air mata dari pada buncah tawa ketika momen awal perubahan semesta itu sedang terjadi pada dirimu.

Ah, katakan saja kau sebenarnya sedang patah hati. Patah hati yang terlalu berlebihan. Serah dah. Bodo amat! Kataku saat kau bilang hal itu padaku.

Lama-kelamaan, aku mulai menyukai diriku yang baru. Aku yang lebih tenang, aku yang lebih pendiam, aku yang lebih suka sendiri, aku yang semakin penakut, aku yang semakin tak peduli pada apapun dan pada siapapun kecuali pada kucing-kucingku. Aku semakin suka pada semestaku yang baru.

Lalu ketika aku telah semakin jauh masuk ke dalam semestaku yang baru, ada semesta lain yang datang mendekat kepadaku. Semesta yang menamakan dirinya Lawamena Haulala. Lawamena Haulala berisi sekumpulan orang-orang lama yang telah kukenal, ada beberapa orang baru, yang pasti kebanyakan mereka bukanlah orang-orang formal yang cukup normal. Aku kemudian tertarik masuk ke dalamnya. Lebih tepatnya, semesta baruku yang telah tercipta turut masuk ke dalamnya.

Aku kembali menyukai tempat baru yang jauh dari rumah, meski aku juga suka rumah. Aku tak lagi menjadi orang yang suka meringkuk sendirian lalu menangis tanpa suara, sebab tiba-tiba ada banyak orang di sekelilingku yang tak mengizinkan aku berbuat demikian.

Lawamena Haulala menyeretku pergi ke tempat baru, menemui orang-orang baru, dan memberi hal-hal baik yang kemudian menutup habis hal-hal buruk di masa lalu. Lawamena Haulala mengajakku menghabiskan waktu di tempat bernama Maluku.

Baca juga: Selamat Datang Di Sano Nggoang, Danau Yang Bercahaya

*catatan: Saat sampai di Ambon, aku baru tahu, Lawamena Haulala adalah pataka Kodam XVI Pattimura yang berarti “Maju terus pantang mundur, meski berdarah-darah”. Wow. 




Kamis, 04 Januari 2018

Curhat Dikit, Boleh?


 pablo


Lha emang biasanya nggak curhat?

Suatu saat beberapa teman pernah tanya soal blog ini. Menanyakan tentang adsense dan sejenisnya. Bertanya tentang penghasilan tambahan lewat blog dan bagaimana mengelolanya. Saya nyengoh. Sebab jika dilihat-lihat lebih cermat lagi, sungguh blog ini isinya cukup banyak adalah tulisan hasil kegalauan yang tak bisa saya ungkapkan lewat kata-kata. Catatan perjalanan pun bentuknya adalah semacam cerita curhat, ungkapan kesyukuran saya bertemu teman-teman baru yang baik, yang seru, juga kebahagiaan saya pernah menyinggahi tempat-tempat baru yang bakal jadi suatu pengingat kala saya makin tua nanti. Bagi saya menulis juga merupakan suatu ajang terapi emosi yang cukup ampuh. Sangat bisa disimpulkan ketika pada suatu waktu saya sering sekali menulis, itu adalah bagian dari meredakan emosi yang sedang labil-labilnya. Bisa jadi sedang sedih-sedihnya, sedang marah-marahnya, sedang bingung, sedang tak tentu arah, sedang merasa gagal, sedang goyah, atau sedang mutung parah. 

Mungkin terdapat beberapa tulisan afiliasi dalam blog ini. Itu adalah bonus. Jika terdapat beberapa iklan yang terpampang di laman blog ini lalu ada yang khilaf mengekliknya kemudian berlanjut khilaf belanja di e-commerce terkait, itu juga semacam bonus. Saya sangat berterimakasih atas kekhilafannya :)) Tapi lumayan lho, kalo sedang ada campaign bisa dapat diskon banyak.

Sudah cukup lama saya tidak nulis di laman blog ini. Terakhir posting Oktober tahun lalu. Itupun adalah tulisan afiliasi. Beberapa teman yang suka khilaf baca tulisan saya sempat ada yang tanya, "Kok blognya nggak pernah update lagi?" Kadang saya terharu sekaligus malu kalau ada teman yang baca-baca tulisan saya yang sering tak berkonklusi. Apalagi kalau bacanya pake suara keras di hadapan orang-orang. Itu sih saya kesel. Namun saya tetap berterimakasih untuk yang suka khilaf baca tulisan saya. Semoga ada manfaatnya. 

Kemarin pagi, saat sedang konsentrasi menangkis percikan-percikan minyak goreng di atas wajan penggorengan ikan bandeng calon santapan pagi, tiba-tiba Ibuk yang sedang berada di samping saya bertanya, "Kamu masih suka nulis di blog nggak, to?"

Heh? Saya kembali nyengoh. Tumben amat Ibuk tanya begituan. Lalu ketika yang nanya adalah Ibuk, saya tiba-tiba kepikiran. Memang Ibuk kadang-kadang baca blog saya. Ada cerita-cerita yang susah saya ceritakan langsung pada Ibuk, sehingga ketika Ibuk baca tulisan di blog saya, beliau jadi tahu beberapa hal yang tak saya ceritakan langsung lewat kata-kata. Mungkin saja Ibuk sedang khawatir pada saya yang akhir-akhir ini sering bertingkah tak wajar macam orang lagi kebanyakan pikiran tapi jarang cerita macam-macam. 

Siangnya saya buka-buka lagi blog ini. Saya baca-baca lagi tulisan saya dari awal sampai akhir, tulisan dari tahun 2008 ketika masih SMA sampai sekarang sudah menuju kepala 3 dan masih begini-begini aja. Semuanya! tanpa terkecuali. Oh, tampaknya Marul kurang kerjaan banget ya? Bukannya ngerjain tesis yang sudah hampir habis masa limitnya, eh malah ngeblog :')

Usai semua tulisan terbaca dengan baik, saya hapus beberapa tulisan yang saya rasa tak perlu diabadikan. Saya cukup takjub saat menyadari bahwa ternyata masing-masing emosi menghasilkan rasa tulisan berbeda-beda selama kurun waktu sepuluh terakhir ini. Beda jenis emosi, beda luaran tulisan yang dihasilkan. Tulisan saya yang paling ngena di hati, adalah tulisan ketika saya sedang sedih kebangetan. Sementara tulisan yang terasa ngeselin, adalah tulisan ketika saya sedang marah. 

Hal lain yang membuat saya cukup takjub dan membuat saya menasbihkan diri untuk terus menulis sampai nanti, insya Allah sampai mati, adalah betapa kumpulan tulisan saya yang terangkum dalam blog ini mampu menggambarkan perubahan diri saya dari waktu ke waktu. Betapa kumpulan tulisan saya dalam blog ini di masa lalu, mampu menjadi bahan pertimbangan saya untuk mengambil beberapa keputusan di masa berikutnya. Minimal, tulisan-tulisan yang terpampang nyata di laman blog ini bermanfaat untuk diri saya sendiri. Jadi jika tak ada orang lain yang membaca, menyukai, membagikan, atau berkomentar, itu bukanlah suatu bentuk kerugian. Namun, jika ada orang lain yang membacanya lalu merasakan manfaatnya, sungguh itu namanya bonus. Semoga bonusnya adalah sebentuk amal jariyah yang tetap bisa diambil ketika kehidupan kedua kelak telah dicipta.

Aamiin!

Oh iya, sebelum mengakhiri tulisan. Izinkan saya beriklan. Lagi ada banyak diskon menarik di Bilna. Kali aja ada yang lagi cari kado nikah atau cari kado buat adek-adek bayi. Di sana barangnya bagus-bagus :))




Sabtu, 28 Oktober 2017

Jangan Lewatkan Pemandangan Indah Matahari Terbit dari 5 Tempat Terbaik Ini!


via. backpackerlee.wordpress.com

Matahari terbit mungkin jadi biasa saja saat kita hanya melihatnya dari depan rumah. Bisa jadi lumayan cantik, jika kita berdiri di balkon kamar. Tapi yang paling indah dari semua itu, matahari terbit yang dilihat dari puncak gunung, atau tempat-tempat tinggi lainnya yang masih dekat atau bahkan menyatu dengan alam.

Indonesia punya banyak sekali tempat-tempat seru untuk menikmati matahari terbit. Tak jarang, orang-orang rela menempuh perjalanan jauh, hanya untuk bisa sampai ke tempat tersebut. Ada lima tempat terbaik untuk menikmati indahnya matahari terbit di Indonesia. Bersiaplah membeli tiket Air Asia promo untuk tujuan berikut ini:

Candi Borobudur
via. nationalgeographic.co.id

Bangunan yang berdiri di Magelang, Jawa Tengah ini merupakan landmark Indonesia yang super populer. Tak hanya menarik perhatian wisatawan domestik, turis luar negeri pun menjadikan Borobudur sebagai tujuan utama mereka datang ke negara kita tercinta ini. Masuk dalam tujuh keajaiban dunia, tempat ini memang layak didatangi.

Yap! Borobudur termasuk salah satu dari lima tempat terbaik yang kami rekomendasikan untuk kamu menikmati matahari terbit. Tak hanya itu saja, dari tempat ini, kamu juga bakal disuguhi pemandangan indahnya Pegunungan Merbabu dengan hutannya yang hijau lebat. Kamu wajib mengabadikan momen matahari terbit di sini, dengan kameramu.

Gunung Bromo

via. wisata-kita.com

Masih juga di Pulau Jawa, menuju ke arah timur, kamu bisa juga menikmati matahari terbit yang super indah dari kawasan Gunung Bromo. Ada beberapa spot yang bisa kamu pilih untuk misi mencari sunrise kamu kali ini. Yang paling banyak dikunjungi, spot terbaik, ada di Pananjakan. Tapi Bukit Kingkong pun tak kalah menakjubkan kok.

Setelah puas menunggu matahari, dan menyapu habis pemandangan dari atas dengan kameramu, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke lautan pasir, menuju kawah Gunung Bromo. Atau jika kamu terlalu rela untuk membuang bagian ini, setidaknya pastikan saja kamu sudah mengabadikan sekelilingnya, termasuk pura, hingga padang rumputnya.

Danau Toba
via. flickr.com/ssyukaery

Perjalanan keluar dari Pulau Jawa dengan tiket Air Asia promo yang sudah kamu beli tadi, akan dimulai dari ujung barat. Sumatera punya Danau Toba yang juga menjanjikan sunrise super indah yang pernah ada di Indonesia. Sama seperti kawasan di sekitar Gunung Bromo, tempat ini juga memberi banyak pilihan spot untuk menanti matahari.

Perpaduan warna emas yang terpantul di atas air Danau Toba, dengan hijaunya bukit-bukit, awan berarak, dan Gunung Sinabung yang berdiri gagah, bisa kamu nikmati dari Menara Pandang, Tele dan One Tree Hill, Merek. Tak akan kecewa jika kamu jauh-jauh terbang ke Sumatera dan memilih Danau Toba sebagai salah satu tujuan wisatamu.

Gunung Agung
via. legalnomads.com
Agak ke tengah, Indonesia punya gunung dengan puncak tertinggi di Bali, sekitar 3142 meter di atas permukaan laut. Terbang ke Pulau Dewata berbekal tiket pesawat Air Asia promo, kamu bisa berkunjung ke Gunung Agung Karangasem Bali ini. Siapa yang tak tahu, gunung berapi yang masih aktif ini sering jadi bahan berita di berbagai media.

Yap! Gunung yang satu ini juga termasuk salah satu dari lima tempat terbaik untuk menanti dan menyaksikan proses terbitnya matahari. Kamu juga bisa melihat sinar pertama matahari yang muncul itu menyentuh Patung Suci Hindu yang berdiri kokoh di puncak. Tempat ini dipercaya umat Hindu sebagai tempat bersemayamnya para dewa.

Danau Kelimutu
via. photographyinspired.com

Beranjak ke Nusa Tenggara Timur, ini adalah poin terakhir dalam daftar tempat terbaik untuk menikmati sunrise di Indonesia. Danau tiga warna ini juga sangat tenar sebagai salah satu tempat wisata, dan banyak dikunjungi orang-orang dari dalam maupun luar negeri. Danau Kelimutu memang terkenal dengan keindahan pemandangannya.

Tawaran paling menarik dari danau yang terletak di daratan tinggi ini, tentu saja matahari terbit. Di momen itu, Danau Kelimutu seperti berubah menjadi mangkuk biru. Menyaksikan proses perubahan warna langit di sekitaran danau ini tentu saja sangat menakjubkan. Jangan sampai kamu lupa untuk mengabadikan dalam gambar ataupun video ya!

Well, itu tadi lima tempat paling direkomendasikan jika kamu ingin melihat matahari terbit dengan view paling indah di Indonesia. Kabarkan ini pada kerabat dan sahabat, agar mereka juga tak melewatkan untuk merencanakan liburan terdekat ke tempat-tempat tersebut. Hati yang cerah bersama terbitnya matahari, bakal bawa bahagia seharian loh!

Kamis, 16 Maret 2017

#4 Belajar Shalat Lagi: Belajar Membaca

Pict Source: Ermina.com
Dalam postingan sebelumnya, saya sering menyinggung-nyinggung masalah membaca satu kitab yang telah disempurnakan di muka bumi oleh Penciptanya sendiri. The most wonderful book ever: Al-Qur’an Al Karim.


Kenapa sih obsesi bener sama buku yang satu itu? Biasa aja keles.

Dulu, saya pernah punya opini semacam ini sebelum saya merasakan sendiri betapa satu buku itu mampu membawa banyak sekali perubahan pada diri saya. Jadi ketika sekarang saya menemukan ada orang yang punya argumentasi sama seperti saya dahulu, I’ll never judge too far. Biarkan dia membuktikannya sendiri. Setiap orang punya jalur perjalanannya masing-masing. Perjalanan bersama Al-Qur’an adalah salah satunya. Maka biarkan masing-masing orang menikmati perjalanannya

Trus apa hubungannya Al-Qur’an sama shalat?

Okay. Dulunya saya pernah menganggap bahwa ibadah shalat dan ibadah membaca atau mempelajari Al-Qur’an adalah dua hal yang terpisah walaupun ada sedikit kaitan antara keduanya. Kaitan itu berupa bacaan  Al-Qur’an yang dibaca ketika shalat berupa bacaan Al-Fatihah dan surat-surat lain yang ada dalam Al-Qur’an. Bukan kaitan yang terlalu kuat, hanya sebatas sebagai pelengkap shalat. Ya, suatu waktu di masa lalu, itulah yang ada dalam pikiran saya. Fakir ilmu yang sering sok tahu atas banyak hal dalam hidup.

Lagi-lagi saya salah. Emang ya, saya kebanyakan salah. Maafkeun.

Shalat itu adalah aktivitas dzikir tertinggi yang dilakukan oleh umat manusia untuk menghadap langsung kepada Tuhannya. Berbicara langsung kepada Tuhannya tanpa perantara. Dan bacaan dzikir tertinggi itu adalah ayat-ayat Al-Quran. Jika keduanya dikolaborasikan, bisa bayangkan seberapa besar pengaruhnya terhadap hidup kita? Energi positif yang dihasilkan akan menjadi lebih besar. Apalagi, jika kita benar-benar paham apa yang kita baca. Kita paham arti ayat yang kita baca. Kita paham apa yang sedang kita minta lewat ayat-ayat itu. Kita paham apa yang sedang kita bicarakan kepada Tuhan. Kita paham apa yang sebenarnya kita curhatkan pada pimpinan tertinggi kita. Bisa bayangkan seberapa besar efeknya?

Maka jika shalat kita memang benar-benar benar, dia benar-benar punya efek magis buat hidup kita. Dia bisa jadi tameng terkuat untuk menghadapi para musuh. Dia bisa jadi amunisi kita untuk lebih bersabar menghadapi aneka permainan yang melelahkan di depan kita. Kita bisa lebih mudah menanggapi sendagurauan yang lebih sering menyakitkan hati kita ketimbang menyenangkan hati kita.

Jadi apa yang seharuskan sama-sama kita usahakan ketika benar-benar ingin memperbaiki shalat? Pelajari Al-Qur’an. Baca setiap hari, pahami artinya. Baca dengan tartil, resapkan sampai ke hati. Hafalkan ayat-ayatnya meski hanya sedikit demi sedikit. Jangan terlalu terobsesi menghafalkan dengan cepat. Rasakan. Resapi. Pahami. Menangislah.
Rasulullah menerima Al-Qur’an berangsur-angsur selama 23 tahun. Maka pakailah seumur hidup kita untuk mempelajarinya. Karena seumur hidup pun kita berusaha mempelajari dan mengamalkannya, kita tidak akan pernah selesai.

Kita tidak akan pernah sempurna. Shalat kita, akhlak kita, ibadah-ibadah kita yang lain. Tak akan sempurna. Bukankah sudah dijamin bahwa manusia paling sempurna yang memiliki akhlak paling sempurna adalah Rasulullah Muhammad SAW? Tapi itu bukan alasan buat kita untuk berhenti memperbaiki diri. Dan salah satu cara kita memperbaiki diri adalah lewat shalat. Dan rangkaian memperbaiki shalat itu nggak sedikit. Kita perlu memperbaiki iman, memperbaiki bacaan Qur’an, memperbaiki wudhu, memperbaiki ilmu fikih, dan lainnya.


Kita yang memutuskan untuk berhenti belajar adalah orang sombong. Dan kesombongan tak akan pernah mengantarkan kita kepada kebaikan. Kita yang merasa sudah menjadi orang baik, pada dasarnya adalah tidak baik. Suatu ketika kita pasti salah. Setiap hari kita salah. Dan sangat salah jika kita memutuskan untuk tidak pernah meminta maaf pada Allah atas kesalahan kita setiap hari. Sangat salah jika akhirnya kita memutuskan untuk tidak pernah memperbaiki kesalahan kita. Bagaimana cara awal kita meminta maaf dan memperbaiki kesalahan kita? Lewat shalat. Ya, sehari kita diberi waktu untuk memperbaiki diri kita, minimal 5 kali. Benarkah tidak mau memanfaatkan momen emas itu?

Shalatlah. Curhatlah pada Pencipta kita lewat shalat. Dan bersabarlah. Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.

-s-e-l-e-s-a-i-

Tulisan ini adalah pengingat untuk diri saya sendiri. Semoga juga bermanfaat untuk para pembaca

Selasa, 21 Februari 2017

#3 Belajar Shalat Lagi: Tentang Iman

pict source: cdn.quotesgram.com

Memahami ajaran ini, harus diawali dengan iman. iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab Allah, iman kepada nabi dan rasul Allah, iman kepada hari kiamat, serta iman kepada qada’ dan qadar. Urutan rukun iman ini adalah urutan yang benar-benar sistematis jika diperhatikan. Dimulai dari percaya sebenar-benarnya bahwa ada satu  Zat yang paling awal yang menciptakan seluruh semesta alam ini. Maka saya baru paham, ketika seorang teman saya kala itu menyarankan saya agar belajar tauhid terlebih dahulu untuk menguatkan iman di dalam diri saya yang masih lemah. Tauhid adalah dasar keimanan. Maka tidak heran lagi jika dosa yang mengiringinya, yaitu syirik, disebut-sebut sebagai dosa besar yang pertama.

Kepada segala macam ciptaannya, Allah menciptakan pasukan malaikat yang ditugaskan untuk mengurus dan menjaga masing-masing ciptaan-Nya. Ada malaikat penjaga gunung, ada malaikat penjaga lautan, ada yang bertugas mengurus langit dan menurunkan hujan, ada yang membagi-bagi rezeki kepada hamba-hamba-Nya, ada yang bertugas menjadi pengintai perbuatan baik buruk hamba-hamba-Nya, ada yang bertugas menjaga setiap jiwa yang terlahir di muka bumi, ada yang bertugas menghalangi bisikan-bisikan syaitan, ada yang bertugas membagikan rahmat-Nya, ada yang bertugas memanggil pulang setiap jiwa. Banyak sekali. Bahkan pada satu makhluk, tidak hanya satu malaikat yang mengurusinya. Manusia misalnya. Ada berapa malaikat yang mengurusinya setiap hari? Banyak! Malaikat pencatat amal baik, malaikat pencatat amal buruk, malaikat penjaga di depan, dan malaikat penjaga di belakang yang dalam sehari selalu berganti shift pagi dan malam. Belum lagi malaikat yang mengurusi rezekinya, malaikat rahmat, malaikat yang membisikkan hal-hal baik untuknya, malaikat maut yang selalu datang kepadanya 40 kali dalam sehari, dan lainnya. Laa illa ha illallahuwallahu akbar!

Setiap malaikat memiliki tugas spesifik masing-masing. Betapa Allah itu Manajer Yang Maha Hebat. Dia membagi-bagi semua tugas, mengawasi pekerjaan para malaikat-Nya, menerima laporan dan aduan dari para malaikat, selalu siap ditanya apa saja oleh para malaikat, dan mengurus semua makhluk-Nya tanpa ada luput sedikitpun. Maha Sempurna.

Lanjut pada iman kepada kitab Allah. Kitab Allah yang diturunkan ke bumi, yang diperantarakan oleh malaikat untuk utusan-utusannya di kalangan jin dan manusia, adalah sebagian dari ilmu Allah yang dengan baik hati dibagikan untuk para hamba-Nya. Di luar itu, masih banyak lagi ilmu Allah yang tak akan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia. Semua kitab yang dibawa oleh para Nabi, semuanya, tak terkecuali, berasal dari Allah SWT. Maka ajaran ini juga mempercayai isi asli dari Taurat, Injil, Zabur, dan kitab lainnya yang pernah turun ke muka bumi.

Kitab Besar yang tercipta pertama kali adalah Lauhul Mahfuz, sebuah kitab yang kalau saya boleh bilang, adalah kitab rancangan atas segala kehidupan yang diciptakan-Nya. Takdir seluruh alam semesta ada di situ. Segala konektivitas rumit antar makhluknya telah secara detail tertulis di situ. Sementara, kitab-kitab yang turun ke bumi hanya berisi sebagian kecil dari Kitab Besar yang telah Allah cipta.

 Ketika Dia sudah membagi ilmunya lewat kitab-kitab-Nya, maka yang harus kita lakukan adalah mempelajari, memahami isinya, kemudian berusaha mengamalkannya. Maka itulah salah satu alasan mengapa nabi diutus. Untuk menyampaikan risalah. Ketika malaikat menjadi perantara antara Allah dengan nabinya, maka para nabi diminta meneruskannya firman-firman dari Allah kepada manusia lainnya. Nabi memperjelas isi kitab dengan perkataannya agar umat manusia mampu memahami apa maksud di balik ayat demi ayat dalam kitab yang telah turun.

Setiap ciptaan Allah, pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Maka, pada setiap kumpulan manusia, Allah pasti mengirimkan manusia yang diutus sebagai Nabi atau Rasul. Dia tak ingin manusia kehilangan arah untuk pulang kembali kepada-Nya. Maka Dia menjadikan di antara manusia-manusia itu satu atau beberapa Nabi untuk mengingatkan para manusia menuju arah pulang yang benar.  Ingat, sejak awal penciptaan manusia, musuh utamanya, yaitu iblis atau shaytan tak pernah berhenti membuat manusia menjadi temannya kelak di neraka. Mereka tak pernah berhenti berusaha. Tak pernah. Sehingga, tak heran jika pada akhirnya banyak manusia teralihkan menuju jalan pulang yang salah, yang pada akhirnya tidak akan mempertemukannya pada Penciptanya. Sehingga, para manusia butuh diingatkan. Maka Allah pasti mengangkat satu manusia pada suatu kaum untuk menjadi pengingat jalan pulang mereka. Allah tidak akan memusnahkan suatu kaum, sampai ada nabi yang pernah diutus kepada mereka.

Setiap nabi, pada umumnya menjelaskan kitab-kitab yang telah disampaikan kepadanya. Biasanya, kitab ini dikhususkan untuk kaum yang didakwahinya kala itu. Hingga akhirnya, ketika sudah dekat dengan akhir zaman, Allah mengutus nabi yang ajarannya tidak hanya ditujukan untuk kaumnya dimana dia tinggal selama hidupnya. Lebih dari itu, ajarannya juga ditujukan untuk seluruh manusia di seluruh dunia, yang akan datang setelah kematiannya. Dan istimewanya, dia Rasulullah Muhammad SAW dibekali dengan satu kitab yang akan dijaga sampai akhir zaman oleh Allah sendiri. Kitab ini berasal dari Allah, diturunkan kepada Muhammad SAW, lewat perantara Malaikatnya, Malaikat Jibril. Dan isi kitab ini, merupakan ringkasan kitab terdahulu. Berisi kisah-kisah di masa lalu sebagai pengingat atas segala yang telah terjadi. Juga berisi ilmu pengetahuan yang tak akan habis untuk dipelajari bahkan sampai seumur hidup kita. Kitab ini menyempurnakan kitab-kitab terdahulu, dan merupakan kitab paling sempurna yang pernah ada di muka bumi. Dan karena terbit terakhir, maka kitab ini sangat banyak menjelaskan tentang hari akhir, yang akan dihadapi oleh manusia akhir zaman, dan menjadi pentunjuk untuk para manusia akhir zaman ini bagaimana cara terbaik menghadapi akhir hidupnya masing-masing (kematian) maupun akhir zaman yang sebenar-benarnya akhir zaman (kiamat besar).

Urutan iman terakhir adalah iman kepada Qada’ dan Qadar. Bagi saya pribadi, ini adalah sebentuk iman yang paling sulit untuk diimani. Mengapa? Dibutuhkan keikhlasan tingkat tinggi untuk benar-benar bisa mengimaninya. Mempercayai bahwa segala yang terjadi adalah sudah ketetapan Allah. Mengapa Allah menciptakan ini dan itu? Mengapa Allah menimpakan ini dan itu? Mengapa Allah begini? Mengapa Allah begitu? Siapa dari kita yang tak pernah menanyakan itu dan tidak pernah terbersit prasangka tak baik pada Tuhannya? Dia yang bisa menekan dirinya untuk tidak pernah berprasangka buruk pada Tuhannya, adalah hamba yang benar-benar mukhlas. Ikhlas tingkat tinggi dalam hidup. Mempercayai sepenuh hati, ikhlas seikhlas-ikhlasnya, bahwa apapun yang telah menimpanya adalah ketetapan dari Tuhannya. Entah itu ringan ataupun berat. Entah itu menyenangkan maupun menyedihkan.

Memperbaiki shalat, benar-benar tak bisa lepas dari memperbaiki iman. Shalat adalah bukti iman yang dilakukan setelah syahadat. Dan jika kita saja tak pernah paham apa itu iman, bagaimana kita bisa membuktikannya?

Lalu bagaimana langkah awal memperbaiki iman?

Kata pertama yang turun kepada Rasulallah Muhammad SAW dari Allah Azza Wa Jalla lewat Malaikat Jibril: Bacalah!
Baca dan pelajari kitab yang telah diturunkan-Nya. Pelajari tentang tauhid, pelajari tentang makhluk-makhluk ciptaan-Nya, baca kisah-kisah para nabi terdahulu, pelajari tentang kiamat, dan belajar untuk terus melatih ikhlas. Setelah membaca dan kita menemukan satu titik tertentu, maka kita tak akan pernah mau berhenti membaca dan selalu ingin belajar dan terus belajar tanpa berhenti. Sampai nanti. Sampai mati. Dan lakukan itu semua sekarang. Tanpa tunggu nanti-nanti.

Rasakanlah sesuatu yang terjadi pada shalatmu setelah itu.

Bacalah. Belajarlah.

--------------------------------------------------
Maaf untuk postingan yang cukup panjang.
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.