Rabu, 16 Mei 2018

[Hasil Baca] Aroma Karsa

sumber gambar: detikHot
Judul Buku
Aroma Karsa
Penulis
Dewi Lestari
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Tahun Terbit
Cetakan pertama, Maret 2018
Jumlah Halaman
710 Halaman

Ada yang sudah baca novel fiksi terbaru dari Dewi Lestari? Judulnya Aroma Karsa. Novel bersampul putih dengan ilustrasi aneka rupa bebungaan dan tanaman yang apik. Dari judulnya, sudah bisa ditebak novel ini bercerita tentang apa. Ya, tentang aroma. Tentang bebauan. 

Ide yang dihadirkan oleh Dee dalam setiap cerita yang digarapnya selalu menarik dan berada di luar jangkauan orang-orang awam kebanyakan. Bahkan ketika baca tulisan-tulisannya, saya pun selalu bertanya-tanya, kok bisa kepikiran ide kayak gini sih?

Selama saya baca karya-karyanya Ibu Suri (demikian warganet menyebut Dewi Lestari), novel dengan ide paling ringan menurut saya ada di novel berjudul Perahu Kertas. Novel-novel lainnya, selalu punya ide unik tak terkira. Sebut saja Supernova, salah satu novel science fiction yang membutuhkan pemahaman mendalam untuk bisa mencernanya dengan baik. Sekarang, Aroma Karsa pun demikian.

Tutur kalimat yang dibawakan Dee selalu punya ciri khasnya sendiri. Alur yang dibuatnya, membuat saya susah berhenti membaca di tengah jalan. Kok rasanya sayang aja kalau harus mengambil jeda terlalu lama untuk menyelesaikan bab demi babnya. Padahal, untuk ukuran novel, Aroma Karsa termasuk tebal. Bayangan saya sebelum membeli buku ini, "Ah, mungkin ini seminggu atau dua minggu baru bisa selesai."
Nyatanya saya salah. Baru tiga hari juga sudah tuntas bacanya.

Ada dua hal yang selalu saya suka dari Dee sebagai penulis. Pertama, Dee melakukan riset mendalam ketika menulis cerita meskipun cerita yang ditulis adalah cerita fiksi. Kedua, tokoh utama dalam cerita-cerita yang dibangun oleh Dee bukan tokoh putih, bukan pula tokoh hitam, melainkan tokoh abu-abu.


Penulisan Aroma Karsa melibatkan banyak tempat dan banyak individu dalam risetnya. Tengok saja dalam salah satu halaman ucapan terima kasih. Dee melibatkan TPA Bantar Gebang, sebuah perusahaan kosmetik Mustika Ratu, seorang pembalap Ananda Mikola, arkeolog dari Universitas Indonesia, juga melibatkan juru kunci Gunung Lawu. Hasilnya? Keseluruhan alur ceritanya tampak nyata meski cerita yang dituturkan adalah cerita fiksi. Itu semua meminimalisir "kebocoran alur" pada keseluruhan novel. Meski, memang ada fantasi-fantasi Dee yang muncul di dalamnya dan memang tak terjadi di dunia nyata. Misal pengaitan antara Prasasti Planggatan yang ditemukan di era Majapahit dengan prasasti lontar milik Janirah Prayagung yang diceritakan sebagai peta untuk menemukan Puspa Karsa. Juga, cerita tentang Banaspati dan tempat tinggalnya yang pastinya membuat pembacanya mengerutkan kening, memainkan fantasinya masing-masing.

Dee pernah mengungkapkan dalam salah satu kelas penulisan online, bahwa dia lebih suka menciptakan tokoh abu-abu ketimbang tokoh yang serba putih atau serba hitam. Artinya apa? Tokoh yang dibangunnya bukan tokoh yang sifatnya terlalu baik atau terlalu jahat seperti kebanyakan sinetron-sinetron masa kini. Tokohnya adalah tokoh abu-abu yang selalu memiliki sesuatu untuk dipertanyakan dalam hidupnya. Jati Wesi dan Suma adalah dua tokoh utama dalam novel ini yang digambarkan memiliki anugerah berupa penciuman teramat tajam, sekaligus memiliki sisi hidup yang terus dipertanyakan.

Indra seorang manusia yang berkembang pertama kali di dalam rahim adalah indera penciuman. Bagi Dee hal ini menarik. Dunia aroma membuat Dee selalu membaui banyak hal di sekitarnya. Untuk itulah Dee menuliskannya.

Dalam Aroma Karsa, mungkin banyak istilah-istilah latin yang membuat pembaca seperti saya cukup kebingungan dan menimbulkan kesan berat pada novel ini. Tapi itu semua ditutupi oleh gaya penceritaan yang dituliskan oleh Dee. 

Satu pesan penting yang saya dapatkan dan garis bawahi  setelah mebaca Aroma Karsa:
Ambisi yang terlalu besar tanpa mawas diri hanya akan menghancurkan. Kebaikan dan kejahatan dalam diri setiap manusia selalu berperang untuk menunjukkan eksistensinya masing-masing. Kita membutuhkan penjaga agar kejahatan bisa diredam dalam-dalam.

Apakah Aroma Karsa nantinya akan diangkat ke layar lebar seperti novel-novel Dee sebelumnya? Perahu Kertas, Supernova, Filosofi Kopi, Rectoverso, bukankah semuanya diangkat ke layar lebar? Hmm, kalau saja Aroma Karsa nantinya diangkat ke layar lebar, saya membayangkan akan ada scene seperti yang ada di cerita Wiro Sableng. Scene yang memiliki latar waktu di masa silam. Utamanya pada masa Kerajaan Majapahit. Pasti menarik.

Jumat, 11 Mei 2018

Bagaimana Cara Mendengar Hati Nurani? (QS An-Nuur:35)


Manusia diciptakan memiliki fitrah. Fitrah tersebut adalah meyakini segala sesuatu tentang Allah,Tuhan Yang Maha Esa. Allah meletakkan fitrah ke dalam hati nurani setiap manusia, sebagai salah satu penuntun kepulangan kita menuju cahaya. Allah, cahaya langit dan bumi. Kemurnian hati nurani mampu merasakan cahaya Allah. Namun, dalam perjalanannya di dunia, fitrah tersebut terdistraksi. Kemurniannya tertutupi oleh berbagai macam penutup, terhalang oleh hal-hal yang membuat manusia lupa kepada Allah. Sehingga, manusia seringkali tak bisa mendengar hati nuraninya sendiri. Bahkan, manusia seringkali merasa samar. Itu soal ujiannya. Membedakan mana kata hati nurani, mana kata nafsu. Di manapun posisi kita sekarang, apa yang kita cari sebenarnya sama. Kita sedang mencari cahaya.

Pintu utama agar dapat mendengar hati nurani sendiri adalah pandangan. Sehingga, agar kita mampu mendengar hati nurani, kita harus menjaga pandangan dari hal-hal terlarang. Apa hubungannya memandang dengan mendengar? Bukankah keduanya terpisah?

 Kemampuan seorang mendengar, bisa menjadi ilmu, bisa juga tidak. Bisa menjadi ilmu jika dia punya kemampuan baik untuk mendengar. Begitu pula sebaliknya. Jika seseorang tak punya kemampuan mendengar, apapun yang didengarnya tidak akan menjadi ilmu.

Ilmu yang didapat, kemudian bisa jadi bermanfaat, bisa jadi tidak. Bermanfaat jika pada akhirnya ilmu tersebut menjadi hikmah. Tidak bermanfaat jika ilmu tersebut tidak diaplikasikan, tidak menjadi hikmah.

Nuurun 'ala nuur (نُّورٌ عَلَى نُورٍ). Cahaya di atas cahaya. Kalimat ini terdapat pada QS An-Nuur ayat 35. Ada dua cahaya yang disebut di sini. Cahaya yang bisa didapatkan ketika pandangan kita terjaga dari maksiat. Cahaya pertama adalah cahaya Allah. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Sehingga ketika cahaya Allah diperkenankan hadir pada hamba-Nya, setiap peristiwa yang dialami oleh sang hamba, selalu mampu mengantarkan untuk bisa merasakan keberadaan Allah.

Cahaya kedua adalah cahaya hati nurani. Jika kita mampu mendengar hati nurani dengan benar, apapun peristiwa yang kita alami selalu mampu mengantarkan kita kembali kepada Allah. Kembali mengingat Allah. Sehingga pada akhirnya hal tersebut mampu mengantarkan kita pada ihsanullah. Segala hal baik tentang Allah. Hingga, saat yang datang kepada kita adalah sesuatu yang menyakitkan pun, yang terasa di hati akhirnya hanya kebaikan Allah saja.

Ketika ayat di atas mampu berjalan baik dalam kehidupan kita, ada korelasi antara cahaya yang ditangkap oleh mata kepala dengan mata hati. Satu-satunya hal yang membuat terputus mata kepala dengan mata hati adalah ketidaktaatan mata kepala yang sering melihat sesuatu yang tak seharusnya. Jika hal ini terjadi, frekuensi antara kedua mata tersebut (mata kepala dan mata hati) menjadi tidak sinkron. Mata adalah indera untuk melihat apa yang bisa dilihat. Jika mata memandang apa yang seharusnya tidak dilihat, maka apa yang didengar oleh telinga akan menjadi kacau.

Berhasil 'mendengar', berarti menyadari segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Dan suara yang memberi tahu kita demikian, selalu berdengung di hati kita. Lantas apa yang kemudian mampu membuat kita mendengar dengungannya? Apa yang sanggup membuat kita memandang hal-hal yang baik saja?

Dzikrullah.

Ya, mataair semua kebaikan adalah dzikrullah. Jika orang mengawali hidupnya tanpa dzikrullah, dia tidak akan sampai kepada tujuannya. Tanpa dzikrullah, tidak akan ada air yang mengalir ke muara, sebab  dzikrullah adalah mataairnya. Maka, apapun yang kita lakukan awali dengan dzikrullah.

Disarikan dari kajian tafsir ayat 35 QS An-Nuur
Ust. Syatori Abdurrauf
Masjid Nurul Ashri 

Selasa, 08 Mei 2018

[Seri Maluku] 4. Pantas Saja Bahagia

 [Mini Infografis] 10 Provinsi Paling Bahagia di Indonesia. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan yang membuat Maluku Utara paling bahagia karena dari sisi makna hidup cukup tinggi, mereka lebih dalam soal memaknai hidup. #GoodNewsFromIndonesia #GNFI  -  https://www.instagram.com/p/BfyHkU6hN3y/
Apa indikasi seseorang betah tinggal di suatu tempat? Mungkin ada yang bilang: jika tiap hari bisa boker dengan lancar, jika segala makanan terasa enak dimakan, jika rasanya tak ingin pulang ke rumah dan lebih suka tinggal di sana. Selain tiga hal tersebut, bagiku indeks kebetahan juga berbanding lurus dengan indeks tawa. Jika rasanya bisa tertawa lepas, sampai nangis, sampai tak tahu lagi sebenarnya apa yang membuat tertawa tapi diri ini bisa tertawa sampai tak bisa berhenti tertawa.... Baiklah, artinya aku betah. Betah dengan orang-orangnya, betah dengan tempatnya.

Tadi kutemukan sesuatu yang menarik di linimasa instagram. Salah satu akun favorit mengunggah sebuah mini infografis. Isinya mengenai provinsi dengan indeks kebahagiaan tertinggi di Indonesia. Saat melihat urutannya, rasanya aku mengamininya. Sebulan di Maluku, dua bulan di Berau -- Kalimantan Timur, seminggu saja di Sulawesi Utara, dan hampir seumur hidup dikurangi beberapa tahun di Jogja. Hanya beberapa lama memang, dan tidak cukup ilmiah sebenarnya sebagai pembanding. Tapi ya, itu yang kurasakan. Tingkat bahagianya beda-beda. Oh ya, satu lagi tempat yang cukup membuat betah: Flores. Sayangnya, dia tidak masuk 10 besar pemilik indeks kebahagiaan tertinggi. Mungkin, Flores memang bikin bahagia. Tapi tak tahu bagaimana keadaan di tempat  lain di provinsi itu yang berada di luar Pulau Flores.

Suatu hari, ketika sudah hampir sebulan berada di Maluku, seorang teman mengirimkan pesan. Bertanya kenapa aku belum pulang ke rumah, dan dia merasa status-status yang kuunggah tampak bahagia ketika berada di sana. Padahal bulan-bulan sebelumnya, status di WA atau IG tak lain berisi sesuatu yang teramat galau. Sampai dia bertanya, "Betah di sana? Enggak mau pulang? Di Jakarta enggak betah padahal." Aku menertawakan pertanyaannya. Bukan karena lucu. Sebab itu adalah kalimat sindiran khasnya. Dia adalah seorang teman yang paham bagaimana tingkat ketidakbetahanku ketika berada di suatu tempat. 

Sampai dia bertanya, "Jakarta sama Maluku, kamu pilih mana?" | "Maluku lah," jawabku | "Maluku sama Jogja, pilih mana?" serangnya | "Enggak bisa dua-duanya ya?" tanyaku. (Aku lahir dan besar di Jogja, tidak bisa jika tidak memilihnya. Kudapatkan pelajaran luar biasa banyaknya selama di Jogja. Tidak tahu mau sampai kapan)

Mengapa ya tempat-tempat itu bisa bikin betah? Kadang aku memikirkan kenapa. Ada banyak kemungkinan. Dan menurutku, tak lebih karena tempat-tempat itu bukan tempat dengan suasana yang terlalu ambisius. Selalu ada jeda untuk tidak terlalu memikirkan harta, harta, harta, dan dunia. Walaupun tidak semua tempat di sana seperti itu (kota-kotanya misal), namun banyak tempat kurang lebih menggambarkan kesahajaan, kesederhanaan, ritme yang santai, keramahan, dan kebersamaan.

Tentang tempat-tempat yang menyenangkan itu, akan kuceritakan kemudian...





Minggu, 15 April 2018

Mengapa Menulis?



Muhidi M. Dahlan dalam bukunya berjudul Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta: Jalan Sunyi Seorang Penulis menuliskan rangkaian kalimat yang bunyinya begini:
“Ingat-ingatlah kalian hai penulis-penulis belia. Bila kalian memilih jalan sunyi ini, maka yang kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis, terus bekerja, dan bersiap hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tak akan berpikir untuk bunuh diri secepatnya.”
Memutuskan menjadi penulis berarti memutuskan untuk siap-siap tidak melulu berkelimpahan harta (meski tidak semuanya).  Ada proses panjang yang dilalui penulis dengan karya-karyanya. Tidak langsung BUM! Muncul sebuah karya sarat makna yang didapat dalam waktu singkat tanpa usaha, tanpa keterlibatan emosi di dalamnya. Penulis, harus terus membaca agar bisa menulis. Membaca buku, membaca tulisan orang lain, membaca lingkungan sekitar, membaca alam, membaca emosi dan pikirannya sendiri. Menulis tanpa membaca adalah suatu omong kosong. 

Penulis yang berhasil menghasilkan master piece-nya, tentu telah melalui proses panjang itu. Membaca, menulis, gagal, membaca lagi, menulis, gagal, membaca, riset, merenung, berpikir.... Sampai pada suatu titik apa yang diulang-ulangnya menghasilkan sesuatu yang memiliki makna dan mencuri hati pembacanya. Bahkan banyak sekali penulis yang harus melalui kepahitan sebelum menghasilkan suatu karya besar. Pramoedya Ananta Toer, Soekarno, Moh. Hatta, Hamka, Ibnu Taimiyah, Sayyid Qutub, Nelson Mandela, menghasilkan karya besar di balik penjara. Fiersa Besari dan Raditya Dika, JK Rowling, menghasilkan master piece setelah patah hati sepatah-patahnya. Banyak yang bilang, kepahitan hidup mampu menciptakan sesuatu karya yang kadang bikin terkagum-kagum. Sepertinya, itu memang benar.

Jika menulis tak semudah itu, mengapa saya terus menulis? Ada dua hal yang membuat saya suka menulis sampai sekarang.

Pertama. Menulis berarti melakukan terapi pada jiwa yang sedang goyah.

Ini berlaku ketika saya sedang merasa sangat sedih, sangat marah, sedang stress, merasa trauma, pun ketika sangat bahagia. Segala emosi itu membuat saya meluapkannya lewat tulisan. Emosi negatif, sedikit-sedikit lenyap bersama tulisan yang selesai saya buat.

Kedua. Menulis membuat saya semakin yakin bahwa Allah itu memang ada, dan cara kerja-Nya benar-benar mengagumkan.

Kadang-kadang saya menulis cerita fiksi. Apa yang biasa saya lakukan sebelum menuliskan cerita fiksi? Saya harus menentukan latar, tokoh, dan tentu saja alur agar cerita yang dibuat nantinya menjadi tampak nyata (meskipun ceritanya adalah cerita fiksi). Tokohnya nanti sifatnya seperti apa, gambaran bentuk fisiknya bagaimana, seperti apa sebaiknya cerita dimulai, nanti ada masalah apa, penyelesaiannya bagaimana. Kadang juga butuh riset agar latar yang dibangun juga kuat.

Dari situ saya berpikir. Baru cerita macam ini saja, ada banyak hal yang harus dipikirkan dan dilakukan. Pemeran utamanya hanya satu tokoh saja, perlu riset yang nggak main-main juga. Bagaimana dengan Allah? yang menuliskan kisah-kisah makhluknya satu per satu. Setiap makhluk menjadi pemeran utama atas kisahnya sendiri. Alur tercipta, jalin menjalin, A ketemu B, B ketemu C, C ketemu A. 

Benda pertama yang dicipta Allah adalah pena. Kemudian dengan pena itu, Dia tuliskan awal sampai akhir dunia. Dia tentukan tokoh-tokohnya, siapa protagonisnya, siapa antagonisnya, siapa tokoh penengahnya. Dia tentukan alur dan masalahnya. Kapan suatu peristiwa terjadi, apa masalah yang melatarbelakanginya, bagaimana kemudian masalah itu selesai, Dia tuliskan itu semua rapi-rapi. Dia mengawali penciptaan dunia dan seisinya dengan menulis di dalam sebuah kitab induk, Lauhul Mahfuz.

Kemudian dari Lauhul Mahfuz, dia tuliskan kitab-kitab samawi, yang kemudian sampai kepada hamba-hambaNya. Lalu, ia minta hamba-hambaNya untuk membaca kitabnya. Iqra!
Ketika dunia berlangsung sampai nanti dunia telah selesai pun, masih ada kitab pertanggungjawaban yang ditulis-Nya. Rapor kita nanti.

Ketika saya menulis, kemudian mengingat itu, yang saya simpulkan adalah: Allah adalah penulis skenario terhebat, dan itu mengagumkan.

Maka saya menulis. Dan saya membaca. Sebab itu adalah salah satu cara terbaik bagi saya, untuk semakin mengagumi-Nya. Dan setiap orang memiliki cara terbaiknya masing-masing.




 

Senin, 09 April 2018

Ramadhan Sebentar Lagi, Keistimewaannya Menjadikannya Dirindukan



Bulan Ramadhan tinggal sebulan lagi! Wah cepat sekali ya. Ada yang masih punya hutang puasa? Jangan lupa dilunasi ya. Sebab, setiap hutang nantinya bakal ditagih, termasuk hutang puasa.

Pasti banyak yang tidak sabar menyambut datangnya bulan Ramadhan. Apalagi bagi yang tinggal di Indonesia, euforia Ramadhan begitu terasa. Atmosfer Ramadhan menjadi begitu berbeda jika dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Bulan di mana peningkatan spiritual menjadi terasa lebih mudah dilakukan oleh umat Islam. 

Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa yang tidak hadir sepanjang tahun. Hanya sebulan di antara 11 bulan lainnya. Mengapa sih Ramadhan menjadi begitu spesial bagi umat Islam? Begitu banyak keistimewaan Ramadhan, yang jika dijabarkan satu per satu dalam satu artikel tidak akan cukup rasanya. Bagi muslim, keistimewaan bulan Ramadhan adalah salah satu alasan mengapa kehadiran bulan ini menjadi dinanti-nanti dan teramat dirindukan. 

Jadi, apa saja sih keistimewaan Ramadhan?

1. Puasa, Ibadah Yang Juga Bermanfaat Untuk Kesehatan

Dalam agama Islam, ada dua macam puasa, yaitu puasa sunah dan puasa wajib. Puasa sunah dilakukan di luar bulan Ramadhan seperti puasa setiap hari Senin dan Kamis, puasa Syawal, puasa Daud, puasa tiga hari di setiap pertengahan bulan Hijriyah dan lainnya. Puasa sebagai ibadah wajib, dilakukan selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Karena wajib, ketika berhalangan melaksanakannya, maka umat Islam diwajibkan mengganti di bulan lain atau membayar fidyah sebagai pengganti.

Puasa, selain dilakukan sebagai ibadah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, juga memiliki faedah lain sebagai senjata terkuat melawan penyakit. Tidak dipungkiri lagi, bahwa kebanyakan penyakit yang muncul, salah satunya diakibatkan oleh makanan. Maka tidak heran jika sebuah hadits menyebutkan bahwa perut adalah "wadah terburuk" yang dimiliki oleh anak Adam.

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa sedikit makan merupakan kemuliaan akhlak seseorang, dan banyak makan adalah lawannya. Sejalan dengan Imam Nawawi, Imam Syafi'i pun mengatakan bahwa kekenyangan (memenuhi nafsu perut dan mulut) menyebabkan badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur, dan lemah beribadah.

Jadi bisa disimpulkan bahwa puasa merupakan salah satu cara untuk mendetoksifikasi tubuh dan menjauhkan diri dari berbagai macam penyakit. Namun, perlu diperhatikan bahwa manfaat itu hanya bisa didapatkan oleh mereka yang melakukan puasa dengan baik dan benar, serta mampu mengontrol diri mengatur kuantitas dan kualitas makanan yang diasup selama waktu sahur dan berbuka. Makan secukupnya, dan jangan berlebihan. Itu lebih baik.

2. Merupakan Bulan Turunnya Kitab Suci

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kitab-kitab suci diturunkan kepada para nabi ‘alaihimussalam di bulan ini. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah [Al-Musnad VI/107] berkata, Abu Sa’id Maula Bani Hasyim telah bercerita kepada kami, ‘Imran Abul ‘Awwam telah bercerita kepada kami, dari Qatadah, dari Abul Malih, dari Watsilah yaitu Al-Asqa’, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أنزلت صحف إبراهيم في أول ليلة من رمضان ، و أنزلت التوراة لست مضين من رمضان و الإنجيل لثلاث عشر خلت من رمضان و أنزل الله القرآن لأربع و عشرين خلت من رمضان
Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada enam Ramadhan, Injil diturunkan pada tiga belas Ramadhan, dan Allah menurunkan Alquran pada dua puluh empat Ramadhan.”
Telah diriwayatkan pula hadits dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Di dalamnya disebutkan, “Bahwasanya Zabur diturunkan pada dua belas Ramadhan dan Injil pada sepuluh Ramadhan.” 
Disebutkan bahwa seluruh kitab suci selain Alquran diturunkan sekaligus kepada para Nabi yang menerimanya. Sementara, Alquran diturunkan sekaligus di Baitul Izzah yang berada di langit bumi yang terjadi di malam Lailatul Qadar. Selanjutnya isi Alquran diturunkan berangsur-angsur kepada nabi penerimanya, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perantara Malaikat Jibril.
Itulah salah satu alasan penting mengapa Bulan Ramadhan menjadi dirindukan. Maka tak ada salahnya jika kamu semakin memperdalam mempelajari Alquran di bulan ini. Ada kebahagiaan dan ketakjuban tersendiri ketika kamu belajar Alquran di bulan ini. Tidak percaya? Coba saja.

3. Amalan Yang Dilakukan Di Bulan Ramadhan Nilainya Berlipat Ganda

Benarkah pahala ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan nilainya menjadi berlipat ganda? Kita baca dulu salah satu hadits di bawah:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Pahala umrah pada bulan Ramadhan menyamai pahala ibadah haji“ (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim), Dalam riwayat Muslim disebutkan “...menyamai pahala ibadah haji bersamaku“

Kita simak juga apa yang dikatakan oleh Ibnu Rajab rahimahullah.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, Abu Bakr bin Abi Maryam menyebutkan bahwa banyak guru – gurunya yang berkata, "Apabila telah datang bulan Ramadhan maka perbanyaklah berinfak, karena infak pada bulan Ramadhan dilipatgandakan bagaikan infak fi sabilillah, dan tasbih pada bulan Ramadhan lebih utama daripada tasbih di bulan yang lain."

Jadi masih ragu untuk memperkaya ibadah di Bulan Ramadhan? Tak perlu ragu. Jika masih memulai, tidak apa jika tidak langsung melakukan ibadah yang rasanya berat untuk dilakukan. Jika belum bisa melakukan umrah di bulan Ramadhan misalnya, kamu bisa memulainya dengan berinfak dengan uang, tenaga, atau waktu yang kamu punya. Seperti mempersiapkan takjil untuk orang lain yang sedang berpuasa contohnya. Bukankah nilai pahala orang yang memberi makan untuk berbuka orang lain yang sedang berpuasa itu setara?

4. Bulan Penuh Ampunan, Rahmat, dan Hidayah


Setiap manusia memiliki tingkat fujur dan takwanya masing-masing, sehingga sangat tidak mungkin manusia tidak pernah berbuat kesalahan selama hidupnya. Namun, meskipun dosa seorang manusia teramat banyak, bahkan sampai langit dan bumi tak mampu menampung dosanya saking banyaknya, apabila manusia sungguh-sungguh memohon ampun pada Allah SWT, Allah akan mengampuninya.

Maka, Allah sangat menantikan para hamba-Nya datang kepadanya kemudian bertaubat dan memperbaiki diri. Untukmu, yang secara sadar mengakui bahwa dosa-dosanya telah bertumpuk, untukmu yang sedang gamang terhadap kehidupan, untukmu yang sedang merindukan ketentraman, berhentilah sejenak. Mungkin yang kamu perlukan hanyalah menghadap Tuhan.

Dalam hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman :
يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَادَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ فِيْكَ وَلاَأُبَالِىْ يَاابْنَ آدَمَ لَؤْ بَلَغَتْ ذُنُوْ بُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أََتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai bani Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak akan peduli; Wahai bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli; Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan seukuran bumi kemudian engkau datang menjumpai-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik atau menyekutukanKu dengan apapun juga, maka sungguh Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan seukuran bumi juga. [HR. at-Tirmidzi]

Jika di luar bulan Ramadhan, Allah mengampuni hamba-hambaNya tanpa terkecuali, Ramadhan menjadi lebih istimewa lagi. Ingat kan? Kala Ramadhan datang, pintu surga dibuka selebar-lebarnya, dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya. Maka inilah waktu yang tepat untuk berdoa sebanyak-banyaknya dan memohon ampun dengan kesungguhan yang teramat sungguh.

Ya Allah pertemukan aku dengan Ramadhan, dan pertemukanlah Ramadhan denganku, dan jadikan amal ibadahku di bulan itu diterima di sisi-Mu. Aamiin.

Pustaka
1. Fujur dan Takwa Menurut Mutakalimun
2. Meraih Ampunan Allah Al-Ghafur di Bulan Ramadhan yang Mulia 
3. Ramadhan Bulan Alquran
4. Pengaruh Puasa Ramadhan pada Beberapa Kondisi Kesehatan 
5. Perut Adalah Wadah yang Buruk, Sumber Penyakit
6. 10 Keutamaan dan Keistimewaan Bulan Ramadhan
pict from pablo.buffer.com

Sabtu, 24 Februari 2018

Ketika Pelakor Hadir Dalam Keluarga



Sekitar beberapa tahun ke belakang, publik semakin akrab dengan istilah pelakor. Pelakor merupakan akronim dari perebut lelaki orang. Istilah ini mulai viral di dunia artis ketika kasus salah satu pemain peran dituduh menjadi wanita simpanan dari seorang lelaki pengusaha kaya raya. Ada pergeseran istilah dalam menyebut wanita simpanan di sini. Jika dulu selingkuhan dari seorang lelaki disebut dengan istilah WIL (Wanita Idaman Lain), kini perempuan yang main belakang dengan suami orang diistilahkan sebagai pelakor. Kesannya, di sini wanita yang lebih agresif merebut suami orang. Sehingga di benak publik, wanitalah yang bersalah atas suatu hubungan perselingkuhan jika memakai istilah pelakor ini. Fiersa Besari, seorang penulis, berpendapat dalam salah satu status media sosialnya, bahwa istilah pelakor kurang tepat disematkan untuk suatu kasus perselingkuhan. Sebab, perselingkuhan hanya terjadi ketika ada persetujuan dari dua belah pihak. Jika hanya salah satu pihak yang menyetujui, perselingkuhan sebenarnya tak akan terjadi.

Baru-baru ini, publik kembali dikejutkan dengan kasus pelakor yang tiba-tiba menjadi viral dan langsung menjadi trending topic di twitter. Bu Dendy namanya, seorang wanita muda yang videonya tersebar luas di media sosial. Dalam video rekaman itu, tampak Bu Dendy sedang melabrak seorang wanita yang diduga adalah pelakor. Yang bikin warganet takjub adalah, Bu Dendy memarahi seorang sahabatnya yang dituduh menjadi pelakor sambil melemparkan uang ratusan ribu berlembar-lembar. Itulah yang kemudian memantik kreatifitas para warganet yang kemudian membuat meme beraneka ragam dari momentum tersebut.

Tahun 2017 merupakan tahun hits di mana kasus para pelakor terkuak di hadapan publik. Para istri sah semakin berani menguak kebusukan suami-suami mereka juga para pelakornya ke hadapan publik. Media sosial menjadi tempat curhat sehingga banyak yang bersimpati dan membuat para pelaku perselingkuhan ini semakin malu.

Jika dulu, saat terjadi perselingkuhan mungkin hanya tetangga kanan kiri saja yang tahu, kini seantero nusantara bisa tahu siapa berselingkuh dengan siapa jika kasus itu terbuka di muka publik (baca: di media sosial). Memang, hal tersebut bisa menjadikan jera para pelaku perselingkuhan. Namun, tak sedikit pelaku perselingkuhan yang malah menjadi-jadi dan masa bodoh atas berita yang mencatut nama mereka. Lalu efek samping yang tak disadari oleh publik adalah, publik tidak memikirkan keadaan psikis anak-anak yang orangtuanya berseteru akibat berselingkuh dan perselingkuhannya terbuka ke hadapan publik.

Hadirnya berbagai platform media sosial mempermudah penyebaran informasi. Bukan hanya informasi positif. Banyak juga informasi negatif yang dengan mudahnya menjadi trending topic. Salah satunya adalah informasi mengenai pelakor yang sangat hangat dibicarakan setahun terakhir ini.

Berselingkuh bukanlah hal baik. Namun ketika perselingkuhan sudah terlanjur terjadi, orangtua perlu memikirkan bagaimana masalah mereka tersebut tidak menimbulkan trauma berkepanjangan pada anak. Kebanyakan anak akan mendapatkan dampak buruk dari masalah perselingkuhan orangtuanya. Meminimalisir dampak yang ditimbulkan akan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Beban mental bagi anak yang memiliki orangtua berselingkuh saja sudah berat, apalagi jika perselingkuhan yang dilakukan sampai tersebar luas di media sosial. Dampak yang ditimbulkan untuk anak bisa beraneka macam. Kehilangan rasa percaya diri, kehilangan kepercayaan pada orang lain, takut menjalin hubungan intim dengan pasangan ketika dewasa, kecemasan berlebihan, memantik jiwa pemberontak anak, kehilangan teman-temannya yang akhirnya memandang sebelah mata terhadapnya, sampai terjadinya upaya bunuh diri pada anak.

Biarpun berselingkuh adalah hal buruk, sebaiknya orangtua mampu menahan diri jika membicarakan hal sensitif ini di depan anak. Sebisa mungkin, orangtua tidak melibatkan anak-anak mereka ketika memiliki masalah dengan pasangan. Sebab, anak akan merekam apa yang pernah dilakukan orangtuanya, kemudian sebagian akan mengkopi perbuatan tersebut. Memburuk-burukan pasangan di depan anak juga hanya akan membuat anak membenci salah satu pihak orangtua. Padahal, kedua-duanya adalah orangtua kandung yang harus dihormati.


#WriterFighterJogja
#OneWeekOnePost

sumber gambar dari sini

Rabu, 21 Februari 2018

Bagaimana Anak-Anak Generasi Z Mempelajari Alquran?

Generasi yang terlahir dalam periode waktu antara tahun 1995 sampai 2010 merupakan keturunan dari Generasi X dan Generasi Y. Jika Generasi X dan Y merupakan para imigran di dunia digital (digital immigrants), yang dituntut untuk melek teknologi ketika mereka semakin beranjak dewasa, maka generasi Z merupakan generasi yang begitu lahir sudah disuguhi aneka macam teknologi. 

Generasi Z sudah sangat mahir menguasai berbagai macam teknologi digital bahkan ketika usia mereka masih balita. Ketika masih dalam perut ibu pun, mereka sudah didekatkan dengan aneka macam peralatan digital. Budaya mengasuh anak-anak generasi Z tidak bisa dipungkiri, sangat jauh berbeda dengan pola asuh orangtuanya yang terlahir sebagai generasi X dan generasi Y. Kini, anak rewel lebih sering dihibur dengan smartphone daripada diajak main dengan teman-temannya. Karena teman-temannya pun sama, lebih senang dengan teknologi yang dimiliki masing-masing. Apalagi, bagi anak-anak yang tinggal di kota-kota besar dengan orangtua yang memiliki tingkat kesibukan tinggi dan tingkat sosialisasi dengan lingkungan sekitar yang sangat kurang. Sehingga, generasi Z ditengarai sebagai generasi yang memiliki tingkat individualisme lebih tinggi dibanding generasi-generasi sebelumnya. 

Generasi Z atau generasi post-milenial memiliki tingkat kecerdasan mempelajari banyak hal baru yang diakui berbeda jauh dengan generasi-generasi sebelumnya. Generasi Z mampu dengan mudah menguasai banyak hal dalam waktu singkat. Kemampuan multitasking generasi Z tentu tidak diragukan lagi. Namun akibatnya generasi Z menjadi sulit fokus dalam satu hal karena apa yang mereka pikirkan cenderung bercabang.

Lalu bagaimana dengan Generasi Z muslim yang notabene memerlukan pendidikan islami sejak dini?

Karakteristik generasi post-milenial ini menjadi tantangan sendiri bagi pesantren. Berbeda dengan para santri zaman old yang betah mondok selama belasan bahkan puluhan tahun, generasi post-milenial cenderung memilih pendidikan di sekolah dan daerah yang berbeda-beda, karena mereka lebih terbuka kepada hal baru. Mereka ingin mendapat jaringan lebih luas dan pengalaman lebih banyak.

Namun sayang, berlama-lama mondok dan istiqomah yang diyakini mampu menembus kematangan dan keberkahan ilmu tidak lagi diminati oleh generasi Z ini. Dengan metode “melahap semua ilmu agama” yang diterapkan, pesantren akan kesulitan melahirkan para santri generasi post-milenial yang mampu menjadi pakar suatu bidang ilmu dengan rentang waktu mondok yang singkat (Fera Rahmatun Nazilah, islami.co)
Semakin banyak kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi dalam mempelajari ilmu agama, salah satunya mempelajari Alquran. Terdapat pergeseran metode generasi Z dalam mempelajari Alquran. Dahulu metode klasikal menggunakan mushaf fisik  di pesantren-pesantren atau di kelas-kelas tertentu tentu lebih efektif dibandingkan sekarang. Kini, cara belajar anak-anak generasi Z tentu tak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya yang belum terpengaruh oleh pesatnya perkembangan teknologi. Dahulu, belajar di kelas dalam jangka waktu lama bisa dilakukan oleh anak-anak karena belum ada smartphone di tangan. Belum ada platform sosial media yang lebih menggoda sehingga anak-anak lebih mudah fokus belajar di kelas dan mampu fokus terhadap apa yang diajarkan oleh guru di depan kelas.

Ali bin Abi Thalib, r.a pernah berucap, "Wahai kaum muslim, didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu." Ungkapan ini masih sangat relevan diterapkan sampai sekarang. Anak-anak di masa kini lebih suka mempelajari sesuatu sedikit-sedikit namun bermacam-macam dibanding fokus dalam satu hal saja. Anak-anak di masa kini lebih tertarik kepada aspek visual yang dikemas secara apik dan menarik daripada duduk lama-lama sembari mendengarkan guru berbicara di depan kelas.

Memang, semakin lama, cara mempelajari Alquran semakin mudah dengan adanya teknologi. Anak-anak kecil sudah bisa memulai menghafal Alquran dengan mudah lewat berbagai medium yang tersedia. Hafidz doll, flash card, mushaf for kids, playpad, Alquran digital, hanyalah sedikit dari banyak alat yang kini dapat dengan mudah ditemui di pasaran. Rumah-rumah tahfidz pun semakin menjamur sampai ke pelosok negeri. Beraneka rupa grup belajar secara daring juga semakin banyak dan semakin mudah ditemukan. Sehingga sebenarnya tidak ada alasan bagi anak-anak muslim untuk tidak bisa mempelajari Alquran. Hanya saja, kemudahan yang tersedia juga berbanding lurus dengan tantangan yang ada. Semakin banyak kemudahan yang ditawarkan, semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi. Media sosial yang semakin bebas, situs porno, game online, aplikasi smartphone yang semakin sulit dipilah, dipilih, dan dibendung keberadaannya. Ditambah, perang pemikiran kini juga semakin terbuka. Maka menjadi orangtua untuk para generasi Z, generasi alpha, dan generasi-generasi sesudahnya jelas akan menjadi semakin menantang. 

#WriterFighterJogja
#OneWeekOnePost

Jumat, 09 Februari 2018

Jangan Bersedih



Sama seperti kemarin sore, langit di sebelah utara kembali gelap. Berkali-kali kilat membelah langit yang tertutup mega-mega mendung. Senja bersembunyi. Tak ada merah, tak ada jingga, tak ada ungu. Langit kelabu. 

Lembaran kertas berhamburan di atas meja kayu panjang. Aku terburu-buru membereskannya. Memasukkannya tergesa ke dalam tas. Disusul laptop yang akhirnya kumatikan. Tas menutup rapat. Langit sebelah utara makin gelap. Dapat kulihat dari jendela-jendela kaca yang dipasang memanjang, menyajikan pemandangan rumput menghijau di bawah, sekaligus menghamparkan apa yang dikabarkan oleh langit di atas sana.

Aku masih tergesa. Berjalan menyusuri lorong-lorong lebar sebuah gedung lima lantai. Di depan lift, tombol turun kupencet tak sabar. Lama. Aku terburu-buru. Ah lewat tangga saja. Otakku memberikan usulan demikian. Kakiku sigap menanggapi. Dia melangkah menjauh dari lift. Menuju tangga.

Masih saja tergesa. Agak berlari kecil, aku menuruni lantai demi lantai dari lantai lima. Fiuh, ngos-ngosan juga napas ini. Efek tak pernah berlatih kardio selama beberapa bulan terakhir. Gara-gara tujuh kata yang hampir membikin putus asa: skripsi.

Aku teringat pembicaraan setahun lalu. Saat aku sedang benar-benar tak ingin mengerjakan apa-apa. Lala, teman sekelasku SMA bertemu denganku di saat yang tepat. “Kerjakanlah itu tugas akhirmu,” dia melempar bantal ke arahku.

Lala mengunjungiku tepat setahun lalu. Mengantarkan barang pesanan mama. Satu set taplak meja makan yang diproduksinya. Lala pengusaha muda yang memulai usahanya sejak lulus SMA. Dia terlalu ulet dan sabar menjadi pengusaha. Selain laris, Lala dicintai pelanggan. Dia sangat menjaga kepercayaan, juga teramat ramah pada siapa saja. Pantas, dia juga masih awet menjadi teman baikku sampai sekarang.

“Lama-lama lelah juga ternyata,La. Mana setahun lagi aku terancam drop out kalau tak bisa menyelesaikan urusan satu ini. Argh!” aku melemparkan bantal yang dilemparkan Lala. Entah kulempar ke mana. Aku menarik gulingku, menutupi muka rapat-rapat dan bergumam pelan, “Boleh enggak sih direlakan aja?”

Seketika ekspresi Lala terkejut, tidak terima. “Maksudnya? Nggak mau menyelesaikan tugas akhir?!” Lala melotot ke arahku.

Enggak dosa kan ya? Kalau aku mundur?” badanku meringsek turun, membuang guling yang menutupi mukaku. Sekarang aku duduk di samping dipan. Mendekat pada Lala yang sedang membuka-buka selebaran yang didapatkannya kala berhenti di perempatan lampu merah sana.

“Itu pilihanmu sih,” Lala tampaknya tak ambil pusing soal perkataanku, “Tapi ya, kamu berani memulai masak iya, enggak berani menyelesaikan?”

Aku mendesis pelan.

“Ya ini masalah tanggung jawab aja sih. Tanggung jawab ke banyak hal. Tanggung jawab ke orang tuamu yang kepengin banget anaknya jadi sarjana. Tanggung jawab  ke beasiswamu. Tanggung jawab ke dirimu sendiri. Yang terpenting sih ini...,” Lala menyodorkan selebaran yang sedari tadi dibolak-baliknya. Ia menunjuk-nunjuk satu kalimat mutiara yang menghiasi bagian belakang selebaran.

Setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya. Jangan bersedih, Allah bersamamu.

***

Jangan bersedih, Allah bersamamu.

Aku memelankan langkah. Napasku semakin ngos-ngosan tak karuan. Kurang dua lantai lagi. Padahal aku terburu-buru. Waktu mungkin juga sedang memburu-buru. Waktu tidak menyediakan jeda bagi seorang pemalas, seperti aku.

Langit di luar kini gelap. Mendung di sisi utara sudah berpindah kemari, cepat sekali. Mungkin kilat juga ikut hadir di sini. Angin yang semula sepoi-sepoi berubah menjadi semakin kencang. Beberapa pohon merunduk-runduk didorong angin keras-keras. Banyak tangkai patah, daun-daun beterbangan. Air mulai menetes-netes dikeluarkan awan yang kelebihan muatan. Awalnya gerimis, lalu mendadak deras sekali.

Tapak kakiku sudah sampai di lantai dasar. Tepat di depan pintu keluar, hujan tertumpah ruah. Aku menghentikan langkahku, mendesah kecewa. Tapi hujan tak boleh dicaci maki. Mencaci maki hujan, sama saja artinya dengan mencaci maki Tuhan. Mencaci maki rezeki yang dengan baik hati dikeluarkan oleh Allah, Tuhan Semesta Alam.

Aku kemudian memilih duduk di kursi panjang yang terletak di dekat pintu keluar. Beberapa orang yang urung keluar juga memilih duduk di situ. Suara-suara hujan mengalahkan suara-suara obrolan orang. Mungkin ini saatnya mengobrol bersama hujan. Meresonansikan kenangan.
***
         

Setahun yang lalu, aku merasa hidupku berubah.

Orang bilang aku terlalu patah hati. Seorang lelaki yang telah menjanjikan banyak hal kepadaku nyatanya tidak berjodoh denganku. Orang-orang merasa kasihan kepadaku, lalu menghiburku.

Kalau aku bilang aku tidak sedih, maka aku berbohong. Aku sedih. Iya. Siapa yang tak sedih saat hal yang sama terjadi pada diri mereka. Jadi tampaknya aku memang patah hati. Dulu. Tapi kini aku berbahagia.

Rumi pernah menuliskan pada salah satu sajaknya. Luka adalah tempat di mana cahaya memasukimu. Dia benar.

Beberapa waktu lamanya, sejak setahun yang lalu, aku mengurung diri. Aku malas ketemu siapa pun, aku malas memercayai siapapun,  aku malas melakukan apapun, termasuk menyelesaikan tanggung jawab terakhirku di kampus. Skripsi.

Hanya Lala yang rutin mengunjungiku setiap pekan. Kadang bertemu mamaku, membicarakan bisnis yang sedang mereka bangun bersama. Sering, setelah urusan mereka selesai, Lala mengunjungiku di kamar. Kami mengobrol, tentang apapun. Tapi, Lala tak pernah sedikitpun menyinggung tentang apa yang membuatku sedih. Lala tak pernah berkomentar tentang masalah pribadiku. Aku menyukainya.

Lala kadang membagikan bacaan-bacaan menarik buatku. Bacaan yang dulunya kupandang sebelah mata. Tentang agama, tentang sejarah para nabi,  tentang cara menjadi wanita yang baik, tentang kehidupan dan kematian, sampai kehidupan sesudah mati. Kemudian, cahaya itu masuk, sedikit demi sedikit.
***


sumber gambar dari sini

Hujan lama-lama reda. Aku bersegera menuju parkiran motor. Setahun lalu, lewat seorang Lala, aku mulai jatuh cinta pada sesuatu. Sesuatu yang mampu menenangkan, kapan saja, di mana saja.

Lala memberikan sebuah buku lama yang kulupakan. Kitab akhir zaman, Alquran. Bersama buku yang diberikannya itu, Lala menyelipkan sebuah kertas dengan tulisan singkat di atasnya. 


Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpakan pedihnya pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia, maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya (Imam Syafi’i).

Hatiku bergetar mengingat itu. Aku menyalakan mesin motor. Sejak saat itu, aku mencoba jatuh cinta pada surat cinta yang dikirimkan oleh-Nya. Dia mengizinkannya. Dia mengumpulkanku bersama orang-orang yang merasakan hal serupa. Seperti sore ini, Dia mengumpulkanku di sebuah kelas tahsin Alquran bersama orang-orang baik.

Berita baiknya lagi. Pekan depan aku ujian sidang skripsi.

Jangan bersedih, Allah bersamamu.
[selesai]

Tulisan ini diikutsertakan pada kompetisi blog menulis cerita pendek yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena
kunjungi linknya di sini
#WiFiJogja
#OneWeekOnePost

Sabtu, 03 Februari 2018

Dia Yang Memilih Pembacanya


"Pernahkah kalian merasa, bahwa sebenarnya Alquran  memilih pembacanya?"

Ya, pernahkah kalian merasakannya?
Seorang kawan menyampaikan kalimat itu suatu waktu. Aku belum merasakannya ketika itu. Aku masih menganggapnya sebagai buku biasa. Semua bisa membacanya. Terjemahannya sudah ada, lengkap dengan bahasa aslinya ketika dia diturunkan berabad-abad tahun lalu, Bahasa Arab. Anak-anak di luar tanah Arab yang sejak kecil mulai mengeja huruf-huruf hijaiyah, melafalkan huruf demi huruf, membacanya dalam Bahasa Arab, mempelajari tajwid dengan baik dengan benar, kemudian menjadi lancar membacanya, lalu mengetahi artinya. Kukira itu sudah sangat cukup.

Ternyata, tidak sesederhana itu. 
Semua orang mungkin pandai membacanya. Membaca aksara-aksara hijaiyahnya, membaca artinya, melafalkan huruf-hurufnya dengan baik dan benar, bahkan banyak yang pandai menghafalnya. Tapi, tak semua merasa betah ketika membacanya berlama-lama, tak semua paham apa yang dibaca, tak semua mampu membawa ayat-ayatnya ke dalam dirinya sendiri secara menyeluruh. Menyeluruh, tak sekadar ucapan dan pemikiran semata. Menyeluruh, sampai pada tindak-tanduknya yang sederhana terpengaruh sekali oleh apa yang dituliskan Sang Penulis buku ini.

Ini bukan buku biasa. Dia punya efek candu. Dia jatuh cinta pada pembaca yang jatuh cinta kepadanya. Dia mampu membedakan mana orang berhati bersih, mana yang bukan. Apa yang tertulis dalam dirinya, hanya mampu dipahami secara tepat oleh orang-orang berhati bersih. Orang-orang yang bisa merasakan efeknya, hanya mereka yang benar-benar memercayai-Nya, memercayai apa yang dituliskan-Nya dalam surat cinta yang diturunkan terakhir ke bumi. Surat cinta, sekaligus buku manual "Bagaimana Cara Selamat Dari Dunia Menuju Rumah Terakhirnya".

Belum lama aku memahami apa maksud kalimat yang dilontarkan kawan tadi. Alquran memilih pembacanya. Dia tidak bisa 'dibaca sampai ke hati' oleh orang berhati kurang baik, oleh orang yang terlalu banyak melakukan hal-hal tak baik.

Percayakah? Ketika aku melakukan banyak kemaksiatan, rasanya sulit sekali membacanya. Menyentuhnya saja sulit. Jangan tanya soal menghafal. Hafalan baru tak masuk-masuk, hafalan lama lenyap begitu saja. Dia memilih pembacanya. Hanya orang-orang berhati baik yang mampu memahami ayat-ayatnya sampai ke hati, lalu menyalurkannya dalam tindakan. 

Alquran memilih pembacanya. Hanya orang-orang berhati bersih, hanya orang-orang yang percaya kepada Allah yang mampu memahaminya secara utuh dan benar. Sedikit saja rasa percaya itu terbersit dalam hati seseorang, Alquran akan memberi petunjuk lebih banyak dari apa yang ia yakini. Semakin bertambah rasa percaya dalam hati seseorang, semakin banyak petunjuk yang diberikan oleh Alquran yang dapat ia temukan.

Alquran memilih pembacanya. Orang yang akhirnya jatuh cinta kepadanya, akan dibalas cintanya olehnya. Ia akan menemani di saat sulit, ia akan menemani bahkan sampai ke liang lahat, ia akan menemani perjalanan selanjutnya di negeri akhirat.

Alquran memilih pembacanya. Yang bersungguh-sungguh kepadanya, ia juga akan bersungguh-sungguh pada orang tersebut.

Alquran memilih pembacanya. Hanya orang berhati baik yang mampu memahaminya.

Sumber gambar dari sini

Jumat, 02 Februari 2018

Masihkah Radio di Hati?



Apa yang beda dari cara menikmati musik masa kini dengan masa lalu? Generasi milenial pasti sangat tahu perbedaannya. Mereka yang lahir di antara tahun 1977 - 1994 mengalami masa transisi dari teknologi jadul sampai teknologi canggih masa kini. Mereka pernah merasakan bagaimana serunya menggunakan telepon genggam berantena sebesar ulekan yang bisa digunakan untuk melempar anjing nakal. Generasi milenial juga merasakan transformasi telepon genggam menjadi berukuran lebih mini dengan gambar hitam putih dan bunyi yang masih poliponik, sampai sekarang berakhir menjadi telepon genggam multifungsi yang tak hanya digunakan sebagai media telepon atau bertukar pesan saja. Lebih dari itu, telepon genggam yang kini disebut sebagai telepon pintar atau smartphone kini menjadi barang yang sulit dipisahkan dari keseharian. Salah satunya menjadi alat untuk menikmati musik dengan cara yang lebih modern.

Awal abad ke-20, menikmati musik memerlukan 'alat berat' semacam piringan hitam yang harus diputar dengan alat berupa gramafon. Setelah tahun 1970, piringan hitam berubah menjadi kaset pita, sementara gramafon berevolusi menjadi tape recorder. Bentuk yang lebih modern dari tape recorder kala itu ada walkman. Generasi 80an dan 90an adalah generasi yang merasakan betapa kerennya seorang remaja yang memiliki walkman yang bisa dibawa ke mana-mana. Koleksi kaset pita pada masa itu pun menjadi kegiatan yang teramat menyenangkan. Setelah tahun 1990, teknologi berkembang semakin cepat. Kaset pita kemudian digantikan oleh piringan compact disk, kemudian dengan cepat berubah menjadi media digital MP3. Hingga kini, semua musik dapat diputar melalui smartphone.

Tapi, di luar benda-benda pemutar musik tadi, ada satu cara menikmati musik yang masih sama dari dulu hingga sekarang yaitu, lewat radio! Walaupun secara fisik radio juga mengalami transisi tak jauh beda dengan piringan hitam dengan gramafonnya, tapi cara mendengarkan musik melalui dari radio tak mengalami banyak perubahan. Radio masih menyenangkan untuk digunakan sebagai media mendengarkan musik sembari berinteraksi dengan manusia lain. Ya, radio tak hanya digunakan untuk mendengarkan musik sendirian. Ada komunikasi antar manusia di dalamnya.

Ada keseruan ketika menanti penyiar favorit siaran dan mendengarkan suaranya misalnya. Atau menanti acara-acara radio tertentu untuk berkirim salam pada orang yang disukai. Atau menantikan acara curhat di stasiun radio tertentu dan berharap cerita curhatnya dibacakan oleh si penyiar. Atau tak sabar menanti kelanjutan drama radio yang ceritanya sulit ditebak setiap episodenya. 

Sampai sekarang pun, radio masih seperti itu, meskipun cara mendengarkannya sangat berbeda dengan masa lalu. Radio kini tak hanya diperdengarkan melalui radio tape saja. Pendengar radio masa kini memiliki fleksibilitas untuk mendengarkan radio. Nielsen Radio Audience Measurement (Nielsen RAM) memperlihatkan data yang cukup mencengangkan. Jika banyak orang mengira radio akan kehabisan pendengar seiring semakin banyak platform pemutar musik masa kini, data yang ditunjukkan oleh Nielsen RAM mengatakan sebaliknya. Dari tahun 2014 sampai 2016, waktu mendengarkan radio semakin bertumbuh. Generasi milenial menjadi pendengar utama radio sampai saat ini.

Jadi, masihkah radio ada di hati pendengarnya sampai saat ini? Tentu saja.

sumber gambar dari sini


#Artikel
#OneWeekOnePost
#WriterFighterJogja

Kamis, 01 Februari 2018

Mengakhiri Januari





Buat saya, Januari sering membawa berita-berita muram. Termasuk, Januari tahun ini. Pekan terakhir bulan Januari saya tahun ini berakhir dengan cerita-cerita yang bikin patah hati dari beberapa teman. Cerita-cerita yang muncul berurutan setiap hari. Cerita yang cukup membuat saya mengerutkan kening, terkejut, keheranan, takjub, tak habis pikir, rasa yang tak bisa digambarkan dengan apapun juga.

Kebanyakan berita muram itu adalah berita menyoal cinta-cintaan. Ada yang akhirnya tidak dipilih setelah dia sudah siap terhadap jenjang yang lebih serius. Ada yang sedang bercerai. Ada yang diselingkuhi pasangan sahnya. Ada cerita tentang permainan ilmu hitam demi mendapatkan seseorang. Hem, detail cerita-cerita tadi tidak akan saya ceritakan di sini. Bisa jadi nanti justru menjelma menjadi cerita fiksi. 

Saya tidak tahu apa maksud kemunculan cerita-cerita itu kepada saya di saat yang berurutan. Cerita-cerita yang meluncur langsung dari pelaku utama kepada saya. Bisa jadi, sebagai pengingat atas ketidakpastian di masa depan. Bukankah yang pasti itu hanya ada sejengkal di depan mata? Lebih dari sejengkal, itu adalah teritorial milik ketidakpastian. Bisa jadi juga, cerita-cerita tadi didatangkan kepada saya untuk dituliskan ke dalam bentuk lain, entah apa faedahnya nanti. Seperti yang saya sebutkan tadi. Bisa jadi cerita-cerita yang saya dengarkan adalah inspirasi terciptanya cerita fiksi yang teramat dramatis nantinya.

Saya tidak akan menuliskan detail cerita-cerita tadi. Namun, saya akan menuliskan beberapa poin penting yang muncul sebagai pengingat untuk saya pribadi (syukur-syukur untuk para pembaca juga).

Poin pertama. Orang yang dizalimi doanya mudah terkabul. Meski doa yang terlantun adalah doa buruk. Meski yang terlantun sebenarnya hanya kata-kata yang tiba-tiba terbersit di kepala orang yang dizalimi, tanpa meniatkannya menjadi doa. Hati-hati terhadap orang yang dizalimi dan belum memaafkan sampai ke hati. Memaafkan lewat mulut memang mudah, memaafkan sampai ke hati adalah urusan yang teramat panjang prosesnya. Ia butuh ilmu ikhlas. Dan ilmu ikhlas bukan ilmu yang mudah dicari, juga bukan ilmu yang mudah untuk dipraktekkan oleh hati.

Poin kedua. Mana yang lebih menyedihkan? Dizalimi atau menzalimi? Jawabannya adalah menzalimi. Orang yang dizalimi hanya sakit sesaat saja. Orang yang dizalimi doanya sudah dijamin diijabah oleh Sang Pengabul Doa. Tak ada penghalang antara ia dengan Tuhannya. Orang yang menzalimi orang lain, akan berakhir menyedihkan. Balasan sesuai dengan amal perbuatan. Yang zalim, akan berakhir menyedihkan. Termasuk, zalim pada diri sendiri.

Poin ketiga. Jangan keterlaluan mencintai sesuatu, jangan keterlaluan menyayangi sesuatu. Jangan menomor satukan yang seharusnya bukan nomor satu. Siapa yang seharusnya menjadi nomor satu? Allah.

Poin keempat. Ketika sudah merasa tak ada jalan keluar lagi. Setelah usaha lahir batin benar-benar telah dilakukan. Buntu di mana-mana. Apa yang dilakukan? Pasrah. Lepaskan. Yang tersisa untukmu, itulah sebenarnya bagianmu.

Januari tahun ini masih membawa berita muram. Namun bersama kesulitan ada kemudahan. Kemuraman kali ini hendak menyuguhkan kebahagian yang membersamai. Bersama Februari mungkin. Atau Maret. Atau April. Atau Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Masih ada waktu panjang. Semoga ya.

[Seri Maluku] 3. Bukan Catatan Perjalanan




Lawamena Haulala sebenarnya adalah nama yang disematkan untuk tim pengerjaan peta ekosistem pesisir di daerah timur Indonesia. Inspirasi namanya entah dari mana. Sepertinya, dari semboyan TNI wilayah Maluku.

Saat pembagian awal tim survey, seharusnya aku ditempatkan di Maluku bagian utara, daerah Halmahera dan sekitarnya. Seharusnya begitu. Beberapa kali formasi tim diganti-ganti. Atas pertimbangan terakhir, aku akhirnya terlempar ke Maluku bagian tengah. Alasan mengapa aku akhirnya dilempar ke Maluku bagian tengah adalah, aku mendaftar PNS yang jadwal ujiannya tak hanya sekali dengan jadwal ujian yang masih belum jelas. Akses Maluku bagian tengah katanya lebih mudah. Maka, aku ditempatkan di situ bersama personel lain yang memiliki masalah serupa. Meski pada akhirnya, kawan-kawan satu timku termasuk aku, tidak ada yang jadi mengikuti ujian.

Seharusnya juga, aku masuk ke dalam tim mangrove. Sebab, sejak awal pengerjaan proyek, aku adalah anak mangrove. Namun suatu hari, aku ditanyai, "Kamu bisa berenang atau enggak?"
Aku jawab, "Bisa dikit. Dikit banget. Renang ngawur."
"Pernah snorkelling kan?" aku ditanya lagi.
"Ya pernah. Gimana emang?"
Jawaban itu membuatku berakhir di kumpulan tim terumbu karang.
Jadi, apakah selanjutnya aku akan menceritakan perjalananku selama bekerja -- yang lebih tepatnya disebut liburan-- di Maluku bagian tengah?

Sebenarnya, tidak tepat jika aku menyebutnya sebagai catatan perjalanan. Tulisan-tulisanku selanjutnya tidak akan bercerita tentang aku pergi ke mana saja, itinerarynya seperti apa, review tempat wisatanya bakal seperti apa, atau foto-foto indah di sana seperti apa. Sudah banyak orang lain yang lebih ahli membahas tuntas tentang itu semua.

Sebenarnya pula, sebelum berangkat ke Maluku, aku pernah berkeinginan untuk tidak menuliskan apapun tentang perjalananku di sana. Tujuan utamaku waktu itu adalah: aku ingin merenung. Aku ingin bersembunyi dari sosial media dan hal-hal lain yang waktu itu menjadi sesuatu yang kadang terasa memuakkan bagiku. Aku ingin bisa memaafkan diriku sendiri. Aku ingin meyakinkan hati atas keputusan yang kuambil pada tahun itu. Untuk itu, sepertinya aku butuh pergi jauh dari rumah untuk sementara waktu. Lawamena Haulala memberikan fasilitas itu pada waktu yang teramat tepat.

Jadwal yang dibikin Tuhan memang selalu tepat. Lauhul Mahfuz pun telah tertulis demikian.

Satu rangkaian kalimat yang masih dan akan terus aku yakini sampai sekarang adalah: tidak ada yang kebetulan di dunia ini! Bahkan soal siapa orang-orang yang kutemui, tempat-tempat yang kusinggahi, kapan aku kentut, kapan aku tertawa, hal seremeh itu telah dituliskan rapi-rapi sebelumnya. Termasuk, mengapa pada akhirnya aku berubah pikiran atas banyak hal. Salah satunya untuk mengunggah tulisan-tulisan tentang perjalanan kemarin di blog ini, itu sudah ditulis rapi-rapi juga oleh Sang Sutradara Alam Semesta.

Maafkan jika pada akhirnya rangkaian tulisan tentang Seri Maluku terkesan menjadi tulisan curhatan semata. Aku juga belum tahu apa manfaat tulisan-tulisanku nanti untuk orang lain. Aku hanya ingin menulis saja.

Apakah akhirnya aku berhasil memaafkan diriku sendiri di sana?
Ah sudah, baca saja. Baca pakai cinta.

Baca juga: [Seri Maluku] 1. Lawamena Haulala

Baca juga: [Seri Maluku] 2. Kepingan Rahasia?
Baca juga: [Seri Maluku] 4. Pantas Saja Bahagia

Jumat, 26 Januari 2018

[Seri Maluku] 2. Kepingan Rahasia?



“Rul, jadi daftar PNS?” beberapa orang japri, bertanya demikian. Aku masih di depan komputer kala itu, memilah-milah citra satelit, berpuluh-puluh scene jumlahnya.

Bogor sehabis subuh. Hujan. Badan masih pegal-pegal akibat kelamaan duduk di bus tiga puluh jam lamanya, perjalanan dari Jogja-Bogor. Rekor. Lawamena Haulala kehabisan tiket kereta juga tiket pesawat. Pemberitahuan konsinyasi di Bogor baru datang beberapa hari sebelum hari-H. Sementara, hari H konsinyasi dilaksanakan tepat setelah libur panjang Idul Adha. Artinya, ya kamu enggak bakal dapat tiket kalau memaksakan diri pergi ke barat. Tiket kereta dan juga tiket pesawat sudah pasti habis dilahap para pemudik H-3 bulan sebelumnya. Bahkan tiket bus pun tak menjanjikan bisa ada di tangan kala itu.

Pada akhirnya, pihak manajemen memutuskan untuk mencarter bus untuk kami. Rekor. Tiga puluh jam di atas bus, 10 jam lebihnya terjebak macet di tol.

Aku masih belum menjawab pertanyaan beberapa teman, sampai ada japri dari Ibuk. Intinya, meminta agar aku tidak menyia-nyiakan mendaftar PNS (lagi). Kemudian semua japrian kujawab sama: Iya.

Sepulang dari Bogor, aku menepati janjiku. Membuka situs SSCN, lalu sesegera mungkin mendaftarkan diri di satu instansi. Instansi di tempat aku bekerja dulu, sebelum resign lalu kembali ke Jogja lagi.

Aku tidak tahu apa motivasiku sebenarnya. Melegakan orang tua? Mungkin iya. Akhirnya aku memang mendaftar. Daftar saja. Tidak jadi ikut tes (lagi). Sebab, beberapa hari sebelum tanggal tes, keajaiban terjadi.

“Udah, nggak usah ikut tes juga enggak apa-apa. Daripada enggak niat kan?” di dapur pagi-pagi sehabis subuh, kata-kata itu meluncur dari mulut Ibuk. Aku terkesima dan tercengang. Are you sure, Mom? Padahal, saat itu niat sudah terkumpul sedikit demi sedikit. 

“Kamu itu memang anak Ibuk yang paling aneh. Di saat kakak-kakakmu berusaha mencari dan memilih bekerja tetap, kamu memilih bekerja tidak tetap. Ya sudah, toh rezeki sudah diatur. Semoga aja rezekimu lancar. Jangan tergantung pada orang lain,“ Ibuk melanjutkan perkataannya. 

Beberapa waktu sebelumnya Ibuk memang sempat bertanya kepadaku tentang keinginan masa depanku. Aku bilang, aku ingin menulis dan menjadi tenaga lepas geografi. Itu sudah sangat cukup buatku meski dari segi penghasilan memang tidak tetap. Kadang dapat banyak, kadang dapat sedikit. Tapi kalau dipikir-pikir dan dirasa-rasa, ketika sedang butuh-butuhnya, uang pasti selalu ada. Cukup. Rezeki sudah diatur, kan? Pasti pas takarannya.

“Nggak pengen jadi dosen?” tanya beliau waktu itu. Jadi dosen? Bisa-bisa aku dikerjai mahasiswaku tiap hari. Lama kelamaan aku juga tahu kapasitas diri, bahwa aku lebih cocok menulis fiksi atau artikel ringan daripada menulis ilmiah. Otakku tidak kuat. Berat. Jangan aku. Biar kamu saja (e malah Dilan style).

Ibuk melanjutkan kalimatnya, “Tapi tesis jangan lupa diselesaikan ya. Tahun depan sudah harus selesai. Sayang kalau enggak selesai. Lagian kamu ngapain aja selama ini kok belum selesai-selesai juga?”. Protes dari Ibuk ini membuatku tertegun.

Aku sendiri selalu menyalahkan diriku sendiri soal tesis yang tidak juga selesai-selesai. Tiap mengerjakan sesuatu yang disebut tesis, rasanya selalu nyesek di dada, panas di pelupuk mata, kadang sampai sembab pada akhirnya. Ah, lebay ya? Iya. Aku pun menganggap demikian. Hingga akhirnya waktu untuk mengerjakan tesis aku pakai untuk olahraga sampai capek, kerja part time di toko benang rajut tanpa sepengetahuan siapapun kecuali satu dua orang saja, merajut benda-benda yang dianggap tidak penting oleh orang lain, atau menulis sesuatu yang lain di luar tesis. Ujung dari semua itu, aku menerima tawaran pekerjaan di sebuah konsultan, bertemu kawan-kawan Lawamena Haulala, sibuk di sana, lalu sementara waktu benar-benar lupa dengan tesis.

“Karena masalah X?” beliau menebak-nebak. Tebakan jitu. Aku tidak bisa lagi menjawab ‘bukan’. Intuisi Ibuk memang selalu benar.

“Iya, Buk,” kataku. Lalu nasihat-nasihat meluncur keluar dari mulut ibuku. Aku mendengarkan semua sampai habis. Pura-pura mendengarkan lebih tepatnya. Pikiranku sedang berkelana di tempat lain waktu itu.

“Buk, aku mau lapangan ke Maluku dulu ya. Sebulan. Tesis kukerjain habis pekerjaan Maluku selesai. Janji. Insyaa Allah,” aku menarik napas sekuat-kuatnya demi mengatakan itu. Aku tidak tahu keajaiban apa lagi yang membuat Ibuk dengan mudahnya menjawab ‘iya’. Sama tidak tahunya aku dengan skenario Allah macam apa lagi yang hendak kuperankan. Aku hanya ingin menyembuhkan diri dan menetralkan hati. Cleansing.
Usai itu, sebaris kalimat doa kemudian terbersit di hati sebelum aku berangkat ke Maluku: Ya Allah, semoga sepulang dari Maluku jiwa lebay dan mental menye-menyeku lenyap. Aamiin!
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.